Rahmat yang Menyelamatkanku – Kisah Michele Gower

Michele Gower (Sumber: michelegower.com.au)

Masa Kecil

Saya dibesarkan di sebuah keluarga kelas menengah biasa di Sydney, Australia dan saya merasa dicintai kedua orang tua saya. Ibu saya seorang Katolik yang tidak menjalankan imannya (yang tidak saya ketahui selama beberapa tahun) dan ayah saya seorang penganut Anglikan (Church of England). Saya di baptis di Gereja Anglikan. Keluarga saya tidak mengikuti atau meyakini agama apa pun. Saya punya sedikit teman yang suka pergi ke gereja, meskipun kadang-kadang saya suka ikut bersama mereka, saya berpikir bahwa gereja itu hanya untuk orang-orang yang “tidak keren.” Saya tahu sedikit tentang kisah Adam dan Hawa, namun hanya begitu saja. Ketika saya memasuki masa remaja, saya kadang-kadang ikut “persekutuan” di gereja setempat namun bukan karena saya punya minat akan agama. Tapi, saya ikut karena teman-teman saya ada di sana dan juga ada beberapa cowok ganteng!

Masa remaja

Di masa remaja, saya suka melakukan hal yang menyenangkan diri saya. Saya merokok, saya mabuk hampir di setiap akhir pekan, saya juga mencoba beberapa narkoba dosis rendah, tidak berusaha dengan baik di sekolah. Saya bukan anak remaja yang “bejat,” saya berkumpul untuk Bala Keselamatan (Salvation Army), bermain olahraga, dan melatih olahraga bola jaring dan bisbol junior . Saya hanya … melakukan apa yang saya inginkan.

Saya bertemu dengan Rohan yang sekarang menjadi suami saya, ketika saya berusia 17 tahun ketika liburan Natal sebelum saya masuk kelas 12. Ia berusia dua tahun lebih tua dari saya, dan ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Rohan mempunyai kedamaian dalam dirinya, dan tidak seperti saya dan kebanyakan teman-teman saya, ia tidak merokok dan tidak banyak minum-minum. Ia sangat menghormati kedua orang tuanya, terutama ibunya yang memperlakukannya dengan baik.

Ketika saya berusia 18 tahun, pagi hari setelah acara kelas 12 (acara malam kelulusan –red.), ayah saya masuk ke kamar saya dan berkata bahwa lengannya sangat sakit dan berharap supaya saya membawanya ke rumah sakit. Saya bersama dengan seorang teman yang bermalam di rumah saya setelah acara itu. Kami ada upacara kelulusan siang itu, dan kami berencana untuk pergi bersama. Saya menunggu teman saya yang sedang berdandan dan kami segera naik mobil untuk menuju ke rumah sakit. Hanya beberapa menit di mobil, ayah saya mengeluarkan suara dengkuran namun kedamaian tidak terlihat dalam dirinya. Saya menyadari ada sesuatu yang sangat salah, maka saya keluar dari mobil dan memanggil ambulan di telepon umum (terjadi pada tahun 1994 sebelum ponsel umum digunakan seperti saat ini). Saya sangat bingung dan gugup sehingga saya tidak ingat untuk memanggil 000 yang bebas pulsa. Pada saat pendaftaran ambulan, beberapa menit berlalu.

Ambulan itu datang dan membawa ayah saya. Ada kenangan yang berkabut tentang apa yang terjadi berikutnya, tapi saya ingat ketika saya menemui adik laki-laki saya di sekolah dan memberi tahu bahwa ayah sedang berada di rumah sakit. Kemudian saya menelepon ibu saya, tapi saya tidak ingat meneleponnya dari mana.

Kemudian saya pergi ke rumah sakit. Setibanya di sana, kami diberi tahu bahwa ayah sudah meninggal dunia. Ia mengalami serangan jantung, dan itulah yang pertama kali ia alami. Saya tidak mengerti, pada malam sebelumnya ia melambaikan tangannya dalam limusin, mengobrol bersama keluarga dan teman-teman kami, dan sekarang ia sudah meninggal. Saya tidak bisa memahaminya.

Sejak saat itu, saya memutuskan bahwa Tuhan itu tidak ada, dan jika ada, maka saya tidak menyukai Tuhan.

Masa dewasa

Lebih dari 15 tahun berikutnya, saya dan Rohan bertunangan, membeli rumah, memiliki bayi, dan pindah ke Central Coast. Kemudian kami punya 3 anak lagi. Ketika anak sulung kami mendekati usia sekolah, kami membuat keputusan untuk menyekolahkannya di sekolah Katolik. Suami saya sudah menjalani sistem sekolah Katolik, sedangkan saya sekolah di sekolah negeri. Saya menemukan diri saya tidak punya iman, maka jika anak-anak ingin tahu, Rohan akan membimbing mereka, jadi masuk akal jika mereka sekolah di sekolah Katolik.

Meskipun saya bukan seorang Kristen, saya menghargai didikan dan perhatian yang diberikan oleh sekolah Katolik kami itu. Dan sangat berbeda dengan apa yang saya ketahui. Saya menyukai cara anak-anak diminta untuk melakukan penggalangan dana bagi para tunawisma dan untuk anak-anak di negara-negara miskin, dan bukan untuk sekolah itu sendiri. Nilai-nilai yang diajarkan itu belum pernah saya alami sebelumnya, yaitu harapan yang tinggi untuk memerhatikan orang lain dan keinginan yang nyata untuk membantu mereka yang membutuhkan, sungguh indah.

Spiritualitas zaman baru

Selama bertahun-tahun, saya selalu tertarik pada hal yang spiritual. Saya pernah mengunjungi para peramal selama bertahun-tahun, membaca kartu tarot tentang saya, menggunakan kemenyan, membaca zodiak, menggunakan numerologi, dan berbagai macam hal lainnya. Saya suka menonton acara TV seperti Charmed, Supernatural, Buffy, dan Ghost Whisperer. Saya kira bahwa saya selalu tahu bahwa ada lebih banyak hal yang bisa kita ketahui, tapi karena saya belum pernah mendengar banyak tentang hal itu, saya hanya tidak tahu harus mempercayai apa. Ketika saya menjadi lebih tertarik pada hal-hal gaib, saya menggali lebih dalam untuk mengetahuinya. Saya ikut kelas untuk belajar bagaimana “bersatu dengan bumi pertiwi” dan bagaimana menyalurkan energi. Saya belajar membaca kartu tarot dan memutuskan menjadi media cenayang. Saya ikut berbagai acara dengan para peramal terkenal dan ikut festival pikiran, tubuh, dan roh. Saya juga tertarik pada alien, percaya sepenuh hati akan adanya peri dan unicorn, dan saya percaya bahwa bahwa alien sudah masuk ke kamar putri saya. Jelas sekali kalau saya tidak sehat secara mental.

Kemudian suatu hari semuanya berjalan terlalu jauh. Saya mengalami apa yang disebut dengan gangguan dan berakhir di fasilitas kesehatan mental (rumah sakit jiwa). Apa yang dianggap sebagai gangguan sebenarnya adalah sesuatu yang spiritual. Saya mendengar suara-suara, saya merasa bingung, saya pikir kalau saya bisa membaca pikiran orang lain, saya percaya akan sesuatu yang paling mengerikan dan saya benar-benar mengalami paranoid. Saya percaya kalau setan akan keluar dari dinding kamar saya.

Di rumah sakit jiwa saya diberi banyak obat … bisa dikatakan sangat banyak obat-obatan. Dan obat itu menjadikan segalanya lebih buruk. Saya hamper tidak bisa bicara dan tubuh saya tidak berfungsi dengan baik. Jika saya menolak pengobatan, saya diancam kalau mereka akan menyuntik saya. Tubuh saya tidak lagi berfungsi. Saya sudah meninggalkan peran dari seorang ibu dari 4 anak yang sibuk, pemilik usaha, sukarelawan komunitas bagi orang-orang yang tidak bisa sepakat (advokasi). Saat itulah menjadi saat yang paling tidak menyenangkan dan mengerikan dalam hidup saya. Saya benar-benar berada di jurang neraka. Setan sudah mendapatkan diri saya, dan tidak mau melepaskan saya. Saya merasa hampa, tidak punya jiwa. Hati saya kosong, tapi kepala saya penuh.

Pertobatan

Suatu hari saya duduk di pintu kaca, memandang taman kecil ini, dan berpikir bahwa itu pastilah Taman Eden. Saya berpikir bahwa jika saya bisa keluar ke sana, saya akan diselamatkan atau Tuhan akan menyelamatkan saya. Saya berusaha membuka pintu itu, tapi terkunci. Saya pikir jika kaca itu akan hilang, maka saya akan diselamatkan, tetapi hal itu tidak mungkin terjadi. Ketika saya melakukan hal ini, saya mencari Tuhan. Saya tidak tahu, tapi saya tahu.

Saya kemudian menyadari bahwa Tuhan bisa menjangkau saya di dalam gedung. Ia bisa menyelamatkan saya. Tidak masalah di mana saya berada. Selama waktu itu saya melihat matahari yang cerah dan indah. Pada saat itu, saya berpikir bahwa kuasa Tuhan ada dalam matahari. Matahari masuk ke belakang awan dan saya memohonnya supaya keluar bersinar kembali, segera hal itu terjadi. Dan tepat pada saat itu, ketika matahari menyilaukan saya dengan begitu kuat, saya merasakan ledakan yang hangat dalam diri saya, “ledakan” yang mengisi jiwa seutuhnya. Yang memancarkan kehangatan, sangat kuat, memberikan energi, dan di satu sisi saya tahu bahwa itulah yang ilahi, yang dikirim dari surga.

Itulah Roh Kudus. Saya tidak tahu bagaimana mengetahuinya, saya hanya tahu demikian. (“Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu” Kisah Para Rasul 1:8). Dalam peristiwa itu, saya mendengar kata-kata dalam hati saya, “Berpalinglah ke Iman Katolik dan kamu dan keluargamu akan selamat.” Saya tidak bisa menjelaskan bagaimana saya bisa mendengar kata-kata yang ada dalam hati saya itu, saya tidak pernah mengalami sebelumnya. Tapi saya tahu bahwa saya harus bertobat. Setan sedang menguasai saya, tapi Yesus akan menyelamatkan saya.

Sejak saat itu, saya dilingkupi anugerah. Saya mengatakan demikian karena saa tahu apa artinya, tapi waktu itu saya merasakannya bahwa saya merasa sangat kenyang, dan tidak peduli apa yang dikatakan dan diperbuat bagi saya, saya menanggapinya dengan cara yang damai. Hal itu benar-benar luar biasa, karena sampai saat itu saya menjadi wanita yang cukup bersemangat dan mampu mengendalikan diri.

Pertempuran itu berlangsung demi pikiran dan jiwa saya. Obat-obatan membuat saya hampir mati. Saya akan berdiri di dapur tanpa tahu bagaimana caranya membuat sandwich. Saya hampir tidak bisa berkomunikasi dengan suami dan anak-anak saya, dan saya tidak bisa merawat mereka. Apa yang dikatakan ibu saya kepada saudarinya adalah, “Kita sudah kehilangan dia, dia sudah pergi.” Tubuh saya ada di sana, tapi pikiran saya ada di tempat lain.

Obat-obatan yang mereka gunakan untuk saya itu sangat mengerikan. Saya mengalami penglihatan yang mengerikan, mendengar suara-suara, dan saya tidak taku kenyataan dari khayalan. Ketika saya menonton acara TV, maka seolah-olah darah menetes ke layar, ketika saya melewati sebuah bangunan dengan gambar api sebagai logonya, maka akan gedung itu kelihatan seperti terbakar. Gambaran yang seperti iblis.

Saya minum obat-obatan itu sendiri, ikut Misa sesering mungkin, dan berbicara dengan teman-teman yang Katolik. Saya punya tiga orang teman baik yang tahu bahwa bermain-main dengan dunia cenayang itu sangat berbahaya. Mereka akan mendoakan saya, mengajari saya doa rosario, dan memeriksa diri saya. Mereka akan mengingatkan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, tapi kita yang meninggalkan Ia. Saya mulai membaca Alkitab, mendengarkan lagu-lagu rohani Kristen, dan berdoa, semua itu tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Saya belajar untuk menjaga pikiran pada hal-hal yang baik bukan pada hal-hal yang buruk, karena saya sudah tahu dari mana datangnya yang buruk itu. Saya sangat berterima kasih kepada mereka dan keluarga saya, karena mereka mencintai saya dalam melalui masa yang paling kelam ini.

Paskah adalah saat bagi banyak orang bergabung dengan Gereja Katolik. Paskah hanya beberapa minggu lagi, jadi saya berbicara dengan beberapa orang yang akan membantu saya bergabung dalam Gereja. Ketika waktu semakin dekat untuk bergabung, pertempuran semakin sulit. Seorang teman memperingatkan saya bahwa semakin dekat memenangkan pertempuran, maka pertempuran itu menjadi semakin sulit. Dia tidak salah. Ada saat-saat ketika saya hampir tidak bisa berpikir, saya akan berputar-putar dalam kebingungan. Saya mengalihkan pikiran ke hal-hal yang suci, ke hal-hal yang baik, kepada Yesus. (“Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” Filipi 4:8). Kadang-kadang satu-satunya kata yang bisa saya bentuk dalam pikiran saya adalah sebuah lagu pendek tentang Yesus. Namun setiap kali saya menyebut nama Yesus, suara dan pikiran saya akan surut. Saya tidak memiliki kejelasan yang utuh, namun cukup untuk membuat diri saya lolos sampai ke serangan pikiran yang berikutnya. Saya tahu itu adalah hal yang supranatural, saya tahu Yesus yang melindungi pikiran saya. Saya tidak tahu bagaimana mengentahui hal ini, saya hanya melakukannya.

Saya hampir tidak berhasil melakukannya sampai ke Malam Paskah di mana saya akan dibawa ke persekutuan penuh dengan Gereja Katolik. Tuhan kembali menaruh kata-kata dalam hati saya, “Lakukanlah itu pada Paskah, dan kamu akan diselamatkan.” Saya berpikir untuk minum tablet-tablet itu, namun tidak cukup untuk membunuh saya. Saya hampir tidak bisa menjaga kewarasan saya untuk menghindari bangsal rumah sakit jiwa. Serangan yang terjadi begitu besar dan terus menerus. Ada seorang imam yang datang pada saya dan berdoa eksorsisme/pembebasan atas diri saya. Saya diserang melalui pikiran saya, jiwa saya, bahkan oleh teman dan keluarga saya, melalui beberapa perkataan yang keluar dari mulut mereka bukan berasal dari Tuhan. Setan tidak ingin saya bertobat. Namun, seperti yang kita ketahui, Yesus selalu menang. Ia menyelamatkan saya dan akan memberikan rahmat yang sempurna untuk menghantarkan saya sampai Paskah.

Rahmat yang Mengagumkan

Pada Paskah tahun 2013, saya diterima ke dalam Gereja Katolik. Sebagai bagian dalam proses ini, saya melakukan pengakuan dosa yang pertama. Saya mengakukan dosa-dosa yang sangat serius, salah satu dosanya yang saya sadari bertentangan dengan rencana Tuhan bagi saya. Namun indahnya proses ini adalah saya bisa membuat pengakuan, yang menawarkan untuk mengubah cara hidup saya, dan Yesus mengampuni saya. Saya didamaikan dengan Tuhan, saya memilih Tuhan, dan kemudian saya mendapatkan Komuni Kudus yang pertama, di mana saya menerima Yesus dalam Tubuh, Darah, dan Keilaihian-Nya. Selama masa ini, Yesus menggendong saya di pundak-Nya, seperti perumpamaan domba yang hilang.

Mulai saat inilah, saya mulai sembuh. Saya sering mengikuti Misa dan menerima Komuni. Pikiran saya muai dipulihkan, setiap pagi rasanya seperti satu lapis ditambahkan padanya, untuk memisahkan saya dan suara-suara danpemikiran-pemikiran yang sebelumnya ada dalam pikiran saya. Sepertinya pikiran saya sedang dirajut kembali, namun saya tidak memahaminya. Sekarang saya mengerti (“Engkaulah yang menenun aku dalam kandungan ibuku” Mazmur 139:13). Lagu “Amazing Grace” menjadi lagu “saya.” Lagu itu berbicara langsung kepada saya: Saya seorang yang malang namun Ia menyelamatkanku. Setan berusaha menjerat saya lewat jeratnya, dalam jaring dustanya, dan mengerahkan saya ke yang berbahaya. Sejak saat itu, untuk pertama kali saya benar-benar percaya kepada Tuhan, dan rahmat itu muncul.

Tuhan terus menerus menyembuhkan saya: pikiran saya, tubuh saya, dan jiwa saya. Setiap pagi saya bangun tidur dan seolah-olah pikiran saya sedikit demi sedikit disembuhkan. Pemikiran-pemikiran dan suara-suara semakin menjauh. Selama bertahun-tahun, saya pikir hal itu wajar untuk memiliki lima atau lebiih pemikiran yang mengalir sekaligus dalam benak saya, namun saya belajar bahwa hal itu tidak benar. Itulah si Setan yang membuat saya bingung. Ketika saya sembuh, saya menemukan kedamaian pikiran yang sejati. Saya beralih dari yang punya banyak pikiran sekaligus, menjadi hanya satu, atau kadang-kadang dua pikiran. Seolah-olah ada lebih banyak pikiran yang mencoba “masuk” namun tidak bisa. Selama saya menolak dan tidak terhubung dengan pikiran-pikiran itu, maka pikiran-pikiran itu akan pudar.  Saya tidak bisa mengatakan cara kerjanya dengan tepat, karena itulah penyembuhan ilahi. Tuhan memberi saya hati yang baru dan pikiran yang baru (“Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat” Yehezkiel 36:26).

Gereja Katolik, Yesus, Maria, para kudus, dan mengikuti Misa menjadi bagian hidup kita. Keluarga saya sepakat untuk mulai ikut Misa setiap hari Minggu dan saya kadang-kadang ikut Misa setiap hari. Pada suatu kesempatan, saya sedang Misa dan ketika menerima Ekaristi, sepertinya pikiran saya sedang semakin dirajut menjadi satu. Pada saat-saat seperti inilah saya berharap untuk melihat dunia spiritual sehingga saya dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi. Saya belajar dengan cara yang sulit, bahwa saya berusaha mencoba melihat sekilas apa yang seharusnya tidak diketahui adalah tidak bijaksana. Jika Tuhan ingin saya melihat sesuatu, saya tahu Ia akan menunjukkannya pada saya.

Tujuh tahun kemudian, saya masih mencintai iman Katolik saya. Saya cinta bahwa saya adalah bagian dalam Gereja yang satu dan sejati yang dimulai oleh Yesus sendiri. Saya cinta bahwa Ia menyembuhkan melalui sakramen Rekonsiliasi dan Ekaristi. Semua perkataan yang dulunya asing bagi saya, sekarang menjadi perkataan yang saya cintai. Saya tidak akan pernah meninggalkan Gereja saya yang indah ini. Saya masih kagum pada Gereja Yesus.

Saya punya banyak teman: Katolik, dari berbagai denominasi Kristen, ateis, agnostik, Muslim, dan lainnya. Saya mengasihi mereka semua. Saya menghormati bahwa semua orang punya kepercayaan mereka sendiri. Tapi saya yakin bahwa Gereja Katolik (universal) adalah Gereja Yesus, yang menjadikannya sebagai Gereja yang satu dan sejati.

Kemerdekaan yang saya peroleh dari rekonsiliasi dengan Tuhan adalah luar biasa. Saya tidak lagi mengalami OCD, membanting pintu dalam kemarahan, merasa diri untuk mengendalikan banyak situasi, atau menjadi seorang budak dalam bisnis saya. Saya bisa menertawakan diri sendiri, saya tidak menganggap sesuatu dengan terlalu serius. Saya punya relasi yang lebih baik dengan orang-orang yang saya cintai dan ada kedamaian yang langgeng dalam jiwa saya, yang tidak pernah saya ketahui keberadaannya (“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu” Yohanes 14:27).

Ketika saya berbicara dengan banyak orang, ketika saya bekerja bersama mereka, ketika saya bersosialisasi, saya tidak menghakimi. Saya sudah pernah menjadi orang yang malang, orang yang sangat berdosa, orang yang tidak pantas ditolong. Namun, saya menerimanya. Tapi saya menyebutnya sebagai dusta si setan. Yesus meminta kita untuk mengatakan kebenaran dan mewartakannya dengan berani. Katakanlah dalam kasih. Inilah yang saya coba lakukan. Karena ketika saya seharusnya menerima hukuman, saya diperlakukan seperti domba yang hilang, dibawa kembali ke tempat yang aman, untuk bersama-sama dengan mereka yang saya cintai. Ketika saya sudah berdosa banyak, Yesus mengasihi saya. Ia memperkenankan saya untuk menderita atas dosa-dosa saya, dan memang sepantasnya demikian, tapi ketika saya mencari Yesus, ketika saya memanggil-Nya, Ia memperkenankan saya untuk memohon pengampunan, yang Ia berikan dengan sepenuh hati. Inilah yang harus saya lakukan, bahkan mengasihi pendosa yang paling jahat sekalipun (“Supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” Yohanes 15:12).

 

Michele Gower menikah dengan Rohan, suaminya, dan seorang ibu dari empat anak. Dia pinggiran kota Sydney, Australia di mana dia menjalankan pusat dukungan keluarga yang berbasis Kristen dan juga sedang mempersiapkan sebuah badan amal untuk mendukung mereka kurang beruntung dan orang muda yang berisiko dan keluarga yang mengalami krisis.

 

Sumber: “Amazing Grace Saved Me”

Posted on 14 May 2020, in Kisah Iman and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: