Dari Mana Asalnya Alkitab?

Oleh Philip Kosloski

Septuaginta, foto oleh Netfalls Remy Musser (Sumber: shutterstock.com dan aleteia.org)

Satu hal yang pasti: Alkitab tidak jatuh dari langit

Kekristenan tanpa adanya Alkitab mungkin sulit untuk dibayangkan. Namun kenyataannya, pada 300 tahun pertama Kekristenan, Alkitab belum ada. Dalam artian, jika kita memahami Alkitab seperti saat ini, yaitu sebagai satu kumpulan semua teks Kristen yang dianggap suci.

Pembuatan dan penyusunan Alkitab merupakan proses yang panjang. Para pemimpin Gereja perdana menyaring banyak manuskrip dan melakukan pemilahan, dengan menggunakan beberapa kriteria historis, doktrinal dan teologis, kitab mana yang harus dipertahankan dan dimasukkan ke dalam kanon, dan kitab mana yang disingkirkan. Proses pembentukan kanon Kitab Suci itu berbeda antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Pembentukan “Perjanjian Lama”

Apa yang disebut umat Kristen sebagai “Perjanjian Lama” pada dasarnya adalah kumpulan Kitab Suci Yahudi yakni Tanakh atau Alkitab Ibrani. Teks-teks suci ini terdiri dari Taurat, kitab para Nabi (Nevi’im) dan tulisan-tulisan (Ketuvim). Kumpulan kitab ini berkembang dari waktu ke waktu dan awalnya diturunkan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya sampai akhirnya dituliskan dan dilestarikan.

Sekitar 200 tahun sebelum kelahiran Yesus, muncullah terjemahan Yunani dari teks-teks Ibrani yang diterima secara luas sebagai terjemahan yang sah (dan bahkan juga sebagai terjemahan yang diinspirasikan). Tradisi menceritakan bagaimana Raja Ptolemaios II dari Mesir memerintahkan untuk sebuah teks terjemahan dan mengundang para penatua Yahudi dari Yerusalem untuk mempersiapkan teks tulisan Yunani.  Ada 72 penatua, masing-masing enam orang dari 12 suku, mereka semua tiba di Mesir untuk memenuhi permintaan tersebut. Ada tradisi lain yang menceritakan bagaimana semua penerjemah ditempatkan di ruangan-ruangan yang terpisah satu sama lain dan mereka diminta untuk membuat teks masing-masing. Ketika tugas itu selesai, dan para penerjemah membandingkan semua karya mereka dan ajaibnya masing-masing karya itu identik satu sama lain.

Hasil karya itu dikenal dengan nama Septuaginta (dari kata Yunani untuk 70) dan sangat popular di kalangan orang Yahudi berbahasa Yunani. Hal ini menyebabkan Septuaginta menjadi sumber utama bagi para penulis Injil dan banyak umat Kristen perdana, yang menulis karya mereka sendiri dalam bahasa Yunani.

Ketika merumuskan kanon resmi Kitab Suci, Gereja memandang Septuaginta untuk membedakan mana kitab yang harus dipertahankan. Namun kanon Katolik mengenai Perjanjian Lama juga termasuk teks-teks dan tambahan kitab-kitab (misalnya, Kitab Yudit dan Tobit, Kebijaksanaan Salomo dan Sirakh) yang aslinya ditulis bukan dalam bahasa Ibrani, melainkan bahasa Yunani. Oleh karena itu, ada yang beranggapan bahwa kitab itu tidak dianggap sebagai bagian dari Kitab Suci Yahudi, namun dihormati dan dibaca oleh orang Yahudi pada saat itu.

Pembentukan Perjanjian Baru

Berbagai penulis menuliskannya pada tahun-tahun setelah Yesus wafat dan banyak cerita yang beredar mengenai Sang Mesias. Para penulis ini adalah para rasul, atau teman dari para rasul yang mengenai Yesus dengan baik. Mereka menjadi saksi peristiwa itu ataupun mewawancarai orang-orang yang pernah dan berusaha melestarikan kehidupan dan ajaran Yesus Kristus dalam bentuk tertulis.

Seiring waktu berlalu, ada salinan-salinan karya ini yang tersebar dan berbagai komunitas Kristen berkumpul bersama untuk membacakannya pada perayaan Misa hari Minggu. Salinan-salinan surat-surat Paulus juga disebarluaskan dan dianggap komunitas itu sebagai yang diilhami Roh Kudus.

Sebuah dokumen dari Konsili Vatikan II yang berjudul Dei Verbum, menegaskan proses bagaimana Perjanjian Baru dibentuk, secara khusus bagian Injil:

Adapun para penulis suci mengarang keempat Injil dengan memilih berbagai dari sekian banyak hal yang telah diturunkan secara lisan atau tertulis; beberapa hal mereka susun secara agak sintetis, atau mereka uraikan dengan memperhatikan keadaan gereja-gereja; akhirnya dengan tetap mempertahankan bentuk pewartaan, namun sedemikian rupa, sehingga mereka selalu menyampaikan kepada kita kebenaran yang murni tentang Yesus. Sebab mereka menulis, entah berdasarkan ingatan dan kenangan mereka sendiri, entah berdasarkan kesaksian mereka “yang dari semula menjadi saksi mata dan pelayan sabda”, dengan maksud supaya kita mengenal “kebenaran” kata-kata yang diajarkan kepada kita[1].

Waktu itu sudah ada St. Iranaeus (182-188 M) yang menyebut “empat segi” Injil, yang mengacu pada empat Injil, yakni Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.

Selama abad keempat, timbullah kebutuhan menyusun Alkitab secara resmi, yang pada saat ini sudah menjadi satu kumpulan. Beberapa sejarawan percaya bahwa ada bagian dari motivasi untuk membuat kanon resmi  berasal dari Kaisar Konstantinus yang menugaskan 50 salinan kitab suci untuk Uskup Konstantinopel.  Persetujuan kitab mana yang akan dimasukkan, dimulai dengan Konsili Laodikia pada tahun 363, dan dilanjutkan ketika Paus Damasus I menugaskan St. Hieronimus menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Latin pada tahun 382, dan sudah tuntas selama Sinode Hippo (393) dan Sinode Kartago (397).

Tujuannya adalah untuk menyingkirkan semua karya yang keliru yang sudah beredar saat itu dan menganjurkan Gereja-gereja lokal tentang kitab-kitab mana yang bisa dibacakan dalam Misa.

Gereja selalu percaya bahwa proses yang panjang ini dibimbing oleh Roh Kudus. Seperti yang dijelaskan dalam Katekismus Gereja Katolik, “Bunda Gereja yang kudus, berdasarkan iman para Rasul, memandang kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru secara keseluruhan, beserta semua bagian-bagiannya, sebagai buku-buku yang suci dan kanonik, karena ditulis dengan ilham Roh Kudus, dan dengan Allah sebagai pengarangnya, serta dalam keadaannya demikian itu diserahkan kepada Gereja. (KGK 105)”

 

Catatan kaki:

[1] Dokumen Konsili Vatikan II, Dei Verbum: Sabda Allah, Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia.

 

Sumber: Where did the Bible come from?”

Posted on 12 August 2020, in Kenali Imanmu, Kitab Suci and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: