Kamis Putih dari Perspektif Imam

Oleh Romo Boniface Hicks, OSB

Perjamuan Terakhir (Sumber: stpaulcenter.com)

Salah satu bagian favorit saya dari Kamis Putih adalah masa adorasi yang diperpanjang setelah Misa Perjamuan Tuhan di altar keheningan. Setelah itu adalah peringatan doa Yesus di Taman Getsemani ketika para rasul ikut bersama-Nya, dan ketika Yesus berkata kepada Petrus, Yakobus, dan Yohanes untuk tetap tinggal berjaga-jaga bersama-Nya satu jam saja. Itulah “jam suci” yang asli dan karena menjadi masa yang indah dan berharga untuk kita masuki. Inilah waktu liturgis, karena diatur oleh rubrik liturgy dan merupakan perpanjangan dari akhir Misa Perjamuan Tuhan. Waktu ini pula bersifat renungan, tanpa ada bentuk khusus sehingga masing-masing pribadi bisa memasukinya dengan caranya sendiri.

Setiap tahun, saya mencoba untuk berjaga-jaga sampai tengah malam dan menjadi waktu doa yang saya nantikan dan syukuri atas yang sudah saya tempuh. Sekaligus menjadi waktu yang membuat saya sulit berdoa. Saya tidak berpikir kalau saya pernah mengalami penghiburan rohani selama jam-jam adorasi itu. Biasanya saya melawan rasa ngantuk dan berulang kali saya bangun. Saya sudah mencoba berbagai macam cara untuk memasuki waktu itu. Selama bertahun-tahun saya sudah memilih untuk melakukan lectio divina dengan bagian-bagian dari Amanat Perpisahan Yesus (Yohanes 13-17). Saya memusatkan perhatian pada bagian Kitab Suci itu karena begitu sarat makna dan karena saya membayangkan bahwa kata-kata Yesus itu begitu melekat dalam ingatan para rasul ketika mereka pergi bersama-Nya ke Taman Getsemani.

Sejak saya menjadi Katolik pada tahun 1997, saya sudah menggunakan waktu jam-jam malam itu terutama di Basilika Santo Vincentius. Gereja itu redup dan ada orang-orang yang tersebar di mana-mana. Beberapa rahib tetap berada di bawah bayang-bayang tempat koor. Yang lain duduk di kursi atau berlutut di dekat Sakramen Mahakudus. Beberapa orang tetap berjauhan di bangku dan berdoa. Gemerisik dari orang-orang yang sedang menyesuaikan posisi tubuhnya atau dentingan manik-manik Rosario menjadi satu-satunya suara yang mengiringi waktu doa bersama itu.

Keistimewaan lain dari malam itu adalah kelompok-kelompok yang datang secara berkala. Saat saya berjuang untuk berdoa atau fokus, saya selalu tergerak oleh kelompok-kelompok kecil yang datang, mungkin mereka sedang melakukan ziarah tujuh gereja. Mereka yang tua dan muda, pria dan wanita, mereka semua datang mendekatkan diri kepada Tuhan dan mengunjungi-Nya, dengan mengucapkan doa renungan bersama atau hanya menyembah-Nya dalam keheningan.

Yang paling dekat dengan penghiburan rohani saya selama waktu adorasi adalah adanya sedikit gerakan kelemahlembutan dan rasa syukur atas tanda-tanda devosi yang dilakukan dengan murah hati dari umat beriman. Dengan melihat orang-orang berjaga-jaha bersama Yesus, menyembah-Nya dan bersyukur kepada-Nya, itulah yang menggerakan hati saya. Ternyata masih ada iman di bumi! Dan ini menjadi semacam sentimentalitas yang mengarahkan pikiran dan doa saya selama berjaga-jaga. Saya melihat bahwa Yesus sedang dihibur dalam Penderitaan-Nya. Dan saya bersyukur bisa ambil bagian di dalamnya, meskipun betapa kering dan sulitnya bagi saya.

Bagian akhir dari adorasi itu menjadi yang selalu ingin saya nantikan adalah penangkapan Yesus. Di Saint Vincent, ketika mereka yang melakukan adorasi mendoakan completorium kemudian seorang imam datang dalam jubah dan tudung untuk memindahkan Sakramen Mahakudus dan meninggalkan gereja dengan kehampaan yang pedih. Sejak pertama kali saya berjaga, saya selalu membiarkan amarah muncul di hati saya pada imam itu, sebagai ungkapan kepada para prajurit yang mengambil Yesus dari saya. Saya mencoba merasakan kepedihan pada rasul yang merasakan keretakan dramatis dalam hubungan mereka dengan Yesus dan ketidakadilan yang mengerikan yang sedang berlangsung. Kemudian, saya ditinggalkan dengan tabernakel kosong yang membuat semua perasaan pribadi ketika saya harus meninggalkannya tanpa berlutut.

Ada satu tahap lagi yang tak terlupakan dalam perjalanan saya ketika pertama kali saya menjadi imam yang saya benci. Saya sekarang mewakili para prajurit dan mengambil Yesus dari umat beriman yang sangat mengasihi-Nya yang sedang berjaga-jaga dengan-Nya dalam doa.

Setiap tahun, semua peristiwa ini membuat Kasih Putih menjadi sangat istimewa bagi saya. Semua peristiwa itu menarik saya dalam waktu perpanjangan doa ketika saya berusaha untuk berjaga-jaga dengan Yesus di Taman Getsemani dan ikut merasakan kepedihan dari penangkapan dan pemenjaraan-Nya. Meski dalam segala kekeringan dan kesulitan dalam berdoa, saya cukup mempersembahkan diri dan memasukan berbagai macam intensi yang saya bawa dalam hati saya untuk semua orang yang membutuhkan rahmat dari Sengsara-Nya. Saya memilih untuk tinggal bersama-Nya dan saya tidak pernah menyesalinya.

 

Romo Boniface Hicks, OSB adalah rahib Benediktin di Biara Agung Saint Vincent di Latrobe, Pennsylvania. Ia memberikan pengarahan rohani bagi para pria dan wanita, termasuk pasangan suami istri, seminaris, kaum religius hidup bakti, dan para presbiter, sambil menyelesaikan gelar Ph. D. dalam bidang ilmu computer di Penn State University. Ia seorang manager programming dan kontributor dalam We Are One Body Catholic Radio dan sudah melakukan rekaman program radio tentang teologi dan hidup rohani. Ia punya banyak pengalaman sebagai pembina retret bagi umat biasa, kaum religious hidup bakti, dan para presbiter. Ia juga menjabat Direktur Formasi Rohani untuk Seminari Saint Vincent dan Direktur Institut untuk Formasi Pelayanan yang menawarkan berbagai macam kursus hidup rohani. Romo Hicks juga adalah penulis buku “Through the Heart of St. Joseph” dan menulis bersama dengan Romo Thomas Acklin dalam buku “Spiritual Direction: A Guide for Sharing the Father’s Love” dan “Personal Prayer: A Guide for Receiving the Father’s Love.”

 

Sumber: “A Priest’s Perspective on Holy Thursday”

Posted on 13 April 2022, in Kenali Imanmu and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: