Bukti Arkeologi Daniel

Oleh Dave Armstrong

Daniel in the Lions Den published by Thomas Agnew and Sons, 1892 (Sumber: wikipedia.org)

Arkeologi dan ilmu pengetahuan memberikan bukti eksistensi Belsyazar, tujuan dibuatnya gua singa, dan penjelasan tentang perilaku aneh Nebukadnezar.

Saya akan memeriksa beberapa bukti sekuler dan bukan dari Alkitab yang mendukung naskah kitab Nabi Daniel (abad ke-6 sampai ke-5 SM). Ada artikel di Wikipedia dengan sembrono menyatakan tentang Daniel demikian:

Konsensus sebagian besar cendekiawan modern menyatakan bahwa Daniel bukanlah seorang tokoh sejarah dan kitab itu merupakan acuan samar-samar pada pemerintahan raja Helenistik abad ke-2 SM, Antiokhus IV Epifanes

Memang ada banyak cendekiawan skeptik juga yang berpikir kalau Raja Daud itu tidak ada, sampai pada tahun 1993 ditemukan sebuah artefak dengan tulisan “Rumah Daud.”

Raja-raja Persia: Koresh dan Darius

Artikel Wikipedia “Cyrus Cylinder” menyatakan demikian:

Benda itu berasal dari abad ke-6 … Tulisan yang ada di silinder itu secara tradisi dilihat oleh para cendekiawan Alkitab sebagai bukti yang menguatkan kebijakan Koresh tentang pemulangan orang-orang Yahudi setelah ditawan di Babel

Implikasinya, (secara tidak langsung) hal ini mendukung keakuratan sejarah kitab Daniel (6:1-2, 28; 11:1), yang menggambarkan Daniel sebagai hamba Raja Darius I (“yang Agung”), yang memerintah di Kekaisaran Akhaimenia  dari tahun 522-486 SM, dan (tampaknya) juga Raja Koresh yang sebelumnya bertakhta dari tahun 559-530 SM. Daniel (6:25-46) menampilkan Raja Darius yang toleran dengan agama Yahudi, sama seperti Koresh. Sejarah sekuler umumnya sepakat dengan gambaran ini. Flavius Josephus (lahir sekitar tahun 37 dan meninggal sekitar tahun 100 M), yang merupakan sejarawan Romawi Yahudi terkemuka dalam karyanya yang berjudul Antiquities of the Jews (Sejarah Kuno Orang Yahudi) dalam buku XI, bab 1-4, membuktikan kisah Alkitab tentang Koresh dan Darius terhadap orang Yahudi dan secara khusus tentang pembangunan kembali Bait Suci.

Belsyazar

Belsyazar adalah tokoh yang sebelumnya hanya ditemukan dalam Alkitab, dengan demikian para cendekiawan bisa mempertanyakan historisitasnya, karena ia tidak tercatat di tempat lain. Ia disebut delapan kali dalam kitab Daniel (bab 5, 7, dan 8), dan tidak disebut lagi di bagian lain Alkitab. Namun, lihatlah, pada tahun 1854, empat silinder aksara paku dengan prasasti dari Raja Nabonidus dari Babel (memerintah dari tahun 556-539 SM) ditemukan di Ur, di dalam pondasi ziggurat. Dan dalam temuan itu ada penyebutan Belsyazar yang merupakan putra sulung Nabonidus.

Bahkan, sejauh yang saya tahu, Nabonidus tidak disebutkan dalam kitab Daniel atau di kitab lain dalam Alkitab. Apakah dengan melihat kalau ia adalah raja terakhir Babel sebelum ditaklukan oleh Koresh Agung dari Persia? Sebaliknya, kita punya satu bab (Daniel 5) yang khusus membahasa Belsyazar, yang disebut “Raja Babel” (Daniel 7:1), “raja orang Kasdim” (Daniel 5:30) dan disebut hanya “raja” (Daniel 5:1, 5-10, 13; 8:1). Apakah ini bukan kesalahan historis yang fatal? Tidak, bukan begitu cara memahami kisah seutuhnya. Ternyata Nabonidus juga tidak ada di Babel selama 9 atau 10 tahun (552 sampai 543 atau 542 SM), menurut artikel Wikipedia yang ditulis tentangnya. Dengan demikian, Belsyazar yang memerintah dalam ketidakhadirannya atau sebagai pengganti, pantas disebut “raja” karena ia adalah bupati – seorang yang bertanggung jawab selama raja asli tidak ada. Dan inilah cara Daniel menyebutnya.

Raja Nebukadnezar Makan Rumput

Pada saat itu juga terlaksanalah perkataan itu atas Nebukadnezar, dan ia dihalau dari antara manusia dan makan rumput seperti lembu, dan tubuhnya basah oleh embun dari langit, sampai rambutnya menjadi panjang seperti bulu burung rajawali dan kukunya seperti kuku burung. (Daniel 4:33)

Anehnya, para dokter dan psikiater telah menemukan penyakit aneh yang disebut boanthropy yang kemungkinan menggambarkan kondisi aneh dari Nebukadnezar. Ada artikel dari situs Online Psychology Degree Guide yang berjudul “15 Scariest Mental Disorders of All Time (15 Gangguan Mental Terburuk Sepanjang Zaman).” Artikel itu menggambarkan penyakit itu demikian:

Mereka yang menderita boanthropy bahkan ditemukan di ladang dengan kawanan sapi, mereka berjalan dengan empat kaki dan mengunyah rumput seolah-olah mereka adalah benar-benar menjadi anggota kawanan sapi. Mereka yang menderita boanthropy tampaknya tidak menyadari apa yang mereka lakukan ketika bertindak seperti sapi, membuat para peneliti percaya bahwa gangguan kejiwaan yang aneh ini disebabkan oleh mimpi atau bahkan hipnotis.

Sadrakh, Mesakh, Abednego dan perapian yang bernyala-nyala

Kisah terkenal dalam Daniel 3:14-15, 21. James A. Montgomery dalam jilid bukunya yang berjudul A Critical and Exegetical Commentary on the Book of Daniel menyatakan bahwa perapian yang bernyala-nyala “pasti mirip dengan tanur yang terbuat dari kapur, tempat pembakaran berbentuk poros tegak lurus dari atas dan ada lubang di bagian bawah untuk mengekstraksi menjadi bubuk kapur (kalsium hidroksida –red.)”  dan juga ada catatan “tentang adanya tungku pembakaran (oven) yang serupa di Persia untuk eksekusi penjahat.”

Dalam artikel berjudul “The fiery furnace in the book of Daniel and the ancient Near East (Tungku bernyala dalam kitab Daniel dan wilayah Timur Dekat)” karya Tawny L. Holm (J. of the American Oriental Society, Jan. 1, 2008) memberikan contoh lebih lanjut tentang cara hukuman mati dengan cara dibakar di wilayah Mesopotamia dan Mesir. Contoh-contoh yang ditegaskan secara historis ini mengatasi keberatan skeptis yang menyatakan kalau hal seperti itu “tidak pernah ada” atau jarang terjadi sehingga menimbulkan prima facie atau keraguan akan kisah Daniel.

Daniel di Gua Singa

“Sesudah itu raja memberi perintah, lalu diambillah Daniel dan dilemparkan ke dalam gua singa” (Daniel 6:16)

British Museum memublikasikan sebuah artikel yang berjudul “Lion hunting: the sport of kings (Berburu singa: olahraga para raja).” Artikel itu menyatakan bahwa raja Asyur bernama Ashurnasirpal II (883-859 SM) sangat gemar memburu singa dari keretanya. Tapi ini bukan berburu di alam liar pada umumnya. Melainkan sebagai “acara yang dipentaskan di taman permainan di kota … pertunjukan umum yang sebanding dengan permainan arena orang Romawi.” Oleh karena itu, singa dikurung dalam kandang supaya raja bisa melakukan “perburuan.” Situs web The Joy of Museums dan artikelnya yang berjudul  “Lion Hunting Scene (Berburu Singa) – 750 SM” sependapat dengan gambaran ini. Orang Persia juga melakukan hal semacam ini (lihat artikel The Horse and the Lion in Achaemenid Persia: Representations of a Duality.”)

(Dalam scenario ini) Daniel dimasukkan ke tempat kurungan singa (gua) yang dirancang untuk pentas berburu.

 

Dave Armstrong adalah seorang apologis dan penulis penuh waktu, yang sudah aktif mewartakan dan mempertanggungjawabkan iman Kristen sejak tahun 1981. Ia diterima di Gereja Katolik pada tahun 1991. Situs web/blognya yang berjudul “Biblical Evidence for Catholicism” sudah daring sejak Maret 1997. Ia juga mengelola halaman Facebook populer. Dave sudah menikah dengan bahagia dengan Judy, istrinya, sejak Oktober 1984. Mereka dikaruniai tiga putra dan seorang putri (semuanya homeschooling) dan tinggal di Michigan tenggara.

 

Sumber: “Is There Any Archaeological Support for the Prophet Daniel?”

Posted on 11 May 2022, in Apologetika and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: