Category Archives: Kisah Iman

Penghujat Yesus Menjadi Penyembah Yesus – Kisah Jeff Shott

Jeff Shott (Sumber: chnetwork.org)

Saya dibaptis pada Malam Natal 2001. Waktu itu saya berusia 6 tahun, dan keluarga saya aktif di gereja Baptis kami di Largo, Florida. Kami anggota kelompok homeschooling di gereja kami ini, sehingga kami sering ada beberapa kali di sana dalam sepekan. Di rumah dan kelas sekolah Minggu kami, kisah-kisah Kitab Suci diceritakan kembali kepada saya, dan saya diajari untuk menghafal ayat-ayat Alkitab. Saya menumbuhkan kasih yang mendalam akan Firman Tuhan dan saya ditanamkan dengan semangat penginjilan. Saya ingin berbicara tentang Yesus dengan siapa saja yang mau mendengarkan.

Saya masuk ke sekolah negeri di kelas lima, dan tahun berikutnya keluarga saya pindah ke Tennessee, yang menjadi “pusat wilayah Bible Belt.” Akhir-akhir ini, ada dua hal yang disayangkan saya, dan hal ini semakin umum terjadi pada saya sewaktu SMP: Saya mulai kecanduan pornografi, dan kedua orang tua saya bercerai. Sesudah itu, keluarga saya berhenti ke gereja, dan saya sangat kaget: saya masih ingat waktu itu saya menangis dan bertanya-tanya kenapa tidak ke gereja lagi. Read the rest of this entry

Kenapa dan Bagaimana Saya Jadi Katolik – Kisah B. A. Lewis

B. A. Lewis (Sumber: chnetwork.org)

Ketika orang-orang bertanya kepada saya mengenai keputusan saya bergabung dengan Gereja Katolik, saya suka membagi pertanyaan itu menjadi dua bagian. Pertanyaan, “Kenapa Anda jadi Katolik? Dan pertanyaan lainnya, “Bagaimana Anda jadi Katolik?” Pertanyaan pertama bisa dijawab dengan satu kalimat saja: Saya masuk Gereja Katolik karena saya yakin baik dalam pikiran dan hati saya bahwa Gereja Katolik itu seperti yang dinyatakan olehnya: satu-satunya Gereja yang didirikan oleh Tuhan kita Yesus Kristus untuk melakukan misi-Nya di dunia ini dan juga yang dibimbing oleh Roh Kudus untuk mewartakan dan mengajar kepenuhan Injil. Read the rest of this entry

Mantan Pendeta Baptis Jadi Katolik – Kisah John Thompson

John Thompson (Sumber: ncregister.com)

“Jika Gereja inilah yang sama dan bisa dilacak akarnya sampai ke para Rasul, ya! Di sinilah tempat semua orang berada di dalamnya,” kata Thompson

John Thompson adalah seorang Katolik yang ceria, energik, dan sangat ingin menceritakan imannya kepada Kristus dengan orang lain. Ia berbicara dengan penuh keyakinan dan kepastian yang teguh ketika ia menyatakan Gereja Katolik sebagai “Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik yang didirikan oleh Kristus,” dan mengajak orang lain untuk menyelidiki sejarah dan ajaran Gereja. Read the rest of this entry

Segalanya Dipertaruhkan – Kisah Keith Nester

Keith Nester (Sumber: Keith Nester YouTube Channel)

Saya dibesarkan di keluarga pendeta United Methodist di Iowa. Seingat saya, saya sudah mengasihi Yesus. Waktu saya berusia 11 tahun, saya sudah memberikan hati saya kepada Yesus di kamp gereja. Pendeta kami itu sudah memperingatkan kalau kami tidak mengucapkan doa ini, kami bisa masuk neraka. Saya langsung masuk dalam iman dan melakukan yang terbaik untuk hidup bagi Tuhan, meskipun belajar tentang iman bukan menjadi prioritas utama saya. Akhirnya, pada usia 19 tahun, saya membuat komitmen yang lebih kuat lagi untuk mengutamakan iman saya. Tapi tak lama sebelum melakukan komitmen itu, saya pindah ke Philadelphia, Pennsylvania untuk mengejar karier dalam bidang musik. Sebagai seorang drummer, saya akan bermain dengan band saya pada malam Minggu dan ke gereja di hari Minggu, saya berusaha  mencari jalan untuk menjadi seorang pemuda Kristen. Tapi saya mengalami kesulitan, tanpa memiliki gereja yang tetap. Akhirnya saya mulai ikut bersama jemaat Calvary Chapel sambil saya menumbuhkan kecintaan saya untuk belajar Alkitab. Saya merasa cukup yakin bahwa saya menjalani kehidupan yang berpusat pada iman. Read the rest of this entry

Dipanggil untuk Bermisi – Kisah Lani Bogart

Pada bulan Juni 1990, saya diterima oleh lembaga misi independen, dengan izin dari pendeta dan anggota gereja Karismatik Independen kami, kami menjual semua furnitur yang kami punya, memberikan hewan-hewan peliharaan kami, mengemasi beberapa barang kami yang tersisa, dan kami pindah ke Antigua, Guatemala untuk belajar bahasa Spanyol. Read the rest of this entry

Marinir Anti-Katolik Menjadi Katolik – Kisah Craig Alexander

Craig Alexander (Sumber: chnetwork.org)

Kisah Masa Kecil

Saya anak kedua dari empat bersaudara yang dibesarkan dalam sebuah keluarga dengan seorang ayah yang seorang alkoholik. Pelecehan dengan kata-kata maupun fisik kepada seluruh anggota keluarga berakhir ketika ayah saya pergi dari kami. Saya memohon kepada para pembaca kisah ini untuk mendoakan ayah saya, nama beliau adalah Ivan.

Setelah kepergian ayah kami, ibu kami bekerja keras supaya kami bisa punya tempat tinggal dan bisa makan. Ibu juga menjadi penjaga kehidupan rohani kami dengan ikut sekolah Minggu setiap pekannya dan ke gereja di Highspire United Methodist Church. Di sinilah saya mengenal Yesus dan tempat saya dibaptis. Saya mengenal Yesus seperti yang dikatakan oleh saudara-saudari Protestan kami, yaitu sebagai Tuhan dan Juruselamat saya. Saya juga melayani sebagai akolit dalam gereja keluarga kami. Dalam tradisi Methodist, akolit merujuk pada seorang anak yang menyalakan lilin sebelum kebaktian di gereja. Read the rest of this entry

Magnet Kebenaran – Kisah Noel Culbertson

Noel Culbertson (Sumber: EWTN YouTube Channel)

Gereja Katolik tidak pernah ada dalam perhatian saya. Saya tidak punya kebencian dan dendam dengan Gereja, lebih dari ketidaktahuan dan sikap apatis orang Amerika terhadap Gereja. Namun, sepertinya banyak jalan menuju Roma, saya sudah berada di sana jauh sebelum saya menyadarinya. Kami bahagia di jemaat Baptis kami, kami ikut terlibat dalam karya pelayanan, pelajaran Alkitab, dan dikelilingi teman-teman Kristen yang luar biasa, tapi di sepanjang jalan hidup, kami dirayu oleh Mempelai Kristus yang agung. Seperti yang dikatakan G. K. Chesterton, “Seseorang yang sudah datang terlalu dekat dengan kebenaran, dan lupa bahwa kebenaran adalah magnet, dengan daya tarik dan tolaknya.” Read the rest of this entry

Seorang Sekuler Datang kepada Kristus – Kisah David McHugh

David McHugh (Sumber: chnetwork.org)

Saya lahir dari seorang ibu Lutheran dan seorang ayah Katolik. Saya dibesarkan di Bavaria, Jerman, dan dibaptis Katolik sejak bayi. Orang tua saya bercerai ketika saya berusia 9 tahun. Karena ibu saya yang mengambil hak asuh, saya tidak dibesarkan sebagai seorang Katolik, saya juga tidak menerima Sakramen Penguatan Katolik. Sebaliknya, saya dan saudari saya ikut dan dibesarkan di sebuah gereja Lutheran. Setelah SMA, saya pindah ke Los Angeles untuk menjalin hubungan dengan ayah saya. Di sana saya berjumpa dengan Dina yang menjadi istri pertama saya. Saya mengadopsi putrinya yang bernama Olivia, dan kami punya dua anak lagi, mereka bernama Anya dan Quentin. Karena gereja tidak punya peran penting dalam kehidupan kami, kami hanya menikah dalam upacara sipil. Akhirnya kami mulai ke gereja Methodist, tempat Dina dan anak-anak dibaptis. Read the rest of this entry

Ketika yang Dikehendaki Tidak Cukup – Kisah Sr. Miriam James Heidland, S.O.L.T.

Sr. Miriam James Heidland, S.O.L.T. (Sumber: chnetwork.org)

Sr. Miriam James Heidland, S.O.L.T. adalah penulis buku “Loved as I Am” yang diterbitkan oleh Ave Maria Press. Dia berbicara kepada Coming Home Network mengenai didikan keluarganya yang Katolik, bagaimana dia berpaling dari atlet mahasiswa di kampus, dan akhirnya menemukan kekuatan untuk percaya akan panggilan Allah dalam kehidupan religius.

Read the rest of this entry

Profesor Harvard Diantar Bunda Maria ke Gereja Katolik – Kisah Roy Schoeman

Roy Schoeman (Sumber: catholicspeakers.com)

Kedua orang tua saya merupakan orang Yahudi yang taat. Mereka melarikan diri dari Eropa ke Amerika Serikat karena Holokaus. Saya dibesarkan dalam keluarga Yahudi “konservatif” yang pada dasarnya agak saleh dan sangat antusias dengan pengajaran agama yang saya terima dan juga kegiatan keagamaan yang saya ikuti.

Saya mengikuti program pendidikan agama Yahudi yang diadakan oleh pihak sinagoga sepulang sekolah (program ini semacam ektrakurikuler yang bernama Hebrew School/Sekolah Ibrani). Saya mengikutinya sejak dari grammar school (setingkat SD-SMP –red.) sampai high school (setingkat SMA –red.). Di SMA menjadi masa fokus utama identitas dan aktivitas saya, walaupun pada saat itu hanya enam orang yang melanjutkan program itu.  Saya sangat dekat dengan rabi saya dan beberapa seminaris yang menjadi guru sekolah yang mengajar bahasa Ibrani. Rabi di kampung halaman saya adalah Arthur Hertzberg. Beliau adalah rabi ternama di Amerika Serikat, yang juga menjabat sebagai presiden Kongres Yahudi Amerika Serikat, penasihat beberapa presiden Amerika Serikat, dan juga menulis beberapa buku laris tentang Yudaisme dan sejarah Yahudi. Beliau adalah guru bahasa Ibrani favorit saya, yang sangat dekat dengan saya, yang menjadi seorang rabi yang sangat terkemuka yang kemudian memimpin seminar kerabian Yahudi terbesar di Amerika Serikat. Read the rest of this entry

%d bloggers like this: