Rosario Menghantarku Menjadi Suster – Kisah Sr. Karen Theresa, FSP

Suster Karen di Italia dalam mempersiapkan kaul kekalnya (Sumber: catholic.sg)

Ketika saya berada di kelas 6, seorang teman menuliskan sesuatu dalam kartu ulang tahun saya, isinya “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10). Saya merasa tertarik pada apa arti dari perkataan ini. Tidak sampai bertahun-tahun kemudian ketika saya dalam masa discernment panggilan (memilah-milah atau pembedaan roh dalam menanggapi panggilan suci –red.), dan saya sadar bahwa tidak seorang pun manusia biasa yang dapat memenuhi janji itu.

Saya dibesarkan dalam sebuah keluarga yang menganut agama Tao dan mengikuti tata cara keagamaan sebagai bagian tradisi keluarga kami. Seiring bertambahnya usia, saya ingat ketika saya membaca sesuatu tentang Yesus dan saya merasa tertarik kepada-Nya, namun ketertarikan saya diam-diam memudar karena kurangnya pengarahan. Ketika saya berada di sekolah menengah (Secondary School di Singapura setara dengan SMP dan SMA di Indonesia –red.), saya mulai bertanya-tanya tentang agama Tao dan Buddha karena agama ini bagian dari lingkungan yang langsung saya hadapi, namun saya ingat akan perasaan tidak puas dengan jawaban yang saya terima. Keinginan saya untuk mengenal Tuhan semakin kuat, namun arah dan jawaban yang tepat tampak di luar jangkauan saya. Entah bagaimana saya tahu bahwa ada Tuhan ‘di luar sana.’

Pencarian saya akan Allah

Saya berkesempatan untuk mengambil Pendidikan Agama di Kelas Secondary 3 (setara SMP kelas 9 –red.).  Saya mengabaikan Pelajaran Alkitab, waktu itu saya berpikir dengan keliru demikian, “Oh, jika seluruh agama Kristen dimuat dalam sebuah buku, saya pasti bisa membacanya sendiri dan tidak perlu ikut kelasnya.” Saya memilih pelajaran agama Buddha karena saya bertekad untuk mengungkap misteri dari praktik keagamaan yang saya jalani. Sebelum kelas itu tamat, saya benar-benar yakin dan menjadi seorang Buddhist. Saya akhirnya merasakan makna kehidupan dengan mengikuti Jalan untuk mencapai Pencerahan – pemenuhan akhir. Saya percaya dengan melakukan perbuatan baik, memiliki belas kasih untuk semuanya dan menganut gagasan bahwa saya yang bertanggung jawab dan saya yang dapat mengerjakan Pencerahan pribadi saya. Saya sangat menghargai rasa keterkaitan yang universal. Namun demikian, satu hal yang bagi saya agama Buddha tidak mampu memberikan jawaban akan pertanyaan saya adalah tentang penciptaan. Saya masih ingat ketika mempelajari ini: ‘Dari mana kita berasal? Apakah jawaban ini membantu Anda mencapai Pencerahan? Tidak, maka dari itu tidak perlu mengajukan pertanyaan itu.’ Kemudian saya mengesampingkan masalah itu untuk suatu hari nanti.

Menemukan Sang Jalan sebagai Pribadi – Yesus Kristus

Ketika saya belajar di Singapore Polytechnic, saya punya dua orang teman baik yang bernama Susan dan Theresa, mereka berdua beragama Katolik. Iman mereka tidak berdampak apapun pada hidup saya sampai suatu saat mereka berdua memutuskan untuk berdoa Rosario dengan Legio Maria ketika waktu makan siang. Karena saya tidak mau makan sendirian, maka saya memutuskan untuk ikut dengan mereka. Ketika saya menyaksikan mereka sedang berdoa Rosario, saya merasakan sesuatu kedekatan dan suatu yang sakral. Hal ini menjadi kegiatan rutin bagi teman saya itu, dan tak lama kemudian saya mulai bertanya tentang Rosario, yang menimbulkan pertanyaan lainnya seperti tentang Perawan Maria, Allah dan Yesus Kristus, putra-Nya. Dalam tahun-tahun saya bertumbuh dewasa, Saya sudah ‘bertemu’ dengan Allahnya orang Kristen melalui orang-orang yang mendekati saya di sekolah dan stasiun-stasiun MRT, namun bagi saya mereka itu terlalu agresif. Saya merasa kesal karena merasa dilecehkan oleh mereka. Perasaan yang saya peroleh adalah ‘bertobat atau menuju ke neraka’ dan saya merasa tertekan untuk segera ‘menerima Yesus.’ Saya berdebat dengan banyak penginjil yang begitu bersemangat dan saya menjadi semakin menolak Allah dan Yesus, putra-Nya. Saya tidak bisa menerima Allah yang mengorbankan nyawa putra tunggal-Nya, bukan suatu perbuatan yang sangat pengasih yang dilakukan Tuhan! Mamang, Ia melakukannya bagi kita, bagi saya, namun dalam pendekatan rasional saya, saya tidak dapat menerima atau melihat lebih jauh akan kenyataan yang kejam ini, saya tidak dapat menangkap kasih di balik misteri itu.

Namun anehnya, setiap kali teman-teman saya yang beragama Katolik berbicara tentang Allah Bapa dan Yesus putra-Nya melalui mata Maria, hati saya melembut dan dibangunkan menuju Allah. Di sela-sela kelas kami, Susan dan Theresa akan bercerita lebih banyak tentang Yesus. Kasih mereka bagi Yesus dan hubungan pribadi yang memberi hidup yang mereka alami dengan-Nya menjadi sesuatu yang nyata dan mengilhami saya. Akhirnya, saya mengalami dan menerima Allah sebagai kasih, dan tidak ada jalan untuk kembali. Dalam agama Katolik, saya menemukan Allah yang mengasihi saya, Allah yang ingin berelasi dengan saya. Meskipun bagi saya agama Buddha itu masuk akal, dan saya sudah menganutnya selama beberapa tahun, tidak ada hubungan pribadi dengan Allah. Ialah yang menciptakan saya dan mengasihi saya, Ia yang menjadi tujuan saya selama-lamanya. Saya ingat dengan jelas ketika pertama kali Susan membawa saya ke sebuah Gereja Katolik. Berlutut di hadapan Allah yang hadir dalam Tabernakel, saya tahu di dalam hati saya bahwa saya telah pulang ke rumah.

Hal yang paling menarik yang saya pelajari adalah Yesus benar-benar hadir dalam Roti (Ekaristi) yang diberikan dalam Komuni. Saya tidak dapat menjelaskan mengapa lompatan besar logika ini tidak mengganggu pemikiran saya. Ketika melihat diri saya ke masa lalu, saya sekarang merasa bersyukur, saya menyadari bahwa itulah rahmat dan rahmat semata. Saya mulai mengikuti Misa pada hari Minggu. Theresa mengajari saya untuk berdoa dan melakukan komuni spiritual dengan Yesus ketika saat umat lain menerima Komuni Suci, dan saya berdoa dengan sepenuh hati. Namun setelah berminggu-minggu, ketika saya melihat umat lain berbaris untuk menerima Yesus, saya merasakan kerinduan yang semakin bertumbuh. Saya tahu bahwa saya harus mengambil langkah iman berikutnya, yaitu untuk memberikan diri dibaptis.

Sementara itu, saya membaca otobiografi St. Theresa dari Kanak-kanak Yesus. Hati saya bergaung dengan perasaannya sehingga saya sangat ingin sepenuhnya menjadi milik Yesus, untuk menjadi kudus dan membawa banyak jiwa kepada Yesus! Dalam gaung ini, ada benih kecil panggilan religius tumbuh dalam diri saya. Pada tanggal 24 Desember 1992, saya dibaptis dengan nama Theresa dan menerima Komuni Pertama yang sudah lama saya nantikan.

Menemukan Panggilan Hidup

Setelah perubahan keyakinan kepada iman Katolik, saya menyelesaikan gelar Diploma Bioteknologi, dan untuk sementara saya bekerja di laboratorium riset sebelum masuk Universitas untuk mengejar kecintaan saya akan Ilmu Pengetahuan Alam. Setelah saya lulus, saya mendapatkan pekerjaan di sebuah laboratorium riset biologi yang sangat menarik. Waktu itu saya berusia 25 tahun, dan saya merasa hidup saya benar-benar sudah lepas landas. Saya menantikan apa yang dijanjikan dalam kehidupan, yaitu perkawinan, anak-anak, dan karier yang memuaskan, semuanya itu sudah lebih dari cukup bagi saya. Bahkan, saya begitu terjebak dalam kehidupan, pertemanan, dan berbagai kekhawatiran yang tak ada habisnya sehingga beberapa hal lainnya mulai tersisihkan. Segala hal yang sangat penting, seperti tentang Allah, hubungan saya dengan Yesus, saya tidak akan menyadarinya jika saya tidak berhenti sejenak dalam kesibukan hidup saya.

Suster Karen Theresa, FSP (Sumber: catholic.sg)

Dari luar, saya kelihatan baik-baik saja, saya masih muda, memiliki karier yang menjanjikan, dan secara finansial saya mampu. Saya pindah rumah, dan tinggal di apartemen bersama dengan seorang teman dan menjalani kebebasan baru saya. Siapa yang menyangka, jauh dalam lubuk hati saya sekali-kali ada keraguan yang merayapi diri saya. Kegelisahan itu membuat saya takut, dan saya berpikir demikian, “Pasti ada yang salah dalam diri saya. Semua orang kelihatan baik-baik saja dengan apa yang saya miliki. Saya harus merasa puas. Siapalah saya, yang berusaha untuk menjadi seseorang yang berbeda, berpikir untuk sesuatu yang lebih?” Apa yang saya coba singkirkan sebagai rasa bosan, kelelahan atau kegelisahan selalu kembali menghantui saya. Namun apa itu kegelisahan? Sebagaimana perkataan St. Agustinus, “Hati kami tidak tenang sebelum beristirahat di dalam Engkau.”

Ada begitu banyak suara yang bersaing untuk menarik perhatian saya, seperti masyarakat, teman sebaya, keluarga, harapan, kesenangan sesaat. Saya berusaha mengisi diri saya dengan satu demi satu hal itu, namun berakhir dengan perasaan yang lebih kosong dari sebelumnya. Sepertinya tidak ada yang sesuai karena semua yang saya cari berada di tempat yang salah. Saya sudah kehilangan pandangan mengenai satu-satunya sumber Kehidupan sejati yaitu Yesus.

Walaupun saya menikmati pekerjaan saya, namun pekerjaan itu tidak memberikan kehidupan bagi saya. Ketika saya lebih banyak mencurahkan waktu dan tenaga dalam karier saya, saya dikepung oleh kekosongan yang semakin besar dan saya semakin sadar bahwa saya hanya memiliki satu kehidupan. Saya ingin menjalani sesuatu yang sangat saya yakini, sesuatu yang layak diperjuangkan sampai mati. Dengan quarter life crisis[1] yang saya alami, saya mencapai titik terendah dalam hidup saya.

Saya menemukan diri saya sendiri dengan melihat kembali suara hati saya ketika mempersiapkan diri untuk dibaptis yaitu sepenuhnya milik Yesus. Jawaban saya waktu itu adalah sudah pasti “Ya” walaupun pemahaman dan tindakan saya masih banyak yang perlu dilakukan. Sang Gembala datang untuk mencari saya dan memanggil nama saya kembali karena telinga saya sudah tuli terhadap suara-Nya.

Akhirnya saya berpaling kembali kepada Yesus dan menemukan diri saya dengan meluangkan waktu di hadapan Sakramen Mahakudus. Saya tidak yakin dengan apa yang akan saya temukan, namun saya tahu jika seseorang memiliki jawabannya, dan Yesus mempunyai jawabannya. Pada waktu itu, saya memperbarui hubungan saya dengan Yesus dan dalam kondisi diri yang remuk redam, saya sekali lagi memohon untuk mengetahui rencana-Nya dalam hidup saya, benar-benar yang menjadi kehendak-Nya bukan upaya saya yang akan menyebabkan saya tersesat. Sekali lagi saya mendapati diri saya berada dalam kasih-Nya yang berlimpah, yang dicurahkan dari Sakramen Mahakudus.

Menanggapi Panggilan-Nya

Saya menyadari bahwa ketertarikan saya akan kehidupan religius sudah datang dan pergi selama sembilan tahun terakhir. Kurangnya kejelasan, ketakutan saya, dan keraguan akan semuanya yang membuat saya tidak membicarakannya dengan serius kepada siapa pun mengenai hal itu. Berkali-kali saya melihat selebaran tarekat-tarekat religius Katolik, dan mempertimbangkan untuk menelepon tarekat-tarekat religius untuk mencari informasi lebih lanjut namun saya tidak pernah mengumpulkan keberanian untuk menelepon atau pun meluangkan waktu untuk melakukan mengecek ordo-ordo dalam jadwal saya yang sibuk itu. Pada tahun 2001, saya hampir menyerah mengenai gagasan kehidupan religius ketika saya bertemu dengan Para Suster Pauline (Daughters of St Paul atau Filiarum Sancti Pauli disingkat menjadi FSP) di pameran buku di Gereja Our Lady of Perpetual Succour. Saya langsung tertarik dengan spiritualitas Ekaristi mereka dan hal itu cukup memberikan motivasi bagi saya untuk belajar lebih banyak. Saya meminta informasi melalui surat, yang saya pikir sederhana dan tidak merugikan. Saya tidak pernah menyangka Suster Jocelyn yang merupakan direktur panggilan mengundang saya untuk mengobrol. Dari pertemuan itu saya merasa lega. Saya menceritakan keinginan terdalam saya kepadanya, semua yang telah saya rahasiakan sejak lama karena saya pikir bahwa hal itu terlalu sulit untuk bisa dipercaya. Saya merasa sangat lega, dan hal itu tampak tidak asing di mata Suster Jocelyn ketika dia dengan sabar mendengarkan pergumulan saya. Saya merasa beban saya terangkat ketika akhirnya saya bisa mengakui bisikan Yesus yang lembut yang telah ditempatkan dalam hati saya selama bertahun-tahun. Keinginan saya untuk mempersembahkan diri seutuhnya kepada Yesus tersulut kembali ketika saya memulai melakukan pembedaan roh untuk menapaki panggilan dengan FSP.

Suatu pengalaman hebat yang meningkatkan kesadaran panggilan saya adalah tragedi 11 September 2001. Saya berduka bagi orang-orang yang meninggal dalam kekejaman yang sangat tidak masuk akal itu dan merasakan suatu beban yang semakin besar bahwa tidak apapun di dunia ini yang benar. Namun di tengah kegelapan ini, saya menemukan harapan yang tak terpadamkan dari dalam diri saya dan saya menyadari bahwa itulah Yesus sendiri yang menopang saya dengan kasih-Nya. Dan apa yang saya miliki itu sangat ingin saya bagikan dengan semua orang. Dari pengalaman ini, saya semakin yakin akan makna kehadiran saya, yaitu untuk menggunakan hidup saya supaya semua orang mengenal Yesus dan kasih-Nya yang tak terbatas bagi semua orang.

Mengapa saya bergabung dengan Daughters of St. Paul (FSP)? Ketika masa pembedaan roh degan para suster berlanjut, saya merasa ‘cocok’ dengan spiritualitas dan misi mereka. Saya meluangkan waktu bersama dengan para suster, ikut serta dalam kehidupan dan misi mereka kapan pun saya bisa, kebanyakan ketika akhir pekan. Saya merasa Yesus menunjukkan kepada saya bahwa dengan menjadi seorang FSP, saya bisa melayani-Nya dengan baik dan mewartakan Yesus kepada dunia. Beato James Alberione, pendiri tarekat ini dengan tepat sekali mengatakan, “Akal budi, hati dan jiwa seorang rasul dipenuhi oleh Yesus Kristus Sang Jalan, Kebenaran dan Kehidupan. Tidak dapat lagi menahan dirinya sendiri atau harta karunnya, ada rasa ingin menaburkan dan melimpahkannya kepada orang lain. Dia ingin setiap orang membagikan kekayaannya, dan maka dari itu mencari cara yang terbaik dan tercepat.”

Dan bagaimana saya tahu kapan waktunya untuk melakukan lompatan dalam kehidupan saya ini? Secara alami, dalam waktu satu setengah tahun ketika saya melakukan pembedaan roh dalam panggilan saya bersama dengan FSP, ada saatnya saya mengalami rasa takut, ragu, dan bimbang. Tetapi Yesus dalam Ekaristi selalu setia dan senantiasa meyakinkan saya dengan sabda-Nya, “Jangan takut, Aku bersamamu.” Kedamaian abadi yang saya alami dalam doa, akhirnya menaklukkan keraguan dan ketakutan yang saya alami, dan saya tidak mampu lagi menolak-Nya. Saya menyampaikan kabar itu kepada keluarga dan teman-teman saya dan di tengah reaksi mereka yang beragam, saya masih menemukan keberanian untuk bergabung dengan FSP.

Perjalanan Masa Formasi

Waktu persiapan untuk menjadi seorang suster FSP meliputi dua tahun masa postulat kemudian dua tahun masa novisiat, dan setelah itu, jika Allah menghendaki maka kaul pertama diucapkan. Tahun-tahun ini adalah masa pembedaan roh yang lebih mendalam lagi dalam komunitas pada suster.

Pada bulan Agustus 2003, saya tiba di Boston, Amerika Serikat, saya tidak mengira ada 60 suster, namun kami diterima dengan hangat dan merasa sangat betah. Setiap hari, kami mengadakan satu jam adorasi di hadapan Sakramen Mahakudus, dan waktu satu jam itu menjadi puncak dalam hari saya! Karena kami jemaat apostlik yang aktif, kami juga ikut serta dalam pelayanan secara aktif, meskipun di tahun-tahun awal masa formasi, kami lebih sering menggunakan waktu kami untuk belajar dan merenung.

Sejauh ini, pengalaman saya dalam misi kami termasuk melakukan komunikasi tentang Kristus melalui pameran buku, pesta Bayi Yesus (di mana anak-anak akan datang ke toko buku kami untuk berfoto bersama Bayi Yesus dalam perayaan kelahiran-Nya), konser Natal, seminar panggilan dan adorasi Ekaristi di berbagai paroki. Pendiri tarekat kami berkata, ‘Kasih itu kreatif’ dan dengan berbagai pengalaman ini benar-benar mewujudkan kasih yang kreatif dan kolaborasi para suster!

Suster Karen dalam misi musim panas di Filipina (Sumber: catholic.sg)

Dalam masa postulat, saya bekerja paruh waktu di Departemen Pemasaran di Rumah Penerbitan tarekat kami. Dalam sudut pandang yang berorientasi pada misi, bidang pemasaran membantu untuk membangkitkan keinginan terdalam orang-orang akan Allah dengan menawarkan mereka pengalaman bersama Allah melalui berbagai bentuk media seperti buku, music, radio dan internet. Saya juga mengalami sebulan bersama dengan komunitas di Miami, Florida dengan melayani di Pauline Book & Media Center. Di sana saya mempelajari segala macam rintangan yang harus dihadapi, sebagian besar kendala bahasa, karena kami melayani 60% warga Hispanik di Miami. Rintangn itu bisa diatasi dengan senyuman hangat, kesediaan untuk meminta bantuan dan kemampuan untuk tertawa bersama karena miskomunikasi yang kami alami. Sungguh menyenangkan mengundang banyak orang untuk mengunjungi Sakramen Mahakudus di kapel di toko buku kami.

Selama tahun-tahun ini, kelas-kelas kami tentang Kitab Suci, Katekismus, Sejarah Gereja, Sejarah dan Spiritualitas Pauline, dan pembentukan manusia dan spiritual telah memungkinkan saya untuk memperdalam hubungan saya dengan Tuhan, membantu saya mengenali kehadiran-Nya dalam hidup saya dan dalam kehidupan orang-orang yang saya jumpai.

Hidup dalam komunitas adalah bagian besar dari kehidupan religius. Saya bersyukur karena hidup bersama dengan para postulan, novis, maupun para suster yang usia, budaya, dan latar belakangnya berbeda-beda. Dan maka dari itu, tidak ada masa-masa yang membosankan! Tentu saja pasti ada perbedaan dan gesekan di antara kami. Namun peristiwa ketegangan yang kami alami menjadi kesempatan untuk memberi dan menerima cinta dan pengampunan sehingga kami bertumbuh dalam semangat rekonsiliasi, persatuan, dan kolaborasi. Kekuatan dan sukacita diperoleh dalam berbagi misi yang sama dan tinggal dalam sebuah komunitas yang berpusat kepada Yesus! Tahun-tahun ketika saya bergabung dengan komunitas itu menjadi masa yang paling intens dan indah dalam hidup saya, dipenuhi dengan banyak cinta dan sukacita bahkan di tengah-tengah tantangan kehidupan.

Saya memulai masa novisiat pada bulan Agustus 2005, dan sudah memasuki kehidupan doa yang mendalam, melakukan refleksi dan belajar sejarah, karisma, dan konstitusi (aturan kehidupan) para suster FSP. Kasih Allah yang selalu mencukupkan saya senantiasa memberi saya tenaga dan membantu saya bertumbuh dalam kebebasan untuk semakin utuh menjadi diri saya seperti yang Ia kehendaki. Yesus, Sang Guru Ilahi adalah Jalan, Kebenaran, dan Kehidupan dan Ia yang membentuk kita menjadi rasul-rasul yang efektif yang dipadukan dalam akal budi, kehendak dan hati, “sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam diri saya” (Galatia 4:19). Formasi hanyalah permulaan dari proses seumur hidup yakni “menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru” (Kolose 3:10). Pada akhirnya, panggilan bukanlah mengenai apa yang bisa saya lakukan, namun tentang siapa diri saya dan milik siapa saya ini.

Jadi mengapa orang-orang memutuskan menjadi suster? Bagi saya, hal itu dimulai ketika saya mengalami kasih Yesus yang mengubah hidup saya, dan saya jatuh cinta kepada-Nya. Saya menyadari bahwa tidak kurang dari menjadi sepenuhnya milik-Nya yang akan memuaskan saya. Ketika saya dalam masa pembedaan roh dalam panggilan saya, dalam pandangan teman-teman saya, saya tampak jelas sekali sedang jatuh cinta meskipun saya tidak mengungkapkan identitas Kekasih saya. Saat itu, saya tidak memiliki kata-kata mengapa saya memasuki kehidupan religius, namun sekarang inilah penjelasannya. Inti dari persembahan diri dalam kehidupan religius saya adalah kasih saya yang penuh gairah kepada Yesus, bukan karena inisiatif pribadi saya karena Ia terlebih dahulu mengasihi saya dan memberikan diri-Nya sendiri bagi saya. Ia mengundang saya ke dalam keintiman yang lebih besar dengan-Nya.

Ketika seseorang mendengar suara Allah dan menginginkan sesuatu yang tidak lebih dari tanggapan panggilan-Nya (menjadi suster –red.) yang tak tertahankan, kasih-Nya menjadi kasih orang itu, umat-Nya menjadi umat kepunyaan orang itu.  Seorang wanita yang ingin memberikan diri seutuhnya sehingga orang lain akan menemukan kasih-Nya dan menemukan bahwa kasih itu adalah makna sejati dalam kehidupan mereka. Apa yang ada di depan kita tidak dapat diketahui dengan pasti, namun ada satu kepastian bahwa apa yang kita butuhkan dan janjikan adalah kasih Tuhan. “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10). Sejauh ini perjalanan hidup saya menjadi salah satu sukacita dan petualangan besar dalam hadirat Allah yang kekal. Setiap hari, saya mengalami lagi kebenaran bahwa hanya Yesus yang dapat menawarkan hidup yang berkelimpahan melampau imajinasi saya!

Catatan kaki:

[1] Quarter life crisis adalah sebuah periode ketika seseorang cemas, ragu, gelisah, dan bingung terhadap tujuan hidupnya. Tidak hanya tujuan, kondisi ini terjadi pula pada orang yang ragu pada masa depan dan kualitas hidup, seperti pekerjaan, asmara, hubungan dengan orang lain, hingga keuangan. Krisis ini sangat sering terjadi ketika Anda mulai memasuki usia 20-30 tahun. (Jennyfer, M.Psi dalam hellosehat.com)

Sumber: “A Call to Greater Love and Intimacy – Sr Karen Theresa, FSP”

Posted on 4 January 2020, in Kisah Iman and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: