Advertisements

3 Langkah Untuk Visi Perkawinan Yang Lebih Baik

Oleh Casey Chalk

Catholic Marriage oleh Kashefska Lefever (Sumber: aleteia.org)

Betapa mengagumkan perkawinan antara dua orang Kristen, ada dua orang yang satu dalam harapan, satu kerinduan dan satu cara hidup yang mereka tempuh.

Dua tahun lalu, Paus Fransiskus menerbitkan Amoris Laetitia, sebuah nasihat apostolik yang membahas perlunya peningkatan perhatian pastoral terhadap keluarga. Sebuah buku lainnya yang baru dipublikasikan oleh penyiar radio populer EWTN dalam program “Called to Communion,” yaitu Dr. David Anders, adalah jawaban atas seruan Paus Fransiskus untuk menunjukkan bagaimana ajaran Katolik itu dapat memperkuat perkawinan.

Buku “The Catholic Church Saved My Marriage: Discovering Hidden Grace in the Sacrament of Matrimony” sebagian berisikan kesaksian perubahan keyakinan mereka (menjadi Katolik –red.) dan sebagian lagi berisikan tentang katekese doktrinal yang membuktikan bahwa ajaran Katolik bisa juga mengubah keluarga kita.

Tiga contoh dari buku Dr. Anders itu yang semuanya berhubungan dengan Amoris Laetitia yaitu “tujuan” perkawinan yang tepat, pemahaman mendalam tentang seksualitas manusia, dan kekuatan sakramen.

  • Perkawinan itu perlu tujuan

Tepat sebelum hari perkawinan saya, salah satu pengiring pria saya berkata kepada saya bahwa tujuan perkawinan adalah membantu istri saya masuk surga. Saya merasa terpukul dengan kesederhanaan dan keagungan kata-kata itu. Sebagaimana Paus Fransiskus mengingatkan kita, perkawinan adalah perjumpaan yang “mencerminkan kasih Allah sendiri,” menjadi “gambaran untuk memahami dan menggambarkan misteri Allah sendiri.” Ketika pasangan yang sudah menikah dikaruniai anak, mereka pasti dengan penuh kasih mengajarkan anak mereka tentang iman, sehingga keluarga itu menjadi “persekutuan orang-orang” yang menggambarkan persatuan dari Trinitas, dan juga menjadi “bait tempat kediaman Roh.”

Dr. Anders menceritakan bagaimana dia dan istrinya (yang menikah sebagai pasangan Protestan aliran Injili) hampir sepenuhnya tidak tahu tentang tujuan perkawinan. Perkawinan mereka “hancur” karena “tidak seorangpun dari mereka yang memiliki pemahaman yang jelas untuk apa perkawinan itu.”

Hal ini benar adanya bahkan bagi kita yang menyatakan iman kita dalam Kristus – mereka terbawa arus ke dalam perkawinan yang sebagian besar berkisar tentang  hal-hal emosinal, persamaan minat, dan hasrat seksual. Tanpa visi yang mendalam, maka ketegangan dan bahkan konflik terbuka menjadi inti perkawinan Anders. Seketika dia dan Jill memahami bahwa perkawinan itu tentang “tumbuh bersama dalam kekudusan,” dinamika hidup perkawinan mereka berubah.

  • Seksualitas itu memberi bukan mengambil

Amoris Laetitia menceritakan kembali tentang tantangan yang dihadapi oleh keluarga modern, banyak keluarga terikat pada seksualitas. Beberapa diantaranya tidak tertarik dengan perilaku seksual yang monogam, hal lainnya tentang “manipulasi tindakan reproduktif, yang menjadikan hubungan seksual antara satu pria dan satu wanita tidak terikat satu sama lain (sendiri-sendiri / independen –red.)” dan yang lainnya terkait dengan “pornografi yang merajalela.” Pada inti dari seksualitas yang bersifat konsumeris ini yang menjadikan orang lain bahkan pasangannya untuk memuaskan hasrat duniawi seseorang.

Sebagai seorang Protestan, Anders diajarkan bahwa setelah menikah, “dijalani saja.” Namun, agama Katolik menunjukkan kepadanya bahwa mentalitas yang disebutkan di atas adalah eksploitatif dan tidak menghormati martabat pribadi manusia.

Anders menulis, “Gereja Katolik melihat bahwa pribadi manusia bukan sekumpulan impuls seksual yang kotor, namun sebagai agen moral transenden yang dipanggil dalam kehidupan Ilahi. Contohnya, standar kontrasepsi yang “secara tak terbantahkan mengubah makna seksualitas perkawinan,” yang menghilangkan aspek prokreasi yang menghilangkan makna menyatukan yang satu. Seks akhirnya harus “memberi kehidupan dan meneguhkan kehidupan,” menolak untuk menjadikan pasangan kita sebagai objek, dan untuk mendukung cinta sejati dan penyerahan diri.

  • Sakramen yang mengubah kita

Paus Fransiskus menekankan bahwa “rahmat yang membantu (keluarga) dalam menghadapi tantangan perkawinan dan keluarga” hadir dalam “Sakramen Rekonsiliasi dan Ekaristi.” Beliau meminta para pemimpin Gereja untuk “mendorong keluarga-keluarga untuk bertumbuh dalam iman,” termasuk “menganjurkan untuk mengaku dosa sesering mungkin.” Rahmat sakramental bukan hanya memungkinkan suami dan istri untuk menjalankan iman mereka, namun sakramen-sakramen juga menanamkan kebajikan dalam kerendahan hati, kejujuran, dan pengampunan, dan juga mengajarkan kita tentang nilai penderitaan.

Hal itu tentu saja terjadi dalam keluarga Dr. Anders. Dia menuliskan, “Pengalaman Jill di dalam ruang pengakuan .. menandai titik balik dalam perkawinan kita … Di dalam ruang pengakuan, Jill menerima pengampunan, kedamaian hati, penguatan, dan harapan untuk masa depan.” Untuk alasan tentang ini, dia berpendapat bahwa pengakuan dosa membantu kita untuk menerima kenyataan akan penderitaan, daripada berusaha mencari cara untuk menghilangkannya dari hidup kita namun usaha itu selalu sia-sia. Selain itu, dalam iman Katolik, penderitaan itu adalah penebusan, seperti yang St. Paulus jelaskan “dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat (Gereja / Church –red.) (Kolose 1:24). Melalui penderitaan yang dipenuhi dengan rahmat dan dibantu oleh sakramen, bahkan dari cobaan yang paling menyakitkan pun kita dapat memperoleh nilai keselamatan.

Kesimpulan

Seringkali dalam budaya kita, perkawinan dipandang sebagai tempat yang berisikan gairah romantis dan kepuasan relasional. Jika itu adalah tujuan kita, Dr. Anders memberitahukan kita, bahwa kita akan gagal karena beban cobaan, godaan, dan gairah hidup kita yang berubah-ubah. Namun, perkawinan yang patuh kepada Gereja adalah “harta karun yang terpendam di ladang,” dan sebuah karunia dari Allah yang telah memberkati hidup kita dan membimbing kita ke Surga. Hal ini selalu menjadi ajaran Gereja, sebagaimana Bapa Gereja pada abad ketiga yaitu Tertullian nyatakan:

Betapa mengagumkan perkawinan antara dua orang Kristen, ada dua orang yang satu dalam harapan, satu kerinduan dan satu cara hidup yang mereka tempuh, satu dalam agama yang mereka jalankan … Tak ada yang bisa memisahkan mereka, baik dalam daging maupun roh. Mereka, sebenarnya, dua dalam satu daging, dan dimana ada satu daging maka terdapat satu roh. Mereka berdoa bersama, menyembah bersama, berpuasa bersama; mengajar satu sama lain, menyemangati satu sama lain, menguatkan satu sama lain … mereka berdampingan menghadapi kesulitan dan penganiayaan, juga berbagi penghiburan.

Melalui pemahaman yang benar tentang tujuan perkawinan, komitmen kepada ajaran Gereja, dan kekuatan sakramen, kita bisa menjadikan visi Tertullian menjadi kenyataan dalam hidup kita.

Sumber: 3 Steps for a greater vision of marriage

Advertisements

Posted on July 21, 2018, in Keluarga and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: