Jika Kristus Mengalahkan Maut, Mengapa Kita Mati?

Oleh Regis Flaherty

El Descendimiento karya Rogier van der Weyden (Sumber: wikimedia.org)

Kristus benar-benar wafat di kayu salib. Dan peristiwa ini tidak dipalsukan, dan bukan juga tipuan maupun sulap. Kematian-Nya adalah hal yang nyata, yang di dalamnya ada rasa sakit, kesendirian, dan pindah dari alam kehidupan. Namun ketika Ia menundukkan kepala-Nya yang bermahkotakan duri dan mengucapkan perkataan yang mengguncangkan bumi, “Sudah selesai” (Yohanes 19:30), bukan hidup-Nya yang selesai melainkan kekuasaan maut yang sudah selesai. Kristus dibaringkan di dalam kubur hanya untuk keluar dan memberikan kejutan, mendorong batu yang memisahkan orang mati dari yang hidup, batu yang melambangkan hukuman mati bagi semua umat manusia. Kebangkitan-Nya bukan hanya batu kubur yang disingkirkan, namun gerbang surga juga dibuka.

Sekarang kita bersama dengan setiap orang yang sudah meninggal sebelum Kristus, bersama dengan setiap orang yang meninggal sesudah Kristus, dengan setiap orang yang akan meninggal, bisa berseru di hadapan maut: “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” (1 Korintus 15:55).

Jika Kristus mengalahkan maut dan sudah membagikan Kebangkitan-Nya dengan kita, mengapa kita masih mengalami kematian dengan rasa sakit, kesepian, kebingungan, dan perpisahan yang menyertai kematian itu? Maka apakah dosa Adam dan kuasa si penggoda begitu kuat dalam kejahatannya sehingga Allah sendiri tidak mampu mengatasinya?

Tidak! Kristus sudah mengalahkan maut. “Arti kematian secara Kristen nyata dalam terang misteri Paska, kematian dan kebangkitan Kristus, harapan kita satu-satunya. Seorang Kristen yang meninggal dalam Yesus Kristus, ‘beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan’” (KGK 1681). Namun diperlukan mata iman untuk melihat kemenangan ini dengan jelas. Kitab Suci memberi tahu kita bahwa dalam kehidupan ini pandangan kita menjadi kabur. “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal” (1 Korintus 13:12, dengan penekanan tambahan).

Realitas kekalahan maut dan janji akan kebangkitan diberikan pada kita sekarang secara sakramental. Hal itu tidak membuat kebenaran itu menjadi kurang nyata. Faktanya, kenyataan itu sekokoh batu karena berdasarkan Kristus dan karya penyelamatan-Nya. “Sakramen-sakramen ditetapkan Kristus dan dipercayakan kepada Gereja sebagai tanda berdaya guna yang menghasilkan rahmat dan memberikan kehidupan ilahi kepada kita … Bagi umat beriman yang menerimanya dengan sikap batin yang wajar, mereka menghasilkan buah” (KGK 1131).

Setiap perbandingan dari realitas surgawi dengan contoh hal duniawi akan terjadi kepincangan. Namun, perbandingan ini bisa membantu pikiran kita diselimuti oleh kebenaran ilahi.

Jika saya mendapatkan luka, dokter akan menjahit kulit saya untuk menutup lukanya. Dengan demikian masalah luka yang terbuka itu bisa teratasi, namun saya akan terus melihat bekas jahitan itu untuk sementara waktu, dan bekas luka itu akan hilang secara bertahap. Contoh lainnya, jika seorang kaya memberi seorang miskin sebuah buku cek, ia tidak lagi miskin. Ia akan terlihat dan hidup sebagai seorang miskin sampai ia menggunakan uang dari cek itu dan menyadari buah dari hadiah itu.

Sekarang mari kita beralih ke relitas spiritual dan menerapkan perbandingan kita itu. Harapan akan kebangkitan diwujudkan dalam sakramen baptis. Itulah harapan yang pasti (lihat Titus 3:4-8). Sakramen baptis berurusan dengan luka yang kita peroleh dari orang tua pertama kita, yang disebut dosa asal. Namun, kita masih akan melihat dampaknya selama kita berjalan di muka bumi ini. Bahkan setelah pembaptisan, kecenderungan berbuat dosa itu masih mengganggu kita. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa, “tetap ada beberapa akibat sementara dari dosa: penderitaan, penyakit, kematian, kelemahan yang berhubungan dengan kehidupan (seperti misalnya kelemahan tabiat), serta kecondongan kepada dosa, yang tradisi namakan concupiscentia [keinginan tak teratur] atau, secara kiasan, “dapur dosa” [fomes peccati] (KGK 1264). Kita masih hidup dengan “bekas luka.”

Allah memberi kita apa yang kita perlukan untuk menaggapi-Nya dan untuk bertahan dari semua hal, sehingga kita bisa memasuki hubungan surgawi dengan Allah Tritunggal ketika kehidupan fisik kita berakhir. Melalui baptisan kita menjadi anak-anak Allah. Oleh karena itu, kita menyebut Yesus sebagai Saudara kita. Yesus sebagai Anak Sulung (Wahyu 1:5) yang sudah pergi ke surga untuk mempersiapkan tempat bagi anggota keluarga lainnya (Yohanes 14:2). Pintunya terbuka dari dalam. Kita yang masih hidup, masih berdiri di luar, namun kita diberi karunia dengan segala bantuan yang kita perlukan untuk melakukan perjalanan singkat melalui kehidupan ini dan masuk ke dalam kebahagiaan kekal. Kristus yang sudah menghancurkan dosa dan maut, membantu kita untuk bertahan dalam kehidupan ini, dan untuk jaya di kehidupan yang akan datang.

Gereja menamai bantuan itu adalah rahmat. Itulah “kemurahan hati, pertolongan sukarela yang Allah berikan kepada kita,agar kita dapat menjawab panggilan-Nya. Sebab panggilan kita ialah menjadi anak-anak Allah, anak-anak angkat-Nya, mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan dalam kehidupan abadi” (KGK 1996, dengan penekanan tambahan). Sama halnya dengan uang di bank. Mirip dengan analogi kita tentang bank dan kisah orang miskin di atas, kita hanya perlu menarik dari simpanan yang telah Ia berikan. Kemerdekaan anak-anak Allah menundukkan perbudakan dosa. Penerimanya benar-benar secara sah tergabung dalam Kristus. Mereka yang menerima rahmat dan kebajikan teologis dari iman, harapan dan amal kasih. Dengan memelihara karunia-karunia ini, setiap orang yang dibaptis akan melihat kepenuhan bunga harapannya.

Dalam Kristus, kemenangan itu terjamin. Luka itu telah dijahit, meskipun masih jelas ada bekas lukanya. Uangnya berada di bank, namun kita belum sepenuhnya menyadari akan hadiah itu. Kitab Suci memberi tahu kita bahwa Yesus adalah “yang pertama bangkit dari antara orang mati” (Wahyu 1:5). Dan Gereja mengajarkan: “Melalui Pembaptisan seorang Kristen secara sakramental dibentuk menurut rupa Yesus, yang dalam Pembaptisan-Nya telah mendahului kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Umat Kristen harus masuk dalam misteri pengosongan diri dan bertobat dengan rendah hati, … supaya di dalam Putera sendiri menjadi putera Bapa yang kekasih dan ‘hidup dalam hidup yang baru’” (KGK 537).

 

Regis Flaherty adalah penulis buku-buku laris, termasuk buku yang berjudul “Jesus Is the Gift: The Spirituality of Advent & Christmas” yang merupakan buah selama lebih dari tujuh tahun mempersiapkan orang lain untuk Masa Adven melalui pembicaraan tentang hal yang bertemakan liturgi.

 

Sumber: “If Christ Defeated Death, Why Do We Die?”

Posted on 9 June 2020, in Apologetika and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: