Profesor Harvard Diantar Bunda Maria ke Gereja Katolik – Kisah Roy Schoeman

Roy Schoeman (Sumber: catholicspeakers.com)

Kedua orang tua saya merupakan orang Yahudi yang taat. Mereka melarikan diri dari Eropa ke Amerika Serikat karena Holokaus. Saya dibesarkan dalam keluarga Yahudi “konservatif” yang pada dasarnya agak saleh dan sangat antusias dengan pengajaran agama yang saya terima dan juga kegiatan keagamaan yang saya ikuti.

Saya mengikuti program pendidikan agama Yahudi yang diadakan oleh pihak sinagoga sepulang sekolah (program ini semacam ektrakurikuler yang bernama Hebrew School/Sekolah Ibrani). Saya mengikutinya sejak dari grammar school (setingkat SD-SMP –red.) sampai high school (setingkat SMA –red.). Di SMA menjadi masa fokus utama identitas dan aktivitas saya, walaupun pada saat itu hanya enam orang yang melanjutkan program itu.  Saya sangat dekat dengan rabi saya dan beberapa seminaris yang menjadi guru sekolah yang mengajar bahasa Ibrani. Rabi di kampung halaman saya adalah Arthur Hertzberg. Beliau adalah rabi ternama di Amerika Serikat, yang juga menjabat sebagai presiden Kongres Yahudi Amerika Serikat, penasihat beberapa presiden Amerika Serikat, dan juga menulis beberapa buku laris tentang Yudaisme dan sejarah Yahudi. Beliau adalah guru bahasa Ibrani favorit saya, yang sangat dekat dengan saya, yang menjadi seorang rabi yang sangat terkemuka yang kemudian memimpin seminar kerabian Yahudi terbesar di Amerika Serikat.

Ketika usia makin bertambah, saya sangat taat dan bersemangat tentang Allah dan Yudaisme, walaupun konteks konservatif pinggiran kota yang tidak mendukung kehidupan yang saleh, iman dan doa. Di tahun terakhir di SMA saya bertemu dengan seorang rabi Hasidut yang sangat karismatik dan “mistik” yaitu Shlomo Carlebach, yang biasa berkeliling di negara ini memberikan “konser” yang menjadi pertemuan doa yang beliau pimpin, bermain gitar dan memimpin lagu pujian Hasidut, yang diselingi cerita rohani dan ajaran agama. Beliau mempunyai banyak pengikut di kalangan kaum hippie dan mahasiswa Yahudi. Saya tertarik kepada beliau, dan mengikutinya tur bersamanya dan juga rombongannya di Israel selama musim panas. Saya ingin menjalani kehidupan saya demi Allah dan bersama Allah. Ketika saya berada di Israel, saya mempertimbangkan untuk membatalkan rencana saya untuk kuliah di Massachusetts Institute of Technology (MIT) untuk tinggal di Israel untuk belajar di salah satu yeshiva di Yerusalem. Yeshiva merupakan sekolah di mana para pemuda membaktikan waktu mereka untuk belajar berdoa dan agama, yang merupakan hal paling dekat antara Yudaisme dengan kehidupan beragamanya. Namun rencana saya untuk tinggal di sana dimatikan oleh situasi yang tidak berbuah dan sikap yang dingin yang saya lihat pada diri mereka, dan juga mereka tidak berbicara sesuatu hubungan intim yang nyata dengan Allah.

Maka saya pulang ke Amerika Serikat dan mulai kuliah di MIT. Saya merasa sangat tersesat karena apa pun yang ada di dalamnya tidak berpusat pada Allah maka hal itu tidak ada maknanya, namun tidak ada yang bisa saya “lakukan” untuk memusatkan diri pada Allah. Mantan guru sekolah bahasa Ibrani yang dekat dengan saya, pindah ke Boston. Ia mulai membuat semacam komunitas/seminari Yahudi kontra-budaya yang berorientasi pada kaum hippie. Selama beberapa minggu pertama di MIT, saya mempertimbangkan untuk keluar, namun ia menyemangati saya supaya tetap bertahan, dan saya tetap bertahan di MIT, dan menghabiskan waktu luang saya di seminari/komunitas.

Walaupun saya berusaha untuk mempertahankan orientasi agama saya, tapi ada kelemahan fatal di dalamnya yang membuat saya tersesat. Saya tidak memahami hubungan antar agama dan moralitas, terutama moralitas seksual. Maka religiositas saya bercampur dalam budaya narkoba dan “seks bebas” yang merajalela waktu itu, dan kehidupan saya merosot seketika menjadi “spiritualias” hippie yang tidak bermoral dan tidak jelas. Untuk waktu yang lama, rasa haus saya akan Allah dipuaskan dengan penghiburan palsu dan spiritualias yang semu dari lingkungan yang saya tempati.

Selama lima belas tahun, saya menjalani ketegangan batin yang luar biasa dalam hidup saya. Saya punya kerinduan akan sesuatu yang trensenden, dan penolakan akan sesuatu yang sesaat, tapi saya tidak punya pengetahuan tentang apa yang sebenarnya saya inginkan, oleh karena itu, saya merasa tidak mempunyai tujuan. Karena kehidupan sebagai insinyur konvensional di Amerika Serikat itu tidak “bermakna,” maka saya pindah ke Denmark. Saya pindah ke sana karena merasakan bahwa Danes memiliki hubungan yang mendalam dengan kehidupan dan keluarga, atau mencari makna spiritual yang lebih besar. Tapi setelah saya berada di sana, hal itu jelas sekali bukan kehidupan saya yang sebenarnya, maka saya pulang ke Amerika Serikat. Beberapa tahun setelah saya pulang, waktu itu saya bekerja menjadi seorang programmer. Hidup saya bagaikan panjat tebing, dengan rasa antusias yang mendalam dan ketegangan hidup dan juga prestasi kerja saya yang menghasilkan sesuatu yang membius rasa haus saya akan makna hidup. Pada tahun 1978, saya melanjutkan jenjang pendidikan saya ke Harvard Business School untuk gelar M.B.A., namun perasaan sukses sesaat yang dibuatnya tidak kunjung meredakan keputusasaan saya akan makna sejati dari sesuatu yang akan datang. Segala cara saya coba, mulai dari beralih karier ataupun hubungan cinta, semuanya hanya menghasilkan ilusi sesaat yang segera memudar. Semuanya itu meninggalkan perasaan putus asa bahwa pasti ada sesuatu yang lebih. Oleh karena itu, saya tidak pernah berkutat dalam karier dan perkawinan.

Di Harvard Business School saya berhasil dengan sangat baik, dengan memenangkan sebagian besar penghargaan yang ada di kelas dan lulus di antara mereka yang terbaik dengan predikat “High Distinction” (setara summa cum laudered.). Tak lama setelah lulus, saya diundang untuk bergabung bersama fakultas, dan saya menyetujuinnya, dan saya mengajar mata kuliah “Konsep Inti Pemasaran” di program M.B.A. Dengan kesuksesan dengan menjadi seorang profesor di Harvard Business School, dan juga pada saat itu saya menjadi seorang yang sangat terkenal pada usia 30 tahun, namun semuanya itu tidak meredakan perasaan diri tidak berguna. Saya sangat suka mengajar namun murid-murid tapi tidak berminat mengenai mata kuliah itu sendiri. Setelah saya mengajar di sana, Harvard menawarkan dukungan kepada saya (dengan murah hati) ketika saya menyelesaikan gelar doktor sehingga saya dapat memenuhi syarat untuk masa jabatan, namun begitu menyusun disertasi, saya merasa tidak memiliki niat yang tulus, maka saya kembali memberikan konsultasi (menjadi konsultan).

Pada masa inilah saya terlibat dalam “penghiburan semu” yang terakhir, arahan palsu saya yang terakhir untuk memberi makna pada kehidupan saya. Waktu saya masih kecil, saya adalah pemain ski yang punya rasa antusias, tapi saya berhenti ketika masuk kuliah. Sekarang saya mulai bermain ski lagi dengan sepenuh hati, mendukung diri saya sendiri dengan memberikan konsultasi, sambil menghabiskan sebagian besar ski musim dingin di Pegunungan Alpen. Saya merasa sangat baik, dan teman-teman bermain ski di Alpen adalah para pemain ski profesional, pemain ski “sirkuit,” calon atlit Olimpiade, dan sebagainya. Selama beberapa tahun saya hidup untuk bermain ski, menemukan hiburan yang cukup dalam kegiatan fisik yang menyenangkan, kecepatan, estetika, rasa pencapaian akan sesuatu, persahabatan, untuk menghilangkan rasa haus saya akan makna kehidupan.

Tentu saja Tuhan menggunakan segala sesuatu dalam hidup saya untuk membawa saya kepada-Nya, dan hal itu akan segera berbuah. Ketika saya berada dalam keindahan alam pegunungan Alpen yang spektakuler, saya menyadari keberadaan Tuhan untuk pertama kalinya sejak kuliah. Saya ingat pemandangan ketika berada di puncak gunung, sangat jauh di atas pepohonan, tak lama setelah matahari terbenam dengan langit yang berwarna merah nan lembut, dan salju dan bebatuan granit yang mengkilap kebiruan di senja hari. Hati saya terbuka dengan penuh syukur, dan saya tahu keindahan itu diciptakan Tuhan. Perlu diketahui bahwa di wilayah Austria yang saya tempati waktu itu masih banyak orang Katolik yang saleh dan taat, dengan salib yang ada di mana-mana, baik di dalam rumah, di hotel, di restoran dan juga di sepanjang jalan bahkan di jalan setapak sekalipun. Bahkan di kota kecil tempat bermain ski, Gereja melayani Misa Minggu. (Bahkan, di rumah kos yang saya tinggali terdapat salib ber-corpus yang terbuat dari kayu ukir yang tergantung di atas tempat tidur saya. Setiap petang ketika saya kembali ke kamar saya akan mencopotnya dan menyimpannya di dalam laci karena saya tidak ingin tidur di bawah salib! Dan keesokannya saya melihatnya sudah tergantung kembali di atas tempat tidur oleh seorang wanita tua yang rumahnya saya tinggali).

Setelah beberapa tahun hidup dengan bermain ski, diri saya semakin pucat (fisik mulai melemah –red.), dan hati saya semakin remuk. Satu-satunya hal yang membuat lega adalah menghabiskan waktu sendirian di alam, berusaha menangkap kembali penghiburan yang saya rasakan di pegunungan Alpen. Selama musim semi 1987, saya mengambil cuti kerja selama beberapa hari dan pergi ke Cape Cod untuk berada di alam. Pagi-pagi benar saya berjalan-jalan, di hutan yang berada dekat pantai, saat itulah Allah ikut campur tangan dalam kehidupan saya dengan cara yang dramatis dan begitu jelas, supaya Ia menarik saya dan menempatkan saya ke jalan yang benar. Ketika saya sedang berjalan, saya tenggelam dalam pikiran saya, seketika saya saya berada di hadirat Allah. Seolah-olah saya “jatuh ke Surga.” Segala sesuatunya berubah dari satu momen ke momen berikutnya, tetapi dengan cara yang lembut dan halus sehingga saya tidak sadar adanya sesuatu yang tidak berlanjut. Saya merasakan diri saya berada di hadirat Allah. Saya menyadari akan kemuliaan-Nya yang tak terbatas, kasih-Nya yang tak terbatas dan personal bagi saya. Saya melihat kehidupan saya seperti saya melihat kembali setelah kematian. Di hadirat-Nya, saya melihat segala sesuatu yang akan membuat saya bahagia dan segala sesuatu yang ingin saya lakukan dengan cara yang berbeda. Saya melihat setiap tindakan yang saya lakukan itu penting, untuk kebaikan atau untuk kejahatan. Saya melihat bahwa segala sesuatu yang telah terjadi di hidup saya sudah dirancang untuk kebaikan saya sendiri, dari tangan Allah yang bijaksana dan penuh kasih, bukan hanya semua hal yang ada dalam hidup saya, terutama hal-hal yang pada saat itu saya anggap sebagai bencana-bencana terbesar dalam hidup saya. Saya melihat ada dua penyesalan terbesar dalam diri saya ketika saya mati, yakni setiap momen yang saya sia-siakan karena tidak melakukan apapun yang bernilai di mata Tuhan, dan segala waktu dan tenaga yang disia-siakan karena khawatir merasa diri tidak dicintai, padahal setiap waktu akan keberadaan saya itu bermandikan dalam lautan kasih yang tak terbatas, yang menjadi masalah adalah saya tidak menyadarinya. Saya melihat bahwa makna dan tujuan hidup saya adalah untuk menyembah dan melayani Tuhan dan Guru saya, dalam kehadiran-Nya saya menemukan diri saya. Saya ingin tahu nama-Nya, sehingga saya dapat menyembah-Nya dengan benar, sehingga saya bisa menganut agama-“Nya.” Saya masih ingat doa dalam hati yang saya ungkapkan, “Perkenankanlah Engkau memberitahu nama-Mu. Saya tidak peduli jika Engkau adalah Appolo, dan saya harus menjadi seorang pagan Romawi. Saya tidak peduli jika Engkau adalah Kresna, dan saya harus menjadi seorang Hindu. Saya tidak peduli jika Engkau adalah Buddha, dan saya harus menjadi seorang Buddhis. Asal Engkau bukan Kristus, dan harus menjadi seorang Kristen!” (Bagi orang Yahudi mungkin dapat mengetahui kebencian yang mengakar terhadap agama Kristen, berdasarkan keyakinan yang salah bahwa agama Kristen menjadi “musuh” yang berada dibalik penganiayaan orang Yahudi selama 2.000 tahun.)

Tidak mengherankan, Ia tidak memberitahukan nama-Nya kepada saya. Jelas sekali, saya belum siap untuk mendengarkan nama-Nya, karena penolakan dari saya begitu besar. Sejak saat itu saya tahu, makna dan tujuan hidup saya, dan perasaan itu tidak memudar ataupun goyah, walaupun persepsi saya masih dalam keadaan seperti itu.

Ketika saya pulang, segala sesuatunya menjadi berbeda. Saya ingat ketika menelepon ibu saya dan berkata “Bu, saya punya kabar baik! Semua itu benar! Ibu tidak pernah mati …” hanya untuk bertemu dengan semacam keheningan yang membatu. Hal itu tidak pernah terjadi dengan diri saya, dan mungkin ibu saya sama sekali tidak akan percaya kepada saya, saya tahu karena pengalaman saya tentang ibu saya! Meskipun saya kembali ke pekerjaan saya menjadi konsultan, namun segala seuatunya sekarang berbeda, dan saya memiliki tujuan dalam memusatkan pencarian saya akan Tuhan, Guru, dan Allah yang saya temui ketika di pantai tempo hari.

Karena saya menafsirkan bahwa apa yang saya alami sebagai hal yang “mistis,” pada awalnya saya melihat ke mistisme, yang membawa saya ke banyak jalan buntu. Sebelum yang saya alami itu, saya tidak tertarik pada mistisme atau agama-agama Zaman Baru (New Age Movement) atau praktik meditasi bahkan juga okultisme, dan itulah yang pertama kali saya temui. Saya menghabiskan waktu berbulan-bulan di dalamnya.

Namun setiap malam sebelum tidur, saya berdoa singkat untuk mengetahui nama Tuhan, Guru, dan Allah saya yang saya temui di pantai. Setahun berlalu dari apa yang saya alami, sampai pada suatu hari saya berdoa megucapkan doa singkat itu, dan saya seolah-olah dibangunkan oleh tangan yang lembut di bahu saya, dan saya diantar ke suatu ruangan sendirian bersama dengan seorang wanita muda yang paling cantik yang bisa saya bayangkan. Saya tahu tanpa diberi tahu bahwa dialah Bunda Maria. Saya merasa diri saya sudah terbangun (dalam pikiran daya seolah-olah saya terbangun), meskipun saya sedang bermimpi. Saya masih ingat reaksi pertama yang saya lakukan, saya berdiri terpesona oleh kehadiran dan kemegahannya, berharap saya tahu sedikit tentang doa Salam Maria sehingga saya bisa menghormati dia! Dia menawarkan jawaban dari pertanyaan yang saya miliki. Saya ingat memikirkan apa yang saya harus tanyakan, mengajukan pertanyaan dan jawaban darinya. Beberapa saat setelah Bunda Maria berbicara kepada saya , pertemuan kami berakhir. Ketika saya bangun pada keesokan paginya, saya putus asa dengan cinta kepada Bunda Maria, dan saya tahu bahwa Allah yang saya temui di pantai itu adalah Kristus, dan yang saya inginkan sebisa mungkin menjadi seorang Kristen. Saya masih tidak tahu apa-apa tentang agama Kristen, ataupun perbedaan antara Gereja Katolik dan ratusan denominasi Protestan. Butuh waktu dua tahun lagi untuk menemukan jalan ke Gereja Katolik, yang dibimbing oleh rasa cinta dan hormat saya kepada Perawan Maria.

Saya akan membahas secara singkat beberapa peristiwa yang membawa saya ke Gereja Katolik. Setelah saya memimpikan Maria saya mulai pergi ke gereja Protestan setempat, namun saya meninggalkannya setelah saya bertanya tentang Maria dan pendeta itu menjawab dengan komentar yang meremehkan. Saya mulai berkeliling di sekitar tempat ziarah Maria, terutama tempat ziarah Bunda Maria dari La Salette yang berada Ipswich, Massachusetts, yang jaraknya 40 menit dari rumah saya. Ketika perjalanan ski musim dingin ke Pegunungan Alpen, saya memutuskan untuk mengunjungi tempat penampakan asli Bunda Maria dari La Salette di Pegunungan Alpen Prancis. Dan saya menghabiskan sisa perjalanan “ski” di sana, dan dalam doa yang mendalam. Seseorang yang saya temui di sana merekomendasikan supaya saya mengunjungi biara Kartusian. Saya mengunjungi biara itu, dan berada di sana selama seminggu, di sana semacam menyendiri sambil “datang dan melihat” walaupun saat itu saya masih penganut agama Yahudi! Untuk pertama kalinya, berada di sana membuat saya menjadi sadar bahwa Gereja Katolik sendiri tumbuh dari Yudaisme. Dan hal itu tidak bisa dihindarkan lagi, mengingat para rahib memadahkan mazmur Perjanjian Lama berjam-jam, dengan terus menerus menyebut nama-nama seperti Israel, Sion, Yerusalem, para Bapa Yahudi, orang-orang Yahudi, yang dengan jelas dikenal sebagai “Israel” dalam mazmur (yaitu orang Yahudi). Suatu gambaran sederhana, suatu hari ketika saya sedang bekerja sendirian di ladang, ada seorang rahib tua menghampiri dan berbicara dengan saya. Ia mendekati dan dengan malu-malu bertanya. “Jika Anda tidak keberatan, boleh saya tahu. Kami tidak bisa untuk tidak memperhatikan Anda yang tidak menerima Komuni, maka Anda bukan Katolik. Maka Anda beragama apa?” Ketika saya menjawab “Yahudi,” ia menyeringai dan dengan napas panjang berkata, “Sungguh melegakan! Kami kuatir kalau Anda seorang Protestan! Pada saat itu, saya tidak memahami perbedaan antara Protestan dan Katolik, yang saya anggap sebagai kata tanpa makna untuk menggambarkan orang Kristen. Namun yang membuat saya sangat terkejut dengan kenyataan dengan cara rahib itu yang aneh mengenal seorang Yahudi sebagai kebalikan dari orang Protestan. Kemudian saya menyadari bahwa dalam kacamatanya, bahwa orang Yahudi adalah “saudara tua dalam Iman” yang belum menerima rahmat untuk mengakui Yesus sebagai Mesias, sedangkan orang Protestan sudah menerimanya namun menolak kepenuhan akan kebenaran.

Selama satu minggu itu saya mulai merasakan kehadiran Maria yang penting dalam Gereja Katolik. Saya juga mulai sangat tertekan karena tidak dapat menerima Komuni. Keinginan saya untuk menerima Komuni melebihi apapun, yang menarik saya ke tahap Pembaptisan. Saya sudah mencari seorang imam keturunan Yahudi yaitu Romo Raphael Simon (yang dikenalkan oleh seorang kepala biara Kartusian) untuk pembaptisan. Ia seorang mantan Yahudi dan profesor filsafat di University of Chicago dan psikiater di New York City, yang kemudian menjadi seorang rahib Trapis (kisah perubahan keyakinannya diterbitkan dalam buku “The Glory of Thy People”). Ketika saya pertama kali bertemu dengannya, beliau berkata mengapa saya ingin dibaptis. Karena waktu itu saya tidak dapat dengan jujur mengatakannya bahwa saya percaya akan semua doktrin Katolik, namun saya marah dan berkata kepadaya, “Karena saya ingin menerima Komuni, kecuali jika Anda tidak memperbolehkannya!” Saya pikir beliau akan mengusir saya, namun beliau dengan bijak mengangguk dan berkata, “Ah, ini Roh Kudus sedang bekerja …”

Pada awal tahun 1992 saya dibaptis dan menerima Sakramen Penguatan dan ternyata diberikan oleh seorang imam yang berbeda (bukan Romo Raphael), tepat sebelum saya tinggal waktu lebih lama lagi di biara Kartusian untuk melakukan discernment apakah ini panggilan saya. Namun itu bukan panggilan saya, walaupun selama beberapa tahun kepala biara menjadi penasihat spiritual saya. Tetap fanatisme yang menjadi ciri kehidupan saya sebelum bertobat sudah membantu saya dengan baik, sekarang saya sudah menemukan arah hidup saya.

Walaupun saya tidak mengambil kehidupan religius ataupun imamat, untuk menjadi berkenan kepada Allah maka tidak ada dalam hidup saya yang bukan bagi-Nya dan berada dekat-Nya. Dalam cara sederhana, saya terlibat aktif di Gereja, dengan ikut Misa harian dan kehidupan doa menjadi pusat kehidupan saya, di tengah aktivitas saya sehari-hari saya seperti menulis, mengajar, dan menjadi pembicara ketika diminta, menjadi tim produksi dan menjadi pembawa acara talk show TV Katolik. Saya baru saja menyelesaikan sebuah buku tentang peran agama Yahudi dalam sejarah keselamatan. Judul buku itu adalah “Salvation is from the Jews” yang diterbitkan tahun ini (2004 –red.) oleh Ignatius Press. Orang Kristen perlu memahami lebih dalam tentang agama Yahudi sebagai agama yang Allah ciptakan untuk menyatakan inkarnasi Allah menjadi manusia, sebagaimana agama yang di dalamnya Ia menjelma. Bagi orang Yahudi, hal ini seharusnya dapat mengungkapkan kepenuhan kemuliaan dan pentingnya agama Yahudi, suatu kemuliaan yang hanya dapat dikenal melalui terang kebenaran Iman Katolik. Harapan saya adalah menerangi Yudaisme dengan makna dan arti yang lebih dalam lagi daripada orang Yahudi lihat dala iman mereka sendiri, kebanggaan mereka sebagai orang Yahudi akan menarik ke arah Gereja Katolik, bukan malah menjauhinya. (Untuk lebih lanjut baca buku Salvation is from the Jews)

Saya tidak akan pernah tahu megenai sisi Surgawi ini, yang doa dan pengorbanannya menebus rahmat bagi pertobatan saya yang sepenuhnya tidak terpikirkan dan tidak pantas saya menerimanya. Saya hanya dapat meras sangat bersyukur, dan juga menasihati orang lain supaya berdoa bagi pertobatan bangsa Yahudi. Melalui bangsa Yahudilah Yesus pertama kali menyatakan diri-Nya dan supaya mereka datang kepada kebenaran dan kepenuhan hubungan mereka dengan-Nya dalam Gereja Katolik. Betapa tragisnya bahwa orang Yahudi adalah orang yang pertama kali Allah ungkapkan diri-Nya kepada mereka menjadi orang yang terakhir yang mengenal-Nya! Dalam tulisan Postulatum dari Konsili Vatikan Pertama, yang ditandatangani oleh para Bapa Konsili dan disahkan oleh Paus Pius IX (tetapi tidak pernah secara resmi diumumkan karena penghentian Konsili yang terjadi lebih awal karena pecahnya Perang Prancis-Prusia):

“Para Bapa Konsili yang bertanda tangan di bawah ini, dengan rendah hati sekaligus mendesak memohon doa agar Konsili Suci Ekumenis Vatikan berkenan datang untuk membantu bangsa Israel yang kurang beruntung dengan undangan yang bersifat kebapaan yang penuh; yaitu, yang mengungkapkan keinginan yang akhirnya kandas dengan suatu penantian yang tidak sebentar melainkan lama, bahwa bangsa Israel segera mengenaol Sang Mesias, Juruselamat kita, Yesus Kristus, yang benar-benar berjanji kepada Abraham dan diwartakan oleh Musa; dengan demikian menggenapi dan mencapai puncaknya, bukan dengan mengubah agama Musa.

… para Bapa yang bertanda tangan di bawah ini sangat yakin bahwa Konsili suci akan memiliki rasa belas kasihan kepada bangsa Israel, karena mereka selalu disayangi Allah karena para bapa leluhur mereka, dank arena dari merekalah Kristus lahir menurut daging …

Akankah kemudian mereka dengan segera memuji Kristus dengan berkata ‘Hosana kepada Putra Daud! Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!

Akankah mereka menjatuhkan diri ke dalam pelukan Perawan Maria yang Tak Bernoda, bahkan sekarang dia adalah saudari mereka secara jasmani yang juga hendak menjadi Bunda mereka menurut rahmat karena dia adalah Bunda kita!

Putri Sion, doakanlah kami!

Simak kisahnya di YouTube

Sumber: “Roy Schoeman’s Conversion Story”

Posted on 1 May 2021, in Kisah Iman and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: