Orang Tua adalah Misionaris bagi Anaknya

Oleh Estella Young

Children with Ascension of Jesus Icon (Sumber: catholicnews.sg)

Sebagai orang tua Katolik, kita berjanji untuk mendidik anak-anak kita itu dalam iman, pada hari perkawinan kita, dan juga setiap kali anak-anak kita dibaptis. Para presbiter paroki selalu mengingatkan kita bahwa “kalian [orang tua] adalah katekis pertama bagi anak Anda.”

Rumah: Gereja domestik

Menjadi “katekis pertama” bagi anak-anak hal ini bukanlah tujuan dari orang tua, melainkan suatu kenyataan yang harus dihadapi. Anak-anak lebih dipengaruhi oleh iman orang tua mereka sendiri daripada dipengaruhi oleh presbiter paroki maupun katekis, yang hanya mereka temui satu jam dalam sepekan. Hal inilah yang dibawa ke dalam rumah oleh keluarga-keluarga pada masa pandemi, ketika kelas katekese paroki dan Misa untuk sementara ditangguhkan.

Katekese atau proses memperkenalkan anak ke dalam iman Katolik, merupakan kemitraan jangka panjang antara orang tua dengan paroki. Katekis paroki yang terdidik bisa menjelaskan berbagai macam aspek, seperti liturgi dan sakramen yang tidak dipahami oleh para orang tua. Namun, iman menjadi hidup melalui hidup doa dan membaca Kitab Suci setiap hari, melalui hubungan antarmanusia, dan kesempatan hidup menghayati kebajikan, semua itu hanya terjadi di rumah.

Mempersembahkan waktu

Persembahan persepuluhan (mempersembahkan sepersepuluh harta kepada Allah) bukanlah “hal Perjanjian Lama” yang ketinggalan zaman, namun hal itu bisa diterapkan dalam kasus ini. Hal ini bisa mengingatkan kita bahwa Allah adalah pusat kehidupan kita. Meskipun, kita mungkin tidak memberikan 10 persen pendapatan kita untuk Gereja, tetapi berapa banyak ruang, waktu, dan daya upaya yang kita sisihkan untuk Allah?

  • Apakah kita rutin berdoa? Kita tidak bisa memperkenalkan Yesus kepada anak-anak kita jika kita sendiri tidak mengenal-Nya. Jika kita membicarakan tentang para kudus sebagai teman kita, anak-anak kita juga ingin berteman dengan mereka juga.
  • Apakah kita berbicara dengan anak-anak kita sebatas tugas sekolah dan kegiatan pengayaan, atau apakah kita juga membicarakan Allah dan kehidupan rohani?
  • Apakah rumah kita punya gambar-gambar suci dan tempat doa untuk mengingatkan anak-anak kita akan kehadiran Allah?
  • Apakah anak-anak kita membaca dan menonton film tentang iman? Perpustakaan dan toko buku rohani menyediakan berbagai pilihan cerita Alkitab yang layak untuk anak-anak, dan juga buku-buku tentang Gereja Katolik.

Melibatkan indra manusiawi

Katekese tidak hanya mengisi anak-anak dengan kebenaran Allah dan Alkitab saja, melainkan juga kekayaan indra iman kita yang membuat iman menjadi hidup, secara khusus bagi anak-anak yang menanggapinya pada tingkat emosional daripada tingkat intelektual.

  • Sentuhan: doronglah anak-anak untuk memperlakukan patung suci dengan sikap hormat dan lembut, ajari mereka untuk ambil bagian dalam kepemilikan ruang doa. Contohnya, memilih benda-benda yang hendak dipajang, membersihkan debu pada benda-benda suci, atau membawa bunga secukupnya dari taman untuk dipersembahkan kepada Bunda Maria.
  • Cita rasa/ aroma: Tandai hari raya Gereja dengan pesta keluarga, misalnya dengan hidangan atau makanan istimewa untuk diberikan kepada anak-anak sebagai sesuatu yang dinanti-nantikan. Kita bisa merayakan hari ulang tahun baptisan, hari peringatan santo-santa pelindung yang menjadi peringatan tambahan selain dari hari ulang tahun mereka. Juga bisa membiasakan anak-anak untuk berpantang daging pada hari Jumat dan makan menu ikan, hal ini bisa membantu anak-anak menyerap ritme kalender Gereja.
  • Penglihatan: pajanglah gambar-gambar suci di setiap ruangan dengan seindah mungkin tapi tidak kekanak-kanakan, melalui seni Kristen bisa mengarahkan hati mereka. Menempatkan salib atau ikon suci di dekat komputer anak-anak bisa menjadi pengingat visual supaya alat elektronik itu digunakan sebagaimana mestinya. Kita juga bisa menghias ruang doa keluarga kita dengan warna dan simbol masa liturgi Gereja.
  • Pendengaran: “Iman timbul dari pendengaran” (Roma 10:17). Selain membaca Kitab Suci dengan lantang, misalnya membaca Injil setiap hari saat doa sebelum tidur, menyanyi atau melantunkan himne (lagu pujian) Katolik dapat meresapkan Firman Allah meresap dalam hati anak-anak.

Menjaga doa tetap pantas

Tidak sedikit orang tua yang putus asa pada waktu doa bersama anak-anak. “Anak saya tidak bisa duduk diam!” Namun doa itu tidak perlu dilakukan hanya dengan sambil duduk dan berlutut. Anak-anak masih dalam proses menguasai tubuh mereka sendiri, jadi anak-anak bisa berdoa menggunakan jari tangan (seperti manik-manik Rosario), dan bisa juga menggunakan kaki mereka (pergi ke suatu tempat doa). Jika di paroki Anda memiliki gua Maria, maka kenapa tidak berkunjung ke ruang terbuka untuk berdoa?

Jika anak kita masih sangat kecil, kita bisa berdoa singkat dan apa yang kita harapkan bisa dicapai oleh anak kita, supaya anak kita tidak merasa takut dengan pengalaman doa. Misalnya jika anak-anak sanggup berdoa Rosario satu dekade itu baik, jika tidak sanggup, cukuplah mengucapkan lima kali Salam Maria. Doronglah anak-anak kita berbicara kepada Yesus sebagai seorang sahabat, mengucap syukur kepada-Nya atas berkat pada hari ini. Doa orang dewasa cenderung berfokus pada permohonan, namun ucapan syukur itu sangat menarik bagi anak-anak dan merupakan kebiasaan yang baik dengan memupuk rasa syukur.

Katekese dengan liturgi

Salah satu manfaat yang tidak terduga dari pandemi adalah adanya Misa yang disiarkan secara langsung.  Meskipun di Indonesia belum ada Misa online khusus anak-anak, ada bagian-bagian Misa yang berisikan lagu dan katekese, namun anak-anak bisa melihat lebih dekat apa yang dilakukan seorang presbiter di altar daripada yang mereka lihat sewaktu di gereja.

Hal ini bisa membantu anak-anak kita dalam menghargai detail Misa yang lebih baik: kekayaan bejana-bejana Ekaristi (peralatan liturgi –red.) yang menunjukkan ada harta yang tak ternilai yang disimpan di dalamnya (Tubuh dan Darah Kristus –red.), warna-warni masa liturgis, dan sebagainya. Ada buku lokal di Singapura yang berjudul “Mass Communication: Discovering the Beauty of the Catholic Mass” yang bisa menjadi bahan yang mudah dibaca dalam memahami Misa.

Ada satu hal yang perlu diperhatikan: Misa online bukanlah pengganti Misa di gereja dalam situasi normal, dan orang tua harus menggunakan Misa bentuk online saat ini hanya untuk mendorong anak-anak merindukan Misa yang sebenarnya, terutama jika mereka cukup dewasa untuk menerima Komuni Kudus. Lebih memilih Misa online karena “lebih nyaman” tidak akan membantu sebuah keluarga memetik nilai-nilai rohani dari Misa.

Nikmatilah perjalanan hidup bersama anak-anak

Kita tidak seharusnya merasa tidak mampu dalam membimbing anak-anak kita dalam iman. Allah telah menganugerahi kita kasih karunia sebagai orang tua, dan Ia tidak akan membiarkan kita jauh dari-Nya dan kosong tanpa diri-Nya. Dengan sikap rendah hati dengan berkata kepada anak-anak, “Saya tidak tahu. Mari kita cari tahu bersama-sama!” memberikan nada positif bagi anak-anak kita, dan hal seperti ini bisa menjadi cara bagi semua anggota keluarga untuk bertumbuh dalam kedekatan dengan Allah sekaligus juga dengan masing-masing anggota keluarga.

 

Estella Young sudah menjadi katekis di paroki dan sekolah sejak tahun 2012. Dia memiliki tiga anak yang berusia 2 hingga 8 tahun.

 

Sumber: “Parents are missionaries too!” dengan penyesuaian dengan konteks Indonesia

Posted on 30 October 2020, in Keluarga and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: