Yang Terlupakan dari Keluarga Kudus

Oleh Dr. Scott Hahn

La Fuga in Egitto (Norton Simon Museum) karya Jacopo Bassano (Sumber: wikimedia.org dan stpaulcenter.com)

Mudah sekali melihat Keluarga Kudus sebagai keluarga yang romantis (atau manis), seolah-olah mereka itu bukan manusia, melainkan malaikat. Meskipun Maria dan Yesus tidak pernah berbuat dosa, bukan berarti tidak ada kesalahan sebagai orang tua. Dan itu tidak berarti Yesus tidak pernah melakukan hal yang membuat frustasi kedua orang tua duniawi-Nya.

Yesus yang berusia 12 tahun, waktu itu Ia berdiam diri di Yerusalem setelah perayaan Paskah Yahudi. St. Lukas mencatat bahwa Maria dan Yusuf sudah melakukan perjalanan sehari penuh sebelum mereka sadar kalau putra mereka hilang. Setiap orang tua bisa merasakan ketakutan, kecemasan, dan rasa malu yang dialami orang tua Yesus ketika mereka kembali ke Yerusalem (Lukas 2:41-51).

Namun coba Anda bayangkan: Maria dan Yusuf merasa kalau mereka sudah kehilangan seorang anak remaja biasa tetapi Putra Allah. Kisah ini sering digunakan sebagai analogi pengalaman Malam Gelap bagi Jiwa, ketika seseorang kehilangan kepercayaan diri dan penghiburan akan kehadiran Tuhan. Kita bertanya-tanya, sebagaimana orang tua Yesus juga pasti bertanya-tanya, jika kita kehilangan Allah atau yang lebih menyedihkan jika Allah sudah meninggalkan kita. Bahkan dengan tahu secara intelektual bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita seringkali tidak cukup untuk menenangkan perasaan cemas yang datang dengan perasaan ketidakhadiran-Nya yang sangat akut.

Maka dari itu, kita tidak perlu heran bahwa perkataan pertama Bunda Maria kepada putranya yang terkasih , yang dia temukan setelah tiga hari perjalanan dengan mencari-cari, adalah ungkapan jengkel: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” Namun Kristus yang berusia 12 tahun dengan lembut menegur ibu-Nya dengan pertanyaan retorik: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Lukas 2:48-49).

Teguran Yesus seharusnya mengingatkan kita sebagaimana mengingatkan kedua orang tua-Nya, namun hal itu sekaligus memberikan penghiburan karena dua alasan. Pertama, bahkan Bunda Maria yang Terberkati yang tidak berdosa tidak selalu memahami jalan Tuhan, dan dia merasakan kecemasan yang yang hadir dengan ketidakhadiran Yesus secara nyata. Oleh karena itu, betapa cemasnya kita yang berdosa ini merasakan kepedihan ditinggalkan ketika Tuhan jauh dari kita? Kedua, dan yang lebih penting adalah tanggapan Yesus yang mengingatkan kita bahwa kita bisa menemukan-Nya di dalam bait-Nya yaitu Gereja di mana Ia berdiam diri dalam Tabernakel dan juga bait hati kita di mana Ia tinggal, menantikan kita dengan sabar supaya kita mencari-Nya.

Inilah kunci untuk memahami Keluarga Kudus: mempelajari Maria dan Yusuf yang selalu punya cara untuk memusatkan perhatian kepada Yesus Kristus. Keluarga Kudus merupakan komunitas utama di mana Yesus menjadi seorang anggota keluarga yang tidak mengurangi dan melunturkan identitas-Nya. Sebaliknya, keluarga-Nya menekankan kodrat-Nya, yang sungguh manusia dan sungguh Ilahi.

Keluarga Kudus harus menjadi pengingat bagi kita bahwa keluarga kita tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan Yesus, namun sebaliknya menjadi tempat yang menampilkan karunia, kasih, dan kebenaran-nya lebih cemerlang daripada yang bisa dilakukan setiap individu menurut kemampuannya sendiri. Sama seperti kita semua, Yesus juga menemukan kepenuhan diri-Nya dalam komunitas.

 

Dr. Scott Hahn adalah presiden dari St. Paul Center dan penulis lebih dari empat puluh buku teologi dan studi Alkitab. Ia adalah pembawa acara podcast “The Road to Emmaus.”

 

Sumber: “What We Often Forget about the Holy Family”

Posted on 27 December 2020, in Kenali Imanmu, Kitab Suci and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: