Memahami Peristiwa “Yesus Dipersembahkan di Bait Allah”

Oleh J. A. Loarte

Yesus dipersembahkan di Bait Allah (Sumber: opusdei.org)

Memahami misi penebusan Yesus dalam peristiwa ini

Setelah para pezirah berkumpul di Betlehem. Setelah kelahiran Yesus, Yusuf menemukan tempat yang lebih layak untuk dihuni Keluarga Kudus. Setelah delapan hari, di sanalah Yusuf melakukan ritual penyunatan yang dijalani anak laki-laki sebagai bentuk keanggotaan bangsa Israel. Dan Anak itu resmi menerima nama Yesus, nama yang diberitahukan malaikat sebelum Yesus dikandung dalam rahim Maria (Lukas 2:21). [Tambahan dari TerangIman.com] Perlu diketahui bahwa penyunatan dan dipersembahkan di bait Allah adalah dua peristiwa yang berbeda, Scott Hahn dalam bukunya yang berjudul Joy to the World: How Christ’s Coming Changed Everything and Still Does (hal. 128) mengatakan bahwa kemungkinan peristiwa penyunatan berlangsung di sinagoga di Betlehem.

Empat puluh hari kemudian, Maria dan Yusuf membawa Anak itu ke Yerusalem, seperti tertulis dalam Kitab Suci demikian:

Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati (Lukas 2:22-24).

Baik Yesus maupun Maria sebenarnya tidak diwajibkan untuk mengikuti ketentuan ini. Maria tidak terikat dengan ketidakmurnian secara hukum karena dia mengandung dan melahirkan dengan cara sebagai seorang perawan. Begitu pula dengan hukum yang mengharuskan seorang anak sulung ditebus ditetapkan kepada Yesus, Sang Anak Domba Allah yang menghapus dosa-dosa dunia. Namun, hanya disebutkan tiga kali dan hanya dalam beberapa ayat saja, disebutkan secara khusus bahwa segala sesuatu dilakukan dengan menaati Hukum Allah.

Gereja menemukan makna yang lebih dalam dari peristiwa ini. Yang pertama adalah penggenapan nubuat Maleakhi:

Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat (dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan istilah messenger atau utusan) Perjanjian yang kamu kehendaki itu (Maleakhi 3:1).

Selain itu Maria memahami bahwa Yesus harus dibawa ke Bait Allah bukan untuk ditebus seperti anak sulung lainnya, namun dipersembahkan kepada Allah sebagai kurban yang sejati. Sebagaimana dalam Surat kepada orang Ibrani tertulis:

“Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki (tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku). Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan. Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku” (Ibrani 10:5-7).

Hingga taraf tertentu, peristiwa Yesus dipersembahkan di Bait Allah bisa dikaitkan dengan Persembahan Kurban Kalvari yang dihadirkan dalam Misa di setiap waktu dan tempat. Dalam persiapan kurban ini, yang kemudian dalam penggenapannya di puncak Golgotha, suatu tempat khusus yang disediakan bagi Bunda Yesus. Sejak awal mula kehidupan-Nya, Yesus telah dipersatukan dengan Maria dengan kurban penebusan yang akan digenapi dengan kedatangan-Nya.

Keikutsertaan dalam misteri penebusan ini, sedikit demi sedikit diungkapkan kepada Perawan Maria. Pada peristiwa Pemberitaan Kabar Gembira, sang malaikat agung tidak mengatakan apapun tentang hal ini. Namun pada peristiwa Yesus dipersembahkan di Bait Allah, hal ini diberitahkan melalui perkataan Simeon, seorang lanjut usia yang benar dan saleh: dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. (Lukas 2:26)

Perjumpaan antara Bunda Maria dan Simeon terjadi di depan gerbang Nikanor yang mengarah ke pengadilan orang Yahudi. Di sanalah tempat di mana salah seorang imam menerima para wanita yang datang untuk melakukan kurban bagi mereka dan anak-anak mereka. Maria yang ditemani Yusuf ikut antri di barisan. Ketika Bunda Maria menunggu giliran mereka, sesuatu yang membuat orang yang melihatnya takjub. Seorang tua mendekati antrian itu, wajahnya bersinar-sinar dengan sukacita. Ketika kedua orang tua itu membawa Kanak-kanak Yesus untuk melakukan baginya menurut kebiasaan hukum Taurat, Simeon menggendong Yesus sambil memuji Allah dan berkata: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel” (Lukas 2:29-32).

Mendengar perkataan ini, Maria dan Yusuf diliputi perasaan heran, karena Simeon menegaskan apa yang malaikat beritahukan dari Allah. Namun, tak lama kemudian, ada perkataan lain yang menutupi sukacita mereka: Sang Mesias akan menggenapi misi-Nya dengan penderitaan dan Sang Bunda secara misterius dikaitkan dengan kedukaan Putranya. Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria bunda-Nya, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan (dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri), supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Lukas 2:34-35). Dan juga Hana, seorang wanita berusia lebih dari 80 tahun ikut bergabung dengan pernyataan Simeon itu, dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem (Lukas 2:38).

Dari Injil Lukas kita tahu bahwa Bunda kita mempersembahkan Kanak-kanak Yesus hanya setelah mendengarkan nubuat itu. Maria mempersembahkan sepasang burung tekukur dan dua ekor anak merpati, sebagai persembahan orang miskin, alih-alih mempersembahkan anak domba seperti yang ditentukan hukum Musa. Meskipun demikian, dengan menggarisbawahi perkataan Simeon, Maria memahami bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah sejati yang akan menebus umat manusia dari dosanya. Dan Maria sebagai seorang ibu, dengan cara yang belum sepenuhnya dia pahami, dia akan bersatu erat dengan nasib Putranya.

Sumber: “Life of Mary (VIII): Jesus’ Presentation in the Temple” dengan perubahan dan penambahan seperlunya

Posted on 1 February 2020, in Kenali Imanmu, Kitab Suci. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: