Magnet Kebenaran – Kisah Noel Culbertson

Noel Culbertson (Sumber: EWTN YouTube Channel)

Gereja Katolik tidak pernah ada dalam perhatian saya. Saya tidak punya kebencian dan dendam dengan Gereja, lebih dari ketidaktahuan dan sikap apatis orang Amerika terhadap Gereja. Namun, sepertinya banyak jalan menuju Roma, saya sudah berada di sana jauh sebelum saya menyadarinya. Kami bahagia di jemaat Baptis kami, kami ikut terlibat dalam karya pelayanan, pelajaran Alkitab, dan dikelilingi teman-teman Kristen yang luar biasa, tapi di sepanjang jalan hidup, kami dirayu oleh Mempelai Kristus yang agung. Seperti yang dikatakan G. K. Chesterton, “Seseorang yang sudah datang terlalu dekat dengan kebenaran, dan lupa bahwa kebenaran adalah magnet, dengan daya tarik dan tolaknya.”

Saya dibesarkan sebagai anak kedua dari empat bersaudara dalam sebuah keluarga Kristen yang luar biasa. Kedua orang tua saya mempunyai pengalaman perubahan keyakinan sebagai seorang Kristen Injili yang kuat pada waktu mereka SMA, ayah saya mempunyai latar belakang Ilmu Pengetahuan Kristen dan ibu saya mempunyai latar belakang yang bisa disebut Katolik. Pelajaran Kitab Suci selalu menjadi bagian kehidupan keluarga kami. Kami menyanyikan alfabet Yunani sewaktu kecil, punya pelajaran Alkitab keluarga, dan rutin ke gereja. Ayah saya sangat mencintai Kitab Suci. Ia belajar sejarah Yahudi, memetakan tulisan Injil dalam urutan kronologis, bahkan menerjemahkan Perjanjian Baru dari bahasa Yunani … untuk menyenangkan diri. Keluarga kami selalu ikut pelayanan di gereja Baptis di wilayah selatan California. Saya memperoleh hadiah karena menghafal Kitab Suci di AWANA (program menghafal ayat Alkitab untuk anak-anak), sebagai seorang anak kecil saya merasa canggung karena diperhatikan banyak orang. Waktu saya kelas enam, saya sudah menghafal ratusan ayat Alkitab.

Selama SMA, saya sudah melakukan perjalanan misa ke sembilan negara di Eropa. Saya membaktikan diri sekaligus naif dan saya tidak punya konsep nyata ternyata inti perjalanan itu adalah untuk “menyelamatkan” orang-orang Katolik. Misi para pemimpin kami membicarakan kalau semua orang Eropa itu ke gereja setiap minggunya, tapi tidak punya hubungan pribadi dengan Yesus. Saya tahu kalau ada banyak orang di jemaat Baptis saya yang cocok dengan deskripsi itu, tapi saya tidak memikirkannya. Kami berkeliling Eropa untuk mewartakan Empat Hukum Rohani, seringkali kami lakukan di depan katedral-katedral yang nantinya kami kunjungi.

Pada tahun berikutnya, keluarga kami pindah ke negara bagian Washington, dan saya mulai bekerja di Kamp Kristen terdekat. (Saya mencintai pelayanan karena ayah saya datang kepada Kristus di kamp Kristen.) Kami bekerja dengan berbagai denominasi Kristen dan melihat banyak jiwa dihidupkan oleh pesan Injil. Kami berdoa setiap hari dengan para staf, dan waktu istirahat saya bekerja dengan staf SMA dan mengajar sekolah Minggu untuk anak-anak TK. Terus menerus saya terlibat dalam kegiatan pelayanan.

Pertunangan & Berita Tak Terduga

Pada awal tahun 1999, saya mulai berpacarandengan Stan, ia pernah kuliah di perguruan tinggi Kristen dengan saudari saya. Setengah tahun kemudian kami mulai merencanakan perkawinan. Kami akan menikah tepat setelah ia kembali dari penempatannya di Marinir Amerika Serikat selama enam bulan ke mendatang.  Namun, enam minggu sebelum ia ditempatkan, waktu temu janji dokter untuk masalah yang tak terkait, saya dikabarkan hamil. Saya kaget, malu, dan terhina. Bagaimana saya bisa membiarkan hal ini terjadi? Apa yang akan dipikirkan orang lain? Saya sudah mengecewakan orang tua saya dan banyak orang lain yang susah memandang saya sebagai saksi iman. Pada saat itu, godaan muncul dalam benak saya, “Kamu bisa melakukan aborsi, dan tidak ada yang tahu.” Itulah pemikiran yang mengejutkan bagi seseorang yang gigih memperjuangkan pro-life, tapi itulah godaan yang memusingkan waktu saya dipermalukan. Saya tahu kalau saya harus memberi tahu seseorang untuk “membuat hal itu nyata” dan melenyapkan godaan dalam terang kebenaran. Stan sedang bekerja untuk 6 jam lagi, tanpa ada cara untuk menghubunginya. Saya pergi ke rumah saudari saya (suaminya juga seorang staf di gereja Baptis kami) dan saya bertanya apakah bisa mengobrol. Segera setelah saya mengaku kepada saudari saya itu, kuasa godaan itu lenyap. Beberapa jam kemudian, saya dan Stan membicarakan hal itu dan dalam beberapa hari ke depan, Stan memberi tahu orang tua saya dan pendeta kami, dan saya menulis surat kepada para staf di kamp itu yang berisikan bahwa saya menyesali dosa saya dan memohon pengampunan mereka. Itulah pengalaman luar biasa dari kekuatan mengakui dosa-dosa kepada seseorang yang punya kuasa untuk tetap memiliki pengampunan – dengan mengungkapkan dan menyesali kekurangan kita dengan lantang dan dengan demikian saya menerima rahmat dan kebebasan Allah melalui pengakuan itu. Dua pekan kemudian, kami menikah. Dua pekan setelah itu, Stan ditempatkan. Ia kembali setelah masa 6 bulan penempatan dan dua pekan kemudian putri pertama kami yang cantik lahir.

Pertanyaan & Angan-angan yang Mengganggu

Seiring berlalunya waktu, kami masih sangat terlibat di jemaat Baptis kami. Saya mengepalai pelayanan wanita, Stan menjadi seorang diakon, dan kami mengadakan pelajaran Alkitab mingguan di rumah kami. Di suatu pekan, di kelas Sekolah Minggu dewasa waktu kami membahas Perumpamaan tentang Penabur (Matius 13:3-23), Stan bertanya tentang benih yang jatuh di tanah yang berbatu. Ia menyebutkan bahwa itu kedengaran seperti orang yang sudah diselamatkan, “menerima firman dengan sukacita,” tapi “murtad” atau kehilangan keselamatannya. Sekarang, jika Anda melihat satu ruangan penuh yang berkata “sekali selamat – tetap selamat” orang-orang gereja Baptis membuat suasana Anda menjadi hidup, inilah cara yang baik melakukannya. Dalam perjalanan pulang sore itu, kami memikirkan tentang reaksi pertentangan terhadap apa yang tampak jelas dalam tulisan Kitab Suci. Kemudian, kami tidak mau mempertaruhkan keselamatan kekal kami pada firasat, maka insiden itu seperti benih yang jatuh di tanah berbatu.

Dalam pelajaran Alkitab di rumah kami, kami mempelajari Kitab Kisah Para Rasul. Setiap pekan, saya dan Stan akan membaca satu bab, meneliti semua tafsiran terbaik yang bisa kami temukan, dan kemudian mendiskusikannya dengan kelompok pelajaran Alkitab kami. Dan menjadi semakin menakutkan ketika membaca semakin banyak tafsiran. Mereka masing-masing punya pandangan yang berbeda tentang perikop itu, bukan hanya refleksi pribadi tapi seringkali bertentangan dengan pandangan teologis. Bagaimana kita bisa yakin kalau kami menafsirkannya dengan benar? Tentu saja kami sudah memilih mana yang harus disepakati berdasarkan pemahaman kami akan Kitab Suci, tapi para penafsir ini sudah bertahun-tahun mempelajari Kitab Suci tapi masih ada banyak perbedaan pandangan tentang bagaimana perikop itu ditafsirkan. Bagaimana mungkin umat beriman yang setia, yang tidak mau menggunakan waktu beberapa jam setiap harinya untuk belajar, supaya tahu tafsiran mana yang benar? Kemudian tibalah di Kisah Para Rasul 15 dan Konsili Yerusalem.

Kisah Para Rasul merupakan gambaran Gereja perdana dan sebagai umat Protestan kami selalu berusaha untuk kembali ke pengalaman Gereja perdana yang otentik. Tapi dalam mempelajari Gereja perdana dalam Kisah Para Rasul, tidak terlihat seperti pengalaman saya di gereja Baptis. Mereka berkumpul dalam suatu dewan dan berbicara dengan otoritas kepada semua gereja-gereja mengenai permasalahan iman. Di mana otoritas seperti itu dalam denominasi saya? Kami tidak punya dewan, atau kami tidak punya kemampuan untuk menentukan masalah iman dan moral dengan otoritas. Sekali lagi, gagasan yang meresahkan ini tetap menjadi benih di jalan, ketika kami mengarahkan kehidupan kami yang sibuk dengan iman, anak-anak, dan berbagai penempatan di marinir.

Pengumuman yang Mengejutkan

Pada tahun 2003, ayah saya mengumumkan bahwa setelah beberapa tahun ia akan masuk Gereja Katolik, hal ini menjadi sesuatu yang mengerikan bagi ibu saya dan kejutan bagi teman-teman Baptis kami. Hal ini membuat ibu saya sedih, membuat hancur pendeta kami yang sangat dekat dengan ayah saya, dan juga mengejutkan jemaat yang sering diajar oleh ayah saya selama bertahun-tahun. Bagi saya, hal itu tidak menjadi tragedy besar seperti yang dipikirkan orang lain. Ayah saya sudah belajar lebih banyak dari siapa pun yang saya kenal. Dalam pencariannya untuk mengenal Kristus, ia sudah mengajukan pertanyaan yang membuat para pendeta dan profesor seminari kebingungan. Selama beberapa tahun, karena ia sudah bertemu dengan beberapa presbiter maka mereka mengarahkannya ke lebih banyak sumber dan jawaban daripada yang mampu ia gali selama hidupnya. Ayah saya bertumbuh dalam doa dengan bantuan para presbiter Karmelit ini. Orang yang sudah belajar banyak seperti ayah say, kelihatannya Gereja Katolik menjadi tempat yang sangat cocok baginya. Saya memandangnya sebagai preferensi pribadi, bahwa kita semua adalah orang Kristen – orang yang mengasihi Alkitab adalah umat Baptis, orang yang tertarik pada ritual dan pembelajaran adalah Katolik, orang karismatik adalah umat Pentakosta, dll. Mengingat perjuangan ibu saya dengan kisah perubahan keyakinan ayah saya, ayah saya menceritakan sangat sedikit kisah perubahan keyakinannya kecuali kalau kami bertanya langsung. Dan itulah menjadi saat yang sangat membuatnya terasing.

Beberapa tahun kemudian, setelah  mendengar berita tentang Paus Bendiktus XVI dan kontrasepsi, dan mengetahui  hal itu lebih baik daripada perkataan berita media dari ajaran denominasi apa pun, saya bertanya kepada ayah saya tentang bagaimana Gereja Katolik menghadapi kontrasepsi. Saya hanya tahu sedikit tentang itu, hanya tahu kalau mereka mengajarkan sesuatu yang menentang penggunaan kontrasepsi. Sepertinya sesuatu yang sangat aneh. Tapi penjelasan ayah saya tentang alasan Gereja mengajarkan demikian itu masuk akal. Dan yang paling mengejutkan bagi saya adalah setiap denominasi Protestan memegang ajaran mengenai kontrasepsi yang sama dengan Gereja Katolik sampai tahun 1930 seiring waktu setiap denominasi mengubah ajarannya. Saya tidak pernah mendengarkan sesuatu tentang sejarah denominasi kami. Bukan itu masalahnya, sederhananya orang-orang selalu menggunakan bentuk kontrasepsi apa pun yang mereka inginkan tanpa bertentangan dengan ajaran agama mana pun. Itulah benih lain di jalan kami.

Pengaruh Katolik

Pada awal tahun 2010, di tengah-tengah penempatan Angkatan Laut yang ketujuh, saya sedang mendampingi kunjungan lapangan untuk kelas putri saya. Saya dipasangkan dengan Janet, ibu siswa lain yang belum pernah saya jumpai. Selama kunjungan lapangan itu, saya dan Janet membicarakan tentang agama, keadaan rohani bangsa ini, dan semua perihal yang tidak disukai dalam bincang-bincang yang sopan. Kami akrab dan berbicara selama beberapa jam setelah kunjungan lapangan selesai. Beberapa pekan kemudian, saya menghampiri Janet dan keluarganya di toko perabot dan dia menyebutkan bahwa menduga ayah saya ke gereja mereka. Saya bertanya, “Oh, kamu ke St. Cecilia?” Tempat itu adalah paroki mereka juga, dan mereka bertanya apa pendapat saya tentang ayah saya yang seorang Katolik. Saya pikir kalau itu cocok untuknya, dan saya senang karenanya. Kemudian dia bertanya bagaimana pendapat ibu saya. Saya berkata, “Yah … tidak begitu baik. Sangat sulit baginya.” (Ayah saya sekarang sudah menjadi Katolik sekitar 7 tahun ketika artikel ini dituliskan pada tahun 2016). Kemudian Janet merekomendasikan sebuah buku oleh seorang mantan pendeta yang menjadi Katolik. Karena buku itu membahas bagaimana istri mantan pendeta berjuang dengan pertobatannya, Janet pikir buku itu bisa membantu ibu saya. Saya berterima kasih padanya dan menyelesaikan tugas saya.

Sebulan kemudian, Stan kembali dari luar negeri, dan kami sedang mempersiapkan diri untuk menggunakan waktu keluarga untuk rekreasi ke beberapa taman nasional. Waktu mengemudi melalui kota kami beberapa hari sebelum perjalanan kami, saya memutuskan untuk mampir ke paroki Katolik untuk bertanya kepada mereka saya bisa menemukan buku yang direkomendasikan Janet. Saya tidak pernah melihat toko buku Katolik (atau seorang imam atau biarawati untuk masalah ini). Ketika saya tiba, pintunya masih terkunci, tapi saya melihat seseorang memindah-mindahkan kardus di pinggir bangunan itu. Saya berjalan berkeliling gedung untuk bertanya kepada wanita itu apakah dia tahu di mana toko buku itu. Katanya, dia tidak punya buku tapi ada beberapa CD yang isinya kisah perubahan keyakinan oleh beberapa pengarang, siapa tahu saya tertarik. (Rencananya saya mau membaca buku itu terlebih dahulu sebelum memberikannya kepada ibu saya. Saya tahu kekacauan seperti apa yang akan terjadi jika saya memberikannya buku Katolik, terutama jika ibu mengira bahwa buku itu berasal dari ayah saya.) Wanita di paroki itu sedang membersihkan kantornya dan ia bertanya apakah saya tertarik dengan CD lainnya. Saya mengatakan bahwa saya mau, kemudian dia mengeluarkan lebih dari 30 CD dan buku The Seeker’s Cathecism. Saya berterima kasih kepadanya dan pulang ke rumah.

Beberapa hari kemudian kami berangkat untuk rekreasi. Pada perjalanan pertama kami di malam hari, setelah anak-anak tidur, kami memasukkan CD tentang kisah perubahan keyakinan. Kami tercengang. Bagaimana bisa kami melewatkan semua ini? Di setiap perhentian kami memeriksa Alkitab kami untuk memastikan semua ayat-ayat itu benar-benar ada. Kami membaca perikop seperti Matius 16:13-20, Yohanes 6, Yesaya 22:22-23, Yohanes 20:23, 1 Timotius 3:15. Tentu saja ayatnya ada, beberapa ayat sudah saya hafal sewaktu di AWANA, tapi sekarang semuanya berkumpul dan punya makna. Ayat-ayat itu seperti tumbler (gelas yang ada pengunci anti-tumpah –red.) yang dikunci rapat, tidak ada pengunci yang pas; ayat itu cocok dengan kuncinya dan bisa membuka pintunya. Rasanya seperti diberi jawaban atas setiap pertanyaan tentang iman yang tidak pernah terpikir untuk ditanyakan, namun saya merasa harus bertanya kepada mereka beberapa tahun yang lalu.

Bagi saya, menurut Kitab Suci, wahyu yang paling mendalam adalah Kristus dengan jelas mendirikan sebuah Gereja yang mempunyai otoritas dan perlindungan-Nya (Matius 16:13-20). Yesus memberikan kuasa kepada Petrus untuk mengikat dan melepaskan apa yang ada di bumi dan di surga. Karena kita tahu bahwa tidak ada yang najis bisa memasuki surga, kita tidak tahu apa pun tentang Gereja ini, yang didirikan di atas Petrus, yang mengikat di bumi dan mana yang tidak dan tidak menentang Kristus. Kemudian ketika Yesus berkata bahwa pintu alam maut tidak akan menguasai Gereja-Nya, Ia memberikan Firman-Nya bahwa Gereja akan dilindungi dengan sedemikian rupa. Jika ini benar, maka Kristus telah mendirikan satu Gereja yang masih ada sampai sekarang, bukan hanya secara mistik, tetapi secara nyata dan kelihatan. Maka sangat jelas dalam pengalaman saya bahwa denominasi-denominasi berjuang dengan masalah persatuan karena tidak ada yang punya otoritas. Orang yang tidak sependapat dengan tafsiran Alkitab pendeta lain, dengan mudahnya melepaskan diri dan mulai membuat gereja lain, dan itu yang sering terjadi. Tapi, Gereja Katolik masih berdiri dengan otoritas yang diberikan Kristus, seperti yang sudah terjadi selama dua ribu tahun, dibimbing dan dilindungi oleh Roh Kudus. Jika pernyataan ini benar, saya harus sejalan dengan Gereja dan bukan sebaliknya. Bukti alkitabiah yang khusus membahas otoritas Gereja, Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi (Yohanes 6), dan perlunya iman dan perbuatan alih-alih iman saja (Yakobus 2:14-24) sangat mengejutkan saya. Pada akhir perjalanan untuk rekreasi kami, kami sudah mendengarkan lebih dari 30 jam pengajaran Katolik dan sudah menggunakan waktu berjam-jam untuk mempelajari Kitab Suci.

Ketika kami tiba di rumah, kami memperoleh sebanyak mungkin buku-buku Katolik, termasuk beberapa tentang para Bapa Gereja mula-mula yang belum pernah kami dengar, dan kami mulai membacanya. Kami mempelajari Alkitab dengan cara pandang yang baru, setelah melepas cara pandang aliran Baptis yang ada pada kami tapi tidak kami ketahui. Kami melanjutkan pembelajaran selama beberapa bulan dengan keyakinan yang tumbuh bahwa Gereja Katolik benar-benar seperti apa yang dinyatakannya – satu, kudus, katolik, dan apostolik –  tapi kami belum ikut Misa. Setelah beberapa kali diskusi, kami menentukan tanggan untuk ikut Misa pertama kami, dengan maksud supaya kami bisa tetap ke gereja Baptis kami. Kemudian kami perlahan-lahan mengurangi menghadiri Misa beberapa bulan ke depan untuk mengurangi hantaman kepada komunitas Baptis yang sudah saya ikuti selama hampir 18 tahun.

Kemudian, saya memberi tahu ibu saya bahwa kami sedang mempertimbangkan untuk menjadi Katolik. Kami selalu menjaga kedekatan dan bisa mengobrol setiap hari. Ibu selalu ikut ke temu janji sebelum kelahiran bersama saya ketika Stan sedang bertugas, bahkan kami berbelanja bersama. Tapi ketika saya memberitahunya apa yang sedang kami pertimbangkan, dia terdiam, yang segera berubah menjadi histeria. Setelah ini, dia tidak bisa lagi bicara dengan saya tanpa air mata yang disertai teriakan. Dia bahkan ikut konseling untuk berusaha mengatasi yang apa baginya terasa seperti penghianatan besar.

Kapal yang Terbakar

Pada tanggal 1 Agustus 2010, kami hadir dalam Misa perdana kami. Stan tahu arti perubahan keyakinan itu sulit bagi keluarga kami, maka ia berdoa memohon bimbingan ilahi. Pada Misa itu, kami mendengarkan doa-doa, tanggapan-tanggapan, dan bacaan-bacaan yang semuanya dicurahkan dari Kitab Suci. Mazmur Tanggapan terdengar seolah-olah berbicara langsung kepada saya: “Pada hari ini kalau kamu mendengar suara Tuhan, janganlah bertegar hati.” Dalam homilinya, imam berbicara tentang Cortez dan anak buahnya yang mendarat di Amerika. Mereka mengalami begitu banyak kesulitan, sehingga anak buahnya itu ingin pulang dengan aman dan nyaman. Namun, Cortez membakar kapal dan anak buahnya itu harus maju untuk menyelesaikan misi yang sudah mereka pilih. Saya mencondongkan tubuh kepada Stan dan berkata, “Saya pikir kapal kita terbakar.” Kemudian tibalah saat konsekrasi, dan kami menyaksikan orang banyak dari segala usia, ras, dan status sosial menerima Kristus. Ruangan itu benar-benar dipenuhi Kristus. Saya menoleh lagi ke Stan dan kali ini air mata berlinang di wajahnya. Panglima Marinir ini tidak mampu membicarakannya selama beberapa pekan tanpa meneteskan air mata. Itulah kenyataan dari semua yang sudah kami pelajari. Kami tidak pernah kembali ke gereja Baptis. Dalam beberapa hari, kehidupan dan persahabatan yang sebelumnya kami miliki tiba-tiba menjadi sunyi. Dalam hari-hari yang sunyi itu, kami menyelami Kitab Suci dan ajaran Katolik. Saya diperkenalkan dengan para penulis Katolik seperti Fulton Sheen, Karl Keating, Frank Sheed, Paus Yohanes Paulus II, dan terutama G.K. Chesterton yang akan menjadi salah satu pemandu saya yang periang dan jenius di jalan perubahan keyakinan.

Beberapa hari setelah Misa perdana kami, ada seorang anggota paroki yang memberi tahu kami tentang konferensi Katolik di kota terdekat di akhir pekan mendatang. Jumat sore itu, kami datang lebih awal ke konferensi dan akhirnya makan malam bersama dengan Tim Staples dari Catholic Answers, yang menjadi salah seorang pembicara. Kami berkali-kali lipat ikut Misa dari yang pernah kami ikuti sampai saat ini, berdoa Rosario untuk pertama kali (dengan sangat canggung), dan punya beberapa sumber untuk kisah perjalanan kami. Kami juga berjumpa dengan seorang teman lama, sesudah ia merasa terkejut melihat kami di acara konferensi Katolik, ia menawarkan kami untuk membawakan banyak CD dan buku. Minggu depannya, ia mengirimkan banyak CD serta tiga jilid tulisan para Bapa Gereja perdana dan masih banyak lagi.

Berjuang dengan Otoritas

Masalah-masalah teologis utama yang saya perjuangkan adalah apakah Kristus benar-benar mendirikan Gereja yang kelihatan dengan otoritas-Nya, dan jika memang demikian, apakah Gereja itu masih ada sampai sekarang. Sebagai seorang Baptis, ayat-ayat Alkitab yang sepertinya tidak saya perhatikan itu membuat saya terkejut, khususnya Matius 16:13-20 dan 1 Timotius 3:15. Dalam mempelajari Kitab Suci selama bertahun-tahun, saya lebih banyak memusatkan pengajaran saya pada surat-surat Paulus dibandingkan dengan Injil. Saya pikir ini karena surat-surat itu terjadi setelah Kebangkitan; oleh karena itu, surat-surat itu lebih relavan dengan penghayatan kehidupan Kristen. Dalam mempelajari iman Katolik, saya mulai melihat betapa sedikitnya saya memandang perkataan Yesus dalam kaitannya dengan struktur iman saya sebagai seorang Baptis. Saya selalu percaya bahwa Gereja adalah Tubuh Mistik yang tidak kelihatan dari semua orang percaya yang punya relasi pribadi dengan Kristus, bukan Gereja yang kelihatan dengan satu hierarki. Dengan membaca Matius 16, tampak jelas bahwa Kristus memberikan otoritas khusus kepada Petrus dan Gereja yang akan dipimpinnya. Jika Yesus berkata, “Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga” maka apa pun yang diikat Petrus di Gereja ini harus mutlak atau ini akan membuat Kristus sebagai pembohong.

Kemudian saya mulai membaca beberapa tulisan para Bapa Gereja perdana yang belum pernah saya dengar sebelum saya mulai belajar tentang Gereja, dan saya mulai belajar apa yang Gereja percaya, pikirkan, dan ajarkan pada abad pertama. Saya tidak tahu kalau tulisan-tulisan dari murid dari para Rasul itu ada. Sama mengejutkannya dengan membaca apa yang mereka katakan tentang otoritas dan struktur Gereja. St. Ignatius dari Antiokhia, seorang murid dari Rasul Yohanes, berkata pada tahun 107 M, “Hendaknya kalian mengikuti uskup sebagaimana Yesus Kristus mengikuti Bapa. Ikutilah juga para presbiter sebagaimana kaliam mengikuti para rasul, dan hormatilah diakon seperti kalian mematuhi Allah. Janganlah ada seorang pun melalukan sesuatu yang berhubungan dengan gereja tanpa izin uskup. Hendaklah kalian menganggap sah Ekaristi yang dilayani oleh uskup atau dilakukan oleh seseorang yang ia [uskup] berikan wewenang. Di mana pun uskup hadir, di sanalah ada kepenuhan [gereja] sebagaimana di mana pun Kristus Yesus berada, di sanalah ada gereja katolik.” Saya menjadi yakin bahwa Alkitab dan tulisan awal Kekristenan yang ada di dunia itu dalam strukturnya sungguh Katolik, bukan Baptis.

Janet yang saya jumpai waktu kunjungan lapangan, dan suaminya menjadi wali kami dalam melalui proses RCIA. Sungguh luar biasa bersatu dalam iman bersama dengan ayah saya di Gereja Katolik. Sulit diungkapkan dengan kata-kata, kisah petualangan dalam perubahan keyakinan saya yang mendebarkan dan menakutkan. Chesterton menggambarkannya sebagai berikut: “Sungguh tidak mungkin untuk berlaku adil terhadap Gereja Katolik. Saat orang banyak berhenti menariknya, mereka merasakan tarikan ke arahnya. Saat mereka berhenti meneriakinya, mereka mulai mendengarkannya dengan senang hati. Ada saatnya mereka berusaha bersikap adil terhadapnya, mereka mulai menyukainya. Tapi ketika kasih sayang sudah melewati titik tertentu, maka dia mulai mengambil keagungan yang tragis dan berbahaya dari suatu hubungan cinta yang hebat.” Keluarga kami bersama-sama masuk ke dalam Gereja Katolik pada Misa Vigili Paskah pada bulan April 2011. Kedua putri kami menerima Sakramen Baptis, dan seluruh keluarga kami menerima pengukuhan dan menerima Komuni pertama pada malam itu.

Suka dan Duka

Pada tahun-tahun berikutnya, kami mengalami hubungan kasih yang besar dan bertumbuh dengan Kristus dan Gereja-Nya. Semuanya itu dimasukkan dalam peristiwa yang paling menghancurkan dan membahagiakan hati dalam hidup saya. Hanya delapan bulan setelah kami diterima dalam Gereja, ayah saya sakit keras dan perlu transplantasi untuk bertahan hidup. Sepuluh hari sesudah itu, ketika ibu saya sedang mengemudi tangannya terjatuh dari kemudi. Beberapa pekan kemudian, dia menjalani operasi untuk tumor otak terminal. Kedua orang tua saya pindah ke rumah kami sehingga kami bisa merawat mereka. Tuhan menyediakan waktu yang kuat untuk penyembuhan dan rekonsiliasi dengan ibu saya selama berbulan-bulan. Suatu kali, setelah suatu pembicaraan panjang, ibu berkata, “Saya tahu kamu mengalami Kristus dalam Gereja Katolik … Saya tidak tahu mengapa Tuhan melakukan itu!”Itulah perjalanan panjang bagi ibu saya untuk mendekat, dan kami berdua tertawa hangat dalam ucapan penutupnya. Pada bulan September 2012, saya kehilangan kedua orang tua saya hanya berselang tiga pekan. Ketika saya melihat kedua orang tua saya menerima ritus terakhir (Sakramen Pengurapan Orang Sakit) saat mereka meninggal dunia, saya menyaksikan bahwa sakramen Gereja mencurahkan rahmat Allah kepada mereka. Ibu saya sudah dibaptis dan menerima penguatan secara Katolik, tapi dia sudah ikut gereja Baptis sejak dia berusia 18 tahun. Sebelum dia meninggal, seorang pastor paroki datang dan mengurapinya. Tidak ada kata-kata untuk mengungkapkan beban dalam hati saya sebagaimana Gereja berziarah dan Gereja jaya berdoa bersama kami. Itulah peristiwa ketika selubung antara bumi dan surga menjadi begitu tipis sehingga Anda bisa melihatnya. Pada tahun berikutnya, kakek saya yang berusia 84 tahun, dibaptis dan menjadi anggota Gereja Katolik.

Pada Natal setelah kedua orang tua saya meninggal, kami menghadiri Misa tengah malam, dilanjutkan dengan Pesta St. Stefanus Martir pada tanggal 26 Desember. Lagi-lagi saya disadarkan, bahwa dalam kalender Gereja juga mencakup pengalaman iman manusia. Kita mengalami puncak sukacita dalam kelahiran Kristus tapi tak lama kemudian disambung dengan dukacita mendalam pada kematian sang martir pertama. Hidup kita adalah campuran antara pesta dan puasa, namun tidak ada yang sia-sia. Keduanya terus berjaga-jaga dalam kehidupan kita. Allah bekerja dalam dua peristiwa itu menurut kebaikan bagi mereka yang berada dalam Kristus Yesus. Ia membimbing jalan kita melalui suka dan duka dengan firman-Nya dan diri-Nya sendiri dalam sakramen-sakramen untuk menopang kita. Dalam belas kasih-Nya yang besar, Kristus mengarahkan jalan kita ke Roma.

Untuk merawat iman, ada satu baris dari Chesterton untuk meringkas pengalaman saya sampai saat ini, “Saya tahu kalau Katolikisme itu terlalu besar bagi saya, dan saya belum menjelajahi kebenarannya yang indah dan dahsyat. Tapi saya tahu bahwa [Protestanisme] itu terlalu kecil bagi saya,dan saya tidak bisa menyelinap kembali ke dalam rasa aman yang membosankan yakni yang pernah melihat visi kebebasan yang memusingkan itu.”

 

Noel Culbertson seorang anggota paroki Katolik St. Cecilia, tempat dia berkarya sebagai sukarelawan dalam program RCIA dan berbagai pelayanan paroki. Dia bersama dengan Stan, suaminya, tinggal di Camano Island di negara bagian Washington tempat mereka membesarkan kedua putri remajanya.


Sumber: “Magnet of Truth: From Baptist to Catholic”

Posted on 26 June 2021, in Kisah Iman and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: