Category Archives: Kisah Iman

Produser TV Protestan jadi Katolik – Kisah Andrea Garrett

Andrea Garrett (Sumber: chnetwork.org)

Saya dibesarkan di New England di sebuah keluarga yang beragama Kristen. Ayah saya adalah mantan Katolik yang menikahi ibu saya, mantan Methodist.

Pada mulanya, Tuhan …

Ketika mereka mulai dikaruniai anak, orang tua saya membaptis kami di Gereja Methodist. Mereka berpikir bahwa kami harus memperoleh pendidikan dasar Kristiani, sehingga ketika kami pindah ke kota yang tidak ada jemaat Methodist, mereka membawa kami ke gereja Protestan arus utama terdekat, yaitu United Church of Christ. Mereka mendaftarkan kami ke Sekolah Minggu dan mengantar kami pada hari Minggu pagi, sementara itu mereka sendiri jarang menghadiri kebaktian di gereja. Read the rest of this entry

Dari Master Reiki ke Katolik – Kisah Shannara Johnson

Shannara Johnson (Sumber: chnetwork.org)

Saya lahir dan dibesarkan di Jerman pada pertengahan tahun 1960-an. Keluarga angkat saya beragama Protestan, tetapi tidak terlalu religius. Kami adalah Kristen Napas (Natal dan Paskah saja), dan di rumah kami saya tidak ingat pernah berdoa atau membaca Alkitab.

Di Jerman sekuler, semua orang yang saya kenal adalah Protestan atau Katolik, tetapi tidak ada seorang pun yang saya kenal yang benar-benar beriman. Kebanyakan orang patuh membayar pajak gereja bulanan – pajak 10 persen dari gaji –  seakan-akan menjadi polis asuransi supaya tidak masuk neraka.

Sebagai anak tunggal, saya cukup dimanjakan, suatu hak istimewa yang harus dibayar mahal ketika saya masuk sekolah dasar. Saya tidak tahu bagaimana cara bergaul dengan anak-anak lain, bagaimana cara bertengkar atau bermain dalam kelompok, dan saya adalah seorang siswa dengan nilai A semua, namun saya tidak memperoleh penghargaan apapun dari teman-teman saya. Read the rest of this entry

Mencari Keseimbangan – Kisah Cara Valle

Cara Valle (Sumber: chnetwork.org)

Perjalanan iman saya dimulai dengan mendengarkan Tuhan. Beberapa kenangan masa kecil saya adalah gereja dan doa. Orang tua saya adalah jemaat setia dari komunitas Protestan karismatik non-denominasi. Bagi mereka, gereja adalah tempat doa yang berapi-api baik dalam bentuk berbicara dalam bahasa roh, menari, bertepuk tangan, dan bernyanyi, atau menangis dalam keheningan. Saya didorong untuk mencari Tuhan dan mengungkapkan kasih saya kepada-Nya selama ekspresi itu spontan. Kedua orang tua saya menolak sesuatu yang formal dan liturgis. Mereka menyebut umat Katolik sebagai orang Kristen “KTP” yang melakukan ritual hampa tapi tidak punya kerohanian yang sejati. Read the rest of this entry

Dari Wicca menjadi Katolik – Kisah Nora Jensen

Nora Jensen (Sumber: chnetwork.org)

Saya dibesarkan oleh kedua orang tua yang penuh kasih di pegunungan Colorado yang indah. Sama sekali kami bukan orang yang religius, sebenarnya kami punya sikap anti-Kristen. Saya percaya pada Tuhan yang impersonal dan punya devosi mendalam kepada para malaikat, meskipun saya tidak yakin dari mana asal kepercayaan itu. Kedua orang tua saya bekerja keras untuk menafkahi saya dan saudara laki-laki saya, dan mereka menanamkan perasaan benar dan salah yang kuat dalam diri kami. Kami adalah keluarga yang kompak.

Urusan Keluarga, Wicca

Waktu saya berumur 11 tahun, saya dan saudara saya sedang bermain di halaman rumah. Kami menemukan lingkaran batu yang belum pernah kami lihat sebelumnya, jelas sekali kalau batu dan lingkaran itu diletakkan oleh manusiam dalam suatu pola yang menunjukkan tujuan ritual mereka. Kami berpikir bahwa para pemuja setan sudah menyelinap masuk halaman rumah kami dan membuat benda itu, kemudian kami menghancurkannya dengan menendang sebanyak mungkin batu besar supaya tidak berada di tempat asalnya. (Mengapa pemuja setan? Sampai hari ini kami bertanya-tanya mengapa kami berpikir seperti itu.)  Sesudah itu, kami berlari ke rumah untuk memberi tahu betapa hebat apa yang sudah kami perbuat. Read the rest of this entry

Facebook Menjadikanku Katolik – Kisah Meghan Foshay

Meghan Foshay (Sumber: chnetwork.org)

Saya dibesarkan di Gereja Katolik oleh kedua orang tua yang mencintai imannya. Kami mengikuti Misa setiap hari Minggu, saya menerima sakramen, tetapi saya tidak pernah sungguh-sungguh menganggap diri saya sebagai seorang Kristiani. Bahkan, saya tidak tahu apakah saya mempercayai Tuhan. Saya tidak suka ikut Misa untuk menyembah Tuhan yang saya bahkan tidak yakin Tuhan itu ada. Dan Alkitab tampaknya bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh sains di sekolah negeri. Intinya: agama tampak konyol dan membuang-buang waktu.

Sikap skeptis dan tempat bagi Tuhan

Pada tahun 2016, perubahan keyakinan saya kepada Kristus dimulai. Saya menyadari bahwa kejahatan benar-benar ada di dunia ini dan juga ada di banyak institusinya. Kemudian saya mengalami perjumpaan dengan Roh Kudus. Tak lama kemudian saya mengalami perubahan hati yang drastis dan penyesalan mendalam atas dosa-dosa yang saya lakukan, dan saya merasa “tahu” (melalui anugerah yang diberikan) bahwa Tritunggal dan Alkitab itu benar adanya. Saya tahu kalau kebingungan yang saya alami mengenai Alkitab bertentangan dengan ilmu pengetahuan hanyalah: kebingungan dari diri saya sendiri. Saya langsung tahu bahwa Iblis adalah penguasa dunia ini. Maka, saya memesan Alkitab pertama saya dan mulai membada Perjanjian Baru dengan sungguh-sungguh dan bergaul dengan orang yang lebih unggul secara rohani. Read the rest of this entry

Lingkaran Adven Menjadikanku Katolik – Kisah Mary Pomeroy

Mary Pomeroy (Sumber: chnetwork.org)

Pada hari Minggu Adven pertama tahun 2017, untuk pertama kalinya saya ikut Misa Katolik, menjadi Katolik tak pernah terlintas di benak saya. Satu-satunya alasan ada di sana untuk Misa adalah untuk melihat karangan lingkaran Adven dan penyalaan lilin. Saya tidak tahu apa-apa tentang iman Katolik kecuali berbagai hal yang diberitahukan oleh orang Protestan anti-Katolik. Sedikit yang saya ketahui bahwa saya berada di sana untuk salah satu kejutan terbesar dalam hidup saya – dan sesuatu dirancang oleh Tuhan. Read the rest of this entry

Berjumpa dengan Yesus di Kapel Adorasi – Kisah Lori Ann Mancini

Lori Ann Mancini (Sumber: chnetwork.org)

Ketika saya bertumbuh besar, iman adalah sesuatu yang serius. Orang tua saya termasuk golongan pasangan muda di akhir tahun 1950-an yang merantau dari wilayah pertambangan batu bara di Kentucky untuk mencari pekerjaan di Ohio dengan melakukan perjalanan melalui Rute 23. Saya lahir pada tahun 1969, anak bungsu dari tiga anak perempuan, orang tua saya umat dari Church of Christ. Banyak keluarga dari keluarga besar di kota kecil yang kami tempati punya iman yang sama. Sampai saat ini, saya masih menghargai lagu-lagu dan nyanyian akapela yang menjadi ciri tradisi iman ini. Ajaran dari Church of Christ yaitu baptisan selam, baptisan bagi orang dewasa saja, dan ajaran hanya Alkitab, semuanya kelihatan benar dan masuk akal bagi saya. Read the rest of this entry

Pencarian Gereja Universal – Kisah Dr. G. Lloyds Raja

Dr. G. Lloyds Raja (Sumber: chnetwork.org)

Masa kecil

Saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang menjadi anggota CSI (Church of South India / Gereja India Selatan), yang dibentuk oleh persatuan gereja-gereja Episkopal dan non-Episkopal pada tahun 1940-an. Nenek dari pihak ayah adalah seorang guru Alkitab di CSI, dan kakek dari pihak ibu adalah seorang penginjil. Menurut norma CSI, saya dibaptis sewaktu masih bayi dan diikutsertakan ke Sekolah Minggu dan Christian Endeavor Union di usia yang sangat dini. Saya memenangkan banyak hadiah dalam kompetisi pengetahuan Alkitab yang diadakan oleh Keuskupan CSI Kanyakumari. Ibu saya mendorong saya supaya membaca Alkitab dan berdoa, tapi sebagian besar belajar dan berdoa tidak ada artinya selain untuk mendapatkan hadiah dalam kontes tanya jawab Alkitab. Read the rest of this entry

Suatu Hari Nanti Kita Semua akan Jadi Katolik – Kisah Ben Eicher

Ben Eicher (Sumber: chnetwork.org)

“Suatu hari nanti kita semua akan jadi Katolik.” “Apa!?” Waktu itu saya berusia delapan tahun ketika ayah saya mengucapkan  kata-kata itu. Waktu itu Minggu malam tanggal 22 Oktober 1967. Ayah sedang menyetir dari rumah kami di West Milford, New Jersey, tempat ia melayani sebagai pendeta di Holy Faith Missouri Synod Lutheran Church, yang ia dirikan pada tahun 1960 langsung dari Concordia Seminary. Tujuan kami adalah 20 mil (± 32 km) ke wilayah selatan melalui jalan tol ke Gereja Katolik Our Lady of the Valley di Wayne, New Jersey, tempat ayah saya dan Romo James Rugel akan bersama-sama memimpin kegiatan ekumenis pasca-Vatikan II.

Ayah pernah menulis pesan “Selamat Datang” yang ada pada malam itu di buletin paroki Katolik itu. Ia akan melayani sebagai salah satu dari sembilan rohaniwan: lima orang presbiter Katolik dan empat pendeta Lutheran. Don Bosco College Choir dan Lutheran Theological Seminary of Philadelphia Chorus akan membawakan lagu pujian. Read the rest of this entry

Selangkah demi Selangkah Dibimbing Tuhan – Kisah Nick Alexander

Nick Alexander (Sumber: chnetwork.org)

Kasih karunia Tuhan yang membimbing kita semua. Ia tidak memaksa orang untuk berbuat sesuatu, melainkan Ia menggunakan berbagai elemen duniawi dan keadaan orang itu sendiri untuk membuka dan menutup pintu, Ia yang memberikan tuntunan dan kebijaksanaan.

Saya mengenal Kristus secara pribadi pada tahun 1984, waktu saya berumur 14 tahun. Saya pernah ikut retret orang muda musim panas di New England, ketika saya menjadi yakin akan realitas keberadaan Tuhan yang personal. Sesudah itu saya pulang ke sebuah apartemen di New York City dengan realitas yang baru di hadapan saya, suatu semangat yang baru ditemukan. Read the rest of this entry

%d bloggers like this: