Puasa Kristus sebagai Jawaban Sejarah Israel

Oleh Gary Michuta

Jesus Tempted in the Wilderness (Jésus tenté dans le désert) karya James Tissot (Sumber: wikimedia.org)

Ketika Allah menjadi manusia dan tinggal di antara kita, segala sesuatu yang Ia lakukan adalah wahyu yang penuh makna. Namun kadang-kadang tidak selalu jelas mengapa Yesus melakukan sesuatu yang dilakukan-Nya. Contohnya mengapa Yesus menuju ke padang pasir untuk berpuasa selama 40 hari, berdoa, dan digoda oleh Iblis (Matius 4:1-11, Markus 1:12-13, Lukas 4:1-13)? Beberapa perikop Perjanjian Lama mampu menjelaskan alasannya.

Dua orang tokoh yang paling menonjol di Perjanjian Lama dalam iman Yahudi adalah Musa dan Elia. Musa memimpin keluaran (pembebasan dari perbudakan Mesir), dan melalui Musa itulah Allah memberikan hukum-Nya atau Taurat kepada umat-Nya. Sementara itu, Elia adalah salah satu nabi besar Perjanjian Lama, dalam Kitab Sirakh 48:4 mengatakan bahwa tidak ada nabi yang dapat menyamai kemuliaannya. Dan jika kita ingat, Musa dan Elia yang mendapatkan kehormatan untuk menampakkan diri bersama Yesus pada waktu Transfigurasi untuk membicarakan dengan-Nya mengenai “kepergian/exodus” yang akan Ia jalani (Lukas 9:31).

Apa hubungan Musa dan Elia dengan puasa Kristus di padang gurun? Anehnya, ada hubungan erat. Kedua tokoh Perjanjian Lama itu berpuasa selama 40 hari. Setelah mengembara melalui padang pasir, Musa dan bangsa Israel tiba di Gunung Horeb: “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Tuliskanlah segala firman ini, sebab berdasarkan firman ini telah Kuadakan perjanjian dengan engkau dan dengan Israel.” Dan Musa ada di sana bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman” (Keluaran 34:27-28).

Elia juga berpuasa selama 40 hari ketika dia melarikan diri demi nyawanya dengan pergi ke padang gurun. Seorang malaikat menampakkan diri dan memberinya roti dan air untuk menopang perjalanannya. Dalam kitab 1 Raja-raja 19:8 tertulis, “Maka bangunlah ia, lalu makan dan minum, dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.”

Ketika kita melihat kedua tokoh di atas dengan pandangan yang lebih luas mengenai keluaran, kita bisa melihat beberapa kesamaan. Dalam peristiwa keluaran, Musa dan bangsa Israel melepaskan diri dari Mesir dengan melawati Laut Merah dan melarikan diri ke padang gurun. Di padang gurun, bangsa Israel bersungut-sungut terhadap Musa karena tidak punya makanan dan minuman, maka Allah memberikan mereka roti (manna) dan air (dari batu). Seorang malaikat menyediakan makanan bagi Elia dan Allah menyediakan manna yang disebut sebagai “santapan malaikat” (Kebijaksanaan 16:20). Musa, Elia, dan bangsa Israel berjalan melalui padang gurun ke Gunung Horeb (kadang disebut juga Sinai). Musa dan Elia berpuasa selama 40 hari. Israel berada di padang gurun selama 40 tahun.

Dengan melihat kehidupan Kristus sebagaimana yang diuraikan dalam Injil Matius, kita bisa melihat sebuah pola yang menarik. Setelah Raja Herodes mati, keluarga kudus yang bersembunyi di Mesir kembali ke tanah Israel, dengan demikian menggenapi Kitab Suci, “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku” (Matius 2:15, Hosea 11:1). Namun yang menarik adalah bahwa Hosea tidak berbicara langsung mengenai Mesias, namun dia berbicara mengenai keluaran.

Bangsa Israel melawati air setelah meninggalkan Mesir, dan Yesus melawati air pada saat pembaptisan-Nya (Matius 3). Kemudian, Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun dan berpuasa selama 40 hari, sama seperti Israel yang dibawa Allah ke padang gurun dan tinggal di sana selama 40 tahun.

Tidak seperti Israel, yang diuji oleh Allah dengan sikap ketidaktaatan mereka, iblis mencobai ketaatan Yesus. Tiga kali si Iblis mendekati Tuhan kita dan Yesus menjawabnya dengan tiga kutipan dari kitab Ulangan. Setiap kutipan itu penting. Kutipan pertama menjawab keluh kesah bangsa Israel mengenai kelaparan (Ulangan 8:3). Kutipan kedua adalah jawaban keluh kesah mereka mengenai rasa haus (Ulangan 6:16, Keluaran 17:1) dan kutipan yang terakhir menceritakan seluruh episode keluaran (Ulangan 6:13 atau 10:20). Dalam kata lain, ketika bangsa Israel gagal selama masa ujian di padang gurun, Yesus berhasil dengan mengutip firman yang seharusnya diucapkan oleh bangsa Israel.

Tampaknya kehidupan Yesus mengulangi dan menyatakan kembali pengalaman bangsa Israel dalam keluaran. Dalam Masa Prapaskah ini, mari kita ikut serta dengan setia selama ujian kita.

Gary Michuta adalah seorang apologis, penulis dan pembicara dan juga umat paroki St. Michael the Archangel di Livonia.

Sumber: “Christ’s fast in the desert is an answer to Israel’s history”

Posted on 29 February 2020, in Kenali Imanmu, Kitab Suci and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: