Seorang Sekuler Datang kepada Kristus – Kisah David McHugh

David McHugh (Sumber: chnetwork.org)

Saya lahir dari seorang ibu Lutheran dan seorang ayah Katolik. Saya dibesarkan di Bavaria, Jerman, dan dibaptis Katolik sejak bayi. Orang tua saya bercerai ketika saya berusia 9 tahun. Karena ibu saya yang mengambil hak asuh, saya tidak dibesarkan sebagai seorang Katolik, saya juga tidak menerima Sakramen Penguatan Katolik. Sebaliknya, saya dan saudari saya ikut dan dibesarkan di sebuah gereja Lutheran. Setelah SMA, saya pindah ke Los Angeles untuk menjalin hubungan dengan ayah saya. Di sana saya berjumpa dengan Dina yang menjadi istri pertama saya. Saya mengadopsi putrinya yang bernama Olivia, dan kami punya dua anak lagi, mereka bernama Anya dan Quentin. Karena gereja tidak punya peran penting dalam kehidupan kami, kami hanya menikah dalam upacara sipil. Akhirnya kami mulai ke gereja Methodist, tempat Dina dan anak-anak dibaptis.

Meskipun saya suka dengan banyak lagu pujian di gereja Methodist, saya tidak pernah merasakan motivasi untuk memulai kehidupan doa. Pada suatu saat, saya bergabung dengan paduan suara gereja. Namun, sebagian besar khotbah yang saya dengar tidak bergaung dalam diri saya, dan cepat sekali melupakan isi khotbahnya. Selain ke gereja, sesekali saya melakukan pekerjaan amal: membuat sandwich bagi para tunawisma, menyortir bahan makanan dan makanan kalengan ke dalam kantong kertas untuk dikirimkan ke keluarga-keluarga yang membutuhkan, dan hal-hal semacam itu. Saya tidak pernah mencari hubungan pribadi dengan Allah atau Yesus Kristus. Kalau dipikir-pikir, saya yakin dengan adanya bisikan karunia Allah. Namun demikian, saya tidak bekerja sama dengan karunia Allah itu, sedikitnya dengan tidak sadar.

Januari 2017

Saya berada di gereja Injili di Davis, California bersama dengan istri kedua saya yang bernama Maya, dan bersama kedua anaknya, mereka bernama Priya dan Reeve. Saya dan Dina sudah bercerai 8 tahun yang lalu. Perpisahan yang kami lakukan terjadi dengan bersahabat, dan saat ini saya melakukan yang terbaik untuk menyelaraskan keluarga campuran kami. Suatu hari yang menjadi hari Minggu pada umumnya. Pendeta sedang membicarakan orang Israel yang tegar tengkuk dalam Perjanjian Lama. Saya berpikir dalam hati kalau saya bisa menjadi orang keras kepala dan kukuh. Saya bisa menghubungkan sifat itu dengan leluhur saya. Ternyata Allah tidak membuat sengsara orang Israel yang tegar tengkuk itu. Allah mengunjungi mereka dalam berbagai siksaan dan hukuman.

Pada hari Minggu berikutnya, semakin banyak kisah orang Israel yang tegar tengkuk. Saya tidak tahu apa yang membuat mereka menjadi tegar tengkuk. Kedosaan mereka tampaknya seperti diri saya sendiri. Ketika saya merenung, saya mulai merasa yakin mengenai itu. Dalam pikiran saya, saya pasti ada hubungannya dengan orang Israel. Kenyataannya, saya adalah mereka.

Tiba-tiba, ketika pendeta masih berbicara dan setiap orang sedang memperhatikan khotbah itu, saya dicengkram dengan semacam perasaan pergulatan atau serasa melayang, sesuatu yang menjadi reaksi fisik.

Saya tidak segera bertindak. Saya duduk di sana, berusaha memahami apa yang sedang terjadi, sementara itu pendeta terus menyampaikan khotbahnya. Segalanya tampak baik-baik saja. Tidak perlu alarm. Namun, saya merasa tidak enak duduk di tempat saya itu. Saya ingin pergi. Saya berusaja untuk memahami apa yang sedang terjadi secara intelektual, tapi saya tidak bisa mengerti. Lalu, saya tidak bisa mendengarkan lagi, dan saya lari ke pintu keluar.

Seolah-olah saya sedang dihadapkan dengan kehadiran sesuatu atau seseorang. Seseorang yang punya kuasa, seseorang yang memanggil saya untuk bertanggung jawab. Saya belum pernah mengalami hal semacam itu. Ya, mungkin saya pernah merasa sepeti itu tapi pada tingkatan yang lebih kecil, ketika dihadapkan dengan orang tua atau figur yang punya otoritas lainnya, seperti guru atau polisi ketika saya melakukan kesalahan atau melanggar hukum.

Setelah beberapa menit, seperti kehadirannya sudah pergi, tapi pesan pertanggungjawabannya bergema dan bergaung di dalam hati saya. Saya mulai mondar-mandir di lorong itu. Pikiran saya sepertinya mendapatkan kejelasan. Kemudian, saya sadar bahwa saya sudah berdosa. Saya dipanggil untuk bertobat seperti orang Israel yang tegar tengkuk. Kehadirannya adalah Roh Kudus.

Terguncang, saya kembali ke dalam dan duduk lagi. Saya mulai khawatir. Bagaimana jika saya tidak sanggup melakukan tugas itu? Saya mulai merasa kewalahan. Saya mendengarkan khotbah lanjutannya tanpa adanya insiden, tapi saya tidak mendengarkan sepatah kata pun dari apa yang disampaikan. Karena saya terguncang, saya keluar dari gereja.

Februari 2017

Perpustakaan gereja Injili punya banyak buku. Hampir setiap hari Minggu, saya mampir ke perpustakaan. Pustakawan di sana sangat menyenangkan. Saya meminjam beberapa buku audio karya C.S. Lewis (Mere Christianity dan The Screwtape Letters) dan saya mendengarkannya selama perjalanan. Penjelasannya sederhana tapi dalam. Saya bersemangat dan ingin belajar lebih banyak, ingin tahu semuanya. Saya merasa gugup dengan apa yang terjadi, ingin mengerti apa yang ingin saya tanyakan dan bagaimana saya harus melakukannya. Setiap kali mendengarkan kaset itu, kecemasan saya berangsur-angsur mereda. Saya mendengarkan kaset itu sebanyak dua atau tiga kali. Meterinya sangat kaya. Penjelasannya membesarkan hati, penuh dengan janji. Saya tidak bisa memahami semuanya ketika mendengarkan kaset itu untuk yang pertama kali, jadi saya menggunakan beberapa pekan berikutnya untuk mendengarkan kaset itu dengan aksen Inggris British yang tenang dari pengisi suara buku-buku C.S. Lewis.

Juni 2017

Suatu hari Minggu, saya mengamati seorang umat dengan smartphone-nya di gereja. Perlu beberapa saat untuk mengetahui bahwa ia tidak melihat Facebook, tapi menggunakan aplikasi untuk mengikuti bacaan Alkitab. Ah, pikir saya begitulah caranya. Setelah kebaktian, saya mengunduh aplikasi Alkitab ke dalam ponsel saya. Saya kagum dengan fungsional dan serba guna dari perangkat ini. Saya mulai menggunakan aplikasi untuk membaca Alkitab pada hari Minggu, dan dalam beberapa pekan saya sudah mendaftar untuk program “Membaca Alkitab dalam Setahun” dan mulai membaca satu perikop setiap hari.

Juli 2017

Sewaktu saya di perjalanan, saya melihat stiker bumper yang gambarnya Catholic Radio di mobil di depan saya. Setelah memuaskan diri saya sendiri dengan C.S. Lewis, saya masih haus akan informasi yang lebih banyak tentang Iman Kristen. Saya beralih ke radio Katolik. Setelah beberapa pekan mendengarkan radio, saya menemukan penjelasan yang masuk akal dan memberikan kejelasan. Saya juga mulai menyadari cara pandang yang berbeda yang digunakan untuk memandang dunia. Suatu cara pandang yang berbeda dari cara pandang dunia sekuler pada umumnya. Saya terus mendengarkan radio itu beberapa bulan kemudian.

Setelah menceritakan pengalaman tentang Catholic Radio kepada Maya, meskipun dia tidak dibesarkan secara religius, ternyata dia selalu punya rasa sayang yang kuat terhadap Gereja Katolik, terutama ketertarikannya dengan para penulis Katolik seperti Flannery O’Connor dan G.K. Chesterton. Juga, cara pujian dan penyembahan yang terlalu ekspresif di gereja Injili, dengan gerakan tubuh dan lagu-lagu yang menarik, tidak berakar dalam diri Maya. Kami memutuskan untuk mulai datang ke Gereja Katolik. Pada waktu ini, kami tidak membawa anak-anak, berpikir kami akan membimbing dan membawa mereka suatu hari nanti.

Agustus 2017

Tak lama setelah keputusan kami ikut di Gereja Katolik, saya menemukan seuntai manik-manik kayu di tanah di taman, untaiannya kusust. Saya menguraikan untaian manik-manik aneh itu dan menemukan salib polos di tengah simpul yang kusut itu. Saya menyadari kalau itu adalah rosario.

Saya menaruh rosario itu di saku saya. Saya berpikir dalam hati, menemukan rosario ini semacam kebetulan yang aneh. Sekarang saya akan ke Gereja Katolik, saya perlu mencari tahu bagaimana berdoa rosario. Sepekan kemudian, saya membeli buklet kecil tentang bagaimana cara berdoa Rosario dari sebuah toko buku Katolik. Dengan menggunakan buklet kecil yang berisi doa Rosario dan ilustrasi Misteri Kehidupan dan Sengsara Yesus Kristus, saya mulai berdoa Rosario setiap hari.

Desember 2017

Saya sudah berdoa Rosario selama empat bulan dan punya pemahaman dasar tentang Misteri-misteri (Peristiwa-peristiwa) itu dan bagaimana Peristiwa-peristiwa itu berhubungan dengan bertumbuh dalam kekudusan dan kebajikan. Sambil mendasarkan doa Rosario yang berulang-ulang, saya mencoba merenungkan Peristiwa-peristiwa itu. Pada suatu hari Jumat sebelum Natal, ketika saya mendoakan Peristiwa Sedih kedua, Yesus didera (Yesus Dicambuki di Pilar terjemahan harfiah dari The Scourging at the Pillar), saya melihat ilustrasi dalam buklet itu ada seorang pria berwajah muram sedang memukuli Tuhan kita dengan tongkat kayu.

“Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu…”

Saya sudah melihat gambar ini selama berbulan-bulan. Kadang-kadang saya menutup mata ketika berdoa, tapi hari ini, saya melihat lebih jelas ke wajah pria ini, orang yang sedang mengayunkan tongkat ke arah Tuhan kita, dan berlama-lama menetap gambar itu.

“Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu…”

Tiba-tiba, oleh karunia Allah saya terpikir bahwa orang itu adalah saya. Saya yang mengayunkan tongkat. Saya memandang wajah-Nya, berusaha untuk mengerti. Ya, itulah saya. Melalui dosa-dosa saya, saya melakukan bagian saya yang membuat Tuhan kita menderita.

“Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu…”

Saya merenungkan bahwa jika saya tidak banyak berbuat dosa di masa lalu, jika saya bisa berhenti berbuat dosa sekarang, setidaknya mungkin saya bisa menyelamatkan Tuhan dari beberapa cambukan di pilar siksaan. Dosa di masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang menyakiti Tuhan. Saya harus memikul tanggung jawab. Pikir saya dalam hati, saya harus berhenti berbuat dosa.

“Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu…”

Sejauh ini, kecerdasan saya sibuk membuat hubungan ini. Sekarang, hati saya terlibat dalam permenungan ini. Air mata mulai mengalir. Diam-diam saya menangis. Saya memohon pengampunan dari Tuhan. Waktu berlalu. Saya berlutut dan hanya duduk di karpet. Sungguh sunyi. Tidak ada orang di rumah. Saya terengah-engah karena menangis. Saya mulai menceritakan banyak dosa dan pelanggaran di masa lalu. Saya berbisik, “Maafkan saya, Tuhan. Saya menyesal.” Air mata mengalir lagi. Kemudian, saya bangkit lagi.

“Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu…”

Saya merenungkannya lebih dalam lagi. Meskipun luka yang saya perbuat kepada-Nya, kasih dan belas kasih Tuhan menjadi bukti bagi saya. Saya diampuni. Saya berjanji selanjutnya untuk berbuat lebih baik, saya benar-benar tidak tahu seperti apa nantinya, tapi dengan berpikir dengan sedikit keyakinan bahwa jika saya tetap dekat dengan Tuhan dan bekerja sama dengan rahmat-Nya, saya mampu menghadapi pencobaan yang terbentang di hadapan saya.

Ketika saya melanjutkan untuk berdoa, saya pindah ke Peristiwa lainnya. Setelah selesai, saya berlutut dan duduk di lantai. Saya memikirkan tentang apa yang baru saja terjadi. Ada semacam ketakutan juga kekaguman. Apakah saya baru saja disentuh oleh kebijaksanaan dan kuasa yang jauh lebih besar dari yang saya miliki? Kuasa yang penuh kasih sekaligus kuasa yang adil. Kuasa yang meminta pertanggungjawaban saya dan akan terus begitu. Saya merasa kecil. Namun, terlepas dari ketakutan dan kekaguman. Saya merasa sangat diperhatikan, dikasihi, dan damai yang tidak bisa dilukiskan.

Saya tidak ingat berapa lama saya berada di sana, sambil duduk di lantai. Saya pikir bahwa Tuhan itu nyata. Yesus wafat untuk dosa-dosa saya. Ialah Sang Juruselamat, Tuhan, dan Raja. Bukan Raja yang jauh. Bukan Raja yang menyendiri dan acuh tak acuh. Melainkan, seorang Raja yang bisa kita tuju dalam doa, yang mendengar tangisan dan permohonan kita.

Januari 2018

Saya melanjutkan untuk membaca Alkitab setiap hari. Di RCIA (‘Rite of Christian Initiation of Adults’ atau kita mengenalnya sebagai Katekumen Dewasa –red.), tata cara pengenalan Gereja Katolik terhadap Iman, saya mempelajari bahwa ada lebih banyak kepercayaan dan praktik-praktiknya. Saya belajar tentang Buah-buah Roh Kudus. Yaitu, kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.

Saya mengambil milik pribadi saya. Melalui rahmat Allah, tampaknya saya sudah diberkati dengan sedikit buah-buah itu. Saya menyadari bahwa karunia-Nya sudah bekerja dalam hidup saya selama ini. Sampai saat ini, saya sama sekali tidak peduli bahkan tidak tahu mengucap syukur. Saya tidak pernah mengucap syukur kepada-Nya.

Baru-baru ini, saya mulai menyadari bagaimana melalui dosa masa lalu dan masa kini, saya sudah menyinggung Allah. Sekarang, saya didorong untuk bertindak. Dengan pertolongan-Nya, saya akan berusaha berhenti berbuat dosa dan bersyukur kepada-Nya atas rahmat-Nya dan pencobaan.

Saya membuat daftar Buah-buah Roh Kudus dan membawanya dalam dompet saya. Saya sering menariknya dari dompet. Waktu saya berada dalam antrian kasir di toko kebutuhan sehari-hari, ketika menunggu mobil selesai mengisi bahan bakar. Saya menghafal daftarnya dan sering merenungkan Buah-buah itu. Saya menjadikan wallpaper di smartphone saya juga menaruhnya di dekat monitor computer di tempat kerja, dan sering merenungkannya.

Februari 2018

Di RCIA (‘Rite of Christian Initiation of Adults’ atau kita mengenalnya sebagai Katekumen Dewasa –red.), saya diberikan selebaran yang disebut “Panduan untuk Memeriksa Batin dan Pengakuan Dosa yang Baik.” Selebaran itu menawarkan rincian tentang Dekalog, dosa besar dan yang melawan kebajikan, Karya Belas Kasih dan Rohani, dan petunjuk untuk mengaku dosa. Banyak hal dalam selebaran itu. Saya harus mulai dari mana?

Di perintah kedua ditanyakan, “Apakah saya menggunakan nama Tuhan sebagai kutukan, ucapan amarah, atau dengan sembarangan?” Dengan cara sembarangan? Ya, saya mengatakannya. Selama beberapa bulan mendatang, saya berusaha menghapus sebutan tidak hormat kepada Allah atau Yesus dari ucapan saya. Ternyata lebih sulit dari yang saya kira. Satu pekan, saya memutuskan untuk menghentikan ucapan-ucapan tertentu. Sepertinya ucapan-ucapan itu sudah hilang, tapi ternyata di pekan berikutnya ucapan itu keluar kembali. Akhirnya, dengan karunia Allah, saya bisa menghapus hampir semua sebutan sembarangan tentang Allah atau Yesus dari perbendaharaan ucapan saya. Bukan seratus persen, tapi ini menjadi peningkatan yang sangat besar. Setelah sebulan atau lebih menyatakan kemenangan atas sebutan yang ceroboh kepada Allah dan Yesus, saya menyadari bahwa ada manfaat tambahan. Ucapan saya secara keseluruhan, bukan hanya bagian yang ingin saya koreksi tapi lebih hati-hati mempertimbangkan ucapan saya. Secara khusus, di berbagai kesempatan dengan sadar menahan diri dari pernyataan yang dianggap buruk dan tidak membawa-bawa nama Allah atau Yesus.

Maret 2018

Saya dan Maya menyelesaikan RCIA dan menerima Sakramen Penguatan. Kendati demikian, anak-anak kami belum tertarik pada iman Katolik. Bagi diri saya sendiri, saya mulai menggiatkan doa harian saya selain doa Rosario. Ada banyak doa yang luar biasa. Saya menambahkan Mazmur 23 (“Tuhan adalah Gembalaku”), dan doa St. Teresa dari Avila (“Jangan biarkan ada yang mengganggu engkau, jangan ada yang membuat engkau cemas …”), doa St. Fransiskus dari Asisi (“Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai …”, dan berbagai doa lainnya.

Mei 2018

Saya membeli Katekismus Gereja Katolik dan mulai membacanya. Buku itu seperti buku referensi, tapi saya bertekad untuk membacanya dari awal sampai selesai, seperti membaca novel. Buku ini memukai dan memberikan kejelasan tentang semua pertanyaan besar.

Ada seorang teman bertanya kepada saya, “Apakah ada hal yang kamu tidak setuju?”

Jawab saya, “Tidak satu pun.”

Saya melanjutkan perkataan saya, “Buku ini merupakan bacaan yang luar biasa. Bagian doa itu bagus. Semuanya bagus. Kamu harus membacanya.”

Sepekan kemudian, saya dan Maya menghadiri acara perkawinan Katolik beserta resepsinya. Kami duduk satu meja dengan beberapa pengajar RCIA dan beberapa orang lainnya. Teman yang sama itu menyebutkan pembicaraan di meja itu secara umum bahwa saya baru-baru ini membaca Katekismus Gereja Katolik langsung dari bukunya, dari awal sampai akhir.

Ada seseorang berkata, “Saya belum pernah mendengar ada orang yang melakukan itu.” Saya mengambil salad saya. Membalas dengan beberapa kali anggukan dan senyuman. Kemudian kita semua makan salad.

Beberapa bulan kemudian, setelah selesai anulasi perkawinan saya sebelumnya, perkawinan saya dengan Maya diberikan konvalidasi (disahkan) dalam suatu upacara yang indah di paroki Katolik setempat.

Agustus 2018

Saya membaca buku-buku tentang St. Theresa dari Lisieux, St. Yohanes dari Salib, St. Teresa dari Avila, St. Teresa dari Kalkuta, St. Francis de Sales, dan para kudus lainnya. Saya mulai menambahkan beberapa doa vokal, dan mengurangi doa-doa lainnya. Doa Hati Kudus Yesus. Kaplet Kerahiman Ilahi. Devosi pada Sapta Kedukaan Maria.

Oktober 2018

Di suatu hari Sabtu sore, saya membersihkan sela-sela bantal sofa, selain uang receh, potongan pretzel, dua batang pensil, segenggam popcorn, saya menemukan satu kartu doa kecil dengan gambar seorang biarawati yang tampak galak. Pikir saya, aneh, saya tidak ingat kalau pernah mengambil kartu doa ini dari mana pun. Saya pasti tidak pernah mendoakan doa dalam kartu itu, saya ingat betul. Doa dalam kartu ini indah, memohon perantaraan St. Faustina kepada Tuhan. Tidak lagi percaya pada kebetulan acak, saya menambahkan kartu itu dalam rutinitas doa harian saya. Saya pasti bisa meluangkan beberapa menit tambahan untuk mendoakannya setiap hari.

Kira-kira delapan pekan setelah memohon perantaraan doa St. Faustina, saya menerima penghiburan. Waktu berdoa Kaplet Kerahiman Ilahi, rasanya seperti hembusan angina, semburan kasih dan belas kasih melingkupi saya. Saya terpana.

Penghiburan yang saya terima seketika itu bagaikan sentuhan kebaikan Tuhan. Terpukai, saya tergagap-gagap, “Engkau baik, Engkau baik,” atau ucapan lain yang serupa. Ucapan itu tidak direncanakan, hanya ucapan spontan. Saya pikir niat saya untuk mengakui kehadiran-Nya, tapi lidah saya terikat. Kemudian, hati saya menggapai-Nya dan saya mulai berurai air mata. Saya diam, tidak bisa bicara apa pun atau bisa berpikir dengan baik untuk waktu yang cukup panjang. Saya benar-benar merasa damai. Akhirnya, saya melanjutkan doa saya.

Pada masa penghiburan, saya membaca St. Yohanes dari Salib. St. Yohanes menyarankan supaya berhati-hati dengan penghiburan karena kemungkinan ada kesombongan rohani yang bisa timbul jika seseorang bisa merasa istimewa dalam beberapa hal dan juga penghiburan tertentu bisa menjadi “sinyal palsu.” Artinya, penghiburan bisa berasal dari kuasa ilahi, tapi semacam pengaruh setan. Rekomendasi St. Yohanes adalah mencari nasihat spiritual. Maka, itulah yang saya lakukan untuk lebih mengerti untuk tetap berada dalam iman dan tidak mengandalkan penghiburan.

April 2019

Saya membaca tentang Theresa dari Lisieux. Bagaimana kasihnya kepada Tuhan menyentuh saya. Dia memilki spiritualitas yang sederhana. Berpikir mengenai kecenderungan saya untuk menanggapi segala sesuatu dengan sangat serius, kadang-kadang terlalu serius, mungkin St. Theresa bisa membantu saya, maka saya mulai memohon perantaraannya. Juga, saya mulai membiasakan diri memohon kepada Bunda Maria dan Tuhan untuk memperkenankan saya memperoleh rahmat dalam meningkatkan amal kasih. Saya memohon ini supaya saya bisa mengasihi Tuhan dengan segenap hati, kekuatan, jiwa, dan pikiran saya. Saya juga memohonkan itu supaya saya bisa mengasihi sesama saya seperti Tuhan mengasihinya.

Saya mengambil sebuah kartu doa di gereja dan mulai berdoa kepada Hati Kudus Yesus. St. Yohanes menyatakan, “Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” (1 Yohanes 4:18). Sementara itu kasih saya jauh dari sempurna, saya mulai memperhatikan bahwa kehidupan doa saya menghasilkan beberapa buah baik dalam cara berhubungan dengan orang lain. Interaksi yang saya lakukan tampaknya lebih mengasihi, kurang memusatkan pada diri sendiri, dan lebih banyak memperhatikan orang lain.

Perlu diingat, masih banyak yang belum baik dalam diri saya. Saya tidak selalu merasa tenang dan damai. Saya juga merasa jengkel dan marah, sama seperti dengan orang lain. Saya terlibat dalam permasalahan sepele, saya berdosa melawan amal kasih. Namun demikian, ada beberapa perubahan nyata, bukan hanya yang berkaitan dengan seberapa seringnya hasrat dan emosi saya menjadikan diri saya yang lebih baik, namun juga dalam jangka waktu baik hasrat dan emosi itu tidak terkendali, dan dalam kesadaran saya yang semakin meningkat, saya selalu berusaha melakukan lebih baik di kemudian hari.

Oktober 2019

Kira-kira dua pekan sebelum pertemuan keluarga, saya berdoa kepada Maria, Bunda Kedukaan, dan memohon kepadanya untuk menunjukkan kepada saya kesalahan terbesar saya. Melalui doa ini, saya berusaha mencari tahu lebih banyak lagi mengenai diri saya sendiri, sehingga saya bisa terus bertumbuh dalam kebajikan, kekudusan, dan kehidupan Kristiani.

Saya sudah meluakan doa kepada Bunda Kedukaan sampai saya bertengkar hebat dalam pertemuan keluarga itu. Keesokan harinya, saya masih memikirkan kejadian di malam sebelumnya, terpikir oleh saya bahwa saya baru saja diperlihatkan kesalahan terbesar saya, yaitu kurangnya kelemahlembutan. Saya terkadang menyimpan dendam, daripada cepat memaafkan dan tidak membawa-bawa kebencian, terutama ketika saya tidak diperlakukan dengan baik. Saya merenungkan komentar-komentar dari keluarga dan teman di masa lalu yang menunjuk diri saya, ketika kami berselisih atau bertengkar, bahwa saya seorang pasif-agresif. Sekarang, saya menyadari bahwa mereka itu benar. Kadang-kadang saya bertindak secara pasif-agresif. Itulah bagian dari kesalahan utama saya, dan itu yang perlu saya perhatikan. Terima kasih, Bunda Kedukaan.

Kerendahan hati, kelemahlembutan. Itulah yang akan menjadi perhatian saya. Saya berdoa Rosario dan doa-doa lainnya. Setelah mendapatkan kejelasan dan penyesalan atas amarah saya yang meledak-ledak, saya juga memohon maaf kepada keluarga saya dan berjanji kalau saya akan melakukan yang terbaik untuk menghindari perilaku itu di masa yang akan datang.

Januari 2020

Saya mulai mendoakan kaplet Kerahiman Ilahi di mobil dalam perjalanan ke tempat kerja. Hari ini dingin. Saya pergi dari rumah masih gelap, tapi pada waktu saya mulai berdoa, matahari mulai terbit, membuat langit yang indah dengan nuansa oranye dan merah muda yang berbeda, dihimpit oleh pita awan yang tipis. Sungguh indah nan agung.

“Demi sengsara Yesus yang pedih, tunjukkanlah belas kasih-Mu kepada kami dan seluruh dunia.”

Saya menuju satu manik berikutnya dan melihat ke kanan untuk menikmati matahari yang terbit. Tiba-tiba saya tersadar: Yesus wafat sehingga saya bisa melihat ini. Ia ingin supaya saya bisa melihat keindahan ciptaan-Nya ini.

“Demi sengsara Yesus yang pedih, tunjukkanlah belas kasih-Mu kepada kami dan seluruh dunia.”

Saya menuju ke satu manik berikutnya. Dengan pemanas, mobil menjadi hangat. Botol termos dengan isi the menanti saya seusai berdoa. Matahari terbit yang indah di sebelah kanan saya, saya merasa bersyukur mengalir dalam diri saya. “Tuhan, terima kasih atas matahari terbit ini dan untuk rahmat berlimpah yang Engkau tunjukkan kepada saya.” Air mata berlinang dari mata saya.

“Demi sengsara Yesus yang pedih, tunjukkanlah belas kasih-Mu kepada kami dan seluruh dunia.”

Saya menuju manik berikutnya lagi. Saya memperhatikan bahwa suara saya berbeda di manik terakhir saya ucapkan “Demi sengsara …” Menjadi lebih rendah, lebih tenang, lebih mencerminkan ketidakpantasan saya. Kenapa saya? Apa yang telah saya perbuat sehingga saya layak menerima rahmat ini? Sebagian besar dalam hidup saya ini, saya sudah memperlakukan Tuhan dengan sikap tidak peduli dan melakukan pelanggaran, tepatnya pelanggaran yang sangat banyak. Namun, dalam kerahiman-Nya, Yesus sabar terhadap saya. Setelah saya siap, Ia menyebut nama saya, saya mendengar-Nya dan mulai dalam perjalanan pulang.

“Demi sengsara Yesus yang pedih, tunjukkanlah belas kasih-Mu kepada kami dan seluruh dunia.”

Saya maju lagi ke manik berikutnya. Saya memikirkan anak-anak saya. Saya memikirkan wajah lembut mereka, dan juga memikirkan hak istimewa saya menjadi seorang ayah, banyak kegembiraan yang kita lakukan bersama. Semakin banyak air mata berlinang lagi. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih atas anugerah yaitu anak-anak saya.

“Demi sengsara Yesus yang pedih, tunjukkanlah belas kasih-Mu kepada kami dan seluruh dunia.”

Saya melanjutkan ke manik berikutnya. Waktu berlalu, pikiran saya tenang. Saya tidak bisa menemukan hal lain untuk diucapkan. Karunia ilahi tanpa meminta balasan kembali. Rahmat yang tidak terkira, saya semakin tidak pantas.

 

David McHugh dibesarkan di Jerman, dan sekarang ia tinggal di sebelah utara California. Ia menikah dengan Maya dan menikmati waktu mereka bersama keluarga campur mereka. David bekerja di bidang perbankan dan membantu RCIA di parokinya. Ia suka bermain tenis, membaca buku keagamaan dan tulisan kreatif. Pada tahun 2020, ia menerbitkan secara mandiri sebuah novel pendek berjenis cerita yang menegangkan dengan judul “Point of Convergence.” Ia juga menulis kolom religius untuk St. Peter’s Church yang dipublikasikan dalam Dixon Tribune.

 

Sumber: “A Secular Guy Comes to Christ”

Posted on 24 May 2021, in Kisah Iman and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: