Ekaristi dan Kebangkitan Badan

Oleh Dr. Scott Hahn

Adoration of the Mystic Lamb (Sumber: denvercatholic.org)

Sebelum Yesus melangkah menuju Kalvari, Ia memberi tahu para pendengar-Nya bagaimana kebangkitan kita akan terjadi: “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya” (Yohanes 6:51).

Roti apakah itu? Yesus memberi tahu kita di ayat yang sama: “Roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yohanes 6:51).

Maka tidak mengherankan, para pendengar-Nya yang merupakan orang Yahudi mendapati bahwa rencana kebangkitan ini jelas sekali tidak kosher (hukum halal tidaknya makanan bagi orang Yahudi –red.). “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” kata mereka (Yohanes 6:52).

Maka Yesus menjelaskan perkataan-Nya lebih spesifik:

Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia (Yohanes 6:53-56).

Kemudian pada hari Kamis Putih, di Ruang Atas, Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana hal ini mungkin terjadi, pertama kali Ia menghunjukkan roti dan kemudian cawan, dan berkata “Inilah tubuh-Ku … Inilah cawan darah-Ku,” dan kemudian Ia memerintahkan kedua belas murid-Nya “perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Dalam bahasa asli Injil Lukas yaitu bahasa Yunani, kata yang diterjemahkan menjadi “peringatan” adalah anamnesis, yang maknanya lebih dalam dari sekadar “mengingat.” Hal ini menyiratkan suatu cara untuk mengingat kembali peristiwa masa lalu yang secara efektif menjadikan masa lalu itu hadir pada masa sekarang. Dengan kata lain, Anda bukan mengulangi tindakan pada masa lalu tapi Anda melalukan tindakan yang persis sama.

Jadi, ketika Yesus memberi tahu para rasul-Nya untuk “perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku,” Ia memerintahkan mereka untuk mempersembahkan pada waktunya apa yang akan Ia persembahkan pada hari berikutnya di Kalvari dan Ia persembahkan secara kekal di surga. Para rasul tidak mengulangi pengorbanan Kristus. Dan mereka tidak mampu mengorbankan kurban itu. Anda tidak bisa mengulangi apa yang tidak pernah berakhir. Mereka menghadirkan persembahan diri Yesus Kristus sendiri yang tidak pernah berakhir.

Mereka juga memungkinkan kita untuk ikut serta dalam Kurban Paskah yang Baru.

Dalam Ekaristi, kita memakan Anak Domba Allah sebagaimana bangsa Israel memakan kurban anak domba. Anak Domba itu adalah Kristus yang bangkit. Setiap kali Misa, kita memakan Yesus yang bangkit, tubuh yang mulia dalam rupa roti dan anggur. Kita memakan daging dan meninum darah Allah yang menjadi manusia, yang wafat dan bangkit kembali. Tubuh yang kita makan adalah Tubuh yang sama yang digantung di kayu salib, dibaringkan di kubur, dan kemudian bangkit dari kematian. Tubuh itu pula adalah Tubuh yang sama yang bisa menembus tembok, yang bisa berada di Emaus dalam satu menit dan berikutnya berada di Yerusalem, dan kemudian naik ke surga untuk duduk di sebelah kanan Bapa.

Meskipun Allah tidak membangkitkan Yesus dari kematian dan menyambutnya kembali ke surga pada hari Kamis Kenaikan supaya menjaga Yesus tetap berada di balik takhta surgawi yang aman dari segala kejahatan manusia yang fana. Yesus juga tidak naik ke surga untuk melindungi diri-Nya sendiri atau bersembunyi dari dunia dan diam di tempat kudus Bapa. Maka, kenaikan Yesus menjadikan Ia sebagai tempat kudus. Kenaikan-Nya menjadikan diri-Nya sebagai tempat perlindungan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Dan juga menjadikan Yesus sebagai imam besar kekal, yang dapat mempersembahkan diri-Nya untuk selamanya, untuk selamanya memberikan diri-Nya, untuk selamanya berkomunikasi dengan kita.

Sebagai imam besar kita, Yesus sekarang selalu mempersembahkan diri-Nya sendiri. Dan dalam Misa, sebagai anggota tubuh-Nya, kita diangkat menjadi keluarga Allah melalui baptisan, dan kita selalu menerima-Nya.  Dengan penerimaan itu, apa yang dahulu dijanjikan Yesus menjadi mungkin yaitu siapa pun yang makan daging-Nya dan minum darah-Nya tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Dalam Komuni Kudus, Ia memasuki tubuh kita yang fana ini, maka pada gilirannya dapat masuk ke dalam tubuh-Nya yang kekal dan mulia.

Ketika kita makan hamburger, pizza, apel, maka makanan itu menjadi bagian dari diri kita. Kita mencerna makanan itu ke dalam tubuh kita. Namun ketika kita memakan Tubuh dan Darah Yesus dalam Komuni Kudus, hal yang sebaliknya terjadi. Bukan kita mencerna Yesus ke dalam tubuh kita, namun Ia mencerna kita ke dalam tubuh-Nya. Yesus tidak menjadi bagian dalam tubuh kita. Tapi, kita menjadi bagian tubuh-Nya.

Melalui pertukaran rahmat yang misterius inilah Ekaristi menjadi penyebab utama dalam kebangkitan kita. Rahmat itu bekerja dalam jiwa kita baik sebagai makanan maupun obat, yang memberi kita makanan dengan kehidupan Allah, menyembuhkan jiwa kita dari dampak dosa ringan, dan dari hari ke hari menjadikan kita menjadi orang-orang kudus. Ekaristilah yang memelihara jiwa kita, meneguhkan komitmen kita untuk hidup dalam rahmat, dan mempersatukan kita dengan umat beriman, membentuk kita bersama dalam Tubuh Kristus. Dan yang terakhir, Ekaristilah yang menanamkan tubuh kita yang fana dengan kapasitas tubuh yang ilahi, mulia, dan bangkit dalam Tubuh Kristus. Sebagaimana Katekismus katakan, bahwa Ekaristi adalah “benih hidup abadi dan kekuatan untuk kebangkitan” (KGK 1524).

Inilah sebabnya mengapa dalam Kitab Suci, setiap Kristus yang bangkit menampakan diri terjadi dalam konteks perjamuan, dan ketika hari itu ditetapkan pada hari Minggu. Semua penampakan itu memiliki nuansa Ekaristi seperti yang terjadi ketika di perjalanan ke Emaus, di Ruang Atas, di pantai danau. Yesus memecah-mecahkan roti dengan para murid-Nya dan memberi makan para rasul-Nya, dan ketika Ia melakukannya, Ia membantu kita dalam memahami bahwa kebangkitan menjadikan tubuh-nya menjadi sesuatu yang sekarang bisa dibagikan, dapat dikomunikasikan, dan dapat dimakan. Tubuh-Nya telah dimuliakan dan kemanusiaan-Nya menjadi ilahi, dan ketika tubuh-Nya memasuki diri kita, maka akan menciptakan kapasitas dalam diri kita untuk juga dimuliakan dan menjadi ilahi, dan akan dibangkitkan pada akhir zaman.

Dr. Scott Hahn adalah penulis buku laris yang sudah menulis lebih dari empat puluh buku, termasuk bukunya yang berjudul “Hope to Die: The Christian Meaning of Death and the Resurrection of the Body.” Ia adalah pendiri dan presiden dari St. Paul Center dan menjabat sebagai Fr. Michael Scanlan Chair of Biblical Theology and the New Evangelization di Franciscan University.

Sumber: “The Eucharist and the Resurrection of the Body”

Posted on 6 June 2020, in Ekaristi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: