Perjalanan Panjang Menuju Roma, Seorang Saksi Yehuwa – Kisah Jeffrey Schwehm Ph.D.

Jeffrey Schwehm, Ph.D. (Sumber: bryanhealthcollege.edu)

Saya lahir di sebuah kota Katolik yang besar di negara bagian New Orleans, yaitu Lousiana. Keluarga besar dari ayah saya menganut Katolik, sedangkan dari pihak ibu saya menganut Lutheran (Gereja Lutheran – Sinode Missouri). Ibu saya adalah pemimpin spiritual di keluarga, sedangkan ayah saya bukan seorang Katolik yang taat.

Saya masih ingat ketika menghadiri TK dan Sekolah Minggu di gereja Lutheran. Ibu saya mengajar Sekolah Minggu kepada anak-anak kecil, dan juga wali kelas di kelas TK-ku. Gereja Lutheran dan ibu saya mengajariku untuk mencintai Alkitab dan Yesus.

Saya tahu bahwa saya sudah dibaptis sejak bayi dan Yesus mencintai saya. Saya masih ingat bahwa gereja menjadi tempat yang menyenangkan untuk dihadiri, dan juga untuk bersama-sama dengan ibu dan keluarganya. Namun semuanya berubah ketika nenek dari ibu saya meninggal, kira-kira saya masih berusia lima tahun.

Menjadi seorang Saksi Yehuwa

Pada tahun-tahun sesudah nenek saya meninggal, ibu saya berhenti ke gereja Lutheran dan mulai menghadiri acara “Kingdom Hall of Jehovah’s Witnesses”. Pada saat itu pula, ayah saya secara berkala mengajak anak-ananya menghadiri Misa di Gereja Katolik, dimana kami akan tertidur pulas dengan cepat. Tidak ada Sekolah Minggu di Gereja Katolik, dan saya tidak mengerti apa yang terjadi di sana (ketika Misa).

Saya tidak tahu mengapa ibu saya tidak lagi ke gereja Lutheran, oleh karena itu saya memohon ibu saya untuk kembali ke gereja tersebut. Namun yang terjadi, ayah saya mulai menghadiri acara “Kingdom Hall of Jehovah’s Witnesses”. Kira-kira dalam tiga tahun, ayah saya bersama kedua orang tuanya, dan salah satu saudara perempuannya meninggalkan Gereja Katolik dan menjadi Saksi Yehuwa.

Sejak saya berusia lima tahun, sampai kira-kira dua puluh lima tahun, saya seorang Saksi Yehuwa. Sebagai seorang Saksi Yehuwa, kami mengikuti lima pertemuan dalam seminggu. Di sana tidak ada kebaktian penyembahan.

Semua pertemuan disana berupa kelas-kelas yang dirancang untuk mengajari bagaimana merubah keyakinan orang lain ke iman Saksi Yehuwa, dan saya sangat baik dalam hal ini. Pada umur enam tahun, saya mulai pergi dari rumah ke rumah dengan membawa tulisan-tulisan Watchtower, dan pada umur delapan tahun saya memberikan khotbah pertama saya di depan jemaat. Pada umur sembilan belas tahun, saya melakukan presentasi pada Konvensi Saksi Yehuwa dengan peserta lebih dari dua ribu orang.

Setelah lulus Sekolah Menengah, saya menjadi Pendeta Muda Saksi Yehuwa, yang berarti saya telah melakukan kunjungan dari rumah ke rumah sebanyak seribu jam dalam setahun. Akhirnya, saya diundang untuk melayani di Pusat Saksi Yehuwa Sedunia di Brooklyn, New York. Saya disana selama setahun dan menjadi tempat pertemuan saya dengan istri saya Kathy.

Kisah Kathy

Kathy dibesarkan sebagai seorang Katolik, tetapi dia tidak pernah merasa puas akan imannya. Ketika  umurnya bertambah, dia meminta izin kepada ibunya bahwa ia ingin mencari tahu tentang denominasi-denominasi lain, dan ibunya pun mengizinkannya. Adapun ibunya itu seorang Katolik yang taat.

Kathy meluangkan waktunya di gereja Pentakosta, Baptis, dan Presbyterian. Namun, tak ada satupun dari gereja-gereja tersebut yang mampu memuaskan dia. Selama masa ini, Kathy memutuskan untuk mengikuti kelas CCD (Istilah CCD mengalami pergeseran dari “Cofraternity of Christian Doctrine” sampai kepada Catechism dalam bentuk sekolah Minggu atau pelajaran agama, secara khusus bagi anak-anak yang bersekolah di sekolah non-Katolik: Stefanus Tay).

Pada suatu waktu, ibunya mulai belajar bersama Saksi Yehuwa. Kejadian ini membuat Kathy sangat terkejut, apalagi saat dia diikutsertakan dalam pengajaran ini. Kathy ingin bertanya dan bahkan ingin memberitahu guru CCD dia, bahwa Saksi Yehuwa sedang mengajarinya, tetapi guru CCD tidak dapat mengajarkan iman Katolik dengan baik. Pada akhirnya, Kathy mulai menerima pengajaran Saksi Yehuwa sebagai suatu kebenaran.

Ayah tiri Kathy, ibunya serta saudara laki-lakinya juga menjadi pengikut Saksi Yehuwa. Saudara laki-laki Kathy yang bernama Scott melakukan pelayanan di Pusat Saksi Yehuwa Sedunia di New York. Pada waktu itu Kathy mengunjungi tempat tersebut dan bertemu dengan saya.

Kebimbangan sebagai Saksi Yehuwa

Saya tidak meluangkan waktu untuk menjelaskan semua keraguan saya sebagai seorang Saksi Yehuwa. Saya dapat katakan bahwa ketika itu saya meragukan tentang iman. Pada saat itu pula, saya memiliki harapan bahwa dengan melakukan pelayanan di Pusat, semua keraguan saya akan hilang. Untunglah, tidak demikian.

Keraguan utama yang saya ingin bicarakan ini, sungguh merubah cara pandang saya tentang Allah dan hubungan dengan-Nya. Hal ini terjadi ketika tahun-tahun awal pernikahan kami, dan pada saat itu saya mulai tidak aktif di Saksi Yehuwa. Pada saat itu pula, saya meninggalkan Pusat Saksi Yehuwa Sedunia dan mulai kuliah, sedangkan Kathy bekerja di pusat kota New Orleans.

Pada hari Jumat, sepulang kuliah sekitar pukul dua siang, saya menuju perpustakaan Universitas Loyola dan menghabiskan berjam-jam hanya untuk membaca buku-buku di bagian teologi. Kebanyakan buku yang saya baca ditulis oleh mantan pengikut Saksi Yehuwa yang menjadi seorang Protestan.

Ajaran utama yang saya ragukan pada saai itu adalah cara pandang Saksi Yehuwa akan keselamatan. Saksi Yehuwa menyatakan bahwa hanya 144.000 orang yang akan ke surga dan hidup bersama Yesus dalam keabadian, hanya 144.000 orang ini yang merupakan “anak angkat Tuhan.” (Dalam kenyataannya kami memaksudkan orang-orang ini (yang berjumlah 144.000) adalah mereka yang sangat unggul dalam iman, sebagai “saudara-saudara Kristus.”)

Menurut ajaran ini (Saksi Yehuwa), sisa dari pengikut Saksi Yehuwa lainnya pada suatu hari nanti mereka akan hidup di dalam surga yang berada di atas bumi. Orang-orang tersebut bukan “saudara-saudara Kristus,” melainkan “sahabat Yesus.” Menurut ajaran ini, “sahabat Yesus” harus membuktikan kesetiaannya kepada Tuhan dengan membersihkan dunia setelah kedatangan Yesus dan membunuh semua yang bukan Saksi Yehuwa. Selanjutnya, sesudah seribu tahun usaha mereka menuju kesempurnaan, mereka akan diuji lagi oleh Iblis. Jika mereka lulus dalam ujian yang terakhir ini, mereka akan hidup selamanya di surga yang berada di atas bumi.

Saya merasakan adanya kekeliruan tentang ajaran tersebut, setelah saya berdoa semalaman kepada Tuhan, dan memohon agar Tuhan mengungkapkan apa yang Ia ingin saya ketahui. Saya membaca Kitab Suci dan membaca setiap helai Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma. Ayat berikut ini menjadi kesimpulan apa yang Tuhan katakan malam itu.

Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. (Rom 8:14-17)

Ringkasnya, Tuhan mengatakan pada saya bahwa Ia menginginkan saya menjadi anak-Nya. Dia ingin mengadopsi saya.

Sebagai seorang Saksi Yehuwa, saya telah diajarkan bahwa saya tidak dapat menjadi anak Allah, dan tidak pernah dapat menjadi anggota keluarga Allah sepenuhnya, walaupun dengan banyak melakukan kerja keras. Saya tidak dapat melihat Allah, Dia akan tetap menjadi pribadi lain yang suci dan saya akan selalu terpisah dengan-Nya, walaupun jika saya hidup kekal sekalipun.

Bergabung dengan umat Lutheran

Tahun-tahun berlalu sebelum pada akhirnya saya bisa bertindak atas kebenaran ini (iman Saksi Yehuwa). Ketika saya lulus kuliah, Kathy dan saya pindah ke Arkansas sehingga saya bisa melanjutkan studi Pasca Sarjana. Saya mencurahkan seluruh waktu saya untuk studi Pasca Sarjana saya dan meninggalkan Tuhan.

Kami menghidupi dua tahun dimana saya mempertanyakan cinta Tuhan untuk saya, Kathy menyebut saat itu sebagai “limbo spiritual”. Seperti umat Israel, saya berpikir pendek atas seluruh berkat yang Tuhan berikan pada saya, anak-Nya yang tidak mengenal Ia dengan sangat baik.

Akhirnya, pada saat sulit tersebut, Tuhan memperkenankan saya berkenalan dengan berbagai orang Kristen (hampir semua Protestan) di internet, dan diskusi kami sangat membantu saya. Pada satu titik, Kathy dan saya berdua mengekspresikan keyakinan kami kepada Tuhan dan keinginan kami untuk menyembah-Nya dengan umat lain. Sekitar rentang waktu ini, saya mulai melakukan riset doktrinal dan menemukan bahwa gereja-gereja arus utama mewakili sejarah iman Kristen, dan lebih baik daripada Saksi Yehuwa. (Saksi Yehuwa menolak ke-Allah-an Yesus, dan menolak kebanyakan doktrin penting yang dianggap banyak orang sebagai doktrin Kristen, seperti Trinitas, kekekalan jiwa, dan keberadaan neraka.)

Kathy dan saya ingin menentukan sebuah gereja untuk diikuti dan saya telah berbicara dengan kerabat saya yang seorang Lutheran, akhirnya kami memutuskan untuk menjadi umat gereja Lutheran. Kami akhirnya menjadi umat gereja Lutheran-Sinode Missouri. Kami bergabung dengan gereja tersebut sekitar setahun setelah saya lulus Pasca Sarjana.

Pada Januari 1999, saya mulai mengajar di Universitas Concordia di Seward, Nebraska. Setelah kami tiba di Nebraska, kami merasa telah pulang ke rumah, walaupun kami dijauhi oleh teman-teman dan kerabat kami yang menganut Saksi Yehuwa. Tetapi Tuhan ingin memberikan lebih dari itu.

Ketika kami pertama kali pindah ke Seward, aliran Mormon mulai membangun sebuah gereja di kota itu. Mereka mengunjungi banyak umat gereja Lutheran. Sehingga gereja Lutheran setempat membuat kelas Sekolah Minggu untuk mengajari umat dari ajaran Mormon.

Salah satu komentar dari seorang pendeta dimana komentarnya itu mengarahkan ke sebuah diskusi tentang Gereja yang didirikan Yesus akan selalu ada dan tidak dapat dihancurkan. Dia membuat satu pokok permasalahan ini karena aliran Mormon mengajarkan (begitu pula dengan Saksi Yehuwa), bahwa Gereja perdana telah jatuh dalam kesesatan dalam sejarahnya, dan Tuhan memilih Joseph Smith (jika Saksi Yehuwa akan berkata Charles Russell) untuk mengembalikan Gereja-Nya yang benar di dunia. Pendeta tersebut mengutip ayat: “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat 16:18).

Pada waktu itu saya duduk di sebelah Kathy, saya mengambil secarik kertas dan mempertanyakan: “Jika ini benar, lalu yang dilakukan Luther ketika memisahkan diri dari Gereja Katolik itu apa?” Atau dalam kata lain, apa bedanya yang Luther lakukan dengan yang dilakukan oleh Joseph Smith dan Charles Russell?

Membaca Tulisan Para Bapa Gereja

Pada waktu itu, sulit sekali saya mencoba berbagi cerita dengan beberapa teman saya yang baru meninggalkan Saksi Yehuwa, adapun yang saya ceritakan adalah penemuan baru saya tentang iman Kristen. Waktu itu saya mencoba membuktikan kepada mereka, beberapa ajaran seperti Trinitas, kekekalan jiwa, dan sebagainya, yang merupakan doktrin iman Kristen yang sesungguhnya. Pada waktu itu saya menggunakan Alkitab untuk mencoba “membuktikan” kepada mereka.

Tanggapan mereka menantang saya dengan menanyakan, “Bagaimana Anda tahu bahwa penafsiran anda itu benar? Sedangkan, ketika kami sebagai Saksi Yehuwa, kami akan menafsirkan ayat-ayat tersebut secara terbalik (berlawanan 180 derajat)?”

Saya berkata pada diri saya sendiri, “Saya bertaruh pasti ada tulisan lain dari orang Kristen yang hidup sekitar zaman para rasul. Mereka akan diterangi oleh cahaya dari apa yang Gereja Perdana percayai.”

Selanjutnya, saya mulai membaca tulisan para Bapa Gereja. St. Yustinus Martir menjadi salah satu favorit saya. Secara khusus saya menyukai cara dia menggambarkan bagaimana orang Kristen mula-mula menyembah Tuhan. Saya berpikir, “Wow! Ternyata sudah berabad-abad orang Kristen sudah menyembah Tuhan seperti cara umat Lutheran menyembah-Nya.”

Akhirnya, saya mulai membaca buku-buku tentang perkembangan dari Perjanjian Baru dan mengapa umat Katolik memiliki kitab “tambahan” dalam Alkitab Perjanjian Lama mereka. Saya juga ingin mengetahui apakah Gereja Perdana benar-benar percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Saya terkejut atas jawaban yang ingin saya ketahui dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Pertama-tama, saya membaca beberapa surat yang ditulis sekitar tahun 107 oleh Uskup Kristen bernama Ignatius dari Anthiokia, yang kemungkinan besar menerima iman dari para rasul sendiri. Dalam suratnya, dia berbicara tentang kahadiran nyata Kristus dalam Ekaristi dan menyebut Yesus sebagai Tuhan. Selain itu, dia juga menerangkan Gereja Perdana sebagai “Katolik.” Dia berkata “Gereja yang benar adalah Gereja dimana uskup berada” (Surat kepada umat di Smyrna 8:2).

Saya berpikir sendiri, Ya Tuhan, Gereja Perdana memiliki hierarki.

Saya juga membaca sebuah buku yang ditulis oleh seorang uskup dari abad ke-4 dalam sejarah Gereja Kristen, bernama Eusebius. Dia menggambarkan sedemikian rupa tentang Gereja Perdana, sehingga saya dapat melihatnya dan lebih banyak kemiripannya dengan Gereja Katolik, perbedaan utama dengan Gereja Katolik saat ini adalah lebih besar (jumlah umatnya).

Bahkan saya juga membaca buku sejarah Gereja yang ditulis oleh penulis Protestan, disitu penulis mengakui bahwa Gereja menggunakan suksesi apostolik (penulis buku itu tidak menuliskan istilah suksesi apostolik, tetapi dia menggambarkan bagaimana suksesi apostolik itu bekerja) dalam melawan ajaran sesat pada abad ke-2.

Saya juga menemukan jika bukan oleh Gereja Katolik, saya tidak tahu kitab mana saja yang masuk ke dalam Perjanjian Baru, jika bukan Gereja yang memutuskan masalah tersebut jauh pada abad ke-4 setelah Kristus!

Pulang ke Rumah

Sekarang, mungkin Anda berpikir bahwa dengan semua data tersebut, saya akan menjadi Katolik saat itu juga. Tetapi tidak demikian. Pada saat itu saya bertemu kembali dengan seorang teman lama sewaktu sekolah (setingkat SMA), dia bernama Jim.

Saat ini, dia Romo (Bapa) Jim dan dia seorang imam Katolik. Romo Jim juga seorang yang berpindah keyakinan ke Gereja Katolik. Dia dibesarkan dalam ajaran Presbyterian.

Romo Jim dan saya terlibat pembicaraan mendalam mengenai sejarah agama dan kami lebih sering sepakat dalam banyak hal. Oleh karena itu, Romo Jim akan berkata bahwa saya lebih Katolik daripada beberapa umat parokinya, dan saya selalu menjawab, “Tapi saya belum siap untuk berenang menyebrangi sungai Tiber.”

Dia melanjutkan bertanya, “Apa yang harus Roh Kudus lakukan, menghantam kepalamu dengan sebatang kayu (dalam tulisan aslinya istilah “two-by-four” adalah ukuran kayu yang digunakan dalam struktur bangunan)?”

Akhirnya, Romo Jim menantang saya untuk membaca Katekismus Gereja Katolik (KGK), dan Romo Jim berkata jika saya menemukan sesuatu yang salah untuk memberitahu dia. Tetapi jika tidak demikian, saya tahu apa yang harus saya lakukan.

Selama musim panas 2002, saya menyelesaikan membaca KGK dan buku lainnya yang ditulis oleh mereka yang berpindah keyakinan ke Gereja Katolik. Tuhan akhirnya menemukan sebatang kayu-Nya.

Dalam Matius 19:29, Yesus berkata, “Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.” Nah, inilah yang Tuhan hantam tepat di kepala saya.

Saat itu saya berpikir bahwa saya sudah menjadi anak angkat Allah sebagai seorang Kristen Protestan aliran Lutheran, dan memang demikian. Tetapi, walaupun demikian saya belum menjadi anggota penuh keluarga. Sepertinya saat itu Tuhan ingin mengungkapkan sesuatu yang hilang kepada saya.

Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. (Yoh 19:26-27).

Anda lihat, Yesus ingin memberikan saya seorang ibu baru, ibu-Nya. Ibu pertama kita, Hawa, sudah berkata“Ya” kepada setan dan “Tidak” kepada Tuhan. Sedangkan, Maria berkata “Ya” kepada Tuhan.

Sebagai tambahan, ibu biologis saya, Susan, tidak pernah memaafkan saya karena saya meninggalkan Saksi Yehuwa, dan hubungan saya dengannya menegang (Orang Saksi Yehuwa menjauhi orang yang meninggalkan kepercayaannya). Saat itu, Yesus berkata bahwa Ia ingin memberikan kami ibu-Nya, karena kenyataanya, kita semua adalah “para murid yang dikasihi Yesus.”

Dalam Roma bab 8 bagian awal, Rasul Paulus berkata bahwa Yesus ingin berbagi warisan-Nya dengan saya. Oleh karena warisan-Nya ini, saya bisa memanggil Tuhan dengan sebutan “Daddy” (panggilan mesra untuk ayah) yang merupakan arti sebenarnya dari “Abba.”

Dalam Matius 25:31-46, saya juga menemukan bahwa Yesus memberitahu saya bahwa Dia adalah sahabat saya. Yesus memperkenalkan diri-Nya sendiri sebagai sahabat bagi penderitaan manusia.

Sudah 1500 tahun, terdapat saudara-saudari Kristen yang tidak pernah saya kenal, dan mereka hanya menunggu untuk bertemu dengan saya. Contohnya, dalam Ibrani bab 11 dan 12, penulis mengingatkan kita bahwa sejak Henokh (seorang nabi Perjanjian Lama) sampai sekarang, terdapat banyak saksi bagaikan awan (para kudus), saudara-saudari yang lebih tua menyemangati dan mendoakan kita, sehigga kita pada suatu hari nanti bisa masuk ke rumah Tuhan di surga.

Sebatang “kayu” kepunyaan Tuhan ternyata untuk memperkenalkan saya kepada seluruh keluarga-Nya dan berkata, “Aku ingin kamu menjadi bagian dari semuanya ini.”

Setelah mencari pekerjaan baru dan menyaksikan cara Tuhan yang luar biasa dalam mempertobatkan istri saya, saya berhak dikukuhkan ke dalam keluarga Allah yang universal yaitu Gereja, melalui Sakramen Krisma pada Misa dalam Pesta Turunnya Roh Kudus, yang dikenal dengan Pentakosta. Ketika saya mengakui iman Gereja yang didirikan Kristus melalui tiap kata dalam Syahadat Nicea selama Misa tersebut, saya dapat mendengar dengan telinga saya semua kata yang sama dari orang-orang di setiap kursi di Katedral tersebut.

Saya tahu melalui iman, bahwa malaikat dan para kudus di surga juga mengakui semua kata tersebut bersama saya. Bagi saya, setiap kali mengikuti Misa, terdapat reuni keluarga besar yang melampaui batas ruang dan waktu, dan menyatukan surga dan bumi, bersama-sama kita menyembah Bapa kita yang luar biasa di surga.

 

Jeffrey Schwehm memiliki gelar Ph.D. dalam bidang kimia dari Universitas Arkansas. Dia seorang asisten profesor biokimia di Lakeland College di Sheboygan, Winconsin, dimana dia tinggal bersama istrinya, Kathy. Mereka bersama-sama memimpin Persekutuan Katolik Eks-Saksi Yehuwa (www.Catholicxjw.com).

Kisah ini dimuat dalam buku “Journeys Home”, disunting oleh Marcus Grodi (CHResources, rev. ed., 2011).

Sumber: “Dr. Jeff Schwehm – Welcome to the Universal (Catholic) Family of God”

Posted on 11 July 2020, in Kisah Iman and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: