Dipanggil untuk Bermisi – Kisah Lani Bogart

Pada bulan Juni 1990, saya diterima oleh lembaga misi independen, dengan izin dari pendeta dan anggota gereja Karismatik Independen kami, kami menjual semua furnitur yang kami punya, memberikan hewan-hewan peliharaan kami, mengemasi beberapa barang kami yang tersisa, dan kami pindah ke Antigua, Guatemala untuk belajar bahasa Spanyol.

Kami merasa kalau Tuhan memanggil kami untuk melakukan pelayanan dengan cara yang lebih radikal, dan melayani sebagai misionaris tampaknya menjadi cara terbaik bagi keempat anak kami yang berusia 7 sampai 12 tahun, untuk melihat karya-karya Kekristenan.

Di sekolah bahasa, kami bertemu dengan Dick dan Mo Herman, mereka adalah para pendiri kerasulan Katolik yang bernama Seguidores de la Cruz (Servants of the Cross/ Hamba-hamba Salib). Keluarga Herman punya sembilan anak, empat di antaranya adalah dewasa muda dengan banyak berdoa melalukan pemilahan apakah Tuhan memanggil mereka untuk perkawinan atau menjadi imam tertahbis atau kaum religius. Mereka mengundang keluarga kami untuk perayaan Hari Tuhan, yaitu ritual makan bersama keluarga, dalam ritual itu kami yang bukan Katolik bisa mengikutinya dengan utuh. Saya sangat tersentuh dengan cara mereka yang saling menghormati, memuji kebajikan-kebajikan yang sudah mereka lihat dalam diri seorang anak mereka atau juga anggota komunitasnya.

Keluarga Herman menyambut kami sebagai rekan. Mereka hidup sederhana, mengikuti Misa harian, dan anak-anak mereka kelihatan bertumbuh dengan baik. Kami mengagumi mereka, merasa kalau mereka punya sesuatu yang kurang dalam diri kami. Kami mengakui hal ini satu sama lain dengan mengatakan, “mereka adalah misionaris sejati.”

Menjelang akhir dari tiga bulan kami megikuti sekolah bahasa, berbagai sekolah dan jalanan di Antigua, kami menutup masa belajar kami dengan prosesi yang khusyuk. Keluarga diarak dengan sangat serius, membawa tulang Beato Peter Betancourt, seorang saudara Fransiskan lokal yang dikenal dengan nama Hermano Pedro. Tulangnya disemayamkan di bantal beludru warna merah dalam kotak kaca yang dipikul oleh dua belas orang pria. Dupa yang tebal melayang di udara, dan para wanita menyanyikan lagu pujian sementara itu para pria menabuh gendering atau meniup terompet.

Pemandangan ratusan umat Katolik menghormati tulang belulang orang mati itu mengganggu saya. Tampaknya kerendahan hati dan rasa hormat seperti anak kecil dalam diri orang Guatemala sedang dieksploitasi oleh Gereja Katolik. Bukankah penghormatan terhadap orang-orang kudus itu mengurangi penghormatan terhadap Yesus? Pada saat itu, saya belum tahu kalau Hermano Pedro sudah menjalani hidupnya dalam persatuan yang begitu erat dengan Kristus sehingga ia dihormati sebagai orang kudus. Saya tidak tahu apa-apa dalam proses mengumpulkan data yang melelahkan dan bukti mukjizat yang bisa diverifikasi sebelum Gereja melakukan kanonisasi terhadap seseorang.

Ketika saya melihat kegembiraan yang nyata dalam wajah teman-teman baru kami ini, yaitu keluarga Herman, saya tidak bisa memahami, mereka ini mempunyai kasih yang tidak bisa disangkal kepada Yesus, tapi mereka bisa berdoa kepada orang-orang kudus. Saya bertanya kepada Dick Herman mengenai hal itu, “Saya tahu Anda itu seorang Kristen sejati, yang mengasihi Yesus dan dipenuhi Roh Kudus. Mengapa Yesus saja tidak cukup? Bagaimana kamu bisa membenarkan berdoa kepada Maria dan orang-orang kudus?”

Dick menjawab, “Saya sudah mempelajari ajaran Gereja saya, dan saya merasa damai dengan apa yang saya imani. Saya yakin kalau menghormati Maria dan orang kudus itu benar dan baik. Saya bisa mencoba menjelaskan semua alasannya, tapi saya tidak yakin kalau kamu siap mendengarkannya. Saya dan Mo menghargai persahabatan kita denganmu dan Doug. Saya tidak mau perbedaan ini menjadi penghalang dalam hubungan kami denganmu. Kita punya lebih banyak persamaan daripada hal-hal yang memisahkan kita, jadi tidak apa-apa kan jika kita berfokus pada bagian-bagian yang punya persamaan?” Jawabannya itu menunjukkan kasih dan hormatnya kepada kami. Saya mengesampingkan pertanyaan saya karena saya menghargai persahabatan dengan mereka juga. Setelah sekolah bahasa, kami berpisah, tetapi kami masih berkomunikasi melalui bulletin misi kami dan berjanji untuk saling mendoakan.

Karunia Kehidupan yang Tidak Terduga

Di masa-masa awal relasi kami, saya dan Doug membahas berapa banyak anak yang kami inginkan. Saya ingin enam anak, sedangkan Doug menginginkan dua. Kami melakukan kompromi dengan memutuskan empat anak.  Empat setengah tahun setelah perkawinan kami, dan dua pekan sebelum kelahiran anak keempat kami, kami mengikuti saran teman dan keluarga kami dan kami memilih sterilisasi untuk membatasi jumlah anggota keluarga kami. Doug berusia 29 tahun, sedangkan saya berusia 26 tahun. Kurang dari dua tahun kemudian, saya menyesali keputusan kami itu. Saya mengubur rasa penyesalan saya itu selama bertahun-tahun, bersama dengan keinginan memiliki bayi lagi, tetapi rasa sakit itu timbul kembali setiap siklus bulanan, dan diam-diam saya menangis karena sudah kehilangan kesuburan kami. Saya kenal dengan pasangan-pasangan yang tidak subur, sementara itu kami punya empat anak yang sehat. Hal itu bukan menjadi kesedihan yang bisa saya ceritakan.

Pada bulan November 1991, lembaga misi kami bergabung dengan organisasi kecil lainnya yang berasal dari Florida untuk menjadi tuan rumah bagi tim dokter dan perawat untuk menyediakan klinik-klinik medis jangka pendek di Nebaj dan di dekat kota itu. Cana, putri kami akan melayani sebagai penerjemah bahsa Inggris ke bahasa Spanyol untuk tim itu. Kami bekerja dengan sukarelawan Guatemala yang dapat menerjemahkan bahasa Maya Ixil ke bahasa Spanyol.

Pada waktu makan malam pertama, ada seorang yang bertanya apakah saya dan Cana sudah melihat bayi-bayi di pusat malnutrisi. Kami sudah melihat anak-anak balita bermain di halaman, tetapi tidak ada bayi. Cana yang berusia 12 tahun, sangat tertarik melihat mereka. Kami meninggalkan meja makan dan bergegas ke ruangan gelapn dan dingin itu di mana ada boks kayu besar berisikan dua bayi perempuan yang terbaring dalam selimut kasar. Satu bayu kurus kering dan pasif, dan yang lainnya gemuk, mereka sangat responsif terhadap suara kami. Ketika seorang pengasuh bayu mampir, kami memborbardirnya dengan banyak pertanyaan.

“Siapa nama mereka? Berapa usia mereka? Berapa lama mereka sudah di sini? Bayi yang ini terlihat kurang gizi, mengapa dia di sini?”

Nama bayi perempuan yang sehat itu namanya Juanita. Dia berusia sekitar tiga minggu, dan ibunya meninggal empat hari sebelum kedatangan kami. Ayahnya membawanya ke panti asuhan kerena ia tidak punya apa-apa untuk memberinya makanan. Ayahnya seharusnya kembali sekitar dua pekan.

“Oh, Mama, ayo bawa dia pulang … saya mohon!”

Permohonan Cana digaungkan oleh kerinduan batin yang saya rasakan. Namun saya berusaha menjadi teladan yang baik bagi putri saya dengan cara berdoa, memohon kepada Tuhan untuk merawat Juanita, menyadari bahwa Tuhan tahu akan masa depannya bahkan sebelum dia dilahirkan, dan saya menambahkan, “Jika Engkau menginginkan kami menjadi bagian dalam masa depannya, kami berkata ‘ya.’”

Keesokan paginya, tim kami berusaha memasukan terlalu banyak sukarelawan ke dalam jip yang ada untuk melakukan perjalanan ke desa tetangga, Chajul. Tidak cukup untuk masuk jip, saya ditugaskan oleh ketua tim untuk berdoa syafaat. Dengan rasa enggan, saya pergi ke ruangan yang sudah ditentukan dan mulai berdoa.

Setelah makan siang, saya menerima pesan dari salah seorang pengasuh bayi.

“Ayah bayi itu menanyakanmu. Ia mendengar bahwa kamu menanyakan bayinya, dan ia ingin bicara denganmu.”

Dia membawa saya ke sebuah ruangan dengan meja kecil dan ada beberapa kursi. Yang sedang menunggu kami adalah Tomás Guzaro, seorang pendeta lokal, pemimpin komunitas, dan penghubung utama di tim kami di desa itu. Ayah bayi itu, Juan Brito Velasco sedang bersamanya. Tomás menjelaskan bahwa Juan Brito sedang mencari anggota keluarga yang mau merawat putrinya, seseorang yang mampu memberinya makan. Ia sudah bertanya kepada beberapa orang kerabatnya, berpikir kalau mungkin ada keponakan atau sepupu yang sedang menyusui mau membantunya, tetapi setiap orang hampir tidak punya cukup susu untuk anaknya sendiri. Beberapa dari mereka memberi nutrisi dengan campuran bubuk oat dan air matang. Tidak ada yang mampu membeli susu formula yang mahal.

Karena saya sudah menunjukkan minat akan bayinya, Juan Brito bertanya-tanya apakah saya akan membawanya untuk tinggal bersama keluarga kami selama setahun. Bisakah kami merawatnya untuk sementara waktu? Jika dia sudah lebih besar, nenek atau kerabat lainnya bisa merawatnya.

Saya bertanya kepada Tomás apakah ia berpikir Juan Brito mengizinkan saya mengadopsi putrinya secara permanen. Tomás menegur saya karena pertanyaan itu, karena pertanyaan seperti itu tidak pantas ketika ayah si bayi masih berduka atas kematian istrinya. Maka, Tomás tidak menerjemahkan pertanyaan saya itu.

Saya berdoa, dan pilihan yang ada di hadapan saya menjadi jelas. Dalam 2 tahun terakhir, saya pernah mendengar bahwa 50% anak yang lahir di daerah itu tidak mampu bertahan hidup. Tanpa seorang ibu, peluang Juanita semakin memburuk. Akankah saya bisa memilih melindungi hati saya sendiri atau hidupnya?

Beberapa malam kemudian, saya tidak bisa tidur sambil bertanya-tanya bagaimana tanggapan Doug tentang hal ini. Saya berharap saya bisa berbicara dengannya, tapi ini belum zaman ponsel seperti sekarang, saya hanya bisa berdoa.

Segera setelah saya bertemu kembali dengan Doug, saya menempatkan bayi itu di pangkuan seorang teman dan memberitahu apa yang sudah saya lakukan. Kemudian ia memberi tahu saya segera antara bicara “Saya punya sesuatu untuk diberitahukan kepadamu” dan “Saya membawa pulang seorang bayi,” namun yang terlintas di benaknya adalah “apa, kamu hamil?”

Ia tidak menunggu saya menyelesaikan pembicaraan yang sudah saya persiapkan sebelumnya.

“Nah, dimana dia? Saya ingin melihatnya!”

Ketika ia memeluknya dan memandang matanya, saya mengenali ekspresi takjub yang sama di wajahnya ketika pertama kali ia melakukan gendongan pertama pada anak-anak kami sebagai bayi yang baru lahir. Dan itu meneguhkan.

Delapan bulan kemudian, seorang teman misionaris menelepon untuk memberitahu bahwa Juan Brito sedang dalam perjalanan menuju rumah kami “untuk membawa bayinya kembali ke pegunungan.”

Kami diberitahu, Juan Brito dan Tomás yang datang sebagai penerjemah, dalam perjalanan sekitar 10 menit lagi jaraknya. Kami mengumpulkan anak-anak untuk berdoa. Doa dan nyanyian memberikan saya rasa damai. Namun kemudian, pikiran saya berpacu dengan pikiran apa yang saya harus bawakan ke dalam bus bersama Juan Brito? Apakah dot bisa membuatnya nyaman atau membahayakan kesehatannya? Berapa banyak barang yang bisa dibawakan? Siapa yang akan memeluknya dan menyanyikan lagu pengantar tidurnya?

Untuk menenangkan kepanikan saya yang semakin besar, saya ingat satu ayat Alkitab yang saya hafal: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:6-7).

Saat ia masih berada di depan pintu rumah kami, saya menempatkan Juanita ke dalam pangkuan ayahnya. Segera, kedamaian adikodrati melingkupi saya. Ketika ia memeluknya, saya melihat kasih di matanya, air matanya berlinang, tapi tidak mengalir. Apakah itu suatu perasaan lega dan rasa bangga bahwa bayi itu tangkas dan sehat? Juanita mengamati wajah ayahnya, penasaran, tapi tidak takut. Setelah beberapa saat, dia minta gendongan saya. Sambil tersenyum, ia membiarkannya kembali ke pelukan saya.

Setelah makan dengan tenang, Doug meminta Tomás untuk menerjemahkan Juan Brito, untuk meminta izin supaya kami bisa mengadopsi putrinya secara permanen.

Kebiasaan Juan Brito yang suka merenung dalam keheningan sebelum berbicara membuat jeda yang lama setelah setiap pertanyaan dan jawaban.

“Maukah kamu membelikan makanan untuknya?”

“Maukah kamu membelikan pakaian dan sepatu untuknya?”

“Maukah kamu menyekolahkannya?”

“Sekolah yang sama tempat anak-anakmu bersekolah?”

“Maukah kamu mengajarkannya tentang Yesus?”

Tomás menerjemahkan bahasa Ixil Juan Brito dan bahasa Spanyol kami yang terbatas. Ia menoleh kepada saya dan memberikan kabar, “Juan Brito menginginkan saya untuk memberitahumu, ‘Saya datang untuk membawa putri saya pulang ke pegunungan untuk tinggal bersama neneknya, tapi saya tidak dapat mengambilnya dari pelukan ibunya.’”

Kami menjadi tahu bahwa nana Juana dalam bahasa Ixil adalah Xhiv, maka kami memutuskan untuk memanggilnya Xhiv Catarina.

Merawat bayi yang baru lahir, memusatkan kembali diri saya akan kebutuhan semua anak-anak saya. Jika dipikir-pikir, terlihat jelas bahwa keterbukaan akan kehidupan baru dalam keluarga kami membuka pintu kehidupan baru dalam alam rohani.

Rahmat untuk Dipertanyakan

Keputusan saya untuk mencurahkan lebih banyak waktu untuk keluarga, menjauhkan saya dengan orang-orang di lembaga misi kami, tapi tetangga baru kami yang bernama Kris Franklin seorang yang suportif, persahabatan kami dengan cepat bertumbuh. Kami membicarakan tentang segala sesuatu, termasuk tentang keraguan kami mengenai subkultur misionaris di Guatemala. Suaminya yaitu Marty, mengajar di sekolah misionaris anak-anak tempat anak-anak kami bersekolah.

Dia menceritakan tentang buku karangan Tom Howard yang berjudul Evangelical is not Enough, yang membuka pikiran saya tentang liturgi dan ritual memenuhi kebutuhan universal manusia.

Beberapa tahun kemudian, seorang teman misionaris melakukan perjalanan pulang ke Amerika Serikat dan meminta kami untuk menitipkan perpustakaan teologi kecilnya. Doug tertarik pada bagaimana “gereja melakukannya” di masa-masa awalnya. Ia sangat tertarik dengan sebuah jilid buku karya J. B. Lightfoot yang berjudul The Apostolic Fathers.

Sekitar masa ini, saya bermimpi bahwa saya pindah ke sebuah rumah di dekat padang gunung. Dalam mimpi saya itu, saya yakin bahwa jika saya menata ulang furnitur rumah supaya bisa melihat pemandangan gunung yang bagus itu, maka akan membawa saya lebih dekat dengan Tuhan. Keesokan paginya, saya menceritakan mimpi saya itu dalam sebuah surat kepada Kris Franklin yang sudah pulang ke Minnesota. Saya yakin kalau mimpi itu erat kaitannya dengan kerinduan saya akan kampung halaman. Saya mengaku pada Kris, “Bahkan saya tidak tahu makna ‘rumah’ itu lagi.”

Surat saya berpapasan dengan surat yang dikirim olehnya kepada saya. Marty dan Kris, bersama dengan kedua anak mereka sudah menjadi Katolik. Lebih dari sekali, dia menyebut pengalaman mereka sebagai “pulang ke rumah.” Dia juga mengirim buku yang berjudul Surprised by Truth: Eleven Converts Give the Biblical and Historical Reasons for Becoming Catholic.

Saya dan Doug bersama-sama membaca buku itu sampai tuntas. Berikut ini ranggapan saya sebagaimana dituliskan dalam isi catatan harian tanggal 10 September 1995:

Tiba-tiba pikiranku terbuka, penasaran, dan menjadi hidup … Saya merasa kalau saya tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya … Saya tidak tahu apa yang terjadi. Seolah-olah pikiran saya sudah dikeluarkan dari sangkar. Dan saya tidak pernah ingin kembali masuk ke sangkar itu! Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu (Mazmur 86:11).

Keesokan harinya, tetangga kami yang seorang Katolik namanya Rosa Maria. Dia mendengar kalau saya sakit, dia membawa sebuah vas dengan yang berisikan tiga rangkai mawar merah.

Keharuman dan keindahan bunga mawar itu mengilhami saya untuk merenungkannya sebagai bentuk doa, yang merupakan sebuah konsep baru bagi saya. Saya bertanya-tanya, apa itu doa yang Maria doakan ketika dia mengunjungi Elisabet saudarinya? Saya menemukannya dalam Alkitab dan menbisikkan kata-kata Magnificat dari Injil Lukas.

Ketika saya menyelesaikan doa, saya menambahkan kata-kata, “Terima kasih Maria karena sudah memberikan doa yang indah.”

Kepanikan muncul setelah itu. Apakah saya sudah membuat Tuhan tersinggung? Tetapi kedamaian menang, dan keyakinan bahwa saya sudah melewati batas yang tidak kelihatan dan tidak akan kembali.

Rasa lapar akan Kitab Suci tumbuh. Saya membaca nasihat Paulus untuk orang-orang di Filipi supaya mereka berpikir mengenai apa yang baik, indah, dan murni:

Kita harus memikirkan Yesus dan Gereja-Nya dan para kudus dan pengharapan yang kita sudah dipanggil di dalamnya. Paulus menyiratkan bahwa kita harus memikirkan ajaran para Rasul dan mempraktikkannya. Apakah itu adalah ajaran Gereja? Betapa berbedanya Alkitab itu ketika saya membacanya sekarang! Pikiran saya sedang diubah – diubah tanpa kehendak saya sendiri. Terima kasih Bapa atas pemeliharaan kasih dan tuntunan-Mu. Saya akan mempercayai Engkau. 1 Januari 1996.

Cara berpikir yang baru ini memengaruhi segalanya. Untuk pengajaran Alkitab kaum wanita, saya memimpin kursus yang disebut Experiencing God (Mengalami Tuhan). Prinsip yang mendorong pengajaran ini adalah bahwa orang Kristen harus mencari tahu di mana Tuhan sudah bekerja dan ikut ambil bagian di dalam-Nya. Kita sudah datang ke negara Katolik sebagai misionaris dan tidak pernah bertanya, apa mungkin Tuhan sudah melakukan pekerjaan di dalam dan melalui Gereja Katolik di Guatemala. Apakah Tuhan bekerja dalam paroki-paroki Katolik di Antigua? Berapa banyak kelompok orang muda, komunitas umat beriman, dan ordo religius yang aktif di sana dan sudah kami abaikan selama lima tahun terakhir?

Huruf “C besar” menjadi istilah yang kami gunakan untuk semua hal berbau Katolik, dan “C besar” itu tidak pernah jauh dalam benak saya, seperti yang terlihat dalam entri jurnal saya.

Doug memberi tahu [seorang teman] pagi ini bahwa “mungkin dalam setahun kami akan berada di Gereja Katolik.” Saya tercengang mendengar Doug mengucapkannya. Saya tahu kalau itu benar, dan saya juga merasa takut. Kami sedang ditarik ke dalam Gereja Katolik. Tidak ada yang bisa menyangkalnya. Yang paling menarik perhatian saya adalah Yesus Kristus dan Kehadiran-Nya dalam Ekaristi. Saya rindu akan sakramen ini, menerima Yesus dalam Ekaristi. 19 Maret 1996.

Perjalanan Pulang

Pada akhir April, kami tahu bahwa gereja kami di Arizona tidak bisa lagi membiayai keluarga kami, jadi kami berencana untuk menyelesaikan tahun ajaran di sekolah dan meninggalkan Guatemala pada akhir Mei. Perbaikan kendaraan dan dokumen-dokumen perjalanan yang diperlukan di Guatemala dan Meksiko yang berulang-ulang mengalami penundaan sampai pada tanggal 12 Juni yang bertepatan dengan hari ulang tahun perkawinan kami yang ke-20, pada hari itu kami menerima izin untuk melakukan perjalanan melalui Meksiko. Namun, setelah beberapa jam kami terhenti lagi.

Ada kabar bahwa tentara gerilya sedang memblokir semua lalu lintas beberapa mil di hadapan kami. Kami tidak punya pilihan, selain menunggu. Interior kendaraan itu panas dan lembab. Waktu itu Xhiv berusia 4 tahun, bersama saya naik di atap kendaraan. Tepat setelah matahari terbenam, sekelompok orang mengenakan topeng warna-warni menari dan bernyanyi untuk merayakan festival lokal. Xhiv terlihat takut dengan mencengkran erat dan tidak mau lepas dari jari-jemari saya. Setelah penari bertopeng lewat, dia merasa lega, dan kami menatap bintang. Keindahan langit melegakan saya, melepas kesulitan yang saya alami pada hari itu. Saya tahu kalau Tuhan tidak akan meninggalkan kita apa pun yang akan terjadi di masa depan. Saya melantunkan Mazmur 8.

Ketika saya berhenti bernyanyi, Xhiv meremas tangan saya, katanya, “Lagi, Mami.” Saya bernyanyi sampai dia tertidur, lalu bertukar tempat dengan Doug.

Tidak bisa tidur, saya menulis:

13 Juni, sekitar pukul 1:30 malam. Kami sudah berada di pompa bensin Pemex ini selama kurang lebih 6 jam. “Zapatista” masih memblokir jalanan di hadapan kami. Dan sepertinya tidak ada yang tahu kapan mereka mengizinkan lalu lintas berjalan lagi. Ada ratusan mobil dan truk berhenti di perhentian ini. Kami semua sangat lelah …

Malam itu, kami menginap di sebuah motel. Bagi yang tidak pernah mandi dan tempat tidur yang bersih maka itu melegakan!

Dalam perjalanan kami berikutnya, ada seorang polisi mencoba meyakinkan Doug kalau ada aturan yang mengharuskan lampu berkedip di box belakang kami. Doug menjawab gertaknnya, dan polisi itu membiarkan kami pergi tanpa suap.

Kami mengalami masalah mekanis 100 mil di selatan perbatasan Reynosa. Kemudian kami menghadapi keterlambatan selama dua jam karena ada masalah polisi narkoba dan berbagai macam dokumen pemerintah yang banyak sekali.

Ketika saya melihat lampu-lampu Reynosa yang menjadi tujuan kami pada malam itu, harapan bertumbuh dalam diri saya. Kemudian, Doug mengerang ketika saya mendengar bunyi ban kemps berkali-kali. Kami berhenti di sebuah ranchito (peternakan kecil). Doug melihat apa menyala dan meminta izin untuk memarkirkan kendaraan kami sementara kami mencari bantuan.

Lampu depan kami menerangi mural Bunda Maria dari Guadalupe. Kami sudah melewati berbagai gambar Maria di seluruh Meksiko, tapi yang satu ini menarik perhatian saya. Keluarga Herman, yang merupakan teman Katolik kami dari sekolah bahasa, tinggal di Reynosa dan mengundang kami untuk bermalam bersama mereka. Terlalu lemas dan lelah, saya memohon Maria untuk mendoakan kami. Beberapa menit kemudian, Doug kembali dengan kabar baik. Ia sudah membeli ban 15 inci dan kompresor udara.

Pada tengah malam, keluarga Herman menyambut kami, menyediakan kami tempat untuk mandi, mendengarkan keluh kesah hati kami, dan sebotol anggur merah. Kami tidur nyenyak, dan sebelum kami pergi, sahabat-sahabat kami ini memberikan saran untuk melintasi perbatasan. Dan perbatasan negara bagian yang terakhir, kami melakukan perjalanan menuju Arizona.

Meskipun kami sudah berjanji untuk tidak tergesa-gesa dalam melakukan apa pun, kami tidak bisa menetap di sebuah komunitas gereja yang membiarkan pertanyaan kami yang tidak terjawab mengenai Katolikisme.

Kris Franklin sudah punya relasi dengan Coming Home Netwok dan seorang yang pindah keyakinan terkenal yang bernama Tom Howard, Kris kenal dengan sebuah keluarga yang sudah menjadi Katolik sekitar setahun terakhir. Gary dan Gayle Somers baru saja pindah ke Arizona dari Massachusetts. Mereka menyarankan agar kami bertemu dengan presbiter mereka. Presbiter itu menyambut kami, dan menanyakan apakah kami punya pertanyaan tentang ajaran Gereja.

Saya mengakui bahwa saya sudah bergumul dengan beberapa doktrin tentang Maria, dan ia berkata, “Saya bisa melihat bahwa kalian mengasihi Yesus, Tuhan kita. Mengapa kalian tidak memohon kepada Yesus supaya memperkenalkan Bunda-Nya kepada kalian?”

Jawaban yang tidak terduga itu mengarahkan saya untuk kembali kepada Yesus dan membantu saya bahwa Yesus tidak bersaing dengan Bunda-Nya.

Saya dan Doug sangat suka dengan Misa, tapi kehidupan di paroki masih menjadi gegar budaya.

Tidak ada penyambut tamu dan tidak ada selebaran bagi pengunjung yang disimpan di bangku. Bagaimana kami bisa mengenal orang-orang di sana? Umat paroki datang ikut Misa dan segera pergi, seolah-olah mereka punya berbagai hal penting yang perlu dilakukan.

Malam pertama kami di RCIA Keluarga (‘Rite of Christian Initiation of Adults’ atau kita mengenalnya sebagai Katekumen Dewasa –red.), kami berkeliling kampus mencari Pusat Kegiatan dalam bulletin paroki. Tidak ada tanda atau peta yang bisa memandu kami. Akhirnya kami menemukan kelas yang sudah dimulai, anak-anak kami yang masih remaja mengeluh, dan kami berjanji membawa keberatan yang mereka alami kepada presbiter. Kami melakukannya, dan presbiter kami itu sepakat untuk menerima setiap anggota kami dalam Gereja pada hari Minggu Gaudete (Minggu Adven III) pada bulan Desember 1996.

Saya mengharapkan bahwa peristiwa yang paling menggugah adalah menerima Yesus dalam rupa roti dan anggur sewaktu Komuni, sebaliknya saya sangat tergugah oleh doa dalam Ritus Penguatan:

Utuslah Roh Kudus-Mu atas dirinya supaya menjadi penolong dan pembimbingnya. Berikan kepadanya roh kebijaksanaan dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengetahuan dan kesalehan. Penuhilah dirinya dengan roh takut akan Tuhan di hadirat-Mu.

Sepertinya saya sudah menantikan untuk mendengar perkataan ini sejak hari pembaptisan saya yang sudah 30 tahun lalu. Sekarang mereka membasuh diri saya seperti balsam penyembuh yang menguatkan.

Hidup Seutuhnya

Pada malam pertama di RCIA, pasangan yang belum pernah kami temui mengundang kami dan enam pasangan lainnya ke rumahnya untuk merayakan dengan makanan yang enak dan anggur yang baik.

Rasa haus kami untuk belajar iman Katolik dan melakukan ajaran itu terus menerus bertumbuh. Dalam waktu empat tahun, Doug masuk masa formasi diakonat dan ditahbiskan pada tahun 2004. Doug meraih gelar master dalam bidang teologi, sekarang saya melayani sebagai Direktur Pendidikan Agama di sebuah paroki di perkotaan yang sebagian besar adalah paroki orang Hispanik. Pada akhir pekan, saya menemani suami saya ketika masa pembentukan diakon di Keuskupan Phoenix.

Ajaran Katolik tentang perkawinan dan kehidupan keluarga membawa penyembuhan yang sangat kami perlukan untuk perkawinan kami. Dalam retrospeksi, kami melihat bahwa keputusan kami untuk mengakhiri kesuburan kami berdampak negatif pada hubungan kami. Kami menerima keadaan di antara kami, tapi kami memahami adanya daya tarik yang sudah kami lakukan dan bagaimana kami sudah merampoki satu sama lain. Memang keputusan itu tidak bisa dibalikkan lagi, namun atas nasihat seorang presbiter yang bijak, kami mulai melakukan pantangan dalam hubungan suami istri selama tujuh hari dalam setiap bulan, baik sebagai bentuk silih maupun solidaritas dengan pasangan lain yang melakukan KB alamiah. Pantangan dalam hidup perkawinan sudah menyembuhkan kami, membuka jalur komunikasi yang baru dan membuat jalan bagi cinta untuk berkembang.

Saya tidak pernah membayangkan kalau saya bisa menikmati Bacaan Ofisi, Doa Pagi, Doa Sore, Doa Malam dari Brevir bersama dengan suami saya, saya tidak bisa menjelaskan bagaimana cara yang misterius itu menyatukan kami di dalam Kristus. Doa-doa devosional seperti Rosario dan Kaplet Kerahiman Ilahi sudah memperkuat hidup doa kami juga.

Semua cara kehidupan Katolik itu menerangi dan saling mendukung dengan sangat memuaskan. Isi doktrinal memberikan informasi kehidupan nyata orang-orang. Liturgi mengambil semua permasalahan dunia dan menguduskannya. Karya sosial Gereja menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih baik bagi semua ciptaan. Sejarah intelektual Gereja yang kaya, menghormati pribadi manusia, kekayaan doa dan music menarik saya semakin dalam. Dan Yesus Kristus sendiri adalah pusat di setiap bagiannya dan menjadi pusat segala sesuatu yang menjadikan saya hidup seutuhnya.

 

Lani Bogart, setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang Kristen, termasuk enam tahun sebagai misionaris penuh waktu di Guatemala, ia diterima dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik pada Minggu Gaudete, 15 Desember 1996. Setelah meraih gelar Master of Arts dalam bidang Teologi dan Pelayanan Kristen, sekarang dia bekerja sebagai Direktur Pendidikan Agama di Gereja Katolik Our Lady of Perpetual Help di Glandale, Arizona. Suaminya, Diakon Doug Bogart, Direktur Madya Formasi untuk Tugas Diakonat di Keuskupan Pheonix. Mereka punya lima anak yang sudah dewasa dan delapan orang cucu.

 

Sumber: “Called to Mission”

Posted on 5 August 2021, in Kisah Iman and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: