Doa Novena Bukanlah Mantra Sihir

Oleh Joby Provido

Doa Novena (Sumber: thecatholictalks.com)

Doa novena adalah bagian dalam budaya Katolik. Secara teknis, doa ini didoakan selama sembilan hari, dari sanalah kata “novena” berasal dari kata “novem” yang berasal dari Bahasa Latin yang artinya sembilan. Contoh doa novena misalnya Novena Bunda Maria dari Lourdes yang didoakan dari tanggal 2 Februari sampai 10 Februari, juga novena Hati Kudus Yesus pada Sembilan Jumat pertama. Bagi beberapa orang, doa novena menjadi “novena rutin” ketika mereka mendoakannya setiap hari, setiap minggu, atau setiap bulan.

Doa novena biasanya didoakan jika seseorang mempunyai permohonan khusus. Selalu baik jika kita memohon bantuan Maria dan para kudus yang mana mereka sudah bertatapan langsung dengan Tuhan kita dan mereka dapat menjadi perantara doa kita. Tragedi datang ketika kita memperlakukan doa ini sebagai mantra sihir. Apa perbedaannya?

Dalam doa permohonan, kita mengangkat segala masalah kita kepada Allah (terkadang melalui perantaraan para kudus) dan kita percaya bahwa Allah akan menjawab doa kita jika sesuai dengan kehendak-Nya. Suatu mantra sihir adalah sesuatu yang kita ucapkan dengan harapan kita akan mendapat apa yang kita inginkan. Tidaklah salah untuk mengharapkan bahwa Allah akan memberikan apa yang kita inginkan, namun perbedaannya adalah disposisi hati. Dalam doa, kita menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah yang untuk mengetahui apa yang baik bagi kita. Ketika kita memperlakukan doa sebagai mantra sihir kita mengharapkan supaya Allah memberikan apa yang kita inginkan karena kita “sudah membayarnya” dengan doa-doa kita sebagai sebuah kontrak.

Maka, kita harus berhati-hati supaya tidak memperlakukan novena dengan cara demikian. Kadang-kadang kita membacanya di jejaring sosial bahwa doa novena itu “tidak akan gagal” atau “doa novena yang memiliki kuasa.” Dengan gagasan cara berdoa demikian maka Anda pasti akan mendapatkan apa yang Anda inginkan. Dan hal itu justru bertentangan dengan maksud dari doa itu sendiri. Dan kenyataannya, inilah apa yang diperingatkan oleh Kristus ketika Ia bersabda demikian, “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan” (Matius 6:7).

Apa yang diperingatkan oleh Yesus bukanlah doa yang diulang-ulang. Hal ini menjadi tidak masuk akal karena Kristus sendiri mendoakan doa yang sama di Getsemani (Matius 26:36-44). Begitu pula dalam kitab Wahyu, ada makhluk-makhluk yang tak henti-hentinya menyerukan doa yang sama (Wahyu 4:8). Karena ada tertulis dalam Kitab Suci, maka doa yang berulang-ulang bukanlah hal yang buruk. Apa yang sebenarnya Kristus peringatkan tentang doa yang bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah? Yesus mengacu pada bagaimana orang yang tidak mengenal Allah itu terpaku pada ritual yang tepat sehingga jika dilakukan dengan sempurna bisa memanipulasi dewa-dewa mereka untuk mengabulkan apa yang mereka inginkan. Jika orang yang melakukan ritual itu gagap, menguap, cegukan, atau bahkan batuk selama ritual, maka orang itu akan mengulanginya kembali. Gagasannya adalah jika dilakukan dengan tepat, maka dewa-dewa mereka akan memberikan apa yang mereka inginkan. Seperti kesepakatan dalam bisnis: Jika saya melakukan suatu hal, maka Anda harus memberikan apa yang saya inginkan. Hal ini sangat bertentangan dengan doa Kristen. Doa bukan bertujuan untuk mengubah kehendak Allah supaya sesuai dengan kehendak kita, namun kita mengubah kehendak kita supaya sesuai dengan kehendak Allah. Doa Kristiani bukanlah juga alat tukar yang digunakan untuk membeli bantuan dari Allah.

Maka, tidak masalah jika kita “mengomel” kepada Allah berulang kali untuk masalah yang sama yang belum Ia berikan kepada kita, namun doa yang kita lakukan harus disertai rasa percaya bahwa Allah hanya akan memberikan segala hal yang baik. Kadang-kadang kita juga harus memiliki kerendahan hati untuk menerima jika jawaban ‘Tidak’ dari-Nya. Bukankah Kristus mengajarkan kita mengenai Allah yang memberikan sesuatu yang baik bagi kita ketika Ia berkata, “Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Matius 7:9-11). Maka kuncinya adalah meminta “hal yang baik” dan akan diberikan. Masalahnya adalah pengetahuan kita yang terbatas dan mungkin saja apa yang kita minta adalah hal yang tidak baik bagi kita. Jadi, disposisi hati orang Kristen adalah memiliki iman bahwa Bapa kita adalah Allah yang maha tahu dan maha kasih yang tahu apa yang baik bagi kita dan akan memberikan hanya yang baik bagi kita.

Oleh sebab itu, doa novena, ziarah, pengorbanan ataupun nazar yang dilakukan sebagai semacam “pertukaran” untuk segala sesuatu dari Allah itu hal yang lumrah atau dikatakan sehat selama disposisi hati kita tidak membuat Allah melakukan apa yang kita mau, namun membuat Allah melakukan apa yang Ia kehendaki.

Sumber: “Novenas are not Magical Incantations”

Posted on 2 July 2019, in Kenali Imanmu and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: