Mengapa Kita Menandai Diri dengan Air Suci ketika Masuk Gereja?

Oleh Philip Kosloski

 

Ketika kita hadir di gereja Katolik untuk mengikuti Misa, kita suka memperhatikan semua umat yang berhenti sejenak ketika mau memasuki pintu masuk gereja, bahkan kita juga termasuk yang melakukannya. Kita berhenti dan mencelupkan jari kita ke tempat air suci dan menandari diri kita dengan tanda salib.

Mengapa kita melakukannya?

Selain mengingat kembali sengsara Kristus dan menyatakan iman kita dalam Tritunggal Mahakudus, kita sebagai umat Katolik memberkati diri kita sendiri dengan air suci terutama sebagai pengingat akan Sakramen Baptis yang telah kita terima.

Katekismus Gereja Katolik menjelaskan mengapa air memegang peranan penting dalam kehidupan Gereja:

“Dalam upacara Pembaptisan air adalah lambang tindakan Roh Kudus, karena sesudah menyerukan Roh Kudus, air menjadi tanda sakramental yang berdaya guna bagi kelahiran kembali. Seperti pada kelahiran kita yang pertama kita tumbuh dalam air ketuban, maka air Pembaptisan adalah tanda bahwa kelahiran kita untuk kehidupan ilahi, dianugerahkan kepada kita dalam Roh Kudus. “Dibaptis dalam satu Roh”, kita juga “diberi minum dari satu Roh”. Jadi Roh dalam pribadi-Nya adalah air yang menghidupkan, yang mengalir dari Kristus yang disalibkan dan yang memberi kita kehidupan abadi” (KGK 694).

Katekismus lebih dalam lagi mengajarkan perlusnya suatu tempat dalam gedung gereja untuk mengingat kembali peristiwa kelahiran kita dalam kehidupan rahmat (Sakramen Baptis –red.).

Himpunan Umat Allah dimulai dalam Pembaptisan: Gereja harus mempunyai satu tempat untuk perayaan Pembaptisan [baptisterium] dan melalui bejana air berkat menghidupkan terutama peringatan akan janji-janji Pembaptisan (KGK 1185).

Pada mulanya, air yang digunakan untuk pembaptisan dan ditempatkan di tempat air suci itu diberkati hanya setahun sekali yaitu pada Vigili Paskah dan air itu disimpan untuk digunakan sepanjang tahun itu. Saat ini, sebagian air diberkati oleh imam selama perayaan Vigili Paskah ketika umat diingatkan kembali tentang karya penyelamatan Allah dalam sejarah manusia melalui air. Pemberkatan itu berakhir ketika lilin Paskah yang mewakili Terang Kristus, dicelupkan tiga kali ke dalam air. Dengan tindakan ini, air dianggap “suci” dan dipisahkan untuk fungsi khusus seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Meninggalkan yang duniawi dan memasuki yang kudus

Selain untuk mengingat kembali kelahiran kembali yang kita alami dalam Pembaptisan, tempat air suci juga memiliki fungsi praktis yang bisa membantu perpindahan kita dari dunia yang sekuler menuju ke Rumah Allah.

Menurut Romo John Bartunek di SpiritualDirection.com, tempat air suci sebenarnya berukuran lebih besar dan diperuntukkan untuk membersihkan tubuh seseorang yang kotor sebelum memasuki tempat kudus.

“Bahkan dalam agama-agama kuno bukan Kristen (termasuk agama Yahudi), ritual pembersihan (pembasuhan) seringkali menjadi tahap awal sebelum melakukan ibadah formal. Maka, ketika rumah ibadah umat Kristen didirikan, atrium (semacam tempat terbuka dari suatu bangunan, mirip halaman –red.) yang dibentuk semacam tempat peralihan dengan bagian luar, atau antara tempat umum dan gereja di mana liturgi dirayakan di dalamnya. Dalam atrium itu seringkali terdapat air mancur. Umat akan berhenti di air mancur itu dan membasuh tangan dan kaki mereka (pada zaman dahulu, sepatu tidak lazim digunakan seperti sekarang ini, setidaknya di iklim yang lebih hangat) sebelum memasuki tempat suci.”

Bahkan Yesus membasuh kaki para murid-Nya sebelum merayakan Ekaristi yang pertama.

Meskipun saat ini tidak menggunakan cara yang sama, tempat air suci masih menjadi pengingat bagi kita sebelum memasuki “Perjamuan Kawin Anak Domba,” kita harus membersihkan diri kita sendiri dan mengenakan “pakaian pesta” untuk ikut serta di meja perjamuan.

Walaupun kita merasa kebiasaan kita memasuki gereja Katolik itu mudah dan seringkali kita terburu-buru dalam ritual memberkati diri kita dengan air suci, simbolisme di balik tindakan kita ini patut direnungkan lebih dalam lagi dengan berhenti sejenak lebih lama.

Hal ini bertujuan sebagai pengingat bagi kita akan pembaptisan yang sudah kita terima dan memberikan kesempatan bagi diri kita untuk meninggalkan hal-hal duniawi sejenak dan memasuki yang kudus.

Sumber: “Why do Catholics bless themselves with holy water when entering a church?”

Posted on 3 February 2020, in Ekaristi and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: