Yang Hilang, Yang Ditemukan – Kisah Tony Barrett, Ph.D.

Tony Barrett, Ph.D. (Sumber: chnetwork.org)

Masa Kecil

Saya dibesarkan di beberapa gereja Baptis di sebuah kota kecil di wilayah utara Georgia, sekitar sejam di luar kota Atlanta. Pada hari Minggu pagi biasanya kami mengisi waktu dengan  pergi ke gereja atau menonton khotbah seorang pendeta Injili terkenal di TV. Saya masih ingat dengan lagu pujiannya, karena Sekolah Minggu dilakukan di basement gereja, saya juga memakai gelang WWJD, ikut kelompok remaja setiap Rabu malam, dan khotbah yang berapi-api. Mereka suka dengan lagu-lagu gospel, terutama lagu-lagu bergaya Appalachian selatan. Kadang-kadang mereka membawa saya ke konser kuartet Injili di gereja-gereja kecil di pedesaan. Biasanya, lagunya diiringi dengan piano dan kadang-kadang dengan gitar, orang-orang akan membagikan kesaksian pribadi mereka tentang bagaimana mereka mengenal Tuhan dan kadang-kadang kami melakukan persekutuan dan sekali-kali melakukan pembaptisan sekali atau dua kali setahun.

Selama musim panas, saya suka ikut sekolah Alkitab masa liburan. Bus gereja akan datang untuk menjemput saya dan saudari saya dari kompleks apartemen kami. Mereka akan memberi kami makan, kami akan bermain di gym, dan kemudian kami punya waktu untuk ikut kebaktian gereja untuk remaja. Mereka akan berbicara kepada kami tentang Tuhan melalui serangkaian pengajaran. Kami akan mendapatkan sesuatu seperti permen, yang bagi saya menjadi perhatian utama saya. Saya dibaptis tidak lama setelah saya genap berusia 14 tahun dan mendapatkan Alkitab pertama saya sebagai hadiah dari kakek saya. Hati ini Alkitab itu menjadi kenang-kenangan yang berharga di rak buku saya.

Bagi umat Baptis, Anda dibaptis kalau sudah cukup umur untuk bisa mengakui iman kepada Kristus, yaitu sudah melewati “usia pertanggungjawaban.” Hal ini dipandang sebagai suatu pengakuan lahiriah dan secara publik dari iman batiniah yang sudah terjadi dalam diri seseorang. Dalam teologi Baptis, air tidak menyelamatkan Anda, baptisan dengan air hanyalah tindakan simbolis. Iman Anda kepada Kristus dan penerimaan akan Kristuslah yang menyelamatkan.

Masuk ke dalam Kitab Suci

Sebagai seorang Kristen yang masih baru, saya sangat bersemangat untuk belajar Alkitab. Namun kemudian, saya mulai bertanya kepada kakek saya mengenai apa yang saya baca, dan saya merasa ada sedikit ketidaksesuaian ketika saya membandingkan dengan kebaktian Baptis kami. Salah satu kenangan dari pelajaran Alkitab yang paling saya sukai adalah duduk bersama kakek saya sampai larut malam sambil bertanya tentang iman dan apa yang saya baca. Sebagai orang Kristen, saya tahu kalau kami tidak mengikuti semua tradisi dan persyaratan Perjanjian Lama untuk mematuhi hukum kosher. Tapi, saya mengerti mengapa gereja kami tidak punya tabernakel, mengapa kami tidak punya Anak Domba Paskah, dan tidak ada minyak, tidak ada rempah-rempah, tidak ada dekorasi di gereja kami. Gambaran mengenai Tabernakel, Tabut Perjanjian, dan Meja Roti Sajian sangat spesifik dalam Keluaran 25: “Dan haruslah kaubuat dua kerub dari emas, kaubuatlah itu dari emas tempaan, pada kedua ujung tutup pendamaian itu” (Keluaran 25:18).

Sementara itu saya tidak ingat semua tentang rincian percakapan dengan kakek saya (semoga kekallah kenangannya), saya masih ingat ketika membahas ketidaksesuaian yang saya alami ketika membaca Alkitab mengenai bagaimana bangsa Israel menyembah Tuhan dengan apa yang kami lakukan di gereja. Kami punya empat tembok putih polos di gereja kami. Saya tahu bahwa Tuhan tidak mungkin tidak konsisten dengan apa yang Ia kehendaki. Kakek saya sepakat, dan ia juga tidak yakin mengapa demikian selain pada waktu dulu dan juga pada saat ini. Tampaknya di gereja kami ada gagasan bahwa segala sesuatu yang rohani itu baik, dan segala sesuatu yang bersifat materi atau jasmani itu buruk. Tapi pada Kejadian 1:31, Firman Allah mengaakan demikian: “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik” (penekanan tambahan). Kita tidak bisa meremehkan elemen fisik atau material dari penyembahan jika Allah menyebut segala sesuatu yang Ia ciptakan itu “sangat baik.” Tentu saja Allah tidak berubah pikiran. Saya ingin setia dengan bagaimana cara penyembahan yang dikehendaki Allah, dan saya merasa ada sesuatu yang kurang. Hal inilah yang membuat saya merasa lapar untuk tahu lebih banyak. Saat ini menjadi waktu yang sangat membingungkan ketika memikirkan tentang seperti apa ibadah itu. Maka, saya merenungkan semua hal itu.

Panggilan Altar, Diselamatkan, dan Permainan Pikiran “Hanya Iman”

Yang ditekankan di gereja kami adalah mengundang Yesus ke dalam hati Anda untuk menjadi Tuhan dan Juruselamat pribadi Anda. Akan ada undangan untuk ke “panggilan altar,” di mana akan ada seseorang naik ke depan gereja. Dan yang menarik bahwa di gereja itu sebenarnya tidak ada altar, melainkan sebuah podium. Panggilan altar adalah pengkhotbah yang membuat semua orang tergugah secara rohani. Acara itu mencapai puncaknya pada orang yang membaktikan dirinya kepada Tuhan. Beberapa orang akan melakukan hal ini berulang kali, membaktikan kembali hidup mereka kepada Tuhan sesering yang mereka perlukan. Orang-orang akan menjawab panggilan altar, kemudian pengkhotbah akan mulai berdoa supaya Yesus datang ke dalam hidup mereka sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi mereka. Seperti yang saya pahami, seharusnya peristiwa ini menjadi saat transformasi bagi umat beriman Kristen. Para pengkhotbah akan sangat terhanyut dalam pesan ini, sehingga mereka akan mulai berkeringat, wajah mulai memerah, mulai sesak napas, dan perlu sapu tangan untuk menyeka keringat di wajah mereka. Ayat yang selalu dikotbahkan dalam mimbar adalah Roma 10:9: “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.”

Pemahaman “akan diselamatkan”  dalam bentuk lampau, bagi kami menjadi semacam peristiwa “disambar petir.” Jika Anda mulai ragu kalau Anda benar-benar diselamatkan atau tidak, maka Anda tidak diselamatkan. Saya banyan mempertanyakan keselamatan saya sendiri karena penekanan akan satu kali diselamatkan. Saya merasa tidak yakin bahwa saya sudah “diselamatkan,” dan ketika saya mempertanyakannya, saya akan punya iman dan pengetahuan kalau saya sudah diselamatkan.

Hal ini menimbulkan lebih banyak keraguan lagi, karena kemudian saya tidak punya keyakinan untuk punya iman bahwa saya sudah diselamatkan. Saya pikit, mungkin saya tidak mendoakan Doa Orang Berdosa dengan benar, dan saya perlu melakukannya lagi dengan sungguh-sungguh dari lubuk hati yang terdalam. Pastinya saya tidak mau masuk neraka. Setiap umat di sana percaya bahwa “sekali diselamatkan, tetap diselamatkan” yang artinya setelah Anda diselamatkan, Anda layak masuk surga. Saya bertanya-tanya, apa arti semua itu, saya bingung tentang apa itu arti “diselamatkan.” Saya punya masalah serius dengan sekadar mendoakan Doa Orang Berdosa.

Sekali lagi, meskipun kita diajarkan tentang keselamatan dengan iman saja, setiap khotbah isinya tentang menghindari dosa dan melakukan perbuatan baik. Jika tiket saya sudah divalidasi, maka pemikiran dilematis saya adalah jika seseorang sudah akan masuk surga, tidak peduli apa yang saya perbuat dan bagaimana menjalani hidup saya. Jika semua yang harus saya lakukan itu adalah mengakui Kristus dan mendoakan Doa Orang Berdosa dengan hati yang bertobat, maka saya benar-benar layak masuk surga. Maka hal itu lebih bersifat transaksional bukan transformasi, itulah yang membuat saya sangat khawatir.

Karena tidak sesuai dengan Kristus yang bersabda: “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: ‘Tuhan, Tuhan!’ akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga” (Matius 7:21). Pengalaman saya dengan doktrin “hanya iman” dan mengucapkan Doa Orang Berdosa menyebabkan pertanyaan besar. Saya berjuang untuk menyelaraskannya dengan Kitab Suci itu sendiri, dalam terang surat Yakobus: “Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman” (Yakobus 2:24).

Minuman Jus Anggur dan Biskuit

Mengingat Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama dengan jelas menyebutkan tentang anggur, ada satu keraguan yang paling mengganggu saya karena kami menggunakan jus anggur dan biskuit. Dalam Alkitab, anggur disebutkan 240 kali. Gereja kami berusaha keras menyampaikan bahwa persekutuan (komuni) “hanyalah sebuah simbol” tidak lebih dari itu. Tapi Paulus menulis kepada jemaat di Korintus: “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan” (1 Korintus 11:27). Jika itu simbol belaka dan tidak nyata dan juga tidak lebih daripada itu, maka saya tidak yakin bagaimana semua itu sesuai dengan isi Kitab Suci. Anda tidak bersalah dengan melecehkannya sebagai “simbol belaka” atau menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak nyata. Ambil bagian dari simbol dengan tidak layak atau tindakan simbolis belaka lainnya yang tidak benar-benar nyata itu akan menjadi hal yang paling buruk. Belum lagi bahwa Kristus menjawab perselisihan para murid-Nya tentang “makan daging-Nya” demikian: “Maka kata Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman’” (Yohanes 6:53-55). Jika semua itu hanyalah simbol, maka itu bukan masalah besar.

Pada masa inilah saya mulai mempertanyakan lebih dalam lagi tentang komuni – lupakan saja gagasan aneh tentang “simbolis belaka” yang tidak nyata. Setidaknya banyak upaya yang perlu dilakukan untuk memastikan bahwa kami tahu bahwa itu hanyalah simbol dan tidak lebih dari itu, tapi hal itu tidak menjelaskan mengapa Kristus meninggalkan kami dengan sekadar simbol yang tidak nyata. Sebaliknya, mukjizat ada di seluruh bagian Kitab Suci, di sepanjang Perjanjian Lama dan Baru, dan apapun yang dikatakan Yesus itu menjadi nyata. Pertanyaan seperti ini dan pertanyaan lainnya membuat saya gundah sampai suatu masa keputusasaan. Semuanya pasti masuk akal, tapi semuanya tidak cocok dengan saya.

Dalam nada yang sama, jika baptisan itu hanya simbolis dan tidak nyata, mengapa kita melakukan hal besar dan gembar-gembor untuk melakukan pembaptisan? Kitab Suci berkata, “baptisan–maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah–oleh kebangkitan Yesus Kristus” (1 Petrus 3:21). Jika baptisan hanyalah pengakuan iman secara simbolis dan tidak benar-benar menyelamatkan Anda, maka ayat ini sangat bertentangan.

Pertanyaan yang Tak Terjawab dan Anti-Intelektualisme

Pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu saya dipenuhi oleh orang-orang yang mengatakan kepada saya bahwa saya hanya “perlu punya iman,” dan iman bukanlah perasaan, bukan di kepada Anda melainkan di dalam hati. Hal itu disampaikan kepada saya bahwa iman adalah pengetahuan yang ditemukan di dalam hati. Saya tidak menyangkal bahwa sebagian hal itu benar, karena seorang filsuf dan matematikawan Prancis yang terkanal yaitu Blaise Pascal mengatakan bahwa “hati punya alasan yang tidak diketahui dengan akal budi.” Namun, saya punya pertanyaan yang jujur, sepenuh hati, dan tulus, dan tidak ada seorang pun yang punya jawaban yang memuaskan. Saya merasa sendirian, karena pertanyaan saya yang jelas sekali mengganggu umat beriman lainnya. Saya pikir kalau saya harus berhenti bertanya. Saya berpikir bahwa, jika Tuhan menciptakan kita dengan jiwa dan akal, maka iman sebagai tanggapan manusia kepada Tuhan harus masuk akal baik di kepala maupun hati. Saya dengan segenap hati mengidentifikasikan diri dengan sang ayah dalam Markus 9:24: “Segera ayah anak itu berteriak: ‘Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!’” (dengan penekanan tambahan).

Ateisme dan Agnostisisme

Ketika saya lulus SMA dan melanjutkan perguruan tinggi di Georgia Utara, yang jaraknya sekitar sejam di luar Atlanta, saya mulai menumbuhkan perasaan untuk sama sekali tidak percaya kepada Tuhan, karena gagasan keselamatan dengan “hanya iman” tidak masuk akal bagi saya, dengan membandingkan dengan Kitab Suci, begitu juga dengan baptisan dan komuni secara simbolis dan juga pemahaman rohani itu “baik” dan materi itu “buruk.” Waktu itu, saya tidak tahu kalau ada Kekristenan versi lain dan tidak melihat gereja-gereja lainnya. Sewaktu saya bekerja di Home Depot pada musim panas, saya bertemu dengan seorang pendeta dari New York bagian utara. Saya mengobrol berkali-kali dengannya dengan iman dan akal budi, dan ia menantang saya. Akhirnya saya membaca buku berjudul Evidence That Demands a Verdict karya Josh McDowell dan buku Mere Christianity (Kekristenan Asali) karya C. S. Lewis, seorang ateis yang menjadi seorang Anglikan . Kedua buku inilah yang menjadi titik balik perkembangan iman saya, karena buku itu berbicara dari sudut pandang pemikiran orang skeptis. Saya melihat sifat ateisme yang tidak koheren. Anda tidak bisa mempertahankan sisi “positif-negatif” ateisme secara logis. Ateisme menjadi jalan buntu, dan agnostisisme adalah satu-satunya bentuk yang jujur dari sikap tidak percaya kepada Tuhan secara intelektual.

Benih-benih Katolik

Pada tahun 2004, saya punya kesempatan untuk melihat beberapa gereja Katolik abad ke-15 dan ke-16 yang bergaya kolonial Spanyol, dan gereja Katolik pertama yang pernah saya injak adalah Basilika Bunda Maria dari Guadalupe di Mexico City tempat penampakan Santa Perawan Maria. Itulah pengalaman menarik, tapi saya tidak terus mengejarnya. Pertama kali saya ikut Misa Katolik adalah sewaktu belajar di luar negeri yaitu di Meksiko dan itulah yang menjadi sedikit benih yang tertanam di benak saya. Saya cukup tertarik untuk ikut beberapa kelas RCIA (‘Rite of Christian Initiation of Adults’ atau kita mengenalnya sebagai Katekumen Dewasa –red.) ketika saya kembali ke Amerika Serikat untuk mencari tahu apa yang sebenarnya diimani umat Katolik pada waktu dua tahun belajar di Meksiko.

Tuhan itu Ada! Bagaimana dengan Agama Lain?

Sekarang saya sudah sangat yakin bahwa Tuhan itu ada. Saya mulai memeriksa apa yang ditawarkan iman agama lain jika saya bisa jujur secara intelektual dan mengikuti kebenaran dengan segala cara. Dalam hal ini, saya tidak bisa menerima “tradisi” Kekristenan begitu saja yang sudah diwarisakan kepada saya dan saya memutuskan untuk melakukan penelitian bagi diri saya. Saya mulai belajar Buddhisme dan Islam. Dalam Buddhisme, saya belajar tentang Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Utama Berunsur Delapan. Tapi saya tidak merasa yakin bahwa mencapai Nirwana dengan memutus siklus keinginan (karena keinginan yang menyebabkan penderitaan) yang pada akhirnya menjawab pertanyaan yang saya miliki. Penciptaan itu ada maka harus ada Sang Pencipta utama, dan Buddhisme tidak punya itu.

Islam punya jawaban atas beberapa keraguan yang saya miliki sebagai seorang Kristen aliran Baptis, seperti Tritunggal. Agama ini punya konsep yang menarik, karena tampaknya sejalan dengan iman Abraham dan Musa, seperti yang dikatakan dalam Ulangan 6:4: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” Umat Kristen dan Muslim bersama-sama meliputi setengah populasi dunia. Jadi, pasti ada sesuatu yang istimewa mengenai Kristus, jika umat Kristen dan Muslim percaya bahwa Yesus akan datang kembali. Muslim menjunjung tinggi Maria karena ada satu bab dalam Al-Qur’an yang didedikasikan baginya. Saya tertarik dengan komponen ragawi dalam ibadah Islam, di mana umatnya berdoa sambil bersujud, meletakkan kepala sampai ke tanah untuk tunduk kepada Tuhan. Tapi, saya tidak punya jawaban mengapa ibadah Kristen tidak melibatkan rubuh, karena kita akan dibangkitkan dalam tubuh kita. Komponen fisik dalam doa dan pola ibadah harian dalam Islam menjadi masuk akal bagi saya. Keesaan absolut Tuhan juga masuk akal bagi saya dan suara azan itu indah. Tampaknya Islam menjadi iman kuno dan sangat sederhana karena memiliki 5 rukun: syahadat, puasa, shalat, sedekah, dan haji ke Mekah. Maka, saya menyatakan syahadat dan menjadi seorang Muslim. Waktu ini, saya lulus dari perguruan tinggi dan sudah saatnya melanjutkan hidup.

Berdoa untuk Kebenaran … Peristiwa “Ini dia!”

Setelah beberapa tahun meneliti agama-agama lain dan setelah satu tahun setengah menjadi Muslim, saya berada dalam keputusasaan rohani dan mental yang begitu dalam untuk menemukan kebenaran. Saya mulai bertanya-tanya mengapa dalam Islam, Kristus akan datang kembali di akhir zaman jika Ia hanyalah seorang nabi. Mengapa Kristus? Mengapa Ia disebut “roh Allah” dan “firman Allah” dalam Al Qur’an (tentu saja ini menjadi paralel dengan Yohanes 1:1). Pada masa ini, secara rohani saya terbagi dua antara Islam dan Kekristenan. Kekristenan punya Yesus yang lebih dari sekadar nabi dan Islam punya doa-doa ragawi. Ingat, bahwa satu-satunya Kekristenan yang saya ketahui secara pribadi adalah “sekali selamat, tetap selamat” dan bukan yang lain. Selama bertahun-tahun, saya sudah mencari iman yang masuk akal baik di kepala dan di hati. Apakah ada iman yang tidak masuk akal? Dalam satu upaya terakhir, saya berdoa kepada Tuhan supaya Ia menunjukkan kebenaran kepada saya. Keesokan paginya, saya bangun, dan ketika saya sedang minum kopi, saya melihat satu video di YouTube. Video itu adalah bagian dari film documenter BBC tentang Kekristenan kuno. Saya menyaksikannya dan melihat pada biarawan di sebuah biara Kristen Ortodoks Koptik di Mesir yang berdoa dengan bersujud sambil meletakkan kepala mereka sampai ke tanah. Suatu cara berdoa yang sama yang saya lihat dilakukan oleh umat Islam dan Buudha. Jadi, orang Kristen memang berdoa dengan cara demikian! Ini menjadi persitiwa “ini dia!” yang besar bagi saya. Saya memutuskan untuk mengunjungi Gereja Ortodoks Koptik setempat, di mana saya tahu bahwa St. Markus Penginjil sudah mendirikan Gereja di Aleksandria, Mesir.

Di suatu hari Minggu pagi, saya berhenti di tempat parkir di sebuah gereja Koptik dan memasukinya. Tak lama segera saya tiba di sana, saya mendengarkan nyanyian dalam campuran bahasa Arab, Koptik, dan Inggris. Ada banyak ikon, lilin, dan dupa. Orang-orang bersujud dan membuat tanda salib. Kelihatannya menjadi gambaran surga di atas bumi. Saya tahu kalau saya berada di rumah! Saya berharap yang saya tahu itu ada, dan akan menyelamatkan saya dari banyak kepusingan.

Ada seorang wanita Mesir datang dan membantu saya untuk memahami apa yang sedang terjadi dalam liturgi, dan ada seorang wanita lainnya yang bertugas sebagai penyambut tamu di gereja, dan dia bertanya apakah saya pernah ke Gereja Katolik, karena kedua Gereja ini mengajarkan doktrin yang serupa. Obrolan itu menanamkan benih dalam pikiran saya – waktu itu saya belum pernah menggoncangkan kepercayaan Gereja Katolik. Saya pernah mendengar bahwa beberapa umat Katolik itu “diselamatkan,” bukan karena Gereja Katolik, tetapi meskipun memang demikian. Yang saya tahu bahwa Gereja Katolik punya beberapa doktrin yang “tidak Alkitabiah,” sehingga di benak saya digambarkan sebagai tempat yang buruk, jahat, dan gelap. Namun, bagaimanapun juga, menurut Ortodoks, Roma adalah salah satu dari lima takhta kuno Kekristenan. Tapi, saya terpikat dengan liturgi Ortodoks Timur. Setelah semua pencarian yang sudah saya lakukan, dan doa saya sudah dijawab, tidak ada alasan untuk kembali.

Diterima di Gereja Ortodoks

Imam yang merekomendasikan saya untuk membaca buku Becoming Orthodox karya Romo Peter Gillquist. Ia ikut ambil bagian dalam Campus Crusade for Christ pada tahun 1970-an. Tak lama setelah itu, saya menerima penguatan (dikukuhkan) ke dalam Gereja Ortodoks di Amerika dan menerima Ekaristi untuk pertama kalinya pada tahun 2009.

Tapi saya tidak bisa sepenuhnya mengabaikan Katolikisme, karena Ortodoksi memang memandang Uskup Roma sebagai yang utama dari yang sederajat. Tak lama setelah saya menjadi Ortodoks, saya ikut ke Gereja Ortodoks Rumania. Di sana juga ada seorang wanita yang bertanya mengapa saya tidak mencoba Gereja Katolik. Hal seperti ini terus bermunculan dalam interaksi saya dengan orang-orang Kristen Ortodoks. Mereka terus merekomendasikan supaya saya ke sebuah gereja Katolik, untuk menunjukkan bahwa mereka punya semua sakramen.

Pada musim panas 2009, saya berkemas dan pindah ke Houston, Texas untuk meraih gelar Master. Saya mulai ikut di gereja Ortodoks di sana, meskipun saya sangat menyukainya, saya sulit menyesuaikan diri dengan secara budaya. Saya mulai bertanya-tanya, apakah saya harus memeriksa Gereja Katolik, karena kata katolik adalah “universal.” Kata itu ada dalam Pengakuan Iman Nikea dan disebutkan oleh Ignatius dari Antiokhia pada tahun 107 M dalam Surat kepada Orang di Smirna. Saya menjadwalan janji temu dengan seorang imam Katolik di universitas. Ia menyarankan agar saya membaca buku Rome Sweet Home karya Scott Hahn, kemudian saya membacanya. Dr. Scott Hahn membahas banyak masalah yang sudah lama saya pertanyakan. Misalnya, hal paling mendalam yang mengejutkan saya dalam buku itu adalah fakta bahwa Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa Kitab Suci sebagai “tiang penopang dan dasar kebenaran.” Sebaliknya, dalam 1 Timotius 3:15, kita melihat bahwa Gereja adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran.” Scott mampu menjelaskan bahwa sola fide tidak sejalan dan sebenarnya tidak ada dalam Alkitab. Hal ini sungguh melegakan saya, karena sola fide tidak pernah masuk akal bagi saya. Saya selalu tahu bahwa iman harus lebih dari sekadar transaksi mental. Tapi saya sanggat enggan untuk pindah ke Gereja Katolik, karena saya anggap sebagai tempat abad pertengahan, gelap, dan jahat. Tapi, Gereja Katolik punya tujuh sakramen, sama seperti Ortodoks. Saya menemukan ada 23 Gereja sui iuris dalam Gereja Katolik, dan banyak dari mereka berada di Eropa Timur dan Timur Tengah yang punya liturgi yang sama dengan Ortodoks!

Jadi, saya memutuskan untuk menjadi Katolik. Saya diterima langsung ke dalam Gereja melalui pengakuan iman di dalam Misa. Akhirnya, saya bisa merangkul kelima takhta kuno Kekristenan dengan masuk ke dalam persekutuan penuh dengan Roma.

Pada usia 26 tahun, tak lama setelah saya menjadi Ortodoks dan menjadi Katolik, saya mulai menjauh karena tidak ikut di paroki mana pun. Saya mengalami kesulitan, mempertanyakan diri kenapa saya menjadi Katolik, karena rasanya aneh. Mengapa Katolik? Saya mulai menyingkirkan Katolikisme, terlepas dari jawaban yang sudah saya temukan. Di sinilah benar-benar menjadi tempat terakhir saya mencari jawaban. Saya juga mulai berpikir mengenai apa ada sesuatu yang salah dengan diri saya, sehingga saya tidak bisa seperti semua keluarga saya dan “rutin ke gereja.” Saya berpikir, mengapa membuat hidup menjadi sulit? Dan saya melewati masa sekitar tiga atau empat tahun di mana saya terhanyut dalam kehidupan, tidak menganggap serius iman saya kerena saya tidak yakin bagaimana menjalaninya. Saya menikah dan bercerai dua tahun kemudian dan saya pindah ke tempat yang dekat kampung halaman dan keluarga saya yaitu di Georgia utara. Tak lama kemudian, saya bertemu dengan seorang wanita luar biasa yang sekarang menjadi istri saya, dia bernama Jessalyn.

Sebuah Permata Ditemukan Kembali

Beberapa bulan setelah perkawinan saya dengan Jessalyn, saya mulai serius memikirkan apa yang sudah saya buang. Setelah pemeriksaan dan didoakan, saya baru saja memeluk Katolikisme dengan cara yang kaku, sehingga saya bisa “normal” seperi orang lain dalam keluarga saya. Tapi dengan banyaknya pertanyaan dan kebetulan yang aneh untuk sampai ke saat ini, saya tidak bisa membuangnya begitu saja. Saya harus mendapatkannya kembali. Saya menceritakan situasi yang saya alami ini kepada istri saya, dan dia setuju untuk ikut ke gereja saya. Saya merasa nyaman dengan Ortodoksi dan Katolikisme, dan kami ke Gereja Ortodoks Yunani selama setahun setengah. Istri saya hampir menjadi Ortodoks. Tapi dia mengemukakan satu hal yang sudah saya pertimbangkan beberapa tahun sebelumnya, adapun hal itu adalah yang sudah saya singkirkan. Secara budaya, kami sulit menyesuaikan diri sepenuhnya. Saya tidak dapat memecahkan apa yang tidak bisa didamaikan oleh Ortodoks dan Katolik setelah Skisma tahun 1054.

Saya memutuskan untuk mencoba lagi Katolikisme dan kembali ke Gereja. Di sanalah tempat terakhir yang saya pikirkan sebagai tempat saya akan mengakhiri perjalanan. Pada akhirnya, saya membaca buku Russia and the Universal Church karya Vladimir Soloviev, buku itu cukup menarik karena memilih untuk bersekutu dengan Roma. Apa yang akhirnya memaksa saya untuk kembali adalah dorongan persatuan dan rekonsiliasi dengan Roma, karena Soloviev berpendapat bahwa tidak mungkin Gereja menjadi benar-benar universal tanpa adanya jabatan kepausan. Timur membutuhkan Barat seperti Barat membutuhkan Timur.

Jessalyn ikut RCIA dan memutuskan untuk bergabung dengan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik pada Malam Paskah 2018. Sejak saat itu kami berdua menjadi Katolik. Perkawinan kami disahkan setelah saya menerima anulasi perkawinan saya sebelumnya di luar Gereja Katolik karena cacat kanonik. Kami melakukan perjalanan ke Roma, mengunjungi empat basilika di Kota Abadi dan melihat beberapa situs bersejarah lainnya yang unik di gereja-gereja di Roma. Begitu nyata sewaktu berdiri di Lapangan Santo Petrus sambil melihat basilika yang dibangun di atas makam Santo Petrus, sesuai dengan janji Sang Kristus: “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Matius 16:18). Gereja itu mungkin sudah melalui berbagai macam lautan yang berbadai, tetapi tetap bertahan hingga hari ini, Gereja yang sanggup menyatukan orang-orang Kristen di seluruh dunia dan berbicara dengan satu suara. Universalitas Gereja ini yang membuat saya terkesan.

Kisah saya ini berliku-liku, tapi saya bersyukur kepada Tuhan karena saya berhasil sampai di sini. Saya bersyukur atas karunia iman yang saya peroleh dari gereja Baptis dan karunia kesadaran akan iman Kristen mula-mula dalam Ortodoksi Timur dengan berbagai jawaban intelektual yang begitu kuat atas pertanyaan saya di Gereja Katolik. Saya juga berterima kasih atas keramahan umat Muslim yang pola doanya memberi saya kesadaran akan kesatuan jasmani dan rohani. Saya bersyukur kepada Tuhan atas semua pengalaman ini, yang baik maupun yang buruk, yang pada akhirnya membawa ke tempat saya berada sekarang, di dalam persekutuan dengan Roma dan dalam Gereja universal orang-orang kudus yang pernah ada sebelum  kita.

Tony Barrett, Ph.D. seorang penulis pemula, blogger, dan pengajar. Ia suka membaca, main golf, dan berada di luar ruangan pada masa senggangnya. Anda bisa membaca artikelnya di cloudsofincense.blogspot.com.

Sumber: “Something Missing, Something Found”

Posted on 11 December 2021, in Kisah Iman and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: