Blog Archives

Profesor Harvard Diantar Bunda Maria ke Gereja Katolik – Kisah Roy Schoeman

Roy Schoeman (Sumber: catholicspeakers.com)

Kedua orang tua saya merupakan orang Yahudi yang taat. Mereka melarikan diri dari Eropa ke Amerika Serikat karena Holokaus. Saya dibesarkan dalam keluarga Yahudi “konservatif” yang pada dasarnya agak saleh dan sangat antusias dengan pengajaran agama yang saya terima dan juga kegiatan keagamaan yang saya ikuti.

Saya mengikuti program pendidikan agama Yahudi yang diadakan oleh pihak sinagoga sepulang sekolah (program ini semacam ektrakurikuler yang bernama Hebrew School/Sekolah Ibrani). Saya mengikutinya sejak dari grammar school (setingkat SD-SMP –red.) sampai high school (setingkat SMA –red.). Di SMA menjadi masa fokus utama identitas dan aktivitas saya, walaupun pada saat itu hanya enam orang yang melanjutkan program itu.  Saya sangat dekat dengan rabi saya dan beberapa seminaris yang menjadi guru sekolah yang mengajar bahasa Ibrani. Rabi di kampung halaman saya adalah Arthur Hertzberg. Beliau adalah rabi ternama di Amerika Serikat, yang juga menjabat sebagai presiden Kongres Yahudi Amerika Serikat, penasihat beberapa presiden Amerika Serikat, dan juga menulis beberapa buku laris tentang Yudaisme dan sejarah Yahudi. Beliau adalah guru bahasa Ibrani favorit saya, yang sangat dekat dengan saya, yang menjadi seorang rabi yang sangat terkemuka yang kemudian memimpin seminar kerabian Yahudi terbesar di Amerika Serikat. Read the rest of this entry

Perjalanan Gadis Yahudi kepada Kristus – Kisah Melissa Zelniker-Presser

Melissa Zelniker-Presser (Sumber: godisinmytypewriter.com)

Awal Mula Perjalanan Iman Saya

Sebagai seorang gadis Yahudi yang dibesarkan di Florida Selatan, saya sudah tahu dari sejak kecil bahwa Tuhan itu nyata. Di usia tiga tahun, saya mengalami suatu perjumpaan dengan Tuhan, di mana Ia hadir seutuhnya dan menampakkan diri-Nya kepada saya. Ia ada di sana, bagaikan seorang sahabat, benar-benar nyata, sangat penuh kasih. Tentu saja waktu itu saya tidak tahu mengapa Ia memilih saya dan mendekati saya dengan cara ini. Saya masih sangat kecil, masih sangat muda, dan entah bagaimana perjumpaan itu tertanam dalam diri saya, terukir dalam jiwa saya. Baru di kemudian hari di kehidupan saya, saya akan menemukan alasan bahwa Ia telah memilih untuk datang kepada saya, tinggal bersama saya, bahkan ketika saya memilih untuk menjauh daripada-Nya. Read the rest of this entry

%d bloggers like this: