Advertisements

Bagaimana Maria menjadi Ratu Surga?

Oleh Joby Provido

Maria Dimahkotai di Surga (Sumber: thecatholictalks.com)

Peristiwa terakhir dalam peristiwa mulia dalam doa rosario adalah Maria dimahkotai di Surga. Pikiran kita langsung memikirkan bahwa Maria adalah seorang ratu. Tapi mengapa umat Katolik meyakininya? Jawaban yang cukup sederhana bahwa putranya Yesus Kristus adalah raja. Namun, tentu saja perlu penjelasan yang lebih mendalam, dan inilah tujuan ditulisnya artikel ini.

Sebelum membahas status ratu dalam diri Maria, kita terlebih dahulu membahas mengapa kita menyebut Kristus sebagai raja. Melalui inilah nantinya kita bisa mengetahui inti dari status ratu Maria.

Untuk merangkum sejarah bangsa Israel dalam kalimat yang singkat, meraka menetap di tanah yang dijanjikan Allah kepada mereka setelah mereka dibebaskan dari perbudakan Mesir. Allah mengutus para nabi yang menjadi juru bicara bagi Allah, namun kemudian bangsa itu menginginkan untuk meniru struktur politik yang mereka temui, maka dari itu mereka meminta seorang raja. Sebagai gantinya, Allah memberikan mereka para hakim, yaitu orang-orang yang menafsirkan hukum (hukum moral dan agama), namun tetap saja, mereka bersikeras menginginkan seorang raja. Oleh karena itu, Allah memberikan mereka seorang raja, yaitu Saul. Saul tidak terlalu melakukan apa yang Allah perintahkan kepadanya, maka Allah menggantikan dia dengan Daud, putra Isai.

Allah menjanjikan kepada Daud bahwa seseorang dalam garis keturunannya akan menjadi “Putera Allah” yang akan mendirikan rumah bagi Allah, adapun Daud itu seorang yang berkenan di hati Allah (1 Samuel 13:14). Allah juga menjanjikan bahwa takhta Daud akan berlangsung untuk selama-lamanya (2 Samuel 7:13-16).

Maka kita bisa melihat sekilas bahwa Daud sebagai gambaran Kristus, dia lahir di Betlehem, dia seorang gembala, dan juga mengalahkan Goliat. Kristus pula lahir di tempat yang sama. Ia menyatakan dirinya sebagai Gembala yang Baik. Ketika malaikat Gabriel memberikan kabar gembira kepada Maria bahwa dia akan mengandung, malaikat itu berkata bahwa kerajaan Anak itu tidak akan berkesudahan (Lukas 1:33). Yesuslah adalah penggenapan protoevangelium (Kabar Baik yang Pertama) Allah dalam Kitab Kejadian, ketika Allah berfirman kepada ular bahwa perempuan itu dan keturunannya akan meremukan kepalanya (Kejadian 3:15), seperti cara Daud memenggal kepala Goliat.

Kita juga bisa melihat, bahwa raja berikutnya dalam garis keturunan Daud yaitu Salomo sebagai penggenapan janji Allah bahwa keturunan Daud akan mendirikan rumah bagi Allah, dan karena dialah yang menyelesaikan membangun Bait Allah di mana kurban harian dipersembahkan kepada Allah. Salomo juga merupakan gambaran Kristus. Ketika Lukas menggambarkan bahwa bayi Yesus dibungkus dengan lampin (Lukas 2:12), Lukas mengingatkan kepada para pembacanya tentang Kitab Kebijaksanaan yang ditulis oleh Salomo yang menyatakan bahwa dia telah dipelihara dalam “bedung” (Kebijaksanaan Salomo 7:4), dalam Alkitab bahasa Inggris lampin dan bedung memiliki padanan kata yang sama yaitu “swaddling clothes” pada kedua ayat yang disebutkan sebelumnya. Lebih jauh lagi, “rumah Allah” yakni Bait Allah yang baru adalah Gereja Kristus, di sanalah kurban terus menerus dipersembahkan kepada Allah melalui Misa Kudus.

Yesaya berkata, “Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN.” (Yesaya 11:1-2). Sekali lagi, mungkin ayat itu terdengar seperti Salomo yang dikenal karena kebijaksanaan dan nasihatnya, namun Yesaya sedang menubuatkan Yesus, yang Roh Tuhan seperti burung merpati turun ke atas-Nya (Matius 3:16).

Tampaknya melalui kerajaan inilah Allah akan menggenapi seluruh janji-Nya. Namun demikian, raja-raja sesudah Salomo bukanlah raja yang takut akan Allah dan kembali ke penyembahan berhala. Kerajaan itu terpecah belah dan ditaklukkan oleh bangsa-bangsa yang berbeda-beda seperti bangsa Asyur, Babel, dan akhirnya oleh bangsa Romawi.

Tak seorangpun ingin membicarakan tentang Kerajaan Daud secara terang-terangan karena akan disalahartikan sebagai rencana untuk menggulingkan penguasa yang berkuasa saat itu. Hal yang wajar bagi penguasa untuk membunuh garis keturunan Kerajaan Daud sehigga tidak akan ada seorang pewaris takhta yang bisa membangkitkan semangat patriotisme menjadi suatu pemberontakan. Hal yang lumrah, seseorang yang ada hubungan dengan Daud akan tetap diam tentang leluhur mereka, sehingga kita bisa mengatakan bahwa Kerajaan Daud “sudah mati.” Apa yang dulunya adalah pohon, sekarang menjadi tunggul.

Permulaan Injil Matius diawali dengan silsilah Yesus dan mengaitkan Ia dengan Raja Daud. Oleh karena itulah, Yesus menyatakan sebagai takhta Daud! Mungkin ada yang berkata bahwa Yesus tidak memiliki darah Yusuf karena Ia dikandung sepenuhnya oleh Maria dan Roh Kudus, namun anggapan itu salah dengan adanya penyunatan menurut agama Yahudi. Kita harus ingat bahwa Yesus disunat oleh Yusuf yang memberikan nama “Yesus.” Ketika seorang pria memberikan nama kepada putranya, kenyataannya dia sedang memberikan pernyataan kepada dunia bahwa anak laki-laki itu adalah putranya, dan anak itu dimasukkan ke dalam silsilah keluarganya. (Ada hal yang menarik dalam peristiwa Pembaptisan, ketika imam membaptis kita dan memberikan kita sebuah nama dalam nama Tuhan, maka hal itu berarti imam itu berperan dalam kapasitas Allah, dan kita menjadi anak-anak Allah.) Oleh karena itu, Yesus benar-benar menjadi putra Yusuf (sebagai mana kita menjadi putra-putri Allah ketika pembaptisan). Maka dari itu, sebagaimana dijelaskan di atas, status putra itu bukan sekadar simbol, tetapi suatu kenyataan. Jadi, Yesus mewarisi garis keturunan Yusuf.

Berkali-kali Yesus disebut sebagai “Anak Daud” (Matius 9:27, 15:22, 20:30, 21: 9, 22: 42-46). Walaupun panggilan itu bisa menjadi gelar secara politis, namun bukan rahasia lagi bahwa Yesus adalah putra Yusuf yang memiliki garis keturunan Daud (itulah sebabnya mengapa Yusuf harus kembali ke Betlehem untuk melakukan sensus karena kota itu adalah kota leluhurnya). Dengan demikian, mereka menjadi tahu tentang silsilah Yesus. Dan karena itulah, tidak mengherankan mengapa orang banyak ingin menjadikan Yesus sebagai raja (Yohanes 6:15).

Maka dari itu sudah sewajarnya Yesus bertindak sebagai seorang raja, setidaknya dua kali Yesus melakukannya. Pertama, ketika Ia memberikan kunci kerajaan kepada Petrus (Matius 16:19), Yesus melakukan apa yang hanya dilakukan seorang Raja dari Kerajaan Daud. Pada waktu itu, sudah menjadi kebiasaan bagi seorang raja untuk memilih orang kedua dalam kewenangan, seorang yang dipercaya yang mengetahui hati seorang raja dan memberikan “kunci” kepadanya. Kita bisa melihat peristiwa ini dalam Yesaya 22:22 ketika Daud memberikan kunci kepada Elyakim bin Hilkia.

Yang kedua, ketika Yesus memasuki Yerusalem adalah pengumuman kembali mengenai seorang raja yang memasuki suatu kota. Dalam buku “Jesus of Nazareth,” Paus Benediktus XVI menjelaskan bahwa ketika Kristus meminta untuk mempersiapkan seekor keledai yang tidak pernah ditunggangi, sebenarnya Ia mengambil hak seorang raja untuk menggunakan alat transportasi yang tidak pernah digunakan oleh orang lain. Orang banyak memahami tindakan ini, itulah sebabnya mereka memperlakukan Yesus seperti seorang raja, setidaknya untuk saat peristiwa memasuki kota Yerusalem. Mereka mengikuti apa yang digambarkan dalam Mazmur 118:27, ayat itu diketahui oleh setiap orang Yahudi dengan hatinya. Itulah gambaran seorang raja yang datang dan orang-orang berjejer di jalan dengan “ranting-ranting berdaun” ketika Ia menuju ke altar (Mazmur 118:27). Dan yang menarik, Injil memberi tahu kita bahwa ketika Yesus memasuki Yerusalem, Ia langsung menuju ke Bait Allah.

Kita juga tidak boleh melewatkan misi yang dibawa oleh Yohanes Pembaptis yang harus “meluruskan jalan” sebagaimana yang biasa dilakukan ketika seorang raja akan melewati tempat-tempat tertentu, jalan-jalan dipersiapkan sedemikian rupa supaya jalurnya selurus mungkin.

Yesus dari Nazaret adalah Raja orang Yahudi, itulah alasan mengapa Ia disalibkan. Pilatus memastikan supaya setiap orang memahaminya dengan menuliskannya dalam tiga bahasa untuk dipasang di atas salib Yesus. Ialah Daud baru yang menyatukan semua suku di dunia di bawah kerajaan-Nya, yang diwakili oleh dua belas rasul.

Seseorang mungkin bertanya, di mana gelar ratu bagi Maria yang cocok dengan semua hal yang sudah dijelaskan di atas. Kita dapat melihat bahwa Yesus menggunakan adat dan tradisi dari Kerajaan Daud sehingga kerajaan-Nya dapat dikenali. Salah satu tradisi adalah ibu dari raja yang dimahkotai ratu, atau disebut Gebirah. Ketika Salomo menjadi raja, ibunya yaitu Batsyeba menjadi ratu. Kita bisa membaca ketika Batsyeba memasuki istana Salomo untuk menjadi perantara bagi seseorang, Salomo menghormati ibunya, mempersiapkan takhta bagi ibunya itu, dan menjadikan ibunya sebagai tangan kanannya yang berarti kedudukan kekuasaan (1 Raja-raja 2:19). Maka, karena Yesus raja kita mengikuti tradisi Daud, Maria ibu-Nya adalah ibu ratu.

Inilah alasan mengapa dalam lukisan, kita selalu melihat Maria berada di sebelah kanan Kristus (Jika kita melihat lukisan, Maria berada di kiri Yesus, tapi jika kita menempatkan diri di posisi Yesus, maka Maria berada di sebelah kanan). Inilah alasan kita memanggilnya Bunda Kita (Our Lady), karena begitulah kita memanggil seorang ratu. Dan inilah sebabnya kita memohon kepada Bunda Maria untuk menjadi perantara bagi kita, karena dia berada di kedudukan untuk memohonkan segala sesuatu kepada putranya 1.

Selama bertahun-tahun banyak pertentangan mengenai Maria, dan dogma-dogma mengenai Maria harus ditetapkan untuk membuat jelas apa yang kita imani, namun status ratu Maria tidak pernah menjadi pertanyaan yang serius.

Kesimpulannya, status ratu Maria bukan tentang dirinya, tapi tentang sifat rajawi Kristus. Artikel ini memusatkan kepada sifat rajawi Kristus, karena jika kita tidak mempercayainya, maka tidak ada dasar bagi Maria untuk menjadi ratu. Maka. sama seperti dengan semua yang kita percayai tentang Maria yang bukan untuk dirinya sendiri, tetapi merujuk kepada identitas Kristus. Dalam hal ini, setiap kita mengakui bahwa Maria adalah seorang ratu, maka kita berkata bahwa Yesus adalah raja.

 

Catatan kaki:

[1] Kitab Wahyu juga menyinggung status ratu Maria ketika kita membaca “Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya” (Wahyu 12:1). Jika seseorang membaca ayat ini dengan khazanah Maria, maka tidak akan kesulitan untuk menerapkan pemahamannya.

Satu hal yang menarik mukjizat gambar Bunda Maria dari Guadalupe menunjukkannya tanpa banyak pertanyaan. Dan semakin menarik pula, para peneliti menemukan bahwa bintang-bintang dalam jubahnya bisa ditelusuri ke rasi-rasi bintang di langit pada malam gambar itu nampak. Ketika seseorang melengkapi suatu ruang dalam jubbah itu, rasi bintang Virgo akan terlihat di hatinya, dan rasi bintang Leo akan terlihat di kandungannya, dan sebuah rasi bintang yang disebut corona borealis, yang berarti “Mahkota Utara” bisa dilihat di atas kepalanya. Silakan klik untuk melihat gambarnya.

Sumber: “How Mary became Queen”

Advertisements

Posted on 23 August 2019, in Apologetika, Kenali Imanmu, Kitab Suci and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: