Pembicaraan Yesus dan Musa ketika Transfigurasi

Oleh Rod Bennett

Para rasul punya gagasan tentang percakapan apa yang mereka dengan dalam peristiwa Transfigurasi, tapi Musa tahu lebih jelas lagi

Setelah kita mendengar tentang bagaimana “Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa” – yang dengan sengaja mengecualikan sembilan murid lainnya untuk menyaksikan perubahan rupa yang Yesus tahu akan terjadi di sana.

Yohanes dibawa ke puncak gunung, ia seorang mistikus sejati dan menurut tradisi adalah penulis Injil yang paling mendalam maknanya, kemudian ada Yakobus tua juga dibawa, yang kemungkinan adalah sepupu dan teman Tuhan Yesus dari sejak kecil, dan juga ada Petrus, sang pemegang kunci. “Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan” – seputih cahaya, yang menurut St. Matius dikatakan wajah-Nya bercahaya seperti matahari.

Perubahan yang kemudian akan disadari oleh para rasul, bukanlah Yesus yang berubah menuju tingkat kesempurnaan yang baru atau Yesus mengenakan pakaian baru … tetapi Ia sedang menanggalkan yang lama: “Sebaliknya” seperti yang sudah kita baca, “[yang sebelumya] telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia … dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya.” Inilah pandangan yang akan dikenali Yohanes ketika ia melihat-Nya untuk kedua kalinya beberapa tahun kemudian yang dicatat dalam kitab Wahyu: “Di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang … dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik” (Wahyu 1:16).

“Dan tampaklah dua orang berbicara dengan Dia [Yesus], yaitu Musa dan Elia. Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem” (Lukas 9:30-31). Kedua orang yang pernah hidup di bumi ini terpisah rentang waktu 700 tahun, mereka ada di sini secara simbolis sebagai Hukum Taurat dan Para Nabi: Perjanjian Lama mengesahkan persetujuannya akan Perjanjian Baru. Jika Yohanes merasakan déjà vu ketika ia melihat Sang Kristus yang dimuliakan lagi selama peristiwa Apokalips (akhir zaman), Musa pasti sudah mengalami pengalaman serupa dalam peristiwa Transfigurasi. Perlu diingat, Musa pernah naik ke puncak gunung dengan membawa tiga rekan terpercaya untuk ikut bersamanya – seperti yang akan kita lihat selanjutnya – mendengar suara Allah berfirman melalui suara surgawi (Keluaran 24). “Sementara itu Petrus dan teman-temannya telah tertidur dan ketika mereka terbangun mereka melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya: dan kedua orang yang berdiri di dekat-Nya itu” (Lukas 9:32).

Apa makna dari Musa dan Elia yang berbicara dengan Yesus “tentang tujuan kepergian-Nya”? Dalam bahasa asli yang diterjemahkan sebagai “kepergian” adalah exodos yang merupakan istilah yang sama yang digunakan Septuaginta untuk kepergian orang Ibrani dari Mesir, atau Keluaran/Eksodus. Dengan kata lain, Musa tahu (juga Elia) bahwa Yesus akan segera memimpin eksodus dari perbudakan di Kota Suci, sama seperti Musa sendiri pernah memimpin bangsa Israel dalam eksodus dari perbudakan di Mesir. Tidak wajar kalau para rasul yang menguping kemungkinan menafsirkan berita eksodus ini semata-mata dalam artian pembebasan dari belenggu bangsa Romawi. Namun, Musa tahu (mungkin sangat tahu betul) bahwa masalah Israel sebenarnya dimulai setelah mereka dibebaskan dari tawanan bangsa pagan.

Baik di Mesir atau di Tanah Terjanji, bangsa Israel masih berdosa, dan Musa dengan semua kepemimpinannya yang diilhami itu tidak pernah mampu untuk mematahkan belenggu rohani itu. Pada titik ini, Musa pasti akan sepakat dengan penulis Surat kepada Orang Ibrani bahwa “di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. Karena itu dengan korban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya … Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa” (Ibrani 10:1, 4). Yubileum Agung orang Eseni menjanjikan pembebasan yang lebih baik, yaitu dari utang dosa dan belenggu si jahat .. tapi konsep itu masih dan pada masa ini masih campur aduk semata-mata sebagai kebebasan secara politis yang mungkin dipuaskan oleh sebagian besar orang Israel. Oleh karena itu, Musa lebih tahu.

Ingat, sembilan dari dua belas orang tidak diperkenankan untuk hadir dalam peristiwa Transfigurasi. Dan lebih parah lagi, bahkan Tuhan tidak mengizinkan mereka yang hadir untuk memberi tahu siapa pun tentang hal itu – bahkan tampaknya para rasul lainnya pun tidak! “Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorangpun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan “bangkit dari antara orang mati” (Markus 9:9-10). Dalam Injil Lukas menggandakan keterangan ini, memperjelas bahwa larangan sementara ini benar-benar dipatuhi dengan ketat selama masa yang ditentukan: “Dan murid-murid itu merahasiakannya, dan pada masa itu mereka tidak menceriterakan kepada siapapun apa yang telah mereka lihat itu” (Lukas 9:36). Pemikiran seperti apa yang ada di balik ini?

Beberapa Bapa Gereja mula-mula memberanikan diri untuk menerka bahwa Tuhan khawatir dengan para murid yang masih kurang matang ini mungkin akan menganggap peristiwa Transfigurasi sebagai tanda bahwa kerajaan Allah sudah tiba, atau kemenangan-Nya merupakan kesimpulan akhir yang sudah pasti sehingga di pihak mereka tinggal perlu bekerja dan berdoa. Bagaimanapun, kita tidak pernah secara langsung diberitahu alasannya dalam Kitab Suci. Kita hanya bisa berasumsi bahwa Sang Guru Agung, dalam kebijaksanaan-nya yang tak terselami hanya mengetahui bahwa orang lain ini perlu memahami Misteri Agung ini dengan cara yang lain.

Akan tetapi, sudah dipastikan nada pengajaran Yesus berubah dari sejak peristiwa Transfigurasi ke depan, “kunci kecil” akan menjadi hal yang dominan sampai larangan itu dicabut (sampai Anak Manusia bangkit dari antara orang mati.” Dan Allah memberkati Petrus, Yakobus, dan Yohanes ini dengan lancar dalam melanjutkan tugas perutusan mereka berikutnya: “mempertanyakan makna kebangkitan dari orang mati.”

Artikel ini diadaptasi dari buku karya Rod Bennett yang berjudul “These Twelve” yang bisa diperoleh di toko online Catholic Answers atau OpenTrolley atau Amazon.

Sumber: “What Did Jesus and Moses Talk About at the Transfiguration?”

Posted on 17 March 2022, in Kenali Imanmu, Kitab Suci and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: