Memandang Gereja dengan Mata yang Baru – Kisah Doug Doughan

Doug Doughan (Sumber: chnetwork.org)

Saya dibesarkan dalam keluarga Katolik yang hebat. Kami adalah delapan anak dan kedua orang tua kami memastikan supaya kami bertumbuh besar untuk memuji dan menyembah Tuhan. Kami berdoa saat makan dan hari Minggu adalah hari istirahat. Kami bekerja keras dalam sepekan dan ke gereja setiap akhir pekannya dan juga ikut kelas ketakisasi. Saya masih ingat ketika saudara laki-laki saya sedang berada di gereja dan kami mulai cekikikan karena ada sesuatu yang kami anggap lucu, dan kami hanya akan merasakan tepukan di kepala kami dari salah satu orang tua kami. Gereja merupakan tempat penghormatan dan rasa kagum. Meskipun ikut Misa adalah hal yang wajib dalam keluarga kami, saya selalu merasakan suatu perasaan butuh atau ingin untuk berada di sana. Banyak teman saya yang beragama Katolik dan ikut serta di kelas katekisasi bersama saya. Saya sering diingatkan untuk tidak bertanya, cukup percaya saja, dan sebagian besar saya melakukannya demikian. Tapi seperti banyak anak lainnya, ketika mencapai usia remaja, iman menjadi hal yang kurang berarti bagi saya.

Selama masa sekolah menegah (setara SMA –red.), saya sangat sibuk dengan kegiatan atletik dan berkencan dengan seorang gadis Methodist yang cantik dan berambut pirang, namanya Dawn yang kemudian menjadi istri saya. Dia sering menemani saya untuk pergi Misa pada Sabtu malam. Di kemudian hari, dalam perkawinan kami, Dawn berkata bahwa iman saya pada Tuhan merupakan salah satu hal yang membuat dia tertarik pada saya. Jangan salah paham dengan ini, hal ini bukan berarti saya itu seorang yang kudus, saya juga punya masalah dan pergumulan, namun saya tidak pernah kehilangan pandangan bahwa ada Allah yang mengasihi dan peduli pada saya. Saya juga tahu kalau saya lebih baik untuk tidak melupakan-Nya, karena saya pernah mendengar kalau Ia punya sebuah tempat buat anak “nakal” dan saya tidak mau pergi ke sana!

Saya lulus SMA pada tahun 1977 dan saya melanjutkan ke perguruan tinggi. Bahkan ketika di perguruan tinggi, saya tahu kalau ikut Misa itu penting, jadi saya selalu melakukannya, meskipun saya akan bermain dan berpesta dengan teman-teman saya setelah Misa. Pada tahun-tahun itu, saya dan Dawn mengalami putus sambung dalam hubungan pacaran kami.

Pada bulan Maret 1980, akhirnya saya (agak) menetap di suatu tempat dan menikah dengan Dawn. Karena Dawn dibesarkan sebagai seorang Methodist, kami menikah di gereja Methodistnya dengan izin dari Gereja Katolik. Pastor saya sudah mengajarkan di kelas Pre-Cana (Kursus Persiapan Perkawinan/KPP) yang kami ikuti dan juga hadir di upacara perkawinan kami.

Hidup itu baik. Dawn sedang memulai kelas untuk menjadi Katolik dan kami berdua sudah memutuskan bahwa kami ingin segera memiliki anak. Jadi, dalam waktu-Nya, kami mempunyai seorang anak sulung pada bulan Februari berikutnya, ia seorang anak laki-laki yang diberi nama Trinity Douglas. Hidup masih cukup baik bagi saya, namun tidak tentu bagi kami. Anda tahu kalau istri dan putra saya membutuhkan seorang ayah dan suami, namun mereka terjebak dengan seorang petani muda yang hampir tidak pernah ada di sekitar mereka. Tak lama kemudian pergumulan dalam perkawinan kami dimulai dan tak lama kemudian, kata “cerai” mulai diucapkan.

Sekarang, kami berdua bukan berasal dari keluarga yang bercerai dan kami berdua tahu kalau perceraian itu salah. Maka, kami berjuang, sebagian besar antara kami masing-masing. Tidak banyak orang tahu kalau kami punya masalah. Selama masa ini, saya dan Dawn punya beberapa orang yang sangat dekat yang mengaku sebagai umat Kristen yang sudah dilahirkan kembali. Dawn secara berkala berkumpul dengan mereka dan berdoa bersama. Akhirnya, ketika Dawn menceritakan permasalahan keluarga kami kepada mereka, mereka mulai mendoakan saya dan memohon supaya Allah mengubah diri saya.

Dan Allah melakukannya. Selama beberapa bulan, saya mulai mempertanyakan iman dan praktik yang saya lakukan. Apakah saya hanya menjalani rutinitas belaka atau saya benar-benar menjalani kehidupan yang Allah kehendaki? Saya tahu kalau berdebat dengan istri saya dan menjadi seorang pria menikah yang egois itu tidak benar. Jadi, saya setuju untuk mendengarkan serangkaian rekaman yang dimiliki seorang teman dari istri saya. Orang yang berbicara dalam rekaman itu humoris dan hidup berkecukupan. Namun ketika ia sampai di penghujung kisahnya, ia berkomentar tentang memberikan Yesus kesempatan dalam hidup Anda untuk mengubah Anda. Saya mungkin mendengarkan kisah ini puluhan kali, dan akhirnya pada bulan Oktober 1981, Allah menjawab doa mereka. Saat saya berada di ladang untuk menunggu orang-orang datang dan menurunkan benih di mobil angkutan saya, saya melangkah turun dari traktor dan berjalan di ladang. Ketika saya memandang ke angkasa, melihat bintang-bintang dan keindahan malam, saya terpana dengan rasa butuh akan Tuhan untuk membantu saya dalam perkawinan saya, karena saya ingin perkawinan saya menjadi lebih baik. Malam itu tidak seperti malam lainnya, saya begitu percaya akan Allah dalam hati saya dan saya melihat suatu kehancuran. Ia melihat kalau saya sangat perlu diubah. Ia mengulurkan tangan dan mengubah pikiran dan hati saya. Malam itu ketika saya pulang dan membaca Alkitab (saya rutin membaca Alkitab) dan rasanya seperti belum pernah membacanya. Saya memahami secara pribadi apa yang saya baca. Sepertinya Ia mengambil alih pikiran saya dan membukakan pikiran sehingga saya memahami Firman-Nya.

Ketika saya menghadiri Misa pada hari Sabtu berikutnya, ketika saya mendengarkan bacaan itu, rasanya seperti saya belum pernah mendengarnya. Saya ingat ketika saya melihat ke sekeliling saya dan berpikir kalau saya itu sang imam yang sedang membaca dari Alkitab. Apakah ada orang lain yang mendengarkan ini?

Tak lama kemudian, kami diundang oleh beberapa orang teman untuk ikut Studi Alkitab pada hari Minggu malam di gereja Injili setempat. Kami pergi ke sana dan merasakan persekutuan di sana yang begitu luar biasa, kami belajar dan bertumbuh dalam kasih Allah yang baru. Kami melanjutkan untuk pergi ke Gereja Katolik untuk sementara waktu, namun dengan berbagai banyak acara akhirnya kami meninggalkan Gereja Katolik, bukan karena alasan teologis, namun saat itu saya berpikir kalau gereja itu hanyalah gereja dan tidak peduli gereja mana yang Anda ikuti, asalkan Anda bisa bertumbuh lebih dekat dengan Allah. Kami mulai hadir di gereja Kristen Injili sepenuhnya, di mana kami rutin diajarkan Kitab Suci dan bersekutu dengan teman-teman yang sangat luar biasa. Pendeta gereja itu sangat dinamis dan tahu Kitab Suci dengan baik. Ia sangat berminat pada kami dan menawarkan diri untuk membantu kami secara pribadi untuk belajar Kitab Suci dengan baik. Satu hal yang saya perhatikan tentang pendeta itu ialah ketidaksukaannya pada Gereja Katolik dan ajarannya. Saya hanya memaafkannya karena saya merasa cukup yakin ada banyak umat Katolik yang mengasihi Allah dan tidak semua umat Katolik itu akan masuk neraka.

Setelah perubahan keyakinan yang kami alami untuk mengikuti Kristus, kami dikejutkan dengan banyak orang yang berkumpul di sekitar kami untuk menguatkan kami dalam cinta kasih Allah yang baru, namun untuk menghadapi hal ini kami juga dihadapkan dengan banyak teman dekat dan anggota keluarga yang tidak senang dengan arah baru kami ini. Mereka skeptis, takut, bahkan merasa terluka karena kami sudah membuat suatu hal yang mereka anggap sebagai keputusan yang bodoh. Banyak orang yang menuduh kami kalau kami sudah disesatkan oleh kebodohan atau kegilaan agama. Namun kami tahu lebih baik. Waktu itu, kami percaya kalau Allah sudah melakukan perbuatan dalam diri kami untuk memulihkan perkawinan kami dan mempersiapkan kami untuk buah tangan yang baik di masa depan.

Pada tahun 1982, dengan keadaan ekonomi yang sedang jatuh dan setelah beberapa diskusi bersama anggota keluarga yang membahas tentang agama, (saya sangat bersemangat untuk Allah), saya memutuskan untuk mencari pekerjaan baru. Maka, pada bulan Juli 1982, saya meninggalkan pertanian keluarga dan dipekerjakan oleh produsen otomotif di Belmond, Iowa.

Tahun berikutnya merupakan tahun-tahun yang baik. Kami diberkati dengan seorang anak lagi, dia seorang putri yang bernama Tatum Renee yang lahir pada bulan Desember 1982. Kami punya sebuah gereja tempat kami ikut ambil bagian, sebuah pekerjaan, dan teman-teman yang hebat yang membantu mendewasakan iman kami. Pendeta di gereja baru kami di Belmond juga menyukai kami dan melakukan pemuridan dalam iman saya. Kami sangat terlibat dalam pekerjaan pelayanan, mengajar anak-anak SMA, dan saya terpilih menjadi seorang penatua.

Pada tahun 1984, saya juga mulai menjadi pembicara di kelompok orang muda dan kadang-kadang mengisi tempat para pendeta ketika mereka sedang cuti dengan memberikan khotbah di gereja-gereja setempat.

Pada musim semi 1989, kami memutuskan untuk pulang ke Britt di mana kami bisa lebih dekat dengan gereja asal kami juga dengan teman-teman kami. Kami terlibat dalam beberapa kelompok doa dan melanjutkan pertumbuhan rohani kami. Saya terpilih untuk menjadi penatua di gereja kami dan juga mengajar sekolah minggu anak-anak SMA.

Lebih dari 15 tahun, saya diberi banyak kesempatan untuk menceritakan iman saya dan menerima setiap kesempatan yang diberikan. Saya berbicara di acara orang muda, kebaktian gereja, kelompok orang muda, dan di mana pun saya bisa melakukannya. Saya sangat senang. Saya memandang tempat kerja sebagai tempat pelayanan di mana saya bisa menunjukkan Kristus melalui tindakan saya dalam memperlakukan orang lain.

Pada tahun 1995, saya memutuskan untuk mempeluas pilihan pelayanan saya. Saya memutuskan untuk melakukan apa pun yang saya mampu untuk mendorong orang muda supaya mereka hidup bagi Kristus, dan cara apa yang lebih baik selain melatih mereka dalam atletik? Jadi, saya kembali ke sekolah dan menerima “lisensi kepelatihan,” yang memungkinkan saya untuk melatih olahraga di SMP dan SMA. Keinginan saya adalah menunjukkan kepada remaja putra bahwa mereka bisa menghidupi iman mereka melalui keikutsertaan mereka dalam olahraga. Saya sangat suka melatih dan tak lama kemudian menjadi salah satu cara favorit saya untuk menghidupi iman saya di hadapan orang lain. Anak-anak menikmati olahraga, saya juga menikmati dengan melatih mereka, dan saya percaya Allah sudah membukakan banyak pintu bagi saya selama 10 tahun ke depan untuk membagikan iman saya kepada anak-anak. Saya akan terus memperkenankan Allah untuk menggunakan saya sesuai dengan kehendak-Nya.

Di akhir tahun 2004, istri saya lulus dari Sekolah Radiografi dan menerima pekerjaan di rumah sakit setempat. Maka, kami pindah ke Mason City supaya dia dekat dengan pekerjaannya. Pada saat itulah saya didekati oleh pimpinan gereja kami untuk jabatan sebagai pembantu pendeta penuh waktu yang bekerja dengan orang muda dan kelompok kecil dalam komunitas. Hal ini akan menjadi perubahan bagi kami. Maka, kami berdoa mengenai hal ini selama beberapa waktu dan akhirnya kami memutuskan bahwa saya akan meninggalkan jabatan profesional dan masuk ke pelayanan penuh waktu pada tanggal 1 April 2005.

Saya merasa sangat senang dan merasa kalau Allah itu sangat baik pada kami. Akhirnya, Dawn melepaskan pekerjaan penuh waktu di rumah sakit dan mengambil pekerjaan panggilan sehingga kami pindah kembali ke Britt dan melakukan pekerjaan pelayanan penuh waktu. Allah memberikan kami kesempatan besar untuk belajar dan memanfaatkan waktu untuk belajar dan merenungkan Firman-Nya semakin dalam lagi.

Melalui rahmat Allah, pelayanan tempat kami bekerja berkembang dan melalui beberapa jaringan kreatif dalam komunitas kami, kami mulai melihat beberapa kegiatan ekumenis yang hebat. Semua orang tampak bersemangat dengan apa yang sedang terjadi. Allah sedang menggunakan kami untuk menyatukan gereja-gereja dan anak-anak dalam komunitas yang juga kami layani. Kami sedang membangun beberapa hubungan yang hebat dengan banyak orang muda yang sudah kami layani dalam kelompok orang muda. Hidup sangat menyenangkan dan enak, sampai suatu sore di akhir tahun 2008.

Saya sedang mempersiapkan sebuah pesan tentang persatuan. Saat saya belajar, saya pasti mempertanyakan mengapa ada begitu banyak denominasi Kristen di dunia, saat itu hampir berjumlah 33.000 dan di Amerika Serikat sendiri ada lebih dari 8.000 denominasi. Ketika saya belajar, saya mulai membaca lebih banyak tentang Reformasi Protestan dan mulai memahami mengapa hal ini terjadi. Namun kemudian, saya bertanya mengapa perpecahan tidak berhenti terjadi: Mengapa kita terus menerus menambah gereja-gereja baru setiap saat dan apakah ini yang benar-benar dikehendaki Allah? Saya ingat Yesus berdoa dalam Yohanes 17 bahwa Ia ingin mereka semua menjadi satu. Jadi, pertanyaan saya berikutnya, jika seseorang bisa mendirikan sebuah gereja, dengan kuasa apa gereja itu dibentuk? Saya sangat percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang tidak mungkin salah, tapi saya juga sangat sadar bahwa kami sebagai umat Kristen yang independen suka mempercayai yang kami suka, ketika berhadapan dengan cara yang tidak kami sukai, kami pindah ke cara lain. Mungkinkah ini benar? Atau ada dasar yang kokoh yang harus kami pijak dan membiarkan masalah lainnya, seperti Paulus menyebutnya sebagai orang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya janganlah memecah belah? Maka, saya memutuskan untuk kembali ke sejarah dan melihat seperti apa Gereja di 1.000 tahun pertama. Jadi, selama satu setengah tahun berikutnya, saya mulai melihat kembali sejarah.

Saya diingatkan kembali bahwa selama 1.054 tahun pertama, agama Kristen itu tidak terbagi-bagi. Meskipun ada beberapa perbedaan kecil, tapi Gereja masih satu. Saya juga menemukan ada beberapa pernyataan doctrinal yang penting mengenai seperti apa Gereja perdana dan yakini. Saya tertarik pada ajaran dan dokumen Gereja perdana dan menggunakan banyak waktu saya untuk mempelajari Didakhe (Pengajaran Para Rasul) dan membaca beberapa Bapa Gereja mula-mula seperti Agustinus, Klemens dari Roma, Ignatius dari Antiokhia, Yustinus Martir, dan Irenaeus dari Lyon. Sebagian orang-orang ini memberikan hidup mereka demi apa yang mereka yakini. Saat saya membaca Syahadat (Pengakuan Iman/Credo), saya diingatkan bahwa inilah dokumen yang ditulis untuk menegaskan apa yang seorang Kristen yakini. Jadi, saya bertanya, mengapa gereja saya tidak menyatakan Syahadat?

Saya melanjutkan jalur studi ini dan tak lama kemudian saya menemukan banyak kelompok lain yang bercabang-cabang setelah Reformasi hanya karena satu orang dengan mengikuti kepercayaan yang berbeda, maka mereka memulai satu gereja baru. (Saya langsung teringat kembali dengan Surat Yudas ayat 19 bahwa akan datang mereka yang memecah belah). Mungkinkah ini benar-benar yang dikehendaki Allah: banyak perpecahan dan kurangnya persatuan?

Kemudian, jalan yang saya tempuh ini membawa saya ke pertanyaan berikutnya: Siapa yang menentukan kebenaran? Saya melanjutkan untuk membaca mengenai apa yang diimani, dilakukan, dan diajarkan oleh Gereja perdana. Apa yang saya temukan bahwa mereka semua percaya akan ajaran doktrinal yang sama, yang membuat saya belajar lebih keras lagi untuk membuktikan kalau mereka pasti salah. Tapi bagaimana mungkin? Mereka berada pada zaman 1.000 sampai 1.500 tahun yang lebih dekat dengan Kristus. Jadi mungkin saya yang salah? Dan jika saya yang salah maka apa yang saya ajarkan pada orang lain mungkin juga salah. Dengan otoritas apa saya mengajar orang lain? Jawabannya sederhana, dengan penafsiran saya sendiri terhadap Kitab Suci atau dengan penafsiran orang lain yang saya setujui. Hal itu membuat saya takut karena dalam Surat Yakobus dikatakan bahwa mereka yang mengajar akan dihakimi dengan lebih berat (Yakobus 3:1). Itulah hal terakhir yang saya perlukan, untuk dihakimi dengan lebih berat!

Saya selalu terbuka mengenai pandangan saya tentang Kekristenan, bahwa Kristus adalah kekuatan pengikat yang mempersatukan semua orang beriman. Saya selalu mendorong orang lain untuk bertumbuh dalam iman dan jika mereka mendalaminya dan berusaha keras maka Allah akan mengungkapkan diri-Nya kepada mereka. Kemudian pada suatu Sabtu malam, saya terbangun dan saya turun menuju ruang keluarga untuk menonton TV karena saya tidak bisa tidur. Ketika saya mencari saluran TV, saya menemukan stasiun TV yang bernama EWTN. Sekarang saya tahu kalau EWTN merupakan stasiun TV Katolik yang selalu menampilkan seorang biarawati kecil sedang berbicara. Namun, malam itu saya melihat sesuatu yang berbeda. Pria yang sedang berada dalam acara itu merupakan seorang Katolik yang pernah menjadi seorang pendeta Protestan. Saya belum pernah mendengar tentang hal ini: Seorang pendeta Protestan menjadi Katolik! Ia ada dalam acara yang berjudul The Journey Home. Saya duduk dan mendengarkan dan apa yang saya dengarkan darinya sama persis dengan pergumulan yang saya hadapi. Di akhir acara itu, mereka menyebutkan beberapa buku untuk dibaca. Salah satu buku itu adalah buku karangan Scott Hahn yang berjudul Rome Sweet Home, kemudian saya memesannya dan membacanya bersama dengan istri saya. Dan saya ada dalam masalah.

Sebagai seorang pendeta, setiap tahunnya kami diberikan satu pekan untuk pengayaan rohani. Pada bulan Juni 2010, saya dan istri saya memutuskan untuk menggunakan sepekan pengayaan rohani dan melakukan perjalanan ke Franciscan University di Steubenville, Ohio. Saya pernah mendengar universitas ini dari TV dan dikatakan sebagai universitas yang sangat baik secara akademis dan punya semangat yang sangat Katolik. Saya juga ingin berbicara dengan seseorang yang pernah menjadi pendeta Protestan yang sekarang menjadi Katolik. Saya punya pertanyaan. Maka, kami pergi ke sana dan selama tiga hari kami dapat menyaksikan “semangat” yang belum pernah kami lihat sebelumnya dalam bentuk seperti ini. Umat Katolik beribadah seperti yang kami lakukan di gereja kami dan berseru kepada Allah supaya ikut campur tangan dalam dunia ini dan dalam hidup mereka. Kami menghabiskan malam dengan Dr. John Bergsma dan keluarganya untuk menanyakan pertanyaan demi pertanyaan. Ia dan istrinya mendengarkan dengan saksama dan menanggapi setiap pertanyaan dengan ramah. Dan di penghujung malam itu, saya mengajukan pertanyaan sederhana kepada John. Saya bertanya, “Jika sekarang saya seorang Kristen, lalu mengapa saya harus menjadi Katolik?” Jawabannya sangat mengejutkan ketika ia menjawab “karena Ekaristi.”

Saat kami berkendara pulang, kami tahu bahwa Allah sedang membukakan mata kami terhadap sesuatu yang baru dan berbeda: Gereja Katolik yang belum pernah kami lihat sebelumnya, tapi apakah kami siap untuknya?

Beberapa bulan berlalu setelah perjalanan kami ke Steubenville. Saya terus mempelajari tentang Ekaristi dan makna yang sebenarnya dari Ekaristi. Dalam penelitian saya tentang Ekaristi dan terutama setelah membaca Yohanes 6 berulang kali, saya menjadi percaya bahwa persekutuan bukan sekadar pertemuan sosial para anggota dengan simbol-simbol untuk mengingat Kristus yang sudah menumpahkan darah-Nya bagi kita, tapi sebagai suatu peristiwa di mana unsur-unsur roti dan anggur benar-benar menjadi Tubuh, Darah, Jiwa, dan Keilahian Yesus. Dan kita perlu menyantap Tubuh itu supaya beroleh hidup kekal. Paulus dalam Suratnya kepada umat di Korintus menuliskan bahwa inilah persekutuan dalam Tubuh dan Darah Kristus (1 Korintus 10:16). Jadi apa yang harus saya lakukan? Saya sangat menyukai peran saya dalam komunitas kami sebagai seorang pembantu pendeta. Allah sedang memakai saya, dan saya tahu kalau saya tidak melakukan persekutuan dengan benar. Saya merasa ragu.

Kemudian, satu hari di bulan Agustus, saya sedang naik sepeda melintasi kota, saya mendengar bisikan “Kamu lebih mencintai pekerjaan daripada Aku.” Saya menghentikan sepeda saya tepat di jalan itu. Karena jawaban yang saya adalah “Ya.” Saya merasa yakin bahwa Ekaristi adalah bagian penting dari Kekristenan, namun saya tidak mengejarnya. Suatu kali Yesus ditanya tentang “Perintah yang utama,” Ia menjawab, “”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Matius 22:36-38). Apakah saya mengasihi Allah dengan segenap hati?

Saya terus belajar dan memohon kepada Allah supaya saya bisa memahami. Saya tidak ingin menghalangi apa yang Ia kehendaki dan jika itu berarti Ia mengambil saya dari apa yang saya sangat suka kerjakan, maka ambillah. Saya sangat menyukai pekerjaan saya. Saya punya kebebasan untuk melakukan hal-hal yang tidak dimiliki orang lain dan saya diberi kepercayaan dan telah membangun reputasi yang hebat. Tapi, jika saya menghalang-halangi dan tidak melakukan apa yang Allah kehendaki, maka Ia harus membukakan pintu bagi saya. Dan Allah melakukannya. Pada awal bulan September, saya didekati oleh seorang teman dan ditawari kesempatan untuk melakukan wawancara untuk sebuah jabatan di luar pelayanan. Saya diwawancarai beberapa kali untuk pekerjaan itu dan setelah beberapa pekan saya ditawari pekerjaan itu.

Jadi pada akhir bulan September 2010, saya menulis surat kepada pimpinan gereja yang isinya bahwa saya mengundurkan diri dari pelayanan yang luar biasa ini karena “kebanggaan saya” sudah membelokkan ketaatan saya pada panggilan Allah bagi saya (Saya tidak menyebutkan bahwa saya sedang meneliti Gereja Katolik karena saya takut ditolak. Saya kira kalau saya punya sedikit watak St. Petrus dalam diri saya dan saya merasa takut). Semua orang terkejut dan sedih, begitu pula dengan saya sendiri.

Pada tanggal 18 Oktober 2010, saya melakukan khotbah terakhir dan mengundurkan diri dari jabatan saya sebagai pembantu pendeta dan sekali lagi saya membiarkan Allah yang mengambil kendali.

Kami masih tinggal di komunitas kami, namun saya menyewa tempat supaya lebih dekat ke tempat pekerjaan baru saya, yang jaraknya sekitar 2 jam perjalanan. Saya terus membaca Kitab Suci dan juga membaca Katekismus Gereja Katolik untuk dipelajari. Suatu malam saya meluangkan waktu untuk berdoa, jadi saya pergi ke sebuah gereja Katolik untuk berdoa. (Gereja Katolik selalu menjadi tempat favorit saya untuk berdoa dan berpikir. Dulu saya menuliskan banyak naskah khotbah sambil duduk di sebuah gereja Katolik lebih dari lima setengah tahun sebagai seorang pembantu pendeta.) Di pintu keluar gereja, saya bertemu dengan pastor paroki. Ia baru saja ditugaskan ke paroki ini dan kebetulan ia adalah imam yang kembali ke Gereja sebelum meninggalkan imannya pada tahun 1981 dan ia pernah berada di rumah kami sebelum kami meninggalkan Gereja Katolik.

Kami menjadi dekat dengan Romo Tom Flanagan. Saya menghabiskan banyak malam untuk menanyai ia tentang iman, dan dengan sabar ia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.

Dawn mulai ikut kelas RCIA (‘Rite of Christian Initiation of Adults’ atau kita mengenalnya sebagai Katekumen Dewasa –red.) terlebih dahulu pada awal tahun 2010 karena dia ingin tahu lebih banyak tentang Iman Katolik. Saya belum berkomitmen untuk menjadi Katolik lagi, tapi Dawn sudah melakukannya. Saya tahu bahwa saya pernah berkomitmen tidak akan kembali lagi ke Gereja Katolik. Saya tidak bisa menjadi Katolik dan punya impian menjadi seorang pendeta.

Kemudian pada bulan Januari 2011, gereja yang sudah kami hadiri selama 30 tahun menghubungi saya mengenai beberapa rumor yang mereka dengar. Jadi, saya bertemu dengan pendeta senior dan akhirnya saya diminta untuk tidak kembali karena konflik yang akan timbul. Dan saya setuju.

Satu pintu tertutup tapi pintu lainnya terbuka. Saya terus belajar dan akhirnya semua pertanyaan saya terjawab. Jadi, pada tanggal 25 Maret 2011, saya mengaku dosa dan bersatu penuh dengan Gereja dan istri saya diterima menjadi anggota Gereja pada bulan April 2011 pada Malam Paskah.

Sejak saat itu, kami sudah terlibat di paroki kami di mana pun mereka ingin menggunakan kami dan selama enam tahun terakhir kami sudah menjadi koordinator RCIA untuk enam paroki di wilayah kami. Kami ikut studi Alkitab dan melayani siapa pun yang kami sanggup. Kami membina hubungan kami dengan Kristus dan Gereja-Nya dengan sangat serius dan percaya bahwa Allah telah memanggil kami untuk menjadi kaki dan tangan-Nya bagi semua orang di sekitar kami.

Saya dan Dawn percaya bahwa Allah telah memanggil kami untuk bersekutu dengan-Nya, Putra-Nya Yesus Kristus, dan Gereja-Nya. Semoga Ia menggerakan hati Anda sehingga Anda juga tertarik pada Gereja-Nya, dengan kebenaran, keindahan, kedalaman, dan sejarah yang ditawarkan, namun sebagian besar melalui kasih karunia yang diberikan melalui sakramen.

Doug Doughan menikah dengan istrinya, Dawn selama 40 tahun. Mereka tinggal di Clear Lake Iowa dan memiliki dua anak dan delapan cucu. Doug pernah bekerja di Perusahaan Energi yang Bisa Diperbarui semenjak meninggalkan pelayanan. Doug dan Dawn merupakan umat Gereja Katolik St. Patrick di Britt dan Clear Lake, dan mereka mengajar RCIA di Archangels Catholic Cluster of North Iowa (enam paroki di enam komunitas sekitarnya). Doug juga menjadi Dewan Eksekutif di klaster itu.

Sumber: “Seeing the Church with New Eyes”

Posted on 8 August 2020, in Kisah Iman and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: