Apa itu Didakhe?

Oleh Philip Kosloski

Synaxis of the Twelve Apostles by Constantinople master (early 14th c., Pushkin Museum, Moskow) (Sumber: wikipedia.org dan aleteia.org)

Didakhe merupakan salah satu kumpulan tulisan Kristen mula-mula, dan sering disandingkan dengan Perjanjian Baru di Gereja perdana

Setelah Perjanjian Baru, Didakhe ditempatkan sebagai salah satu kumpulan tulisan Kristen mula-mula yang lebih berpengaruh dan juga memungkinkan kita untuk menerawang zaman awal mula Kekeristenan.

Didakhe dalam bahasa Yunani bermakna “mengajar” atau “pengajaran,” dan juga merupakan kependekan dari judul tulisan itu yang sering diterjemahkan sebagai “Pengajaran Tuhan melalui Dua Belas Rasul kepada Bangsa-bangsa.” Banyak ahli yang menyebutnya sebagai “Pengajaran Dua Belas Rasul.”

Didakhe merupakan kumpulan tulisan Kristen yang disebutkan oleh berbagai penulis dalam Gereja perdana dan sering disandingkan dengan Perjanjian Baru. Contohnya, menurut Catholic Encyclopedia, “Didakhe disebutkan oleh Eusebius setelah kitab-kitab dalam Kitab Suci (Church History III.25.4): ‘Biarkan tulisan ini ditempatkan sebagai tulisan palsu yakni Kisah Paulus (Acts of Paul) yang disebut Gembala (Shepherd) dan Wahyu Petrus (Apocalypse of Peter), dan selain itu Surat yang dikenal berasal dari Barnabas, dan apa yang disebut Pengajaran Para Rasul (Teachings of the Apostles), dan juga … Wahyu Yohanes (Apocalypse of John), jika hal ini dianggap tepat … “ Namun, St. Athanasius dan St. Rufinus menambahkan “Pengajaran” pada kitab-kitab kebijaksanaan dan kitab-kitab deutero-kanonik lainnya.

Sudah diyakini oleh para ahli bahwa Didakhe dituliskan pada abad pertama, dan beberapa ahli lainnya menyatakan bahwa Didakhe terdapat ajaran-ajaran yang diturunkan oleh para rasul.

Dalam sebuah komentar tentang Didakhe yang diterbitkan pada tahun 1984, Charles Hoole menjelaskan beberapa bukti yang menghubungkannya dengan periode awal Kekristenan ini.

Tulisan ini sudah ada pada suatu periode yang sangat jauh, kemungkinan besar sebelum akhir abad pertama, sebuah karya yang diturunkan melalui tradisi lisan yang semestinya mewujudkan pengajaran lisan Para Rasul yang pertama. Ungkapan itu sendiri berbunyi, “Pengajaran Para Rasul,” yang dituliskan dalam Kisah Para Rasul 2:42, dan penggunaan kata untuk ajaran atau doktrin sudah umum dalam Perjanjian Baru, maka kitab itu akan menjadi judul yang wajar untuk kumpulan perkataan atau pengajaran yang telah diturunkan melalui tradisi yang mewakili ajaran lisan Para Rasul. Kita bisa memperkirakan bahwa karya ini, setelah ada untuk sementara waktu dalam bentuk tradisi, kemudian diwujudkan dalam bentuk tulisan, dan digunakan sebagai bagian kitab-kitab Kristen yang paling awal.

Isi Didakhe berpusat pada petunjuk ritual seperti baptisan, Komuni Kudus, dan puasa. Dan juga berisikan nasihat spiritual mengenai Dua Jalan (The Two Ways), Jalan Kehidupan (Way of Life) dan Jalan Kematian (Way of Death).

Namun yang utama, Didakhe ditempatkan sebagai bukti awal dari berbagai kepercayaan dan ajaran Katolik, dan sering digunakan untuk menunjukkan sepotong kecil tentang apa yang diyakini oleh umat Kristen perdana.

Sumber: “What is the Didache and why is it important?”

Posted on 14 August 2020, in Kenali Imanmu, Sejarah Gereja and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: