Kasih yang Sangat Besar dari Ekaristi

Oleh Romo Boniface Hicks, OSB, dan Romo Thomas Acklin, OSB

Adorasi (Sumber: stmichael.catholic.sg)

Bentuk devosi tertinggi sebenarnya lebih dari sekadar devosi, yaitu adorasi Ekaristi. Doa devosional dan pribadi ini juga benar-benar suatu bentuk doa liturgis. Karena Ekaristi hanya berasal dari Liturgi Gereja, maka selalu ada sisi liturgis dalam adorasi Ekaristi.

Adorasi Sakramen Mahakudus yang ditunjukkan dalam monstrans benar-benar suatu bentuk liturgi. Bahkan, persyaratan bahwa seseorang itu harus selalu hadir ketika Ekaristi dirayakan menjadikan lebih masuk akal ketika berpikir bahwa adorasi Sakramen Mahakudus sebagai liturgi, karena liturgi (yang secara harfiah berarti “karya publik”) dilaksanakan, setidaknya ada seorang individu yang tetap menghadirinya. Mengingat hal ini, praktik adorasi abadi ini sudah menyebar luas ke seluruh dunia yang belum pernah terjadi sebelumnya, maka hal ini sangat spektakuler, karena hal ini berarti ada adorasi Ekaristi yang dilakukan terus menerus tidak terputus, maka ada ada liturgi abadi yang terjadi di antara seluruh paroki dan komunitas umat beriman. Dan karena liturgi selalu berdaya guna, ex opere operato, maka kehadiran umat beriman yang paling sedikit pun bersama Yesus dalam monstrans berdampak sangat besar dalam memperbarui Gereja dan mengubah dunia.

Adorasi Ekaristis ditetapkan dalam ajaran Yesus bahwa roti Misa yang telah dikonsekrasikan benar-benar adalah Tubuh dan Darah-Nya (Yohanes 6:48-58). Gereja sudah menegaskannya selama berabad-abad dan menekankan kehadiran Ekaristi yang unik ini secara signifikan dalam Konsili Vatikan II. Konstitusi tentang Liturgi Suci (Sacrosanctum Concilium) berbicara tentang empat cara Yesus hadir dalam Misa: “Ia hadir dalam Korban Misa, baik dalam pribadi pelayan, “karena yang sekarang  mempersembahkan diri melalui pelayanan imam sama saja dengan Dia yang ketika itu mengorbankan Diri di kayu salib, maupun terutama dalam (kedua) rupa Ekaristi.” Pernyataan bahwa Ia secara khusus hadir dalam rupa Ekaristis merujuk pada realisme (menerima sesuatu apa adanya –red.) dan sesuatu yang pasti yang bukan merujuk pada bentuk-bentuk lain dari kehadiran-Nya. Selain itu, Ekaristi tetap menjadi Tubuh dan Darah, Jiwa dan Keilahian Kristus di luar waktu perayaan Misa dan selalu selalu disimpan dalam suatu tempat khusus yang diperlakukan dengan penghormatan khusus untuk melayani orang-orang sakit. Lebih jauh lagi, selama Ekaristi disimpan, maka Ekaristi dihormati.

Karena inilah satu-satunya cara bahwa Yesus hadir secara substansial, dalam Tubuh dan Darah-Nya yang hadir secara substansial hadir dan tetap ada dalam rupa hosti yang sudah dikonsekrasikan, dan hal ini selalu memegang tempat khusus dalam devosi Gereja dan devosi dari umat beriman. Hal ini secara wajar masuk akal ketika dipandang dalam cara pandang relasional. Seperti halnya kita suka berbicara kepada seseorang yang kita cintai di telepon, kendati demikian kita lebih suka bersama dengan orang yang kita cintai secara langsung. Dalam Ekaristi, sang Mempelai Laki-laki Ilahi tetap hadir secara jasmani bagi kita. Ini adalah pertolongan besar bagi kita sebagai umat manusia, karena kita selalu memulai segala sesuatu dengan indera kita yang menjadi titik awal untuk suatu perjumpaan. Kesempatan untuk mengarahkan pandangan kita kepada Ekaristi, baik dalam monstrans ataupun dalam Tabernakel, maka hal itu bermanfaat untuk memusatkan perhatian kita  sekaligus mengarahkan hati kita. Selain itu, meskipun kita tahu bahwa Allah selalu beserta kita, maka Ekaristi selalu membantu kita untuk berjumpa dengan-Nya di lokasi yang nyata. Dalam Ekaristi, kita bisa menemukan Allah dengan cara yang sangat mendalam.

Sangat penting untuk melakukan pendekatan doa dengan sesuatu yang pasti dan realisme. Iman kita akan Kehadiran Nyata Kristus dalam Sakramen Mahakudus sepenuhnya menopang dan mendorong hal yang pasti itu. Ketika kita berada di hadapan Sakramen Mahakudus, kita bisa berkata bahwa Yesus benar-benar ada di sana! Itulah Yesus! Adorasi Ekaristi memberi kita kesempatan untuk masuk ke dalam persekutuan nyata antara pribadi-pribadi dengan Yesus dalam cara spiritual yang juga melibatkan indera kita. Menatap-Nya dengan menggunakan mata fisik kita dan memusatkan sikap kita dalam doa.

Ketika kita hadir di hadapan Yang Mahakuasa, kita merendahkan diri di hadapan-Nya melalui membungkuk bahkan berlutut. Bahasa Yunani untuk adorasi adalah proskynesis yang menyatakan bentuk sikap itu. Kita berlutut di hadapan Sang Pencipta karena kita mengakui bahwa kita makhluk yang tidak layak dan berdosa. Dan karena Ia adalah yang baik seutuhnya, yang indah sepenuhnya, kebenaran yang murni, dan sumber segala sesuatu. Sikap wajar dan sikap awal kita ketika berada di hadapan Allah adalah suatu penyerahan diri yang rendah hati. Pada saat yang sama, doa-doa kita tidak benar-benar Kristen sampai kita diperkenankan diri diangkat oleh-Nya. Kita datang menghadap-Nya dalam sikap tunduk yang rendah hati dan Ia mengangkat kita untuk kesetaraan yang intim seperti yang dikatakan dalam kata itu dalam bahasa Latinnya yaitu “adoratio.” “Dalam bahasa Latin untuk adorasi adalah ad-oratio yang secara harfiah adalah kontak dari mulut ke mulut, ciuman, pelukan, dan ujung-ujungnya bermakna kasih. Sikap tunduk menjadi persatuan, karena Ia yang kita serahkan diri kepada-Nya adalah kasih. Dengan cara penyerahan inilah beroleh makna, karena tidak ada paksaan apa pun dari luar diri kita, namun memerdekakan kita dari dalam.”

Akhirnya, kita juga dibawa bukan hanya untuk melihat saja namun “mengecap dan melihat” betapa baiknya Tuhan (Mazmur 34). Kita memuji Ekaristi, yang kita sebut juga “Komuni Kudus.” Yang luar biasanya, Allah selalu membawa kita ke dalam keintiman yang lebih dalam, persekutuan yang lebih dalam dengan Ia sendiri di mana persatuan kontemplatif yang lebih penuh dengan-Nya bisa terwujud. Ia menghargai kita dengan Kasih yang Ia curahkan secara bebas kepada kita dan dalam diri kita. Ia menjadikan diri kita menjadi ilahi ketika Ia memasuki diri kita dengan diri-Nya sendiri. Dengan mengetahui bahwa keinginan utama Tuhan dan panggilan-Nya kepada kita adalah persekutuan penuh yang mengarahkan waktu doa kita dalam adorasi. Waktu kita dalam adorasi Ekaristis selalu mencakup dimensi kerinduan. Kita diundang untuk merasakan kehausan akan Tuhan dan juga merasakan kerinduan yang mendalam dari Tuhan untuk kita, yang benar-benar bisa disebut cinta (eros). Sesuatu yang ilahi yang bisa disebut “irasional” telah menggerakan Tuhan untuk menjadi roti bagi kita? Ia menjadi sangat rendah hati dan menjadi kecil, dan menjadi sangat rentan, sehingga kita bisa memakan-Nya. Seperti seorang ayah yang memberikan jari kepada bayinya, atau yang lebih mengharukan lagi, seorang ibu yang memberikan dadanya. Maka Allah memungkinkan kita untuk memakan-Nya dan menjadikan diri-Nya menjadi bagian diri kita.

 

Romo Boniface Hicks, OSB, adalah seorang rahib Benediktin dari Biara Agung St. Vincent di Latrobe, Pennyslvania. Dia memberikan pengarahan spiritual bagi para pria dan wanita, termasuk pasangan suami istri, seminaris, kaum religius hidup bakti, dan para imam.

Romo Thomas Acklin, OSB, adalah seorang rahib Benediktin dari Biara Agung St. Vincent di Latrobe, Pennyslvania. Dia seorang psikoanalisis sekaligus direktur spiritual. Romo Acklin pernah menjabat sebagai profesor dan direktur spiritual di Saint Vincent Seminary, di sana juga dia menjabat sebagai rektor.

Sumber: “The Profound Love of the Eucharist”

Posted on 14 June 2020, in Ekaristi and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: