Advertisements

Duduk, Berdiri, dan Berlutut – Arti Simbolis Seluruh Tata Gerak Misa

Oleh Lorelei Savaryn

Adoremus in æternum oleh Lawrence OP (Sumber: flickr.com)

Berlutut. Berdiri. Duduk. Berdiri. Duduk. Berlutut. Berdiri. Duduk. Berdiri. Wah!

Ketika orang-orang non-Katolik menghadiri Misa Katolik, mereka berpikir keras tentang sikap-sikap tubuh yang dilakukan umat Katolik. Kata-kata seperti, “Oh, berdiri lagi.” Dan “Kenapa kita berlutut?” dan “Apakah salah jika kita berlutut tetapi (maaf –red.) bokong kita masih menempel di kursi, terutama jika saya tidak yakin kenapa saya berlutut karena duduk di baris pertama?”

Saya tahu sekali bahwa orang-orang non-Katolik akan memikirkan hal-hal tersebut, karena saya dulu bukan seorang Katolik, dan itulah yang ada di benak saya. Saya tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan, ataupun mengapa mereka melakukannya. Saya hanya berusaha mengikutinya!

Sekarang, sebagai seorang Katolik, salah satu hal yang saya tumbuhkan untuk menghormati Misa adalah bagaimana setiap hal itu memiliki makna. Setiap tata gerak, sikap, kata-kata yang diucapkan, dan apa yang dilakukan itu memiliki makna. Semakin memahami tentang apa yang dilakukan selama Misa, maka Anda akan semakin bisa menghormati keindahannya.

Itulah sebabnya artikel ini berfokus tentang “mengapa” harus duduk, berdiri, dan berlutut dalam Misa Katolik.

Duduk

Duduk adalah sikap mendengarkan. Umat Katolik duduk ketika bacaan pertama (seringkali dari Perjanjian Lama), Mazmur (seringkali dinyanyikan), dan bacaan kedua (Perjanjian Baru tetapi bukan dari Injil). Kita juga duduk ketika persembahan dan homili (khotbah).

Kita duduk, siap untuk mendengarkan dan menerima (Sabda Tuhan –red.). Kita duduk untuk menyimak.

Berdiri

Ketika berdoa: Berdiri adalah sikap doa bagi orang Yahudi sejak sebelum zaman Yesus. Berdiri selama berdoa juga dapat dilihat di berbagai perikop dalam Alkitab. Jadi, sebagai seorang Katolik, kita meneruskan untuk menggunakan sikap itu untuk berdoa sampai hari ini.

Beberapa contoh sikap berdiri ketika Misa untuk berdoa diantaranya: Ketika doa pembukaan (dipimpin oleh imam), berdoa Bapa Kami (sebagai satu jemaat), dan Doa Umat (doa permohonan untuk jemaat).

Ketika Syahadat: Kita berdiri ketika mengucapkannya bersama-sama tentang apa yang dipercayai oleh umat Kristen sejak awal mula, dalam bentuk Syahadat Nicea atau Shayadat Para Rasul. Kita berdiri untuk menegaskan kesatuan kita dan kepercayaan kita bersama-sama sebagai umat Kristen.

Ketika Bacaan Injil: Berdiri juga menandakan sebagai tanda hormat. Kita mempunyai beberapa bacaan dari Alkitab selama Misa, namun kita berdiri ketika Bacaan Injil sebagai penghormatan khusus, karena di sanalah sabda dan perbuatan Yesus sendiri berada.

Ketika Prosesi (Perarakan): Kita berdiri di awal dan akhir Misa, juga bermaksud sebagai tanda hormat kepada selebran (Imam atau Uskup yang merayakan Misa) yang berarak masuk di awal Misa dan berarak keluar ketika Misa selesai.

Berlutut

Ketika kita masuk (ke dalam gereja –red.) untuk merayakan Misa, kita berlutut dengan menekuk lutut di mana salah satu kaki kita menyentuh lantai. Kita dengan rendah hati mengakui kehadiran Yesus dalam tabernakel, dalam Ekaristi.

Umat Katolik percaya bahwa Yesus sungguh-sungguh hadir dalam tubuh, darah, roh dan keilahian-Nya dalam Ekaristi, yaitu dalam Komuni Kudus. Kita percaya ketika Yesus berkata, “Inilah tubuh-Ku,” maka Dia memaknainya secara harafiah. Yesus yang terselubung di balik kehadiran-Nya dalam rupa roti dan anggur, namun kehadiran-Nya benar-benar nyata dan sepenuhnya ada di sana. Hal ini adalah yang dipercaya oleh umat Kristen perdana, dan diteruskan untuk dipercayai sampai dengan hari ini dalam agama Katolik. Jadi, kita mengakuinya dengan melakukan sikap berlutut. Baca juga artikel “3 Alasan Seorang Katolik Berlutut Ketika Masuk Gereja” oleh Romo Mike Schmitz untuk mengetahui lebih lanjut alasannya.

Berlutut adalah sikap menghormati dan menyembah. Saat-saat lain ketika kita berlutut adalah selama persiapan untuk dan sebelum dan sesudah penerimaan Ekaristi (Tubuh dan Darah Kristus dalam Komuni Kudus). Kita berlutut lagi karena kita percaya bahwa Yesus secara penuh dan benar-benar hadir dalam Komuni. Jika Anda percaya akan kehadiran nyata Kristus sendiri, maka berlutut akan menjadi hal yang wajar untuk dilakukan – mungkin kalau mungkin sujud menyembah sampai yang paling rendah.

Jadi, kita selalu berlutut ketika Misa pada bagian ini, dan kami tetap berlutut sampai Elemen-elemen itu (Tubuh dan Darah Kristus) disimpan kembali di tabernakel, dan kemudian tabernakel itu ditutup.

Kesimpulan

Setidaknya Anda tahu bahwa kita sebagai umat Katolik tidak hanya bingung dengan apa yang dilakukan oleh tubuh kita selama Misa!

Dan artikel ini hanyalah penjelasan yang sangat dasar tentang apa yang kita lakukan dengan tubuh kita seluruhnya. Ada sejumlah gerakan lain yang dilakukan oleh jemaat dan juga yang dilakukan selebran dalam setiap Misa yang memiliki makna tambahan.

Bagaimana kita menggerakan tubuh kita mempengaruhi dan mencerminkan keadaan pikiran kita. Contohnya, menunduk bisa menjadi cerminan kesedihan seseorang, atau kurang percaya diri, atau malu, dan bisa membuat orang lain melakukan sikap yang sama. Sementara itu, sikap berdiri tegak dapat mencerminkan sikap bangga, atau percaya diri, atau berani. Dan contohnya, jika Anda tidak merasa berani namun melakukan sikap tubuh berani, maka bisa membantu untuk menjadi berani. Nah, sikap tubuh ketika Misa juga bisa mencerminkan keadaan pikiran seseorang, dan juga bisa membantu Anda untuk menempatkan diri Anda dalam pikirian yang benar.

Dan juga, baik ketika Misa maupun di luar waktu Misa, perubahan sikap tubuh hanya untuk asal bergerak saja sangat tidak membantu siapapun. Jika Anda duduk, berdiri, dan berlutut ketika Misa pada saat yang tepat, namun hati Anda tidak berada di dalamnya, atau perhatiaan Anda terganggu, ataupun tidak fokus pada mengapa diri Anda melakukan sikap tubuh itu, maka Anda tidak akan mendapatkan manfaat dari makna sikap tubuh yang dilakukan. Tapi jika Anda mengikuti Misa dan berlutut menghadap tabernakel, karena Anda dengan rendah hati mengakui kehadiran Kristus di sana, dan jika Anda duduk dengan niat untuk mendengarkan dengan segenap akal budi, tubuh, dan jiwa, dan jika Anda berdiri, dan hati Anda berfokus terhadap doa, dan jika Anda berlutut mengakui kehadiran Juruselamat Anda, maka kemudian Anda akan mendapatkan sesuatu.

Sebagaimana dalam seluruh struktur dalam Misa, dan dalam agama Katolik secara keseluruhan, ada banyak sekali cara untuk membantu menggerakkan hati, akal budi, dan jiwa Anda dalam membangun hubungan yang lebih intim dengan Yesus.

Tapi Anda tidak bisa menjalin hubungan itu hanya dengan melalui gerakan saja.

Dan bila Anda benar-benar terlibat, dan menerima serta merangkul makna di balik apa yang Anda lakukan, maka rahmat dan sukacita dan kelimpahan akan tersedia bagi Anda dalam Misa dan dalam Gereja Katolik yang sangat indah, dan satu-satunya yang membawa Anda lebih dekat kepada Juruselamat Anda.

Sumber: “Sit, Stand, Kneel: The Symbolic Meaning of All that Moving at Mass!”

Advertisements

Posted on October 6, 2018, in Ekaristi and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: