Sejarah dan Makna Pallium

Oleh Philip Kosloski

Paus Fransiskus mengenakan pallium kepada seorang uskup foto oleh Vincenzo Pinto untuk AFP (Sumber: aleteia.org)

Pallium adalah busana kuno yang berasal dari abad ke-4

Setiap tahun pada tanggal 29 Juni yang merupakan Hari Raya St. Petrus dan Paulus, dan sudah menjadi tradisi bagi paus untuk memberikan pallium kepada para uskup metropolitan (yaitu para uskup yang memimpin keuskupan-keuskupan atau keuskupan-keuskupan agung dan biasanya uskup yang wilayah gerejawinya paling besar). Pallium adalah busana yang bentuknya seperti syal putih yang dikenakan di atas kasula uskup.

Pallium adalah busana liturgi yang berasal dari abad ke-4 dan akhirnya dihubungkan dengan para uskup. Pada abad ke-11, uskup agung metropolitan harus mendapat izin paus untuk memakainya. Hal ini berkembang menjadi perayaan tahunan di mana para uskup agung yang baru diangkat dari seluruh dunia akan melakukan perjalanan ke Roma dan diberi pallium dari Paus Roma.

Pada tahun 2015, Paus Fransiskus menetapkan bahwa Paus tidak lagi secara resmi memberikan pallium kepada para uskup di Roma. Sebaliknya, sekarang para uskup pergi ke Roma pada Hari Raya St. Petrus dan Paulus, ketika paus memberkati pallia (bentuk jamak pallium) dalam Misa. Adapun pallia itu disimpan semalaman di makam St. Petrus yang ada di bawah altar Basilika St. Petrus, dan diberikan kepada setiap uskup metropolitan baru secara pribadi. Kemudian para uskup pulang ke keuskupannya masing-masing, di mana Nuncio Kepausan secara resmi memberikan pallium pada Misa khusus di katedral wilayah gerejawinya. Hal ini menekankan pentingnya keuskupan setempat dan memungkinkan lebih banyak umat dari keuskupan setempat untuk ikut serta dalam perayaan itu.

Simbolisme pallium sangat kaya akan makna.

Yang pertama, pallia dibuat dari wol yang dombanya yang dipersembahkan pada Pesta St. Agnes di Roma (tanggal 21 Januari), yang namanya dikaitkan dengan bahasa Latin dari domba yaitu agnus. Secara turun-temurun ada dua ekor domba yang diberkati oleh paus pada hari itu dan pada hari Kamis Putih, wol dari domba itu dicukur.

Menurut Kantor Perayaan Liturgi Kepausan, wol itu dibuat menjadi “bahan selempang yang bentuknya lurus yang lebarnya hampir lima sentimeter … melengkung di tengah sehingga memungkinkan untuk ditaruh di bahu di atas … kasula dengan dua bagian yang menjulur di depan dan di belakang. … Pallium itu dihias dengan enam buah salib yang terbuat dari sutra hitam, satu di masing-masing ujung  (depan belakang) dan empat di setiap lengkungan, dan juga dihias di bagian depan dan belakangnya dengan tiga pin yang terbuat dari emas dan permata (acicula).”

Paus Benediktus XVI berbicara mengenai makna di balik pallium dalam homili perdananya sebagai Paus, “Bahkan simbolisme pallium semakin nyata: wol domba dimaksudkan untuk melambangkan domba yang hilang, sakit, dan lemah yang oleh gembala diletakkan di bahunya dan dibawa ke air kehidupan.”

Pallium menekankan peran uskup sebagai gembala dan mengingatkan para uskup akan “kuk” Kristus yang harus ia panggul sebagai panggilan hidup mereka. Dan hal ini juga lebih ditekankan dalam enam salib yang menghiasi pallium, mengingatkan bahwa banyak salib yang harus dipanggul seorang uskup sebagai seorang murid Kristus.

Lebih lanjut, secara tradisi pallium ada hubungannya dengan kepausan, pallium juga memperkuat persekutuan para uskup.

Paus Benediktus XVI membicarakan hal ini dalam homilinya pada tahun 2011 pada Hari Raya St. Petrus dan Paulus, “[pallium] bermakna bahwa kita harus menjadi para gembala untuk persatuan dan dalam persatuan, dan hal ini hanya ada dalam persatuan yang diwakili Petrus sehingga kita benar-benar memimpin umat kepada Kristus.”

Kendati demikian, pallium merupakan busana yang dikenakan uskup yang secara jasmani itu ringan. Namun dapat mengingatkan beratnya tugas dan tanggung jawab mereka yang harus mereka tempuh dan untuk melayani domba-domba yang hilang.

 

Sumber: “What is the white scarf that some bishops wear?”

Posted on 8 July 2020, in Ekaristi and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: