Kepenuhan Kehidupan – Kisah Christine Hall

Christine Hall (Sumber: chnetwork.org)

Saya lahir di Schenectady, New York pada tahun 1957 di sebuah keluarga Katolik yang sangat tradisional. Saya anak bungsu dari empat bersaudara. Empat bersaudara itu terdiri dari dua orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan. Kami semua bersekolah di sekolah Katolik dan setiap hari Minggu kami ikut Misa sebagai satu keluarga. Di rumah kami, kami punya satu gambar Yesus, sebuah patung Maria, dan beberapa salib (ber-corpus) yang diselipi daun palem dari perayaan Minggu Palma. Kami seperti keluarga Katolik Amerika pada biasanya. Kota tempat tinggal kami sangat Katolik. Hampir semua teman saya beragama Katolik, dan di setiap bagian wilayah kota ada sebuah paroki dan sekolah Katolik.

Pada waktu tahun-tahun bersekolah di SD di St. Columba Catholic School, saya menerima dosis harian dari kelas “Pelajaran Agama,” dan sebagian besar tidak meninggalkan kesan yang baik bagi saya. Meskipun saya terus mendapat nilai A, kelas itu seperti sekadar menghafal segala hal yang diinginkan guru. Saya masih ingat ketika berada di kelas 7, kami punya seorang suster muda yang menjadi guru magang. Dia lebih menarik dan memungkinkan kami untuk mengajukan pertanyaan. Satu pertanyaan yang saya tanyakan adalah, “Mengapa ada neraka, jika Allah itu adalah kasih?” Sayangnya, suster muda itu tidak memberikan jawaban yang memuaskan saya. Hati saya yang masih muda masih percaya pada Tuhan, tapi saya punya banyak pertanyaan dan saya punya keingintahuan yang besar.

Ketika saya berusia 14 tahun, kakak perempuan saya yang bernama Mary, menikah dan pindah ke negara bagian lain bersama dengan suaminya. Dia mengalami sulit hamil dan bertemu dengan seorang wanita Katolik karismatik yang menceritakan pesan sederhana tentang Injil, yaitu Allah mengasihi kita, Yesus mati bagi dosa-dosa kita, dan Ia bangkit dari kematian supaya kita beroleh hidup kekal. Mary menyerahkan hidupnya kepada Yesus dan tak lama kemudian dia hamil. Mary memandang bahwa Tuhan itu benar-benar adalah Allah secara pribadi yang sudah menjawab doa-doanya. Semangat saudari saya itu tidak tertahankan. Antusiasme untuk kasih barunya yang dia temukan untuk Yesus dicurahkan ke seluruh keluarga baik yang menghendakinya maupun yang tidak. Mary adalah satu-satunya saudara perempuan yang saya punya, dan saya selalu mengaguminya. Jadi, ketika dia mengirimi saya pamflet kecil tentang Injil, saya merasa terdorong untuk membacanya. Itulah Kabar Gembira bagi hati saya, dan saya mengucapkan doa orang berdosa yang sederhana di akhir pamflet itu. Kemudian saya menunggu sesuatu terjadi. Saya percaya bahwa saat itu ada suatu hal yang sedang terjadi di alam roh, tapi bagi anak perempuan berusia 14 tahun ini semuanya sama saja. Karena kakak saya itu tinggalnya jauh, jadi saya benar-benar tidak punya siapa-siapa untuk membimbing saya dan tidak tahu langkah apa yang harus saya lakukan berikutnya. Saya ingin rancangan Allah bagi hidup saya seperti dalam pamflet itu, tapi saya tidak punya arah. Mengapa saya tidak pernah diberitahu sebelumnya tentang kasih Allah bagi saya? Kenapa saya tidak mempelajari hal ini di sekolah Katolik saya itu? Dan ini menjadi pertanyaan lain dalam diri saya.

Masa remaja saya terus berlanjut, tapi saya tidak punya sedikit pun rasa peka terhadap Tuhan. Saya masih ikut Misa, membaca buku-buku dan Alkitab yang dikirimi kakak saya itu, dan berusaha menjauhi perbuatan buruk yang dilakukan sebagaian teman saya seperti minum minuman keras, narkoba, dan pergaulan bebas. Dengan melihat ke belakang, saya percaya kalau doa sederhana yang saya doakan pada usia 14 tahun itu yang memperbolehkan Tuhan melindungi saya tanpa melanggar kehendak bebas saya. Ada banyak contoh yang saya alami pada masa remaja di mana saya benar-benar merasa dilindungi. Saya cenderung naif, sehingga jika saya ikut menginap atau pergi bersama teman yang salah maka bisa berakhir tragis. Tuhan benar-benar sudah melindungi saya setiap kali saya berada dalam situasi yang tidak aman.

Ketika saya lulus SMA, saya mulai berkencan dengan seorang pria Katolik yang setia mengikuti Misa setiap pekannya. Saya mengagumi kualitas dirinya, dan kami sering berbicara tentang Tuhan. Bahkan kami bersama membaca buku Kristen yang berjudul The Late Great Planet Earth karya Hal Lindsay. Kami semakin serius dan sering membicarakan perkawinan. Saya sekarang tahu bahwa bukan karena seseorang itu rajin ikut Misa, belum tentu menjadi orang Kristen atau orang Katolik yang baik. Meskipun pacar saya itu kuliah di negara bagian lain, hubungan kami terus bertumbuh. Kami punya rencana untuk menikah setelah pacar saya itu menyelesaikan gelar sarjananya.

Setelah lima tahun, hati saya mulai mengalami tarikan yang kuat. Cara terbaik untuk menggambarkan tarikan itu adalah perasaan kegelisahan dan ketidakpuasan yang terus menerus. Saya merasa bahwa meskipun saya menikah dengan pria ini, seorang pria yang sangat saya cintai, saya tidak akan merasa utuh. Masih ada sesuatu yang hilang. Sekali lagi, Tuhan melindungi saya. Tak lama setelah kegundahan hati saya ini mulai terjadi, Tuhan mulai mengungkapkan hal-hal mengenai orang ini kepada saya melalui orang lain. Saya menemukan bahwa ia kecanduan kokain dan judi. Masalah-masalah ini seolah-olah tidak dapat diatasi dan membuat saya terkejut. Saya merasa dikhianati dan tersesat. Saya tahu kalau saya harus mengambil keputusan tentang hubungan ini. Saat saya duduk di kamar tidur, saya merenungkan apa yang sedang terjadi dalam hidup saya, saya merasa tergerak untuk menyerahkan segala sesuatu tentang diri saya kepada Tuhan. Saya tahu semuanya dari kakak saya yang sudah saya menceritakannya dengan saya bahwa hidup bagi Tuhan adalah satu-satunya jawaban yang benar. Saya siap untuk kehilangan pacar saya, teman-teman perempuan, dan seluruh cara hidup saya yang sudah banyak terjadi. Keinginan saya untuk hidup bagi Yesus benar-benar membuat pacar saya dan sebagian besar teman-teman saya menjauhi saya. Mereka semua tidak mengerti tentang kasih saya pada Yesus yang baru saya temukan itu. Saya merasa baik-baik saya dengan tanggapan buruk karena saya tahu kalau saya tidak akan kembali. Jika saya harus hidup bagi Yesus, saya menyadari kalau saya harus memulai sesuatu bagi-Nya dan bersama dengan-Nya. Yang saya tahu hanyalah Gereja Katolik, jadi dari sanalah saya memulainya. Saya menemukan pertemuan doa karismatik yang diselenggarakan seminggu sekali dan satu kesempatan Misa karismatik yang bisa saya ikuti. Saya tahu tentang karunia Roh Kudus dari kakak saya, maka Misa karismatik itu sesuatu yang menarik dan indah.

Ketika kakak saya mendengar bahwa saya sudah menyerahkan hidup saya kepada Yesus, dia sangat bahagia karena kakak saya sudah mendoakan saya selama bertahun-tahun. Dia juga memberi tahu saya bahwa saya bisa dibaptis dengan Roh Kudus dan mengalami sendiri karunia-Nya. Saya menginginkan segala sesuatu yang Tuhan kehendaki bagi saya. Saya benar-benar menginginkan semuanya. Dalam waktu empat bulan, saya dibaptis dalam Roh Kudus di kamar tidur saya sambil berbicara bahasa roh. Kamar tidur saya ini seolah-olah menjadi tempat Tuhan yang menyeentuh saya dengan cara yang istimewa. Beberapa bulan berikutnya seperti bulan madu bersama Tuhan. Hanya ada saya dan Tuhan. Ketika tidak bekerja dalam pekerjaan saya dengan orang dewasa yang memiliki kebutuhan khusus, hidup saya diisi dengan doa, membaca Alkitab, Misa, persekutuan doa, musik rohani Kristen, dan menonton The 700 Club. Semua itu menopang saya dan membantu saya bertumbuh dalam kasih yang semakin dalam dengan Yesus.

Meskipun saya rajin ikut Misa karismatik dan persekutuan doa, kebanyakan orang sudah berumur dan lebih cocok menjadi orang tua saya. Pada saat ini, saya berusia 23 tahun, jadi siapa pun yang berusia di atas 40 tahun sepertinya tidak cocok untuk berelasi dengan saya. Kecuali kasih kami bagi Kristus, kami tidak banyak punya kesamaan. Saya benar-benar tidak punya teman orang Kristen yang sebaya dengan saya. Saya mulai merasa kesepian dan ingin ikut persekutuan dengan orang-orang Kristen yang sebaya. Suatu hari, di kamar tidur saya lagi, saya berdoa supaya Tuhan mengirimkan satu orang Kristen saja. Saya ingat ketika saya memberi tahu Tuhan, kalau Tuhan punya sedikitnya 12 murid atau 12 rasul, dan saya cukup minta seorang saja.

Kira-kira dua bulan setelah doa meminta seorang “teman,” ada seorang pria muda mendatangi saya usai Misa. Ia memperkenalkan diri, namanya George dan bertanya apakah saya tahu tentang “The Reality Group.” Saya tidak mengerti apa yang dibicarakan George, maka ia menjelaskan bahwa itu adalah suatu kelompok orang muda yang penuh semangat yang bertemu seminggu sekali untuk berdoa dan mengajar di sebuah pasutri Katolik yang sudah senior. Setelah Misa sore itu, saya dan George pergi untuk minum kopi di sebuah kedai makanan setempat. George menceritakan pada saya kisah perubahan keyakinan yang ia alami pada saat hampir mengalami kematian, dan kemudian ia mengundang saya ke The Reality Group. George menjadi teman Kristen pertama saya yang kemudian menjadi suami saya. Tuhan sudah menjawab doa saya melebihi apa yang sudah saya minta di The Reality Group, di sana saya bertemu dengan beberapa orang pria dan wanita yang usianya tidak berbeda jauh dengan saya. Hal ini sangat menggembirakan karena saya bisa mengenal orang dewasa muda lainnya yang ingin hidup bagi Yesus. Pasutri Katolik yang sudah senior dan penuh semangat itu memfasilitasi kelompok itu dan memberikan banyak hikmat setiap pekannya dan membantu kami tetap berjalan di tempat yang lurus dan sempit ini. Dalam kelompok kecil ini, kita semua punya kesempatan untuk bertumbuh dalam karunia dan mengalami hidup dalam Roh Kudus. Saat itulah waktu pertumbuhan, persekutuan, dan keintiman dengan Tuhan. Saya dan George berteman baik dan sering meluangkan waktu bersama. Walaupun George bukan seorang Katolik, ia seorang Kristen yang baru dan penuh semangat bagi Tuhan. Ia menemukan jalan menuju Misa karismatik dari seorang teman ibunya. George dengan cepat disambut dan diterima oleh semua orang dalam Misa. Mereka tahu kalau George itu bukan seorang Katolik, namun hal itu tidak menjadi masalah bagi mereka. Untuk beberapa alasan, tidak seorang pun yang menyarankan George untuk menjadi Katolik, jadi ia tidak menjadi Katolik. Persahabatan kami bertumbuh menjadi semakin serius karena kami berdua bertumbuh dalam hubungan kami satu sama lain dan juga kepada Tuhan. Di kota kami, kami selalu ikut ambil bagian dalam hal apa pun yang Tuhan kehendaki. Jika ada kegiatan yang berlangsung di gereja lain atau di tempat lain, kami ingin ikut. Kami ikut Misa karismatik pada Sabtu sore, ikut kebaktian sebuah komunitas pada hari Minggu pagi, ikut kebaktian gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah (Assembly of God) pada hari Minggu sore, dan beberapa persekutuan doa di sepanjang pekan itu. Kami juga pergi ke acara konser musik rock Kristen seperti Phil Keaggy dan Second Chapter of Acts. Bahkan kami ikut ke acara show seorang komikus yang bernama Mike Warnke. Saya juga ambil bagian dalam koor di Gereja Katolik kami yang bernyanyi bersama John Michael Talbot ketika ia benyanyi di gereja kami. Masa-masa itu adalah masa yang sangat sibuk, mengisi waktu dengan Tuhan dan George. Tak lama kemudian, kami tahu seperti anjuran banyak teman kami kalau sudah saatnya kami menikah.

Pada tahun 1982 atau sekitar setahun setelah kami bertemu, kami menikah di Gereja Katolik. Kamu sudah mengikuti Engaged Encounter, sebuah acara retret pranikah Katolik, meskipun George bukan seorang Katolik. Perkawinan kami diberkati dalam Misa karismatik yang dikukuhkan oleh pastor dan seorang pendeta Protestan yang kami kenal. Sementara itu George bukan seorang Katolik, dan saya hanyalah seorang Katolik KTP. Saya tidak benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi dalam Misa, pentingnya sakramen, atau juga sejarah Gereja. Misalnya, saya tidak ingat lagi apa yang pernah diajarkan atau diberitahukan bahwa Ekaristi Suci adalah Kehadiran Nyata Yesus Kristus. Yang saya tahu hanyalah saya mengasihi Yesus dan ingin menjalani hidup saya dengan-Nya untuk selama-lamanya. Tak lama kemudian, kami mencari gereja lain untuk kami ikuti supaya kami bisa bertumbuh lebih dalam lagi.

Pada tahun 1986, Tuhan memberkati kami dengan dua orang anak, sepasang anak laki-laki dan perempuan, dan kami sedang mencari gereja yang bisa kami ikuti dan bisa bermanfaat bagi seluruh anggota keluarga. Kami diundang oleh seorang rekan kerja George untuk mengunjungi gerejanya. Gereja itu adalah gereja non-denominasi yang dipenuhi roh yang dirintis oleh sekelompok anak muda Kristen seperti kami yang hanya ingin hidup bagi Tuhan. Banyak anggota gereja itu yang mantan Katolik dan juga dari teman-teman masa SMA kami. Pendeta muda seorang guru dan pengkhotbah yang dinamis, ibadahnya kontemporer namun mendalam, dan persekutuannya luar biasa. Kami tahu kami sedang berada di gereja yang benar. Gereja itu tempat yang bagus untuk menjalani hidup bersama sebagai keluarga muda. Kami masih punya beberapa orang teman yang sudah kami kenal selama bertahun-tahun di gereja itu.

Pada tahun 1996, suami saya kehilangan pekerjaannya. George mencari pekerjaan di kota kami selama beberapa bulan, tapi tidak ada yang berhasil terwujud. Seorang mantan rekan kerja memberi tahu George mengenai pekerjaan di Atlanta, Georgia. George mengirimkan resumenya, dan perusahaan membiayainya untuk mengikuti wawancara dan kemudian menawarkan pekerjaan kepadanya. Kami sudah berdoa untuk kesempatan itu dan supaya kami memiliki kedamaian dalam hati kami. Meskipun kami tidak suka untuk meninggalkan gereja kami itu, kami merasa kalau tidak ada kesempatan lain selain mengambil pekerjaan di Atlanta, Georgia. Kami merasa bahwa hal itu pasti kehendak Allah karena tidak ada kesempatan pekerjaan lain yang lowong di daerah kami. Jadi, kami menjual rumah kami, mengemasi semua barang kami, dan dengan berat hati mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga gereja kami, dan kami menuju ke Bible Belt (istilah informal untuk menyebut negara-negara bagian dari Amerika Serikat yang secara sosial didominasi oleh budaya Kristen Protestan Evangelis konservatif –red.).

Kami mendapat kesan bahwa kami akan cocok dan disambut di hampir semua gereja di sana. Di sana kan namanya Bible Belt? Kami semua adalah bagian Tubuh Kristus, kan? Akhirnya, ketika kami tiba di Georgia, kami merasa sangat penting untuk menemukan satu gereja terutama bagi anak-anak kami. Anak-anak kami berusia 13 dan 10 tahun dan harus punya teman baru yang cocok. Kami mulai dengan gereja komunitas yang sudah direkomendasikan. Umatnya ramah seperti kebanyakan orang selatan, namun mereka merasa tidak perlu berteman dengan lebih banyak orang. Banyak gereja di Selatan bersifat generasional dengan banyak anggota keluarga dan teman-teman masa kecil. Relasi dan persahabatan mereka sangat kuat dalam hidup mereka, dan seringkali kami merasa seperti orang asing. Tak lama kemudian kami tahu jika orang selatan mengatakan bahwa mereka itu seorang Kristen, kadang-kadang hanya budaya saja. Begitu pula dengan orang utara yang sering terjadi dengan orang Katolik dan denominasi lainnya. Yang kami inginkan hanya menjadi bagian dari satu kelompok orang yang punya hubungan dengan Yesus, kelompok yang bisa kami dekati, dan menjadi saudara dan saudari dalam Kristus bersama dengan kami.

Setelah beberapa bulan, kami memutuskan untuk meninggalkan gereja komunitas itu dan bergabung dengan gereja non-denominasi yang kecil. Pendeta yang mengajar orang muda sangat hebat bagi anak-anak kami, tapi sekali lagi saya dan George mengalami kesulitan untuk mencoba berkenalan dengan umat lainnya. Di permukaan, keramahan orang-orang selatan terasa hangat, namun perbuatan mereka di luar gereja bukanlah prioritas bagi umat mana pun. Kami tinggal di gereja kecil ini terutama karena anak-anak kami yang senang di kelompok orang muda, namun ada perubahan lain yang akan terjadi dalam hidup kami. Suami saya terkena PHK dari perkerjaan yang sudah membuat kami pindah sejauh ini selama kurang dari dua tahun. Kami mulai berpikir bahwa kami sudah melewatkan kehendak Allah dengan pindah ke Atlanta, Georgia. Kami belum menemukan keluarga gereja yang cocok, anak-anak kami juga mengalami pengalaman kurang baik di sekolah negeri, pasti ada kejutan budaya yang kami alami, dan kami sering merindukan kampung halaman. Kami memikirkan hal ini juga membawanya dalam doa, apakah kami harus pulang ke kampung halaman kami. Saat itu tahun 1998, dan mencari pekerjaan di kampung halaman kami adalah sesuatu yang tidak mudah. Internet adalah barang yang cukup baru, maka kami mencari pekerjaan terutama dalam surat kabar yang dikirimkan kepada kami dari kampung halaman kami dan juga dari rekan bisnis. Tuhan melalui kebijaksanaan-Nya tidak membuka kesempatan bagi kami untuk bekerja di kampung halaman kami. Setiap pintu yang kelihatannya menjanjikan pada akhirnya tertutup.

Setelah empat bulan mencari pekerjaan, ada sebuah peluang kerja yang terbuka di Gainesville, Georgia, yang jaraknya satu jam perjalanan di wilayah utara Atlanta. Tawaran pekerjaan itu terlalu bagus untuk ditolak. Maka, kami mengemasi semua barang kepunyaan kami dan menuju Gainesville. Wilayah di Georgia ini sangat indah dengan pegunungan, danau, dan kota-kota kecil yang kuno. Dibandingkan dengan bagian kota besar Atlanta yang padat dan sibuk, pindah tempat yang seperti inilah yang kami butuhkan. Kami menyesuaikan diri dengan rutinitas di lingkungan baru ini dan mulai mencari gereja. Kami mengunjungi beberapa gereja termasuk sebuah megachurch dan sebuah gereja Baptis yang kecil. Baru setelah kami mengunjungi gereja Vineyard di kota itu, kami merasa menemukan gereja yang tepat. Sebagian besar kehidupan kami itu damai. Anak-anak kami bahagia di sekolah Kristen yang kecil, suami saya punya pekerjaan yang baik, dan kami mempunyai teman di gereja Vineyard.

Meskipun akhirnya hidup kami berjalan mulus, saya punya firasat tentang sesuatu yang lebih. Saya sering merasa kalau saya hanya sekadar “bermain gereja.” Ada beberapa teman baru kami di gereja Vineyard merasakan hal yang serupa. Setelah beberapa bulan berdoa, kami semua berpikir kalau kami harus memulai sebuah “gereja rumah.” Ada kelompok kecil yang meninggalkan gereja Vineyard dan melakukan pertemuan di sebuah rumah kayu  sebagai satu gereja rumah. Keinginan kami adalah melakukan supaya gereja sedekat mungkin dengan umat Kristen mula-mula.

Gereja rumah berlangsung selama lima tahun sampai suatu saat Tuhan dengan jelas memberi tahu kami bahwa kami semua harus kembali ke gereja arus utama. Bagi saya Gereja Katolik tidak masuk pilihan karena selama bertahun-tahun saya berada di gereja non-Katolik dan sudah membentuk diri saya dalam cara pandang Protestan terhadap Katolik. Karena saya tidak pernah sungguh-sungguh belajar tentang iman Katolik saya, saya percaya kebohongan-kebohongan yang dituduhkan seperti penyembahan Maria, Paus selalu tidak bisa salah, dan yang lebih parah lagi memandang Gereja Katolik sebagai anti-Kristus dan Yesus disalibkan kembali setiap Misa.

Sampai suatu hari saya ketika saya melihat-lihat panduan program TV dan melihat saluran EWTN (The Eternal Word Television Network) kemudian saya menonton sesuatu yang disebut Kaplet Kerahiman Ilahi. Bahkan saya tidak tahu tentang kaplet itu. Dalam benak saya mungkin itu adalah sebuah kapel kecil. Karena saya selalu menyukai kaca patri, maka saya membayangkan Kaplet Kerahiman Ilahi dengan harapan melihat tentang beberapa kaca patri yang cantik. Sebaliknya, saya melihat sekelompok orang memohon belas kasihan Allah bagi seluruh dunia. Meskipun pikiran saya membisikkan hal itu sebagai “pengulangan yang sia-sia,” namun hal itu menyentuh hati saya. Saya bertanya pada diri saya sendiri, kapan saya memohon kepada Allah supaya berbelas kasih bagi seluruh dunia. Tanpa ragu-ragu saya tahu jawabannya yaitu tidak pernah. Saya semakin menonton tentang Kaplet Kerahiman Ilahi serta menyanyikan doa sepanjang hari. Saya menemukan kalau doa singkat memohon belas kasih Allah itu tidak ada yang salah. Doa itu sangat murni dan kudus. Dan doa itu tidak berdasarkan Alkitab, inilah selalu menjadi aturan yang saya pakai untuk menilai hal-hal rohani. Dan inilah awal mula perjalanan pulang saya.

Beberapa minggu kemudian, saya menemukan acara TV yang berjudul The Journey Home. Saya bertanya pada diri saya sendiri apakah Kaplet Kerahiman Ilahi itu alkitabiah dan tidak berbahaya, bagaimana jika saya menonton acara TV The Journey Home? Saya sangat penasaran mengapa ada orang yang meninggalkan gereja Protestan untuk menjadi Katolik. Saya hanya mengenal orang-orang Kristen yang meninggalkan Gereja Katolik ke agama lain dan denominasi lain. Siapa yang mau kembali ke gereja yang ritualistik, sangat terorganisir,  dan gereja yang hierarkis setelah mengalami kebebasan dalam Roh Kudus? Maka, saya menonton acara itu beberapa kali. Kesaksian orang-orang ini mulai menggerakan beberapa hal dalam hati saya. Sepertinya mereka tahu berbagai macam hal yang tidak saya ketahui. Dan memang demikian. Meskipun saya tidak tertarik untuk perjalanan hidup yang tidak biasa ini, yaitu perjalanan menuju Gereja Katolik, saya belum bisa melampaui berbagai rintangan seperti Maria, mengaku dosa pada seorang imam, api penyucian, Paus, dan lain-lain.

Mungkin kendala terbesarnya adalah diri saya sendiri. Saya tidak punya pendidikan teologi atau Alkitab, maka saya merasa khawatir kalau saya akan menipu diri saya sendiri dengan tertarik kepada hal-hal berbau Katolik. Karena suami saya tidak menyadari kalau saya sedang mendalami gagasan-gagasan Katolik, saya tidak merasakan bimbingan suami saya untuk melindungi saya. Saya sering menebak-nebak diri saya sendiri.

The Journey Home selalu memberikan alamat mereka di akhir acaranya, maka saya memutuskan untuk menyurati mereka yang berisikan sedikit latar belakang diri saya dan pertanyaan apa yang saya ingin tanyakan mengenai Gereja. Pengalaman yang sudah-sudah dengan setiap pelayanan lainnya jika saya menuliskan hal semacam itu maka dipastikan saya akan menerima balasan surat formulir dengan berbagai daftar sumber-sumber bacaan yang harus dibeli dalam sebulan, namun saya jadi mengirimkan surat itu kepada mereka. Hal yang mengejutkan, dalam waktu kurang dari satu pekan saya menerima surat yang ditanggapi secara pribadi dan buku gratis dalam kotak surat saya. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Saya menyurati organisasi agama yang terorganisir yang paling besar di dunia, tapi mereka cukup peduli dengan surat kecil yang tidak penting itu dan membalasnya secara personal dan juga memberikan saya sebuah buku gratis. Sekarang saya tahu kalau setidaknya saya harus membaca buku The Biblical Defense of Catholicism karya Dave Armstrong. Saya tidak pernah menceritakan banyak hal dengan suami saya mengenai apa yang Tuhan lakukan pada saya yang ada hubungannya dengan Gereja Katolik, maka saya pikir akan membaca buku itu dan membuangnya kemudian. Dari halaman pertama, mata dan hati saya mulai terbuka. Saya tidak pernah berpikir tentang dari mana asalnya Alkitab dan siapa yang menyusun kitab-kitab dalam Alkitab. Kesalahan sola Scriptura, dengan menjadikan Alkitab sebagai satu-satunya otoritas saya, bagaikan seberkas cahaya yang membantu saya dalam menjawab banyak pertanyaan dalam diri saya. Saya mulai menyoroti banyak kebenaran baru yang sedang diungkapkan pada saya, sehingga bagi saya buku itu mulai menyerupai Alkitab.

Kegembiraan atas pemahaman yang baru saya temukan tentang Gereja Katolik tidak bisa ditahan lagi. Saya mulai menceritakan hal ini dengan suami saya mengenai apa yang saya pelajari dan alami. Suami saya agak terbuka namun tidak punya pengetahuan yang sudah saya peroleh dari buku itu. Setelah membaca bab tentang Kurban Kudus Misa, saya merasa harus ikut Misa. Satu-satunya gereja Katolik yang saya tahu di wilayah kami adalah Gereja St. Paul the Apostle, dan satu-satunya alasan mengingat gereja itu karena di sanalah saya dan George menikah. Saya pergi ke sana sendirian dan berhadap ada Misa Sabtu sore, namun saya sendiri apakah di sana ada Misa Sabtu sore. Tentu saja mereka merayakan Misa Sabtu sore, dan saya mulai berjalan menuju pintu gereja sambil berkata, “Ya Tuhan, apa yang Engkau lakukan pada saya?” Sekarang Tuhan tahu kalau saya sangat menyukai kaca patri, terutama warna biru, nah apakah Anda tahu kalau setiap jendela kaca patri di gereja itu berwarna biru. Saya bukan orang yang suka menangis, tapi waktu itu saya menangis. Saya sudah pernah menjadi bagian dari berbagai gereja dengan tim penyembahan besar yang ingar-bingar, maka musik gitar akustik tunggal ketika Misa terasa surgawi. Penghormatan dari imam dan umat sangat melegakan. Dan bagaimana saya tidak ingat kalau dalam Misa banyak mengutip dari Kitab Suci? Pulang Misa malam itu saya tahu kalau saya menemukan apa yang sedang saya cari, dan tidak ada keraguan lagi. Ini adalah terus saya cari “lebih banyak lagi.”

Saya dan suami saya menutuskan untuk ikut kelas RCIA (‘Rite of Christian Initiation of Adults’ atau kita mengenalnya sebagai Katekumen Dewasa –red.) supaya mendapat pemahaman lebih tentang Iman Katolik, dan kelas itu sangat membantu kami. Kembalinya saya ke Gereja hanya menyebabkan kasih saya bagi Gereja tumbuh semakin mendalam. Seolah-olah Tuhan sudah memberikan saya sebuah peti harta karun yang berisi permata berharga seperti persekutuan para kudus, Bunda saya yaitu Bunda Maria, dan terutama Yesus sendiri dalam Ekaristi Kudus. Meskipun suami saya belum siap menjadi anggota Gereja setelah mengikuti RCIA, ia diterima dalam Gereja pada tahun berikutnya. Namun suami saya punya kisahnya sendiri. Semenjak saya pulang ke rumah (menjadi Katolik –red.), putra saya, menantu perempuan dan cucu perempuan semuanya ke Gereja. Saya akan selalu bersyukur selama-lamanya kepada Tuhan yang sudah membawa saya dalam kepenuhan kehidupan.

 

Christine Hall seorang asisten guru bagi anak-anak prasekolah dengan kebutuhan khusus. Dia dan suaminya umat di Gereja Katolik St. Paul the Apostle di Cleveland, Georgia. Mereka berdua juga membantu memfasilitasi pertemuan doa karismatik mingguan di Gereja Katolik St. Mark di Clarksville, Georgia.

 

Sumber: “Full Circle”

Posted on 25 September 2020, in Kisah Iman and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: