Mengapa Tuhan Yesus Disunat?

Oleh Philip Kosloski

Yesus Disunat Karya Giovanni Bellini (Sumber: wikipedia.org)

Bukankah sunat itu bagian dari “Hukum yang lama”?

Setiap tanggal 1 Januari, selain memperingati Hari Raya Santa Maria Bunda Allah, menurut tradisi Gereja Katolik merayakan Pesta Penyunatan Tuhan. Pada hari itu adalah hari kedelapan setelah perayaan kelahiran Tuhan Yesus. Pada hari itulah kita bisa mengingat kembali tradisi sunat orang Ibrani kuno yang ditetapkan kepada Abraham.

Dalam Kitab Kejadian, Allah berfirman kepada Abraham, “Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun … maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal” (Kejadian 17:10-12a, 13b).

Ritual perjanjian ini diperbarui pada zaman Yosua (lih. Yosua 5) dan tetap berlaku hingga zaman Yesus, dan kebanyakan orang Yahudi masih melakukannya hingga kini.

Namun mengapa Yesus, Tuhan Perjanjian Baru, harus tunduk pada tata cara “Hukum Lama”?

St. Paulus memberikan kita wawasan mengenai hal itu dalam suratnya kepada jemaat di Galatia.

Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah. (Galatia 4:4-7)

Yesus seorang Yahudi yang taat, sehingga Ia akan memperbarui apa yang “lama” dan membawa kita menuju Perjanjian Baru dalam darah-Nya. Oleh karena itu, seperti yang dijelaskan St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, sunat bukan lagi tanda perjanjian kita dengan Allah.

Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih. (Galatia 5:6)

Ritual penyunatan menjadi bagian penting dari misi Yesus Kristus untuk menebus kita, dan banyak penulis rohani kuno menggambarkan peristiwa itu sebagai bayang-bayang kurban Kristus yang berdarah di kayu salib. Kedua peristiwa itu saling terkait dan dapat membantu kita dalam melihat gambaran lengkap tindakan penyelamatan Yesus di bumi.

Alasan penyunatan Yesus dapat diringkas dengan begitu apik dalam Kitab Wahyu, di mana Yesus berseru, “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” (Wahyu 21:5).

Sumber: “Why was Jesus circumcised?”

Posted on 28 January 2020, in Kenali Imanmu, Kitab Suci. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: