Kenapa Petrus Tenggelam? – Kisah Peter Flies

Peter Flies (Sumber: chnetwork.org)

Di tengah perjalanan hidup saya, saya melihat lampu mobil polisi di kaca spion saya. Saya menepi di sisi jalan dan pantas ditangkap. Saya masih ingat waktu itu saya menolak tes ketenangan, bukan karena saya ingin melawan penilaian polisi di pengadilan, namun karena saya hampir tidak bisa berdiri. Saya mengemudi dengan kecepatan 35 mil/jam (±56 km/jam) di jalan raya yang seharusnya dalam kecepatan 65 mil/jam (±104 km/jam) pada jam 4 dini hari, tanpa pakaian dan sepatu. Saya dibawa ke tempat detoksifikasi, kemudian ke penjara. Itulah hari terbaik dalam hidup saya.

Bagaimana saya sampai di sana?

Saya dibesarkan sebagai seorang Katolik, tapi kehilangan iman ketika saya berjumpa dengan minuman keras. Saya suka olahraga dan gereja, tapi minat itu beralih ke minum-minum dan buku.

Ketika saya sering ke gereja, pada saat yang bersamaan saya belajar lebih dalam ilmu pengetahuan dan metematika. Terlebih lagi mengenai gagasan “mempertanyakan segala hal” menjadi poin penting dalam pendidikan. Untuk mencari dan mengeskporasi pertanyaan tentang alam dan kebaikan moral. Namun, ilmu pengetahuan perlahan-lahan meruntuhkan iman saya – bukan karena kesalahannya sendiri, karena ilmu pengetahuan adalah pencarian kebenaran, sama seperti iman, namun dalam tingkat yang berbeda. Saya ingat peristiwa utama “Paskah,” ketika saya bertanya kepada orang dewasa tentang batu yang digulingkan di makam Yesus. Tentu saja, jika ada seseorang yang menggulingkan batu di depan makam untuk menutupnya, maka ada satu atau beberapa orang yang bisa menggulingkan batu itu untuk membukanya. Bahkan jika makam itu disegel, peralatan dari logam bisa membukanya dengan mudah. Orang tua yang dihormati itu menjawab saya: “Jangan bertanya, percaya saja.”

Jawaban itu menggemparkan diri saya. Ilmu pengetahuan seolah-olah mempertanyakan dan mengoreksi dirinya sendiri, tapi orang beriman seolah-olah tidak menghendaki adanya argumen atau keperluan untuk menjelaskan dirinya sendiri. Bahkan di sepanjang sejarah terjadi persinggungan, dengan waktu yang cukup, ilmu pengetahuan seolah-olah benar jika penemuannya berubah. Jawaban “jangan bertanya” itu mengguncang saya, karena sebelumnya saya sudah beriman layaknya anak kecil – karena saya masih kecil. Di sekolah, saya ikut program “anak berbakat” (meskipun saya tidak yakin bagaimana saya dipilih dalam program ini), kami membaca buku-buku secara kritis dan mengajukan pertanyaan. Gagasan membaca yang sama itu tampaknya berlaku untuk bacaan mingguan di Gereja, tapi cara seperti itu ditolak, saya mulai merasa ragu dan bahkan diam-diam menertawakan beberapa kisah. Selain batu di makam, saya memiliki banyak pertanyaan lain, tapi jika hal itu tidak bisa didiskusikan atau perlu waktu lama untuk saya pelajari. Saya adalah generasi yang memperoleh pemahaman iman versi “ringan,” karena arus utamanya adalah orang-orang yang tidak tergabung dalam iman. Dengan kurang pemahaman yang mendalam, olahraga, sekolah, dan pesta yang mengisi kekosongan itu.

Jadi saya pindah ke hal lain. Merokok dan minum-minum di setiap kesempatan seolah-olah menjadi kebebasan. Itulah yang saya pikir dan nikmati, atau setidaknya mencari pelarian. Ada semacam mentalitas “membunuh diri sendiri untuk hidup” pada tahun 1990-an, dan kami sangat tidak suka otoritas, yang tampaknya menjadi sikap umum semua generasi remaja dan usia 20-an.

Ada beberapa hal lain terjadi yang membuat perbedaan besar. Setelah Soviet bubar, ketakutan nasional kami bersama terhadap ateisme Komunis mulai mencari kambing hitam baru, dan orang yang sangat religius yang ada di negara kami ini tiba-tiba kelihatan mencurigakan. Tentu saja dengan serangan 9/11, dan semangat keagamaan disamaratakan. Selain itu, dengan informasi yang tiada habis-habisnya di internet, saya segera beralih ke ateisme, alkohol, dan hampir anti segala hal. Saya pikir kalau ilmu pengetahuan punya semua jawaban, dan agama adalah musuh kemajuan. Politik dan agama menyatu dengan cara yang merendahkan iman, dan saya mulai memusatkan perhatian pada orang-orang Kristen yang berperilaku buruk dan menggabungkan semuanya itu dalam satu kelompok besar orang-orang munafik.

Dalam masa minum-minum yang dilakukan saya selama bertahun-tahun, perasaan saya mengenai benar dan salah menyusut menjadi rasa “kebenaran” yang samar-samar, karena sifat buruk saya memerlukan kelonggaran terhadap kesalahan. Saya bisa memaafkan kesalahan orang lain dengan agak mudah, karena saya perlu membiarkan kesalahan saya sendiri terjadi dan dimaafkan. Siklus logika ini membolehkan apa pun dan merayakan kesalahan saya, maka saya menjadi penentu semua yang baik dan buruk di dunia. Aturan utama yang saya patuhi bisa disimpulkan sebagai “Tinggalkan saya sendiri! Saya punya aturan sendiri.”

Lampu Penerang Jalan Tuhan

Beberapa tahun sebelum saya ditangkap karena mengemudi dalam keadaan mabuk, saya sudah berusaha berhenti minum, melakukan program rawat jalan selama 28 hari, untuk memperbaiki diri dan menjawab pertanyaan, “Ada apa dengan saya?” Kecenderungan minum-minum dan membuat hidup menjadi kacau balau cukup menggerogoti saya sehingga saya memutuskan untuk mencari bantuan. Saya hampir keluar pada hari pertama program itu, ketika membaca 12 langkah di dinding. Langkah pertama membutuhkan penyerahan diri kepada Kuasa yang Lebih Tinggi. Namun demikian, saya tetap tinggal dalam program itu. Saya harus memulai dari hal yang sangat kecil dalam hal iman bahkan untuk memulai prosesnya. Saya ingat bahwa setelah satu pertemuan, ada seorang pria yang menyuruh saya untuk menjadikan lampu penerangan jalan sebagai Kuasa yang Lebih Tinggi  bagi saya.

“Untuk saat ini, syukuri saja Lampu Penerang Jalan itu atas segala yang ada dalam hidupmu.”

Saya tertawa, “Sepertinya agak konyol, bukan?”

“Mohonlah bantuan pada Lampu Penerang Jalan setiap hari ketika kamu berlutut. Lampu Penerang Jalan itu lebih besar dari dirimu.”

“Ya, baiklah.”

Kedengarannya bodoh, tapi beginilah awalnya. Saya cukup yakin tidak ada agama yang terorganisir di dunia menyarankan hal seperti ini, tapi saya tahu dari pengalaman saya sendiri dan beberapa orang yang ragu-ragu kalau memilih sesuatu yang sederhana bisa berhasil – stapler, tanaman, mesin pemotong rumput, … atau lampu penerang jalan. Jika Anda memainkan permainan ini dan membiarkan objek tertentu menjadi Kuasa yang Lebih Besar dari Anda, maka Anda sungguh-sungguh berdoa untuk memohon kekuatan dan arahannya, lampu penerang jalan bisa membuat Anda takjub. Lucu dan konyol? Tentu saja. Tapi begitu juga manusia, dan terkadang menertawakannya membantu memulai ide baru. Saya ingat berdoa: “Lampu Penerang Jalan, bantulah saya hari ini. Bantu saya supaya tidak minum, dan bersikap barik kepada orang lain dan tidak menjadi seorang idiot seperti biasanya. Membantu menjadi ayah dan suami dan anak dan rekan kerja yang lebih baik, daripada saya mejadi orang yang narsis. Dan mungkin saya mencoba untuk mengurangi sumpah serapah. Terima kasih, Lampu Penerang Jalan. Amin.”

Jika kedengaran seperti mengolok-olok dengan membuat Kuasa yang Lebih Tinggi atau menemukan Tuhan, saya tidak begitu. Tidak semua orang bisa dengan mudah kembali kepada Tuhan setelah mereka murtad atau menjadi agnostik atau ateis. Begitu saya kehilangan iman pada akhir masa remaja, saya kehilangan kemampuan untuk percaya bahkan juga kehilangan alasan untuk berdoa. Orang-orang beragama yang taat kelihatannya tidak tergoyahkan dalam imannya, sampai-sampai mereka tidak bisa mengerti bagaimana seseorang bisa ragu.

Inilah awal kepulangan saya, tapi perjalanan saya masih panjang.

Masuk Penjara

Beberapa tahun kemudian, pada tahun 2016, saya kembali berkutat dengan minum-minum yang berlebihan dan bertanya-tanya mengapa saya tidak bisa mengendalikan diri. Ditangkap dan dipenjara membawa kesadaran akan ketidakberdayaan saya, bukan hanya kondisi fisik saya saja melainkan kondisi mental. Ada “Kehampaan Besar” dalam hati saya, hidup tidak punya keyakinan dan merasa tidak bermakna, sudah terbentuk dalam pemeriksaan berjam-jam di fasilitas detoks. Sewaktu berada di mobil polisi, borgol menjadi pengingat fisik dari ketidakberdayaan saya. Saya tidak punya pilihan. Tidak ada media (komunikasi atau hiburan –red.), tidak ada camilan, tidak ada smartphone. Untuk pertama kalinya, mungkin saya tidak mengerti apa arti kebebasan yang sebenarnya, karena dengan kehilangan hal-hal ini, barulah saya menyadari kebebasan tidak terkekang yang ada selama hidup saya. Saya dilahirkan di zaman paling “bebas” di dalam sejarah, dengan perjuangan pribady yang paling sedikit – tidak ada perang, tidak ada wabah, tidak ada kematian – namun saya sudah menemukan perjuangan saya sendiri dan bahkan merasa hampir tertekan hampir sepanjang waktu. Saya sudah minum obat depresi selama bertahun-tahun.

Ketika berbicara dengan para tahanan lainnya, saya bisa melihat kekurangan mereka, dan kekurangan yang ada pada diri saya mencerminkan kekurangan mereka. Namun, saya masih berpikir kalau saya tidak seperti mereka. Tujuan saya melampaui tujuan mereka, pemikiran saya semakin dalam lagi, entah bagaimana kepribadian saya dipenuhi bahwa rasa istimewa. Hidup saya merasa lebih bermakna, dan mereka orang-orang bodoh. Tapi, di sinilah saya berada, di tempat yang sama dengan mereka.

Kekuatan yang Lebih Tinggi, Bagian II

Atas perintah pengadilan dan tekad yang kuat untuk berhenti minum untuk selamanya, saya kembali ikut pertemuan AA dan memohon doa, bukan lagi dari Lampu Penerang Jalan, tapi dari Tuhan yang sebenarnya.

Untuk pertama kalinya, doa membuktikan kuasa yang tiada bandingannya. Ada seorang teman yang memintsaya untuk menonton film Transformers 2, dan karena saya suka mainannya sewaktu kecil, saya menyanggupinya dan berpikir kalau keluar malam akan menyenangkan. Tapi film Transformers terbukti begitu mengerikan, dan sangat panjang, sehingga saya ingin segera pergi. Tidak minum dan stres karena mencoba mengendalikan depresi saya mencapai puncaknya di bioskop itu, dan karena didorong juga oleh kekonyolan film itu. Begitu buruknya keadaan saya sampai-sampai saya mengucapkan doa Bapa Kami sebanyak sepuluh kali untuk bertahan lebih lama dari siksaan sinematik dan menghindari menghina teman saya yang suka dengan film itu. Saya menyadari inilah anekdot konyol tentang kekuatan doa. Menonton film bukanlah suatu kesulitan, tapi ketika saat-saat menemukan diri kita sendiri, tidak selalu puitis.

Untuk sementara waktu, saya mencoba gereja Injili, tapi saya tidak bisa menerima kebaktian dengan bentuk konser. Saya suka dengan umatnya, tapi sejujurnya saya tidak percaya akan kebanngkitan Yesus. Selama masih ada keraguan itu, saya tidak bisa mencari seorang Kristen. St. Paulus sudah mengatakannya: seandainya kebangkitan tidak terjadi, mengapa kita membicarakan Yesus? Semuanya bermuara pada kebangkitan, dan saya tidak percaya akan mukjizat.

Berhala Baru yang Disebut Kebugaran

Setelah kehilangan izin mengemudi, saya mulai mengendarai sepeda saya di sekitar kota, dan saya mulai menyukainya. Kemudian saya mulai berlari, saya menyadari dengan hilangnya minum-minum dari hidup saya, tubuh saya sebenarnya cukup sehat. Saya sudah mengatakan pada diri saya sendiri kebohongan selama 20 tahun kalau lutut saya kondisinya tidak baik, masalah sebenarnya adalah kecanduan dan ketidaktahuan saya. Saya masih menyimpan sedikit ruang untuk Kuasa yang Lebih Besar, dalam benak dan hati saya, tapi tujuannya sudah bergeser ke prestasi kebugaran. Saya sudah bergabung dengan Gereja Besi, di mana beban dan treadmill menjadi perhatian utamanya.

Ketika saya menyadari bahwa saya bisa berlari sejauh 13 mil (±3 km), maka tujuan berikutnya adalah marathon penuh. Setelah itu, saya lebih banyak berlari marathon. Tujuan-tujuan ini menjadi ambisi.

Tapi ada satu masalah. Saya mengembangkan pola antisipasi menjelang acara tersebut, kemudian setelah itu, ada semacam kelelahan yang berat. Persiapan lomba menghadirkan kegembiraan dan perasaan takjub, dan lomba itu sendiri menjadi pelampiasan waktu dan energi. Tapi kemudian, sehari setelah lomba, mungkin karena cedera dan berkurangnya nutrisi, kebosanan hidup mulai terjadi. Kegelisahan setelah euforia balapan, dan akhirnya saya menyadari bahwa perasaan rendah diri inilah yang mendorong saya untuk mencari lagi balapan berikutnya, sehingga saya bisa kembali ke tempat yang saya inginkan. Intinya, balapan itu seperti mabuk. Pasang surut seperti ini masih terjadi dalam hidup saya, tidak peduli saya sedang bugar atau tidak, waktu sadar atau mabuk. Kegelisahan dan kecemasan bisa kembali kapan saja, dan hari-hari terburuk adalah hari yang dipenuhi kegelisahan dan putus asa, bisa datang kapan saya tanpa perlu disalahkan.

Maka saya mendaftar ikut 50K (ultramaraton) dan mulai melakukannya. Saya kita  itu belum cukup jarak tempuhnya, dan itu tidak menyembuhkan apa pun.

Saya mendaftar Ironman selama musim panas yang akan datang. Tentunya kompetisi Ironman akan menyembuhkan saya. Inilah hal yang nyata. Maka, saya berlatih untuk tahun depan, belajar berenang sendiri.

Saat saya mendekati garis akhir perlombaan Ironman, saya mendengar penyiar berkata, “Kamu seorang Ironman.” Misi selesai. Sekarang saya punya menggenggam rasa tenang selama tiga tahun, banyak marathon untuk bukti adanya perubahan, dan gelar Ironman menjadi penyemangat. Saya sudah membuktikan bahwa saya bisa mengubah hidup saya.

Selama beberapa hari, saya menikmati kejayaan karena pencapaian itu. Tapi dalam satu pekan, saya mulai memerikasa sepeda dan belanja sepatu baru. Saya mulai memeriksa jadwal balapan untuk mencari tantangan berikutnya. Setelah satu pekan, ueforia mulai memudar dan menjadi biasa saja. “Kehampaan Besar” datang lagi. Sekali lagi saya depresi dan bertanya-tanya: “Sekarang apa lagi?” Jiwa yang gelisah dan hati yang lapar menggerogoti saya.

Realisasi Hebat

Saya mendari bahwa saya sudah punya segalanya. Semua yang ditawarkan dunia ini, saya sudah merasakan dan mendapatkannya, tapi masih ada kegelisahan dan pikiran yang mengembara mencari sesuatu yang lebih hebar atau lebih baru atau yang berbeda. Secara harfiah tidak ada lagi yang saya inginkan di dunia ini selain yang sudah saya miliki. Saya punya keluarga. Seorang istri yang penuh kasih, dia adalah Denise, yang sudah saya nikahi sejak tahun 2003. Saya punya pekerjaan baik, dua anak yang sehat yang bersekolah di SD, rumah bagus, mobil yang bisa dipakai dengan baik, dihormati rekan-rekan saya, punya kelebihan energi dari olahraga, dan saya punya kesehatan. Namun, saya sering merasa tidak bahagia. Saya tercengang ketika mengetahui tentang kehidupan St. Agustinus sebelum bertobat dalam bukunya berjudul Confessions (Pengakuan-pengakuan), saya seperti menatap cermin.

Saya sudah menuliskan kutipan dari seorang penulis bernama Chris Stefanick yang saya rasa berkaitan dengan diri saya: “Hidup bukan sekadar kenyamanan. Hidup lebih dari sekadar daftar pencapaian dan kegiatan. Meskipun daftar seperti itu mungkin bisa membantu Anda dalam mendaftarkan diri ke perguruan tinggi atau pekerjaan, tapi tidak untuk memenuhi hati Anda.”

Kebenaran yang nyata menjadi jelas: Saya tidak bisa menemukan kepuasan dalam materialisme, perhatian penuh, pengetahuan atau bahkan pekerjaan amal dan sukarelawan. Perjalanan itu membawa saya ke satu tempat, dan itu kembali ke tempat saya mulai dulu – yaitu kepada Tuhan. Kondisi ini sangat sulit diakui bagi orang yang keras kepala. Bagian yang lucu adalah ada ketakutan tersembunyu dalam diri saya. Dengan semua kesombongan dan obrolan anti-Tuhan selama bertahun-tahun, alih-alih melihat semua orang terlihat seperti orang munafik, dan sekarang sayalah yang munafik!

Pada masa ini, saya merasakan dorongan untuk kembali ke gereja, dan saya mulai ikut di paroki Holy Spirit di Rochester, MN, dan saya menyelinap di kursi belakang. Ketika salah satu anak saya hendak dibaptis, kami menjawab ya. Dan baru pada waktu itulah saya mulai menemukan kembali dan sadar betapa sedikitnya yang saya ketahui tentang Gereja, meskipun saya sudah bertahun-tahun tumbuh dalam iman.

Setelah saya mendengarkan nasihat dari seorang teman, saya mulai mendengarkan dan membaca buku dari Word on Fire. Alkitab Word on Fire dan tafsirannya tentang Injil benar-benar mengubah pandangan saya mengenai banyak hal. Ada suara dalam Uskup Robert Barron yang belum pernah saya dengar atau harapkan berasal dari seorang presbiter mana pun, seperti yang sudah saya hapus dari Gereja sejak lama. Tapi ia memotong hiruk pikuk dan sampai masuk ke pesan inti Kristen. Tak lama setelah itu, saya membaca Katekismus Gereja Katolik. Saat itu juga, saya semakin sadar bahwa saya tidak tahu banyak hal tentang Katolik. Jadi saya punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengejar ketidaktahuan.

Saya tidak bisa menjadi orang beriman hanya dalam semalam saja. Tapi saya mulai bertanya, mencari, dan mengetuk pintu. Saya tahu kalau saya melakukan ketiga hal itu, saya bisa mendapatkan pemahaman dalam bidang-bidang yang menjadi perjuangan saya. Segala sesuatu mulai berubah bagi diri saya. Setelah membentengi diri dari Tuhan, ternyata saya yang sudah membentengi diri saya di dalam … keterasingan dan kehilangan semua hal yang menakjubkan.

Saya pernah berkata, “Orang yang suka ke gereja itu hanya menggunakan Tuhan sebagai penopangnya.” Sekarang saya berpikir, “Wow, penopang ini sangat bagus, seharusnya selama ini saya harus menggunakannya, bukan malah menggunakan yang lain!” Mohon pertolongan dan berdoa kepada Tuhan adalah jauh lebih baik daripada penopang dalam bentuk TV, seks, selebriti, dan terus menerus mencari rasa diterima orang lain. Pelarian akan masa lalu saya sungguh menjadi penopang yang utama dan lemah. Sekarang, ketika saya penjelasan tentang “penopang,” saya tidak bisa menahan tawa.

Tapi, Siapa yang Memindahkan Batu itu?

Saya merasakan persis yang dialami St. Agustinus, pada 1.700 tahun lalu mengatakan: “Aku telah dibunuh oleh perikop-perikop Perjanjian Lama ketika aku mengartikannya secara harfiah.” Begitu saya membaca buku Pengakuan-pengakuan (Confessions), segera saya menemukan seseorang yang menjelaskan perbedaan antara “literal (secara harfiah)” dan “literer (secara kesusastraan).” Satu kata, beda huruf. Tapi membuat segalanya berbeda.

Pendekatan Katolik terhadap Kitab Suci berbeda dengan pandangan para Fundementalis, yang membaca dengan cara harfiah. Untuk membedakan kebenaran Allah yang dimasukkan dalam Kitab Suci, kita harus menafsirkan Alkitab secara kesusastraan, mengingatkan bahwa Allah berbicara kepada kita dengan cara manusia. Ini artinya bahwa kita perlu mencari tahu konteks dan maksud penulis untuk setiap perikop yang disajikan (dikutip dari Symbolon, sesi 3).

Kekuatan satu suku kata sangat menakjubkan. Secara harfiah versus secara kesusastraan yang membuat perbedaan besar, dan bagi saya inilah yang menjadi batu loncatan utama menuju iman. Perkataan yang kuat ini melubangi tembok saya untuk memperkenankan lagi saya menuju Alkitab, dan Alkitab versi Word on Fire dengan tafsirannya, menyalakan iman saya ketika saya berusaha mendapatkan wawasan tentang Injil seolah-olah saya belum pernah membacanya.

Baik Tanpa Tuhan?

Ada banyak obrolan dalam beberapa dekade terakhir tentang “baik tanpa Tuhan.” Tentu, Anda bisa menjadi “baik” tanpa Tuhan. Tapi kekosongan dalam keadaan itu runtuh di bawah tekanan. Dan seperti yang sudah ditunjukkan oleh seseorang, ya, orang bisa baik tanpa Tuhan, tapi ada pertanyaan penting: mampukah saya? Dan Ketekismus menjelaskan kebenaran yang saya ketahui dari dalam hati saya: “Apa yang kita ketahui berkat pewahyuan itu memang cocok dengan pengalaman sendiri. Sebab bila memeriksa batinnya sendiri manusia memang menemukan juga, bahwa ia cenderung untuk berbuat jahat, dan tenggelam dalam banyak hal yang buruk, yang tidak mungkin berasal dari Penciptanya yang baik” (Katekismus Gereja Katolik 401).

Saya tahu betul ketika saya mengalihkan perhatian saya dari Tuhan, tak lama kemudian saya mulai cemberut dan marah, tidak percaya kepada orang lain dan membenci mereka karena kelemahan mereka. Ketika saya menjaga diri saya dalam doa dan pengharapan, ketika saya berbalik kepada Tuhan, saya mampu mengasihi sesama dan tidak mengharapkan imbalan. Kisah saya seperti Petrus yang diundang keluar dari perahu untuk berjalan di atas air. Seperti yang dikatakan Fulton Sheen, Petrus “berani di dalam perahu, tapi takut di atas air.” Sekarang saya tahu mengapa Petrus mulai tenggelam. Ia berpaling dari Yesus ketika ia menjadi takut akan bahwaya. Ia memperhatikan dirinya sendiri dan langsung tenggelam dalam ketakutan. Ketika kita berpaling dari Tuhan, maka kita tenggelam.

Sepanjang waktu, saya semakin dekat dengan iman. Tapi seperti yang sudah saya ketahui, iman Kristen segalanya bermuara pada kebangkitan Yesus.

Mempertanyakan, Kali Ini Menemukan Jawaban

Setiap mukjizat dan perumpamaan, setiap jawaban yang cermat dan kisah memberikan pipi bukanlah hal yang paling penting. Jika kebangkitan tidak terjadi, maka seluruh Perjanjian Baru adalah dongeng belaka dan kehilangan kuasanya. Jika tidak ada kebangkitan, maka Yesus hanyalah seorang guru yang gila, meskipun wawasannya luas.

Saya menemukan sebuah buku bekas di toko komunitas sukarelawan Goodwill yang berjudul Who Moved the Stone? yang sudah melanda keraguan saya, satu per satu, dan meruntuhkan tembok terakhir yang menghalangi iman saya.

Saya tidak bisa memahami dorongan dan semangat besar yang dimiliki para rasul, yang dulunya cenderung bertele-tele, berdalih, dan suka berdebat. Kekurangan dan kelemahan orang-orang ini menjelaskan bahwa mereka ini benar-benar manusia, bukan cerita fiksi. Dan mereka berubah bagaikan kertas yang lemah menjadi baja yang kuat dengan memiliki keyakinan dan keberanian. Pesan mereka tidak pernah goyah setelah peristiwa itu. Bagi saya, satu-satunya penjelasannya adalah mereka mengalami dan meneguhkan kebangkitan Yesus. Semua rasul merasa takut dan melarikan diri dan bersembunyi selama dan setelah penyaliban, tapi begitu kebangkitan terjadi, mereka menjadi berani dan tidak takut lagi, mereka bersedia menanggung penderitaan demi memberi tahu dunia mengenai apa yang sudah terjadi.

Orang-orang Kristen perdana ini tidak menyerahkan hidup mereka untuk sistem filosofis … mereka mati untuk memegang erat apa yang mereka ketahui karena mereka sudah melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri. Jika itu adalah dusta, lalu mengapa mereka mau demi dusta? Satu demi satu, para saksi mata ini meyerahkan hidup mereka untuk membela kebenaran yang sudah mereka lihat sendiri: Yesus Kristus disalibkan dan bangkit dari kematian (Stefanick, The Search, hlm. 119).

Ada sesuatu yang terjadi dengan orang-orang ini, ada sesuatu yang mendalam, misterius, mustahil, dan mengubah hidup. Robert Barron mengatakannya dengan sangat baik:

Bahwa sekelompok orang yang berduka ini secara spontan membangkitkan iman yang akan mengirim mereka ke seluruh dunia dengan pesan Kebangkitan yang tidak bisa dipercayai orang banyak. Apa paling tidak bisa disangkal adalah sesuatu telah terjadi pada Yesus – sesuatu yang sangat aneh sehingga mereka yang menyaksikannya tidak mampu menggambarkan jenis apa peristiwa itu. (Word on Fire Bible, hal. 280).

Melalui bacaan harian, saya menjadi percaya. Iman saya sudah tiba dengan usaha dan kebutuhan mendalam akan pertobatan terus menerus supaya tetap kuat. Saya tidak jatuh dari kuda seperti Paulus. Itulah pemahaman yang perlahan-lahan membakar, membaca, mempertanyakan, merenung, berdoa, dan menjatuhkan pilihan pada iman. Secara resmi saya kembali ke Gereja Katolik pada tahun 2019.

Saya tidak bisa menjelaskan bagaimana kebangkitan itu bisa terjadi, tapi sekarang saya percaya bahwa peristiwa-peristiwa itu bisa terjadi di luar pemahaman kita. Ilmu pengetahuan dengan semua kontribusinya yang luar biasa, tidak mampu dan tidak akan bisa menjelaskan semua hal. Bahkan jika kehidupan ditemukan di planet lain, jika fisikawan membawa kita ke kedalaman dunia kuantum, jika biologi menyembuhkan penyakit terakhir yang ada, jika psikolog bisa memberikan solusi resep yang efektif untuk semua penyakit mental, tidak akan ada yang bisa mengganti kebutuhan akan Tuhan dalam hati saya. Saya sudah mengikutinya sampai akhir, dan saya tahu jawaban atas semua pertanyaan yakni melalui iman, dengan menyerahkan kehendak dan akal budi saya dalam percaya akan kebangkitan Yesus.

Kekurangan umat manusia itu nyata, saya tidak menemukan hal lain yang lebih meyakinkan daripada kebangkitan Yesus sebagai penyembuh, untuk pengampunan diri saya dan musuh-musuh saya. Inilah satu-satunya cara untuk hidup di dunia, saling berpegangan tangan untuk janji di hari mendatang. Kerajaan hari ini akan tumbang, seperti kerajaan lain di masa lalu, tapi kebenaran iman Kristen akan bertahan. Apa yang terjadi dengan orang-orang di masa lalu akan terjadi lagi di masa depan, mempergunakan, menyalahgunakan, dan memutarbalikkan iman untuk menjadikannya sebagai alat kekuasaan duniawi, tapi intinya akan bertahan karena kasih dan pengampunan bersinar sampai kesudahannya. Penyimpangan iman tidak berlangsung selamanya, karena ada kebenaran yang tertulis dalam hati kita, dan tidak ada pertolongan lain selain kembali kepada kebenaran. Saya sudah mencari-cari yang lebih baik di mana-mana. Tidak ada yang lebih baik yang bisa ditawarkan semua itu, tidak ada yang seperti kebangkitan dan pengampunan dosa. Tidak ada yang lebih baik daripada itu, tidak ada yang lebih benar daripada itu, tidak ada yang lebih memuaskan hati daripada itu. Sekali Anda percaya, maka Anda akan mulai mengerti.

 

Peter Flies tinggal bersama keluarganya di Rochester, Minnesota. Ia menulis tentang penyimpangan hidupnya, daya tahan dalam olahraga, perubahan keyakinan, dan agama Katolik dalam website-nya “Why Did Peter Sink?” Ia juga penulis buku berjudul “A Town Called Immaculate.”

 

Sumber: “Why Did Peter Sink?”

Posted on 27 March 2022, in Kisah Iman and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: