Blog Archives

Kepenuhan Kehidupan – Kisah Christine Hall

Christine Hall (Sumber: chnetwork.org)

Saya lahir di Schenectady, New York pada tahun 1957 di sebuah keluarga Katolik yang sangat tradisional. Saya anak bungsu dari empat bersaudara. Empat bersaudara itu terdiri dari dua orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan. Kami semua bersekolah di sekolah Katolik dan setiap hari Minggu kami ikut Misa sebagai satu keluarga. Di rumah kami, kami punya satu gambar Yesus, sebuah patung Maria, dan beberapa salib (ber-corpus) yang diselipi daun palem dari perayaan Minggu Palma. Kami seperti keluarga Katolik Amerika pada biasanya. Kota tempat tinggal kami sangat Katolik. Hampir semua teman saya beragama Katolik, dan di setiap bagian wilayah kota ada sebuah paroki dan sekolah Katolik. Read the rest of this entry

Mengelilingi Dunia Protestan dalam 48 Tahun – Kisah Kira Ciupek

Kira Ciupek (Sumber: kira-marie-mccullough.com)

Jika Jules Verne penulis “Around the World in 80 Days (Mengelilingi Dunia dalam 80 Hari),” menuliskan kisah hidup saya, mungkin judulnya “Around the Protestant World in 48 Years (Mengelilingi Dunia Protestan dalam 48 Tahun).” Saya bukan penjelajah bumi, tapi saya seorang yang pindah-pindah gereja. Sebagian besar hidup saya, saya tidak mendalami berbagai denominasi yang saya ikuti, sekadar mengagumi keindahan dan bingung akan perbedaan denominasi-denominasi itu. Saya bergabung dengan sebuah gereja dan kemudian dengan gereja lainnya, pindah dari Texas ke Tennessee, kemudian ke California dan kembali ke Texas, coba-coba dari non-denominasi, Presbiterian, Injili Bebas (Evangelical Free), gereja Baptis Amerika, dan gereja Southern Baptist. Akhirnya pada usia 49 tahun, saya menemukan apa yang saya cari-cari sepanjang hidup saya, yaitu Gereja Katolik. Anehnya, Alkitab yang membimbing saya kepada Gereja Katolik. Read the rest of this entry

Sukacita Pulang ke Gereja Katolik – Kisah Margaret Reveira

Margaret LaCovara-Reveira (Sumber: Facebook)

Pada bulan Maret 1984, di tengah krisis emosional yang saya alami, saya membuat keputusan untuk menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi saya. Saya menyadari kalau saya butuh bertumbuh dalam berbagai hal yang berhubungan dengan Tuhan dan membiasakan diri dengan Firman-Nya. Saya tidak takut “dijual” kepada Allah, karena kasih saya bagi Sang Juruselamat sudah dibina sejak masa kanak-kanak. Sebagai seorang pelajar Katolik yang usianya delapan tahun, ikut Misa harian adalah hal yang biasa, dan praktik ini berlangsung lama setelah ini. Secara harfiah, ada sukacita berada di hadirat Tuhan dan berdoa. Kendati demikian, saya masih melakukan hal yang sangat menyimpang dari-Nya, terutama di usia 20-an. Sepanjang hidup saya, penampilan saya sering dipertanyakan, dan meskipun humor yang menyindir menjadi bagian dari tata bicara saya, saya tidak punya harga diri yang pantas, memulai pencarian cinta yang tak ada hentinya. Saya dengan cepat mengadopsi gaya hidup pergaulan bebas sebagai sarana untuk memuaskan tujuan saya. Namun, hal itu sia-sia. Terlepas dari kesenangan fisik, sebagaian besar perjumpaan yang saya alami tidak menghasilkan apa-apa selain dari kejatuhan emosional. Read the rest of this entry

Memandang Gereja dengan Mata yang Baru – Kisah Doug Doughan

Doug Doughan (Sumber: chnetwork.org)

Saya dibesarkan dalam keluarga Katolik yang hebat. Kami adalah delapan anak dan kedua orang tua kami memastikan supaya kami bertumbuh besar untuk memuji dan menyembah Tuhan. Kami berdoa saat makan dan hari Minggu adalah hari istirahat. Kami bekerja keras dalam sepekan dan ke gereja setiap akhir pekannya dan juga ikut kelas ketakisasi. Saya masih ingat ketika saudara laki-laki saya sedang berada di gereja dan kami mulai cekikikan karena ada sesuatu yang kami anggap lucu, dan kami hanya akan merasakan tepukan di kepala kami dari salah satu orang tua kami. Gereja merupakan tempat penghormatan dan rasa kagum. Meskipun ikut Misa adalah hal yang wajib dalam keluarga kami, saya selalu merasakan suatu perasaan butuh atau ingin untuk berada di sana. Banyak teman saya yang beragama Katolik dan ikut serta di kelas katekisasi bersama saya. Saya sering diingatkan untuk tidak bertanya, cukup percaya saja, dan sebagian besar saya melakukannya demikian. Tapi seperti banyak anak lainnya, ketika mencapai usia remaja, iman menjadi hal yang kurang berarti bagi saya. Read the rest of this entry

Menuju Injil Kehidupan Sejati – Kisah Vicki Larson

Vicki Larson (Sumber: chnetwork.org)

Setelah empat tahun berjuang dan mencari-cari, saya meminta tolong kepada seorang teman, “Berdoalah bagi kami supaya tahu Gereja yang Tuhan ingin kami ikuti.” Dia menjawab, “Mungkin kamu bisa mempertimbangkan Gereja Katolik.” Dalam batin, saya tertawa. Saya dan suami saya sedang mencari gereja yang berdasarkan Alkitab, dan dalam benak saya Gereja Katolik bukanlah sebuah gereja! Namun yang tertawa terakhir adalah Allah sendiri, kurang dari tiga tahun kemudian, kami pulang ke Gereja Katolik. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Read the rest of this entry

Kembali ke Iman Masa Kecil – Kisah Nickolas A. Barbin

Nick Barbin (Sumber: chnetwork.org)

Perjalanan iman saya cukup panjang, dimulai sebagai seorang Katolik, kemudian menjadi seorang Southern Baptist, kemudian menjadi seorang non-denominasi, Pentakostal, Injili Karismatik, kemudian untuk waktu yang singkat menjadi Ortodoks Yunani, dan akhirnya kembali ke Gereja Katolik. Read the rest of this entry

Jalan Menuju Keabadian – Kisah Melissa Funderburk

Melissa Funderburk (Sumber: chnetwork.org)

Dahulu saya seperti hidup di dalam kabut. Pada mulanya, kabut itu tidak mengganggu saya. Saya yakin akan paru-paru saya yang masih muda dan kuat mampu mengatasi segalanya. Namun kabut itu diam-diam semakin tebal setiap harinya.

Pada tahun 2012, suasana di sekitar saya dipenuhi dengan kesibukan. Kira-kira dalam sepuluh tahun, karir saya meroket, memiliki perkawinan dengan dua orang anak, Mariah dan Carson, juga berbagai macam kegiatan bersama keluarga dan teman-teman, tanggung jawab di berbagai komite gereja, memelihara dua mobil mahal, dan memiliki sebuah rumah mewah yang ada kolam renangnya.

Semuanya tampak baik. Bahkan bisa dikatakan hebat. Hal ini sesuai dengan apa yang saya dengar di dunia bahwa saya harus memiliki dan berusaha menjadi sukses dan bahagia. Kecuali … Read the rest of this entry

Kisah Perjalanan Pastor Lutheran menjadi Katolik – Kisah David Woodby

David Woodby (Sumber: chnetwork.org)

Saya tumbuh di keluarga Kristen yang sangat miskin. Meskipun kedua orang tua saya tidak pernah ke gereja, mereka berdoa sebelum makan, atau dengan berbagai cara mereka menunjukkan komitmen kepada Kristus atau Gereja-Nya, kami selalu mengatakan bahwa kami adalah orang Kristen. Read the rest of this entry

Lebih dari Hanya Alkitab – Kisah Mark Hausam

Sumber: EWTN Channel YouTube

Ketika saya masih kecil, saya dibesarkan dalam keluarga Protestan Injili. Kami tidak terikat pada denominasi tertentu. Karena pekerjaan ayah saya, kami sering berpindah-pindah tempat tinggal dan menjadi anggota berbagai gereja yang berbeda, mulai dari aliran Baptis, Injili Bebas, Kristen Independen, namun semua pada dasarnya adalah aliran Injili. Read the rest of this entry

Ekaristi Membuatku Pulang – Kisah Pulang Tom Ponchak

Keluarga Tom Ponchak

Tom Ponchak meraih gelar teologi dan ikut terlibat dalam pelayanan di Gereja Katolik, kemudian dia meninggalkan Gereja selama sepuluh tahun. Setelah menjalani waktunya sebagai pendeta Injili, dia kembali ke Gereja pada tahun 2007. Tom menjabat sebagai Direktur Pembinaan Iman Dewasa di Gereja Katolik Bunda Karmel di Carmel, Indiana, di mana dia tinggal bersama istrinya Lisa dan keenam anaknya.

Read the rest of this entry

%d bloggers like this: