Kisah Perjalanan Pastor Lutheran menjadi Katolik – Kisah David Woodby

David Woodby (Sumber: chnetwork.org)

Saya tumbuh di keluarga Kristen yang sangat miskin. Meskipun kedua orang tua saya tidak pernah ke gereja, mereka berdoa sebelum makan, atau dengan berbagai cara mereka menunjukkan komitmen kepada Kristus atau Gereja-Nya, kami selalu mengatakan bahwa kami adalah orang Kristen.

Ketika saya berusia 6 tahun, saya mengikuti sekolah Alkitab pada waktu liburan di Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah (Assembly of God). Sekitar tiga tahun kemudian, saya sesekali mengikuti sekolah Minggu.

Ketika saya berusia 14 tahun (pada tahun 1965), saya beserta ketiga saudari saya mulai ikut di Gereja Baptis Pertama. Setelah menerima Kristus, mengikuti kelas anggota baru dan dibaptis, kita menjadi anggota jemaat itu. Saya tidak terlibat dalam kelompok anak muda atau ikut sekolah Minggu, namun kadang-kadang saya ikut ibadah Minggu.

Pada tahun 1969 saya bertemu dan jatuh cinta dengan Harriet Dvorsky. Setelah jatuh bangun dalam masa pacaran, kami menikah di gereja Baptis. Harriet dibesarkan di Gereja Katolik namun tidak dia ikuti sejak usia 14 tahun. Kami tinggal di Ypsilanti, Michigan, di mana saya belajar di perguruan tinggi setempat dan bekerja dengan General Motors. Kami tinggal di Ypsilanti selama enam tahun, namun tidak pernah menemukan sebuah gereja Baptis yang bisa kami ikuti.

Pada tahun 1975 kami pindah ke Blissfield, Michigan dan mulai mencari gereja. Ada perasaan mendesak, karena Jesus Movement (sebuah pergerakan Kristen Injili dari wilayah West Coast Amerika Serikat –red.) sangat populer di tempat saya bekerja, dan saya terjebak di dalamnya. Saya mulai membaca Alkitab setiap hari, berdoa, dan belajar Alkitab pada waktu makan siang bersama para “freaks” (sebutan bagi anggota Jesus Movement –red.). Saya mulai membiasakan diri untuk membaca bacaan Kitab Suci harian dan membaca seluruh Alkitab dalam setahun. Saya dan Harriet pergi ke konser Kristen dan membeli beberapa rekaman dan kaset. Lagu-lagu itu tidak hanya memperkuat apa yang sudah kami yakini, namun juga membentuk apa yang kita imani.

Saya juga mulai membeli buku, majalah, dan koran yang berbau agama Kristen. Apa yang saya baca tidak memiliki pola atau alasan, saya akan membaca bahan-bahan dari penulis Katolik maupun anti-Katolik, penulis karismatik maupun anti-karismatik. Saya menemukan bahwa setiap gereja punya masing-masing kebenaran maupun kesalahannya. Seseorang hanya perlu berpegang pada kebenaran dan menolak kesalahan, maka Roh Kudus akan membimbingnya.

Kami ikut serta di Gereja Lutheran St. Paul dan bergabung dengan kelas anggota baru. Saya mengalami kesulitan dengan pemahaman Lutheran mengenai sakramen sebagai sarana rahmat, secara khusus mengenai pembaptisan bayi dan kepercayaan mereka akan kehadiran nyata Ekaristis. Saya mempelajari segala sesuatu semampu saya mengenai pemahaman Lutheran mengenai sakramen. Namun saya masih tidak dapat memahami mengapa Anda membaptis seseorang sebelum dia beriman, dan hal itu menjadi pokok pembicaraan dengan kelompok belajar Alkitab di tempat kerja saya.

Orang-orang Kristen di tempat kerja tidak setuju dengan apa yang saya pelajari mengenai baptisan. Mereka bersikeras bahwa pembaptisan bayi adalah pekerjaan sia-sia. Mereka selalu mengutip Titus 3:5: “Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya.” Namun saya berpendapat bahwa baptisan adalah anugerah dari Allah, bukan karena perbuatan baik yang kita lakukan. Saya berkata: “Dalam teks itu, Paulus melanjutkan perkataannya bahwa kita diselamatkan oleh ‘permandian kelahiran kembali’ yang merupakan baptisan kita.” Mereka akan membantah ayat kitab suci ini, bahwa hal itu tidak berarti baptisan air, karena kita tidak diselamatkan melalui pembaptisan. Oleh karena itu, “permandian kelahiran kembali” pastilah membersihkan diri kita dalam firman Allah melalui baptisan Roh Kudus. Sebagai gantinya, saya menunjukkan bahwa dalam Kisah Para Rasul 16, ketika Lidia dan kepala penjara itu percaya kepada Kristus, seluruh keluarganya dibaptis. Oleh karena itu, jika seluruh keluarga itu termasuk bayi, maka bayi itu akan dibaptis. Kitab Suci tidak mengatakan ada bayi, namun juga tidak mengecualikan bayi.

Kami bergabung dengan Gereja Lutheran St. Paul, dan tak lama kemudian kedua anak kami dibaptis. Saya dan Harriet menjadi sangat terlibat dalam kehidupan jemaat dan juga dalam Pembaruan Karismatik Lutheran. Tak lama kemudian, saya mengajar di sekolah Minggu, dan terpilih menjadi seorang penatua gereja dan presiden sidang gereja. Semakin terlibat, semakin kita menikmati menjadi anggota gereja Lutheran.

Setelah beberapa tahun, saya merasa yakin bahwa Tuhan menginginkan saya untuk menjadi seorang pastor. Namun, saya tidak memiliki keinginan untuk melakukannya, karena saya sudah merencanakan hidup saya. Selama tiga bulan, saya bergumul dengan Tuhan mengenai ide yang tidak masuk akal ini. Menariknya, salah satu ajaran dasar yang kami terima adalah mengenai ketuhanan Yesus Kristus. Tuhan baik dalam Kitab Suci maupun tuntunan Roh Kudus, memberi tahu Anda untuk melakukan sesuatu, satu-satunya jawaban yang bisa diberikan seorang murid adalah, “Ya, Tuhan.” Jika Anda berkata, “Tidak, Tuhan, saya tidak akan mematuhinya,” maka sama saja Anda berkata bahwa Yesus bukanlah Tuhan dalam hidup Anda. Satu hari Minggu, Harriet berkata kepada saya, “Dave, Saya kira Tuhan ingin kamu menjadi seorang pastor. Saya sudah menentang ide itu karena saya benar-benar tidak mau menjadi istri pastor. Tapi …” Tapi setelah kami berdiskusi, kita berdua berkata, “Ya” kepada rencana Allah dalam hidup kami.

Kami pergi untuk berbicara dengan pastor kami. Dia berkata bahwa dia akan mendukung kami seratus persen. Kami membahas langkah selanjutnya, yang bagi saya adalah kembali ke bangku kuliah. Untuk menuju ke seminari Lutheran, Anda perlu gelar sarjana, dan saya hanya memiliki gelar diploma. Tapi saya tidak mampu untuk kuliah. Pastor kami berkata bahwa ada dana yang bisa digunakan. Jika saya mendaftar kelas kuliah dan membeli buku-bukunya, dia akan mengembalikan uang saya.

Ketika Tuhan berkata kepada Anda untuk melakukan sesuatu. Ia akan menyediakan segala sesuatu yang Anda butuhkan, dari hal keuangan sampai kemampuan diri. Saya mendaftar di Eastern Michigan University. Satu hal yang Allah sediakan adalah tempat untuk merenung dan berdoa: tempat itu sebuah kapel Katolik. Setiap hari saya berdoa di kapel itu, sementara Misa sedang dirayakan di sana. Saya merasa terkesan dengan keindahan liturgi dan kerendahan hati mereka, ketika mereka berkata, “Tuhan, saya tidak layak Tuhan datang pada saya, tapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh” (lih. Matius 8:8).

Setelah lulus, kami pindah ke Colombus, Ohio, tempat saya mendaftar di Trinity Lutheran Seminary. Di seminari itu saya menemukan tulisan para Bapa Gereja. Saya merasa terkesan dengan tulisan-tulisan itu, tulisan itu sepenuhnya mengenai Kristus dan Gereja-Nya. Saya mulai dengan Didakhe, di mana ajaran mengenai baptisan dan Ekaristi terdengar seperti ajaran Lutheran bagi saya. Para Bapa Gereja dengan pasti mengubah pandangan saya dari teologi Injili ke teologi Lutheran. Pada saat itu, alasan saya mengapa tulisan itu belum membantu saya menjadi Katolik karena saya ‘kurang mengetahui’ ajaran dan teologi Katolik. Saya mengatakan “kurang mengetahui” karena sebagian besar yang saya tahu adalah setengah benar, fitnah, dan kebohongan. Saya harus membuang beberapa hal untuk mempelajari kebenarannya. Bahkan pada saat itu, saya bukan seorang anti-Katolik, hanya benar-benar tidak peduli dengan agama Katolik.

Di seminari, saya mengambil kelas tentang sejarah Reformasi. Luther percaya bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya otoritas yang diperlukan untuk merumuskan doktrin. Dia percaya bahwa siapapun yang berkehendak baik, membaca Kitab Suci, akan mendapatkan penafsiran yang benar. Gagasannya sangat cepat diuji. Reformasi adalah hal yang bisa dikatakan baru ketika Luther dan salah seorang reformator lainnya yang bernawa Zwingli berdebat hebat mengenai Komuni Suci. Posisi Zwingli mengatakan bahwa Ekaristi hanyalah perjamuan peringatan yang bersifat simbolis. Zwingli menekankan kata-kata, “Lakukanlah ini untuk mengenangkan daku.” Di sisi lain, Luther menekankan kata-kata, “Inilah tubuh-Ku.” Sampai pada suatu titik, argument menjadi semakin panas sehingga Luther melepaskan sepatunya dan memukul meja untuk menekankan argumennya, dan berteriak, “Teks ini mengatakan, ‘Inilah tubuh-Ku, inilah tubuh-Ku, inilah tubuh-Ku!” Kedua pria itu menelaah Kitab Suci, namun masing-masing muncul dengan interpretasi yang sangat berbeda.

Saya lulus dari seminari pada tahun 1985, dan saya ditahbiskan, dan saya menanggapi panggilan pertama saya di Gereja Lutheran St. James di Coral Gables, Florida. Jemaat di sana sangat terlibat dalam Pembaruan Karismatik Lutheran dan dalam Lutheran Cursillo (yang kemudian namanya berubah menjadi Via de Cristo). Saya melayani sebagai direktur spiritual di beberapa tim. Salah satu direktur spiritual lainnya berasal dari Church of God dan dia berbicara tentang kebiasaan sehari-harinya yaitu berdoa Rosario. Hal ini tidak masuk akal bagi saya, karena Rosario adalah doa Katolik, namun saya mengenal dia sebagai seorang pemimpin Kristen yang kuat, jadi saya menyangka bahwa Rosario tidak membuat dia tersinggung dan justru mungkin membantu pertumbuhan rohaninya. Saya menjadi terlibat dalam Kairos Prison Ministry (Cursillo untuk para narapidana). Kairos merupakan pelayanan antar-denominasi, dan banyak yang melayani di tim itu adalah orang-orang Katolik.

Selama kami berada di Coral Gables, saya mulai mimpi berulang kali, dalam mimpi itu saya sedang dijadwalkan untuk berkhotbah di sebuah gereja yang tidak saya kenali. Diakon menghampiri saya dan berkata, “Maaf, Anda berada di gereja yang salah. Gereja yang Anda cari berada di ujung jalan.” Saya kemudian meninggalkan gereja itu untuk mencari gereja yang benar. Dalam salah satu mimpi lainnya, saya sedang mencari mimbar, adapun mimbar itu terletak di tembok dinding. Saya berbicara kepada diakon, “Bagaimana saya bisa menuju mimbar itu?” Jawabnya, “Pergilah ke pintu samping dan memutari bagian belakang gereja. Anda akan menemukan pintu yang menuju ke mimbar.” Saya mengikuti arahannya, saya keluar pintu samping, melangkah keluar dan kemudian saya tersesat dan bingung. Saya tidak pernah menemukan pintu menuju mimbar, dan memang, saya tidak dapat menemukan pintu tempat saya keluar sebelumnya. Saya berkeliling di sekitar tempat itu dengan cemas. Kedua mimpi saya itu selalu berakhir dengan diri saya berada di tengah jalan dengan berbagai gereja yang berbeda-beda membentang jauh di kedua arah.

Kami meninggalkan Coral Gables pada tahun 1991 dan menerima panggilan di Gereja Lutheran St. Michael di Canton, Michigan. St. Michael merupakan gereja Lutheran terbesar yang saya layani, dengan lebih dari 1.700 anggota. Saya merupakan salah satu pastor tertahbis, dan jabatan saya adalah Pastor Penginjilan. Saya bertanggung jawab untuk semua iklan, penjangkauan, dan menghadiri semua pertemuan komunitas. Oleh karena inilah, saya menjadi tahu para diakon dan imam Katolik yang melayani di daerah kami. Saya dan istri saya menghadiri konser dan pertunjukkan yang diadakan di gereja Katolik setempat.

Karena mimpi saya yang muncul berulang kali mengenai diri saya yang berada di gereja yang salah, saya mulai mempelajari apa yang gereja-gereja lain percayai. Asumsi saya adalah bahwa Tuhan memanggil saya kembali ke gereja Pentakostal atau Injili. Namun, ketika saya mempelajari apa yang gereja-gereja itu percayai, selalu ada saja yang membuat saya tidak sependapat. Saya tidak dapat kembali kepada gereja yang memandang sakramen hanya sebagai simbol.

Sekitar waktu itu, versi perdana Katekismus Gereja Katolik diterbitkan. Ada pepatah, “Kebenaran akan memerdekakan kamu, walaupun pertama kali akan membuat Anda marah” dan pepatah itu benar. Saya membaca seluruh Katekismus itu dan menemukan banyak keindahan dan kebenaran, namun juga beberapa hal yang tidak sependapat. Namun demikian, minat saya akan para Bapa Gereja dihidupkan kembali. Saya membeli satu set tulisan para Bapa Gereja dan mulai mempelajarinya. Seorang teman yang beragama Katolik, mulai memberikan saya beberapa buku tentang kehidupan para kudus, dimulai dengan dua orang kudus favorit saya yaitu Fransiskus dan Klara. Inilah permulaan Tuhan menarik saya ke dalam Gereja Katolik.

Ada adegan di film Star Wars pertama, di mana Millennium Falcon keluar dari langit antar dimensi dan tertangkap tractor beam dari Death Star. Begitu ada seseorang terkena sinar itu, maka tidak ada jalan keluarnya. Beginilah yang terjadi dengan saya. Tidak seperti Hans Solo, saya melawan rasa ketertarikan saya, maka itu seperti tiga langkah maju dan dua langkah mundur.

Pada musim gugur tahun 1999, Tuhan membawa saya dan Harriet ke gereja Lutheran terakhir kami, yaitu Gereja Lutheran Redeemer di Owosso, Michigan. Gereja ini merupakan jemaat kecil, di mana saya satu-satunya pastor di gereja itu. Saya melanjutkan keterlibatan saya dalam acara-acara komunitas, melayani di berbagai dewan pelayanan, dan menjadi presiden di Asosiasi Pelayanan. Gereja-gereja di Owosso tampaknya mempunyai nilai perpecahan gereja yang sangat tinggi, yang membuat mereka melakukan pendirian gereja baru di sekitar kota. Hal ini mengganggu banyak pendeta di Owosso, dan sering ada diskusi bagaimana kami menemukan cara supaya orang Kristen dapat berjalan bersama dalam kesatuan. Perasaan umum mengenai persatuan itu akan terwujud hanya jika orang-orang mau membaca Alkitab dan menaati ajaran Yesus. Saya bertanya, “Siapa yang memiliki otoritas untuk menafsirkan Alkitab?” Yang lain menjawab demikian, “Jika orang-orang berhenti menafsirkan Alkitab dan berhasrat membaca dan menaati Alkitab, setiap orang akan melihat bahwa saya benar dan kita bisa berjalan dalam kesatuan.”

Kurangnya rasa persatuan juga terlihat di dalam Evangelical Lutheran Church in America (ELCA), tempat saya berada. Setiap tahun, setiap sinode (sebuah wilayah geografis di bawah wewenang seorang uskup Lutheran) akan mengadakan pertemuan mengenai tugas. Di sana akan ada perdebatan, forum, dan diskusi mengenai aborsi, perceraian, perkawinan kembali, pemberkatan hubungan LGBT, pemanasan global, dan lain-lain. Setiap orang yang berbicara akan mengutip Kitab Suci untuk memperkuat argumennya. Pada akhirnya, saya menyadari bahwa seseorang tidak bisa begtu saja mencomot ayat dari Alkitab untuk menyelesaikan argumen-argumen tentang masalah-masalah kontemporer. Tergantung dengan latar belakang mereka, orang-orang menafsirkan Kitab Suci dengan cara yang berbeda-beda, yang tidak mengarah pada persatuan tapi pada perpecahan. Selama diskusi, orang-orang sering berkata, “Selama 2.000 tahun, Gereja sudah mengajar …,” hal ini merupakan daya tarik kepada tradisi. Seruan mengenai tradisi dibuat karena hanya Kitab Suci tidak mampu menahan beban argumen-argumen itu.

Perlunya Kitab Suci dan tradisi paling jelas terlihat dalam argumen zaman ini mengenai kontrasepsi dan aborsi. ELCA mengeluarkan resolusi di mana mereka membuat komitmen untuk tetap netral dalam diskusi mengenai aborsi. Namun demikian, Sinode S.E. Michigan memberikan uang sejumlah $ 1.000 per tahun untuk Koalisi Keagamaan untuk Hak Reproduksi, sebuah organisasi yang sangat pro-aborsi. Bukan hanya Lutheran yang pro-aborsi. Anda bisa menemukan orang-orang Kristen yang pro-aborsi di setiap denominasi, bahkan mereka yang menggunakan hanya Kitab Suci senagai dasar untuk argumen mereka. Sejak saya menjadi seorang Kristen, saya selalu menjadi seorang yang pro-life. Ketika saya membaca Didakhe, saya menyadari bahwa umat Kristen sudah menjadi pro-life selama 2.000 tahun. Sekali lagi, hanya Kitab Suci tidak bisa menahan beban perdebatan mengenai aborsi. Namun demikian, Kitab Suci dan tradisi bersama-sama menjadi benteng kebenaran.

Pada bulan Agustus 2007, Majelis Nasional ELCA melakukan jajak pendapat untuk menahbiskan kaum homoseksual dalam sebuah hubungan berkomitmen dan akan bergerak menuju pemberkatan hubungan gay. Segera, jemaat yang saya layani memulai proses meninggalkan ELCA. Anehnya, proses inilah yang meyakinkan saya bahwa saya perlu menjadi seorang Katolik.

Secara pribadi, diri saya terkoyak. Saya tidak suka gagasan menjadi bagian kelompok sempalan, namun dalam hati nurani saya, saya tidak bisa untuk tetap berada di ELCA. Apa yang saya baca telah meyakinkan saya bahwa Tradisi Apostolik adalah bahan pertimbangan yang sangat penting ketika memilih gagasan-gagasan baru. Saya mulai membaca dan berdoa merenungkan Kitab Suci untuk melihat bagaimana perasaan Tuhan mengenai semua perpecahan yang berbeda-beda ini.

Dalam bab kedua dan keempat dari kitab Wahyu, Yesus mengirimkan surat-surat kepada tujuh gereja di Asia. Gereja di Efesus, Pergamus, Tiatira, Sardis, dan Laodikia memiliki masalah besar. Di gereja-gereja ini, Anda akan menemukan para guru dan nabi palsu, amoralitas seksual, kemurtadan, jemaat yang suam-suam kuku dan kehilangan kasih. Dalam setiap kasus, Yesus memanggil jemaat, setiap pribadi dalam jemaat, supaya mereka bertobat. Tidak sekalipun Ia bertanya, “Mengapa engkau tinggal di gereja yang mati ini? Mengapa engkau tidak memulai sebuah gereja yang baru?” Ketika Anda membaca doa Yesus untuk persatuan dalam Yohanes 17, Anda dapat melihat mengapa Yesus tidak pernah merekomendasikan skisma. Bagaimana Ia berdoa untuk persatuan dalam Yohanes 17, kemudian menyerukan perpecahan dalam kitab Wahyu? Apa yang saya alami hampir di setiap gereja Protestan tidak menjadi petunjuk dari teks ini.

Saya membeli Katekismus Katolik edisi revisi dan membacanya empat kali. Semakin saya membacanya, semakin saya memaham dan mempercayai apa yang diajarkan. Bersamaan dengan itu, saya meneruskan untuk membeli buku-buku tentang para Bapa Gereja dan kisah-kisah perubahan keyakinan kontemporer. Saya datang ke suatu tempat di mana saya mulai mencintai segala sesuatu tentang Gereja Katolik, saya berdoa supaya Tuhan membukakan mata saya jika selama ini pandangan bias saya telah membutakan saya dari kebenaran. Beberapa kali dalam seminggu, saya menghadiri Misa pagi. Saya juga mulai mendoakan Rosario, namun saya tidak bisa mendoakan doanya dan merenungkan peristiwa-peristiwanya pada saat bersamaan.

Ketika saya berlibur atau mengunjungi kerabat, kami sering beribadah di gereja Baptis, Pentakostal, ataupun Karismatik. Semua gereja itu mengasihi Tuhan dan mengklaim bahwa semua yang mereka ajarkan dan percayai itu berasal dari Kitab Suci. Namun, saya sering mendengar para pendeta dari gereja-gereja itu berbicara yang bertolak belakang atau menjelaskan apa yang tertulis dalam Alkitab.

Suatu hari Minggu, kami diundang ke pembaptisan sepupu saya. Pada awal pembaptisan, salah seorang pendeta ingin memastikan kami mengerti bahwa tidak akan terjadi apa-apa dalam pembaptisan: “Alkitab sangat jelas bahwa Baptisan tidak menyelamatkan Anda!” Segera Kitab Suci menghampiri pikiran saya: “Ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan banteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu. Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan” (1 Petrus 3:20-21). Kemudian pendeta itu berkata, “Dan saya ingin meyakinkan bahwa Baptisan tidak menghapus dosa-dosa Anda, karena hanya darah Yesus yang membasuh kita menjadi seputih salju!” Dan yang ada dalam pikiran saya adalah: “Lalu mengapa Ananias berkata pada Rasul Paulus, ‘Dan sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan’ (Kisah Para Rasul 22:16)?” Saya merasa bingung, semenatara itu setiap denominasi menyatakan bahwa pengajaran dan doktrin mereka berasal dari Kitab Suci saja, dan hal ini menjadi jelas bagi saya bahwa setiap orang memutarbalikkan, mengabaikan, dan bahkan mempertentangkan Kitab Suci untuk mempertahankan doktrin mereka. Hal ini benar adanya ketika dihadapkan dengan ajaran mengenai Baptisan dan Komuni.

Beberapa kali kami berada di gereja-gereja Injili ketika mereka merayakan perjamuan kudus. Pada suatu kesempatan, pendeta ketika mengucapkan kata-kata institusi, “Pada malam Ia dikhianati, Tuhan Yesus mengambil roti dan ketika Ia mengucap syukur, Ia memecah-mecahkan roti itu dan berkata, ‘Ini melambangkan tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu …” (yang katanya diambil dari 1 Korintus 11-24). Kita tidak bisa menemukan kata ‘melambangkan’ itu di satu manuskrip manapun. Namun, sebagai seorang Lutheran, saya mengerti apa yang dilakukan pendeta itu. Ketika Luther menambahkan kata “saja” dalam Roma 3:28, sehingga teks itu berbunyi, “Manusia dibenarkan karena iman saja,” dia mengatakannya karena hal itu tersirat dalam teks itu. Saya yakin bahwa para pendeta itu akan memberikan alasan yang sama untuk mengubah “inilah” menjadi “melambangkan” dalam teks itu. Ketika membaca tulisan para Bapa Gereja, saya melihat bahwa mereka tidak pernah mengatakan bahwa roti dan anggur itu hanya melambangkan tubuh Kristus. Sebaliknya, mereka semua sepakat dan selalu menyatakan bahwa itulah Tubuh dan Darah Kristus.

Ketika ayah saya berusia 87 tahun, ia menyerahkan hidupnya kepada Kristus dan memohon saya untuk membaptisnya pada acara reuni keluarga pada bulan Agustus. Karena ibu saya belum dibaptis, saya pikir mungkin dia dan ayah akan dibaptis bersama. Namun, ketika saya bertanya kepada ibu saya mengenai hal itu, dia menjawab, “Saya tidak perlu dibaptis, karena ibu saya (nenek dari David –red.) mengatakan bahwa kita tidak cukup dengan dibaptis.” Saya berusaha untuk mendiskusikan hal ini dengan ibu saya, namun dia menjadi marah dan saya disangka tidak menghormati ibunya itu. Mereka mulai pergi ke gereja setiap hari Minggu, keduanya pergi ke gereja Quaker, di mana keluarga ibu saya adalah anggota jemaatnya, atau mereka pergi ke gereja Sidang Jemaat Allah. Mereka membawa pertanyaan mengenai Baptisan kepada pendeta gereja Quaker. Pendeta itu memberitahu mereka bahwa tentu saja ibu saya bebas untuk dibaptis, jika dia ingin, namun ibu saya benar bahwa Baptisan bukanlah cara yang diperlukan. Pendeta itu melanjutkan berbicara tentang Yohanes Pembaptis, “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang datang kemudian … akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api” (Matius 3:11). Pendeta itu juga mengatakan bahwa kita tidak lagi memerlukan air karena yang utama adalah menerima baptisan Roh Kudus, yang dicurahkan Kristus kepada setiap orang ketika mengimaninya. Entah bagaimana ibu saya merasa bahwa dibaptis itu menjadi semacam penghinaan baginya, dan dia harus patuh kepada ibunya itu.

Ketidaksetujuan mengenai Baptisan adalah faktor klarifikasi bagi saya. Bagaimana doktrin hanya Alkitab bekerja ketika perbedaan penafsiran menjadi begitu mendalam ke masalah keselamatan? Yesus mengajarkan bahwa cara kita mengenal guru-guru palsu adalah melalui dari buah pengajaran mereka. Tampaknya bagi saya buah pengajaran Luther tentang hanya kasih karuia, iman, dan Kitab Suci adalah perpecahan terus menerus, tidak pernah menuju persatuan. Saya bertanya-tanya, mungkinkah setiap orang akan menjadi salah pada suatu saat, dan pada saat lainnya beberapa orang sudah dekat dengan kebenaran? Apakah mungkin ada satu denominasi yang memiliki kepenuhan kebenaran? Bagi saya, hal ini lebih dari sekadar pertanyaan filosofis. Ibu saya sudah menolak untuk dibaptis, dan pendetanya mengatakan bahwa baptisan bukan masalah penting. Pendetanya meyakinkan ibu saya bahwa dia sudah diselamatkan hanya oleh iman, bukan oleh perbuatan baik seperti pembaptisan. Namun demikian, jika ibu saya bertanya kepada pendetanya demikian, “Saya sudah dibaptis ketika masih bayi oleh seorang pastor dengan memercikan air di kepala saya,” maka pendeta itu akan bersikeras untuk melakukan baptis ulang, karena baptisan bayi dan pembaptisan dengan pemercikan air itu tidak sah. Sayangnya, ibu saya meninggal pada bulan April 2017, tanpa pernah menerima rahmat baptisan.

Saya dan Harriet setuju bahwa Tuhan memanggil saya untuk pension dari pelayanan Lutheran. Pada tanggal 1 Januari 2016, kami pindah ke Adnan, Michigan dan mulai mengikuti Misa di Gereja Katolik St. Joseph. Karena Harriet sudah dibaptis dan menerima penguatan sebagai seorang Katolik, maka dia hanya perlu melakukan pengakuan dosa kepada Romo Anthony dan memohon Uskup Boyea untuk menyatakan bahwa perkawinan kami sah untuk kembali ke persekutuan penuh dengan Gereja Katolik. Saya mengatakan “hanya” tapi bagi Harriet pengakuan dosa adalah langkah besar, dan dia merasa gugup melakukannya. Sudah lebih dari 50 tahun sejak pengakuan dosanya yang terakhir. Suatu hari Minggu, Romo Anthony memberi tahu kami bahwa Uskup Earl Boyea sudah menyatakan perkawinan kami itu sebagai perkawinan sakramental yang valid. Harriet melakukan pengakuan dosanya pada hari Selasa di kantor Romo Anthony. Kemudian kami perlu pergi ke Owosso untuk melakukan perjalanan bisnis beberapa hari ke depan. Pada hari Kamis, kami Misa di Gereja St. Paul. Saya tidak pernah menyadari betapa besar rasa bersalah yang dirasakan Harriet. Dia menerima Hosti Kudus dan kembali ke bangku. Matanya terpejam sambil berdoa dan menangis. Setelah itu, dia memberi tahu saya bahwa ketika dia menerima Hosti Kudus, segala rasa bersalah dan malu sirna seketika. Tidak ada yang pernah dia lakukan, tidak ada doa yang pernah dia doakan, tidak pernah ada pengakuan dosa kepada seorang pastor Lutheran, yang bisa melepaskan beban rasa bersalah dan rasa malu yang dia bawa selama 50 tahun. Namun ketika dia berpartisipasi dalam Sakramen Rekonsiliasi dan menerima Ekaristi Kudus, perasaan malu dan bersalah tiba-tiba hilang.

Setelah berminggu-minggu berdiskusi dengan Romo Anthony Strouse mengenai apa yang saya yakini, saya diterima di Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik pada tanggal 9 April 2016. Alhasil, saya memiliki perasaan kuat bahwa saya sudah pulang. Juga, mimpi-mimpi tentang berada di gereja yang salah sudah berhenti.

Saya masih mengasihi dan sangat menghormati semua saudara-saudari dalam iman yang berada di gereja-gereja Protestan. Saya menerima pengajaran yang baik dalam gereja-gereja itu, sehingga tidak ada yang harus saya hilangkan dengan menjadi seorang Katolik. Sebaliknya, saya merasa diberkati dengan menerima lebih banyak. Syukur kepada Allah, saya tidak lagi harus berdebat dan memutuskan doktrin yang benar. Saya memiliki Paus dan Magisterium. Syukur kepada Allah, saya tidak lagi bertanya-tanya mengenai siapa yang memiliki kebenaran. Gereja Katolik memiliki kepenuhan kebenaran. Syukur kepada Allah, persatuan kita ditemukan dalam bagaimana kita menafsirkan Kitab Suci, persatuan kita dalam Paus, para uskup, dan Ekaristi dalam Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus.

David Woodby adalah seorang pastor Lutheran selama lebih dari 30 tahun. Selama 25 tahun terakhir, ia bergumul dengan perasaan bahwa ia berada di gereja yang salah. Ia mulai mempelajari inti kepercayaan berbagai macam denominasi, dimulai dengan kelompok Pentakostal/Injili. Studinya mengenai para Bapa Gereja menariknya untuk melihat pada Gereja Katolik. Setelah membaca Katekismus Gereja Katolik selama lima kali, ia tahu bahwa Tuhan memanggilnya pulang. Pada tanggal 1 Januari 2015, ia pensiun lima tahun lebih awal dari yang sudah ia rencanakan. David diterima dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik pada tanggal 9 April 2016. Istrinya yang sebelumnya sudah kembali ke Gereja Katolik. David dan Harriet menikah selama 50 tahun. Mereka memiliki 3 orang anak dan 7 orang cucu. Saat ini mereka tinggal di Adrian, Michigan, dan mereka menikmati masa pensiun mereka.

Sumber: “Being True to the Truth”

Posted on 13 March 2020, in Kisah Iman and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: