Advertisements

Santo Yohanes Pembaptis Chon Chang-un

Santo Yohanes Pembaptis Chon Chang-un (Sumber: cbck.or.kr)

Yohanes Chon Chang-un (1811-1866) lahir di Seoul pada tahun 1811 dan dibaptis oleh ibunya yang saleh. Tak lama setelah dia lahir, ayahnya meninggal. Di usianya yang masih sangat muda, Yohanes harus menafkahi keluarganya dengan bertani dan membuat tas kulit.

Pada tahun 1839 dia ditangkap. Namun demikian, karena akar imannya belum cukup dalam, siksaan dan penganiayaan kejam membuat dia menyangkal imannya dan dia dibebaskan dari penjara. Setelah penganiayaan tahun 1839, dia menyesali kemurtadannya, namun di sana tidak ada imam yang bisa dia ajak bicara. Yohanes tidak putus asa.

Pada tahun 1845, ketika imam pertama Korea, Andreas Kim Tae-gon kembali ke Korea, Yohanes menerima sakramen rekonsiliasi dan menjalani kehidupan Kristiani yang sangat baik, dan juga mendapatkan rasa hormat dan kagum dari teman-teman Katoliknya.

Yohanes menikah dan mempunyai tiga orang anak. Uskup Berneux melihat bahwa dia adalah seorang Kristen yang  sangat setia, dan memberikan dia wewenang untuk membaptis, dan menjadikannya seorang penerbit buku-buku Katolik bersama dengan Petrus Choe.

Ketika penganiayaan dimulai lagi, pemilik percetakan itu yaitu Yosef Im melarikan diri, namun Yohanes tetap berada di rumah itu, dia berusaha menyelamatkan balok-balok kayu untuk mencetak buku. Dia tidak mendengarkan mereka yang memaksa dia untuk melarikan diri, dengan berkata: “Saya harus mengikuti kehendak Allah. Saya harus menyelamatkan balok-balok cetakan kayu ini.”

Pada tanggal 1 Maret 1866, polisi menyerbu ke percetakan itu, menangkap Yohanes dan menyita balok-balok kayu untuk mencetak itu. Dia disiksa dengan kejam, namun menahan semua rasa sakit sambil menyebut nama Yesus dan Maria. Setelah disiksa selama tiga hari dia dijatuhi hukuman mati pada tanggal 8 Maret 1866. Keesokan harinya dia dipenggal di luar Pintu Gerbang Kecil Barat. Ketika dia tiba di tempat eksekusi, dia mengetahui bahwa orang yang seharusnya memenggal lehernya adalah seorang mantan Katolik yang juga kenalan lamanya. Algojo itu ragu-ragu untuk memenggal leher Yohanes. Yohanes berkata kepadanya: “Kamu mematuhi raja, dan aku mematuhi Allah. Mengapa kamu ragu?” Lalu Yohanes dipenggal dan dimakamkan tiga hari kemudian. Yohanes berusia 56 tahun ketika dia mati bagi imannya.

Sumber: cbck.or.kr

Advertisements

Posted on July 24, 2018, in Orang Kudus and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: