Tidak Dapat Menghadapi Penderitaan Tanpa Misa

Oleh Jeff Cavins

Salib Penderitaan Kristus foto oleh Adrian Dascal (Sumber: stpaulcenter.com)

Paus Yohanes Paulus II berkata, “Selama berabad-abad dan generasi sudah terlihat bahwa dalam penderitaan ada kekuatan besar yang tersembunyi yang menarik seseorang secara batin dekat kepada Kristus, itulah anugerah khusus.”

Berapa kali Anda mendengar seseorang berkata, “Misa itu membosankan,” atau “Apa hubungannya Misa dengan situasi kehidupan saya?” Berapa banyak umat kita yang dibesarkan dengan tidak punya pemahaman bahwa Misa kita itu memiliki drama ilahi tentang kasih pengorbanan yang dipersembahkan bagi kita dengan undangan untuk ikut ambil bagian dalam tindakan kasih yang paling luhur? Sayangnya, bagi sebagian orang, Misa menjadi kewajiban di mana gambaran, aroma, tanggapan, dan tata gerak yang berulang-ulang membentuk apa yang kita sebut sebagai agama.

Hal yang paling ironis mengenai pengalaman banyak orang selama Misa adalah bahwa mereka sudah membawa permasalahan, penderitaan, dan kesibukan mereka ke suatu tempat di mana penderitaan mereka memperoleh makna yang sebenarnya. Mengapa kita sering kali melihat kembali kesulitan hidup kita dalam pikiran kita masing-masing, yang benar-benar melewatkan drama yang mengubah tanda tanya di hati kita menjadi tanda seru? Seperti seorang yang kehausan mengitari tempat air minum sambil merenungkan betapa hausnya ia, maka hari ini, banyak umat Katolik mengitari Misa dengan memikirkan kesulitan mereka sendiri.

Dalam Misa, penderitaan Kristus dapat mengubah hidup kita . Setiap kali kita ikut Misa, kita harus dikejutkan oleh kenyataan bahwa Allah telah datang ke bumi, Ia menderita dan wafat, dan sekarang Ia meminta kita untuk mengikuti langkah-Nya. Di akhir setiap Misa, kita harus pergi dengan sikap: Tidak hanya saya yang akan ikut serta dengan-Nya dalam pengorbanan-Nya, namun saya juga akan menjalani pengorbanan itu ketika saya keluar pintu gereja dan kembali ke rumah, ke pekerjaan, dan juga ke masyarakat. Singkatnya, saya akan menjadi seperti Yesus dalam setiap aspek kehidupan saya.

Seringkali hidup kita dihabiskan untuk menghindari penderitaan. Kita tidak suka menderita, dan sebagian besar dari kita punya pertanyaan yang belum terjawab tentang penderitaan. Terutama, kita bertanya-tanya bagaimana mungkin Allah memperkenankan kita menderita, jika Ia mengasihi kita. Pesan Injil memberikan jawaban tentang penderitaan, namun jawaban-jawaban itu tidak langsung terlihat. Melalui sejarah keselamatan, kita melihat bahwa cara Allah sering kali bukan cara manusia. Cara Allah tertanam dalam gelapnya cangkang tiram, kita terkejut menemukan mutiara yang bersinar. Mungkin keadaan di mana kita menemukan diri kita sendiri tampaknya dalam kegelapan dan keputusasaan. Tapi kita tahu: Kita tidak sendiri. Bukan hanya ada orang lain juga yang ada di posisi yang sama, namun lebih penting lagi, Yesus pernah ada di posisi kita.

Ketika kita meneliti sejarah manusia,  dan menjadi bukti bahwa bukan “jika” kita akan menderita selama hidup kita, namun “kapan” dan yang lebih penting lagi “bagaimana” kita akan menderita, dengan cara yang buruk atau baik dalam menghadapinya? Setelah Kurban Kudus Misa dipahami, maka akan menjadi kunci untuk menghadapi penderitaan dengan baik, bukannya kehilangan harapan dalam hidup. Ada makna dalam penderitaan yang mampu mengubah dukacita menjadi sukacita. Saya tahu dan saya pernah mengalaminya, dan seperti banyak orang lain juga, saya sudah diubah sebagai hasil dari pemahaman pesan Misa.

Ketika tidak ada makna yang melekat pada penderitaan, orang bisa dengan mudah merasa putus asa. Namun, begitu ada makna yang melekat dalam penderitaan, maka ada perasaan takjub akan apa yang bisa ditanggung manusia. Kuncinya bukan penderitaan itu sendiri, namun makna yang melekat dalam penderitaan itu. Sebagian besar orang sepakat bahwa mereka tidak akan rela menanggung penderitaan yang luar biasa selama enam bulan karena seekor tikus. Namun sebagian besar akan dengan antusias mengangkat tangan untuk menegaskan jika saya bertanya, “Berapa banyak orang yang bersedia menanggung penderitaan demi putra dan putri Anda?” Mereka akan mengangkat tangan mereka karena mereka akan menemukan makna, yaitu kehidupan anak mereka.

Kunci untuk memahami penderitaan ditemukan dalam kehidupan, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus. Ketika kita ditanya, “Mengapa Yesus datang ke dunia?” jawaban biasanya, “Ia datang untuk mati demi dosa-dosa saya.” Meskipun itu benar, namun ada yang lebih dari itu. Karena jika Yesus datang untuk mati, mengapa Ia tidak menerima kematian sebagai seorang bayi? Yesus sepenuhnya Allah meskipun Ia masih bayi, jadi mengapa Ia tidak mempersembahkan diri-Nya segera setelah Ia lahir? Seperti yang akan kita lihat, misi Yesus melibatkan lebih dari sekedar kematian. Ada identifikasi yang lengkap dengan kemanusiaan, termasuk penderitaan. Kita juga akan melihat bahwa misi kehidupan kita bukan hanya sekadar pergi ke gereja setiap pekannya. Kita dipanggil bukan hanya menghadiri Misa, namun mengenai Kristus secara utuh dengan menyatukan hidup kita dengan hidup-Nya.

 

Jeff Cavins adalah pembicara, penulis, dan pendamping Ziarah Tanah Suci yang membantu umat Katolik untuk lebih memahami imannya. Dari berbagai proyeknya, ia berkontribusi dalam buku serial “Catholic for a Reason” yang diterbitkan Emmaus Road Publishing.

 

Sumber: You Can’t Handle Suffering without the Mass

Posted on 25 August 2020, in Ekaristi and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: