Cara Membicarakan Yesus kepada Anak Anda

Oleh Christine Ponsard

Ibu dan anak (Sumber: aleteia.org)

Kita suka mengatakan hal ini tanpa berpikir panjang, tapi kadang-kadang apa yang kita katakan kepada anak kita ini bisa membuat mereka berangsur-angsur menjauh dari Tuhan

Seperti yang dikatakan dalam buku Mister God, This Is Anna, kita bisa memasukkan Tuhan dalam kotak kecil. Kita sudah terlalu sering menghadirkan Tuhan yang “berdaya guna” seperti pemberi hadiah, pembuat mukjizat, penberi penjelasan akan segala sesuatu, atau bahkan yang menakut-nakuti supaya anak kita berbuat baik. Ungkapan-ungkapan seperti itu bisa memengaruhi anak-anak kita untuk selamanya. Berikut ini beberapa contoh ungkapan yang harus dihindari.

Hindari kalimat umum yang menyebut Yesus sebagai “anak kecil”

Sebenarnya tidak salah untuk berbicara tentang “Yesus kecil” karena pertama kali ketika Yesus menjadi manusia, Ia menjadi seorang anak kecil. Namun, bukan pemikiran yang baik secara umum menyebut Yesus seperti itu karena bagi anak kita, Yesus hanya akan menjadi “Yesus kecil,” Bayi Yesus yang ada dalam kandang Natal atau Keluarga Kudus Nazaret. Yesus akan menjadi “Yesus kecil bagi anak-anak” yang akan ditinggalkan dalam berbagai hal kekanak-kanakan yang usang atau juga kenangan masa kecil. “Kita tidak boleh belajar segala sesuatu dalam masa kecil yang nantinya akan kita lupakan.”

“Yesus tidak menyayangimu kalau kamu berbuat seperti itu”

Rumusan seperti ini harus dilarang karena sama sekali tidak benar. Yesus sangat mengasihi setiap orang, bahkan jika kita adalah orang yang paling berdosa. Seorang anak yang mendengar ini akan tumbuh dalam rasa takut kehilangan kasih Allah dan akan merasa yakin bahwa kasih ini harus didapatkan, bahwa Allah tidak mengasihi pendosa. Apa yang dikatakan orang tua di masa-masa awal anak-anak memberi dampak dengan cara sedemikian rupa pada anak ini, sehingga nanti ketika dewasa nanti akan tetap ditandai oleh gambaran bahwa Allah mengasihi kita kerena kita berperilaku baik.

Sama dengan, kita tidak boleh berkata, “Saya tidak suka anak yang suka berbohong (atau contoh lain, seperti teriak-teriak),” sebagai cara yang lebih singkat untuk berkata kita tidak suka ketika anak-anak berbohong. Tapi yang dipahami anak-anak adalah kita tidak menyukai mereka ketika mereka berbohong. Kelihatannya sepele dan memang begitu, tapi dari pendidikan yang sepele itu, dan dalam kasus ini kita harus ingat bahwa cara kita mengasihi anak-anak kita, cara kira menunjukkan kasih kita kepada mereka, bisa membantu mereka untuk membantu dan menghayati kasih Allah.

“Tuhan menghukummu”

Meskipun benar bahwa penderitaan adalah akibat dari dosa. Tapi keliru dan berbahaya untuk menunjukkan penderitaan atau kegagalan sebagai hukuman langsung dari dosa tertentu. Ingat bagaimana Yesus menjawab para murid-Nya yang bertanya kepada-Nya mengenai seorang buta: ‘Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?’Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (Yohanes 9:2-3). Jika seorang anak terluka karena ketidaktaatan, anak itu mendengar bahwa itulah hukuman Tuhan, anak itu akan berpikir bahwa penderitaan selalu menjadi hal yang “pantas didapatkan” dan sebaliknya kebahagiaan atau pemikiran mengenai kesehatan, keberuntungan, tidak menderita, kesenangan menjadi tanda dari perbuatan yang menyenangkan hati Tuhan.

“Yesus tidak senang, kamu menyakiti-Nya”

Pernyataan ini ambigu atau pernyataan ini sama-sama benar sekaligus salah. Claire dengan keberanian seorang anak 10 tahun berpendapat: “Yesus tidak bisa sedih karena Ia bahagia di Surga selama-lamanya!” Pendapat yang logis. Namun, kita bisa menunjukkan kepada Claire bahwa karena dosa-dosanya, dosanya selama hari inilah yang telah menyalibkan Yesus. Yesus sudah terlebih dahulu menderita untuk semua manusia di masa lalu, sekarang, dan di masa yang akan datang. Bahkan jika untuk dosa-dosa Claire, Yesus akan memberikan nyawa-Nya. Maka mengatakan bahwa dosa itu menyebabkan Yesus menderita tidaklah salah. Tapi kita harus waspada: yang penting bukanlah apa yang ingin kita katakan, tapi apa yang anak rasakan dan pahami. Anak itu mungkin berpikir bahwa kebahagiaan Yesus bergantung pada dirinya, dalam perilaku baik dan buruknya, itulah yang salah. Pada kenyataannya, bukan kebahagiaan Yesus dihancurkan oleh dosa tapi kebahagiaan pendosa itu sendiri. Demikian pula, kualitas kasih Yesus tidak bergantung pada tanggapan kita. Allah mengasihi kita dengan bebas, total dan tak bersyarat. Kasih inilah yang perlu kita sampaikan berulang-ulang kepada anak-anak kita.

Sumber: “4 Phrases about Jesus that you should never say to your child”

Posted on 18 June 2021, in Keluarga and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: