Advertisements

Doa, Akar Kehidupan Spiritual Katolik

Oleh Stacy Mitch

Berdoa (Sumber: stpaulcenter.com)

Belakangan ini, saya menemukan satu studi yang menceritakan apa yang orang Amerika yakini tentang Tuhan. Salah satu statistik yang menonjol adalah hampir tiga perempat orang Amerika berdoa setidaknya sekali seminggu. Reaksi saya terhadap fakta sederhana itu membuat hati saya campur aduk.

Di satu sisi, saya pikir itu cukup baik karena begitu banyak jumlah orang yang berdoa. Namun di sisi lain, percakapan apa yang mereka lakukan jika mereka hanya berdoa sekali seminggu?

Jangan salah paham, sedikit berdoa itu lebih baik daripada tidak berdoa sama sekali. Tapi, bagaimana jika saya hanya berbicara dengan suami saya hanya sekali seminggu, apa yang Anda pikirkan tentang perkawinan kami? Saya kira Anda akan meragukan kekuatan dan kedekatan hubungan kami. Dan Anda tepat sekali untuk meragukannya. Tidak ada perkawinan yang bisa bertahan, apalagi berkembang, jika suami istri hanya melakukan pembicaraan singkat seminggu sekali. Sama dengan hubungan dengan Tuhan, hubungan kita dengan-Nya tidak akan menopang dan membawa perubahan jika kita berpaling kepada-Nya hanya seminggu sekali.

Doa merupakan cara kia membangun hubungan dengan Tuhan. Tentu saja Dia tahu apa yang kita pikirkan tanpa kita memberitahukan kepada-Nya. Meskipun demikian, Dia ingin kita memberitahukan kepada-Nya. Dia ingin kita berpaling kepada-Nya bukan hanya seminggu sekali, atau sekali sehari, tetapi terus menerus sepanjang hari. Itulah sebabnya Alkitab menasihati kita untuk “berdoa dengan tidak jemu-jemu” (Lukas 8:1) dan “berdoa dengan tekun dan siap siaga, sambil mengucap syukur kepada Allah” (Kolose 4:2).

Allah tidak ingin kita berdoa karena Dia membutuhkan doa-doa kita. Dia ingin kita berdoa, karena kita yang membutuhkannya. Kita perlu berpaling kepada-Nya terus menerus, berulang kali, lagi dan lagi supaya kita bisa belajar mendengar suara-Nya yang berbicara kepada kita dan melihat tangan-Nya yang menuntun kita. Kita perlu berpaling kepada-Nya sehingga kita dapat diubah oleh-Nya sekaligus menerima rahmat yang kita perlukan untuk menghidupi kehidupan yang Allah berikan kepada kita untuk kita jalani. “Yesus, saya ingin melihat wajah-Mu” merupakan doa dari hati yang merindukan Juruselamatnya.

Tanpa doa, keberanian dan kemurahan hati hanyalah khayalan belaka, seperti pemikiran yang menyenangkan tetapi tidak nyata. Jika kita tidak berdoa sebagaimana mestinya, mungkin kita belum memahami dengan jelas tentang sifat dari doa itu sendiri. Kerendahan hati merupakan kebajikan di mana kita memiliki pengetahuan diri atau “citra diri” yang akurat. Kerendahan hati memberi tahu kita bahwa terpisah dari Yesus, kita tidak bukan apa-apa dan tidak bisa melakukan apa yang bernilai. Melalui kerendahan hati pula, kita diajarkan bahwa dalam Dialah, kita adalah putra-putri dari Raja Surgawi yang memiliki semua yang kita perlukan dan yang memberikan kita kekuatan untuk melakukan karya-Nya di dunia. Segala yang baik dalam diri kita berasal dari kebaikan Ilahi-Nya dan semua kegagalan kita dapat diatasi melalui kasih karunia-Nya yang besar.

Tapi doa tidak cukup hanya dengan kerendahan hati saja, tetapi memerlukan iman juga. Menurut Ibrani 11:1, iman adalah “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Iman merupakan kebajikan yang memampukan kita untuk percaya akan kebenaran Allah bahkan secara fisik kita tidak dapat melihat-Nya. Kita menerima kebenaran ini berdasarkan kesaksian dan kepercayaan akan Allah sendiri. Dalam 1 Petrus 1:8-9, St. Petrus mengatakan demikian, “Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.”

Stacy Mitch adalah seorang penulis dari seri studi Alkitab “Courageous Women” yang sangat diminati.

Sumber: Prayer: the Root of the Spiritual Life

Advertisements

Posted on 10 September 2019, in Doa, Kenali Imanmu and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: