Hal Penting dalam Pendidikan Iman Anak

Oleh Laura Hanby Hudgens

Komuni Pertama foto oleh Marko Vombergar (Sumber: aleteia.org)

Suatu dasar yang sangat penting mengenai pendidikan iman. Gereja itu tentang relasi dengan Sang Pendirinya.

Dua puluh tahun yang lalu, ketika dua anak tertua kami masih bayi, saya dan suami saya diterima di Gereja Katolik. Pada waktu itu, saya merasakan sukacita, dan sukacita itu tidak pernah berkurang. Saya cinta menjadi seorang Katolik. Saya cinta akan keindahan dan persatuan iman kita. Bagi saya, ajaran Magisterium yang mempunyai kuasa menjadi sumber ketenangan yang luar biasa, seperti menginjakkan kaki saya ke dasar doktrinal yang kokoh setelah berpindah-pindah gereja. Dan yang paling penting dalam Gereja Katolik, hubungan saya dengan Yesus semakin dalam, dan kepercayaan akan kasih dan belas kasih-Nya, semakin dikuatkan.

Karena iman Katolik saya menjadi berkat yang luar biasa dan karena saya percaya bahwa semua ajaran Gereja itu benar, tentu saja saya ingin anak-anak saya mencintai iman kita ini dan tetap menjadi seorang Katolik. Maka dari itu, saya berusaha supaya mereka tahu tentang sejarah sehingga mereka mengenal para kudus dan pahlawan iman kita. Saya ingin mereka tahu dan memahami berbagai doktrin dan dogma, tradisi dan liturgi kita. Saya ingin supaya mereka menjalin hubungan dengan Bunda Maria, dan supaya mencintai dan menghormati dia sebagaimana yang Yesus lakukan. Saya juga ingin supaya mereka menggali Kitab Suci dan selalu mengembangkan cinta dan bakti terhadap firman yang diilhamkan Allah. Dan tentu saja, saya ingin mereka memahami dan menerima sakaramen sebagai sumber rahmat Allah.

Ada begitu banyak hal yang perlu diajarkan dan untuk dipahami. Semua itu penting untuk keselamatan dan kehidupan mereka dalam Kristus. Namun ketika saya rehat dan memikirkan tujuan akhir untuk anak-anak saya, tentu saja saya tahu mengenai pentingnya relasi dengan Yesus, seperti yang diajarkan Katekismus Baltimore yaitu mengenal dan mengasihi Dia serta melayani Dia di dunia ini dan untuk berbahagia dengan-Nya di kehidupan selanjutnya. Itulah seluruh tujuan dari iman Katolik kita. Itulah seluruh tujuan dari keberadaan kita.

Jika anak-anak kita bisa merunut setiap paus dari Petrus sampai Fransiskus, jika mereka bisa menyebutkan semua nasihat Gereja dan menjelaskan setiap dogma, jika mereka dapat mendaraskan doa Malaikat Tuhan, doa Rosario dan juga Litani Para Kudus, namun mereka tidak mengenal, mengasihi dan melayani Dia, maka mereka telah membuang-buang waktu.

Hal ini bukan bermaksud bahwa pendidikan agama itu adalah perbuatan yang buang-buang waktu atau kita tidak perlu mengajarkan anak-anak kita tentang kekayaan dan kepenuhan iman Katolik kita. Tentu saja kita tidak ingin mengesampingkan ajaran-ajaran Gereja. Kita tidak mau memberikan kesan bahwa kehangatan bagi Yesus itu sebagai pengganti keintiman kami dalam mengambil bagian dengan-Nya dalam sakramen atau keinginan pribadi yang mengalahkan keindahan dan kekayaan liturgi.

Di sisi lain, karena begitu berharga dan kokohnya iman Katolik kita, maka, orang tua dan guru agama tidak boleh melupakan fakta bahwa semuanya itu, baik doktrin, sakramen, para kudus, doa, dan Kitab Suci, telah diberikan kepada kita untuk membantu kita mengenal, mengasihi dan melayani Dia di dunia dan untuk berbahagia bersama-Nya di kehidupan berikutnya. Segala sesuatu yang kita ajarkan dan setiap praktik yang kita tanamkan harus menuntun anak-anak kita untuk membangun relasi yang semakin dalam bersama Kristus.

 Sebagai seorang yang berpindah keyakinan, bagi saya selalu penting untuk menanamkan pemahaman yang kokoh tentang ajaran Gereja Katolik dalam diri anak-anak saya. Sekarang ketika usia mereka yang semakin dewasa, saya hanya bisa berdoa bahwa saya tidak meluangkan banyak waktu untuk mengajarkan mereka tentang Gereja Kristus, sehingga saya merasa gagal untuk menekankan kepada mereka tentang seluruh tujuannya untuk membantu kita untuk mengenal, mengasihi dan melayani Dia yang mendirikannya.

Tentu saja, saya tahu bahwa pola asuh dan upaya saya untuk membimbing anak-anak saya kepada Kristus melalui Gereja-Nya, tidaklah sempurna. Anak-anak saya akan mengalami keraguan dan pertanyaan yang belum terjawab. Mungkin suatu waktu mereka akan mencari-cari keluar. Tetapi tidak peduli bagaimana ketidaksempurnaan usaha yang saya lakukan, saya telah mempercayakan mereka kepada Dia yang sempurna adanya, dan saya percaya bahwa apapun yang terjadi, akhirnya Tuhanlah yang akan membimbing mereka seperti yang telah dilakukan kepada saya yang kembali kepada keindahan dan kepenuhan kebenaran yang ditemukan dalam Gereja Katolik.

Sumber: “What I really want my kids to know about being Catholic”

Posted on 16 October 2019, in Keluarga and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: