Siapa Nabi yang Seperti Musa dalam Kitab Ulangan?

Oleh Dr. Brant Pitre

Musa dan Yesus

Dalam kitab Ulangan ada suatu perikop demikian:

Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan. Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada TUHAN, Allahmu, di gunung Horeb, pada hari perkumpulan, dengan berkata: Tidak mau aku mendengar lagi suara TUHAN, Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya lagi, supaya jangan aku mati. Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban. Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati.

Sedikit sulit melihat hubungan dalam perikop itu dengan Yesus dalam Perjanjian Baru. Ada beberapa hubungan. Yang pertama, ada nubuat yang sangat terkenal yang disebut “Musa yang baru.” Dengan kata lain, dalam tradisi Yahudi kuno ini dianggap sebagai salah satu nubuatan pertama tentang Mesias. Bahwa suatu hari, begitu bangsa Israel berada di tanah Israel, begitu mereka jatuh ke dalam dosa seperti yang dikatakan Musa, Allah akan membangkitkan seorang nabi bagi mereka yang akan menjadi Musa yang baru. Seperti yang Musa katakan dalam Sabda Allah kepada bangsa Israel. Maka Musa yang baru akan mengucapkan Sabda Allah maka artinya ketika dikatakan demikian, “Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.” Dengan kata lain, nabi itu tidak akan menjadi seperti beberapa orang nabi, yang adalah para nabi palsu. Karena akan ada orang-orang dalam sejarah Israel yang akan bangkit dan mereka mengaku berbicara Sabda Allah, tapi kenyataannya mereka itu nabi-nabi palsu atau para penipu yang akan datang di masa mendatang. Tapi apa yang dikatakan Musa di sini adalah suatu hari akan ada seseorang seperti aku [Musa], yang akan berkata kepada kalian tentang Sabda Allah yang sejati, ia yang akan menuntun Anda kembali menuju kebenaran. Jadi dalam konteksnya, tentunya ada hubungan dengan Yesus dalam pelayanan publik yang Ia lakukan di sinagoga? Mengajar dan berkhotbah. Maka, ketika Yesus memulai pelayanan-Nya, Ia mengajarkan Sabda Allah kepada umat Allah, dan untuk menunjukkan bahwa Ia bukan nabi palsu, Ia juga menunjukkan kuasa-Nya terhadap setan. Dengan kata lain, Yesus merangkai ajaran-Nya dengan tanda-tanda adikodrati dan keajaiban seperti yang dilakukan Musa. Andaikan, jika Anda membuka internet dan mencari berbagai macam orang yang sedang mengajarkan Sabda Allah, mereka memiliki pesan dari Allah untuk diberikan kepada Anda sehingga Anda bisa percaya. Tapi ada hal lain sekadar perkataan saja, yaitu ada hal lain untuk menegaskan ajaran Anda dengan tanda-tanda adikodrati, mukjizat, dan kejaiban. Maka mukjizat Yesus akan selalu menjadi motif kredibilitas supaya orang percaya bahwa Ia seorang nabi sejati seperti Musa dan bukan nabi palsu. Musa tidak sekadar berbicara bahwa ia ingin membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, tapi Musa mengadakan 10 tulah untuk menunjukkan kepada Firaun bahwa ia memiliki kekuatan ilahi, dan ia ditugaskan oleh Allah untuk membebaskan bangsa Israel keluar dari Mesir. Dan hal serupa terjadi ketika Musa berada di padang gurun ketika bangsa Israel mulai meragukannya. Apa yang Musa lakukan? Ia melakukan tanda-tanda dan berbagai keajaiban. Musa menurunkan roti dari surga untuk memberi bangsa Israel makan dan memukul batu di Meriba supaya mengeluarkan air bagi bangsa Israel selama di padang gurun. Jadi mukjizat Musa adalah motif kredibilitas supaya percaya kepadanya.

Begitu juga dalam Mazmur Tanggapan yang sering kita dengarkan “Singkirkanlah penghalang Sabda-Mu, cairkanlah hatiku yang beku dan bimbinglah kami di jalan-Mu” (Mazmur Tanggapan Indonesia edisi lama) atau “Pada hari ini kalau kamu mendengar suara Tuhan, janganlah bertegar hati” (Mazmur Tanggapan Indonesia edisi baru). Perhatikan refrein dari Mazmur 95:8-9 yang menjadi kuncinya:

Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun, pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku.

Mazmur ini sering digunakan dalam Misa, ketika dikatakan “jangan keraskan hatimu seperti di Meriba dan Masa,” itulah dua nama tempat di mana bangsa Israel bersungut-sungut melawan Allah dan Musa, sehingga Allah berfirman kepada Musa untuk memukul batu dan memberi mereka air. Nama Masa dalam bahasa Ibrani berarti “mencobai” karena dalam kitab Keluaran 17 bangsa Israel mencobai Allah. Musa baru saja selesai membebaskan mereka dari cengkraman Firaun, memimpin mereka melewati air Laut Merah dalam Keluaran 15. Tak lama dalam Keluaran 17, mereka kehausan dan sampai membuat mereka berkata “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” Dengan kata lain, ada di mana yang disebut Allah bagi mereka, apa yang baru saja Ia perbuat? Maka bangsa Israel menguji Allah dengan meragukan Musa dan meragukan Allah yang bersama-sama dengan Musa. Dengan memukul batu dan melakukan mukjizat mengeluarkan air dari batu untuk menunjukkan bahwa Allah beserta mereka. Meriba dalam bahasa Ibrani adalah “bertengkar atau perbantahan” karena memang ada pertengkaran. Ada pertengkatan lain yang akan terjadi berikutnya dalam perjalanan di padang gurun dalam Bilangan 20 ketika mereka melakukan hal yang sama. Mereka berseru menentang Allah dan Musa, maka Musa tanda ini dengan mengeluarkan air dari batu untuk kedua kalinya supaya menuntun mereka kembali pada iman. Jadi itulah kaitan antara mukjizat Musa dan mukjizat Yesus. Mukjizat dari Musa pertama dan kemudian pengusiran setan dari nabi seperti Musa. Maka Yesus akan melakukan suatu tanda dan keajaiban untuk menunjukkan kepada mereka  karena Yesus bukan hanya sekadar seorang guru tapi seorang pengajar yang punya kuasa.

 

Sumber: “Miracles and Wonders: Motives of Credibility”

Posted on 23 July 2021, in Apologetika and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: