Iman yang Nyata – Kisah Ashley Stevens

Ashley Stevens (Sumber: chnetwork.org)

Jika saya menceritakan kembali perjalanan iman saya dalam beberapa kata saja, saya akan berkata bahwa saya seperti memanjat pohon, mulai dari tanah kemudian naik ke atas. Tanah, artinya saya tidak lahir ke tatacara agama apapun, dan pohon berarti semua cabangnya diperlukan untuk membimbing saya ke tempat saya berada sekarang. Suatu tempat di mana saya bisa melihat jalan yang indah yang sudah saya lalui. Di tempat itu juga pemandangan yang dilihat semakin luar biasa. Mari kita mulai kisah ini dengan kenangan pertama saya.

Masa kecilku

Saya dibesarkan di sebuah kota kecil di bagian utara Kanada. Lokasi kami yang terpencil dan gaya hidup pedesaan, membuat saya dan saudara-saudara saya cukup terlindungi. Ketika kami tumbuh dewasa, kami tidak mendengar berbagai omongan baik maupun buruk tentang agama dan Tuhan.

Namun, saya punya dua kenangan yang berbeda mengenai Tuhan dalam masa muda saya. Yang pertama terjadi ketika saya masih bayi. Saya masih ingat bagaimana cahaya mentari memasuki jendela kamar saya tepat di depan boks bayi saya yang nyaman. Rasa hangat dan terang sepertinya masuk bagaikan seorang tamu yang belum pernah saya jumpai. Saya tidak pernah lupa akan pangalaman luar biasa ini, bahkan sudah 37 tahun berlalu. Kenangan ini masih memberikan rasa nyaman di sepanjang hidup saya. Karena Ia tahu semua hari dalam hidupku yang membentang di hadapanku (Mazmur 139:16). Ia tahu semua hal baik yang akan saya lakukan. Ia tahu hal yang buruknya juga. Namun tetap saja, Ia memilih untuk mengasihi saya jauh sebelum saya bisa memulai mengasihi-Nya kembali (1 Yohanes 4:19).

Kenangan yang kedua adalah campur tangan Tuhan dalam masa kecil saya merupakan hal yang sangat kecil, namun masih meninggalkan bekas yang besar dan awet di hati saya. Hal itu mengingatkan saya pada awal mula Yesus di muka bumi hanya dengan pesan yang sederhana dan pribadi dari seorang malaikat kepada hati seorang perempuan muda, hati yang penuh kerelaan. Saya juga mendapatkan sebuah pesan kecil, bahkan mungkin juga dari malaikat sungguhan. Kisah ini dimulai dengan ibu dan bapak saya yang membawa saya dan kedua saudari saya liburan untuk berwisata ke Queen Charlotte Islands di lepas pantai British Columbian yang indah. Petang hari, ketika keluarga kami berlima duduk di sekitar api unggun, kedua orang tua kami kebetulan berteman dengan tetangga kami itu. Dia seorang wanita tua yang manis dan bertanya apakah boleh mengajarkan anak-anak permainan kartu yang disebut solitaire. Kedua orang tua saya menerima ajakannya, dan saya tidak akan pernah lupa kata-kata yang dia bisikan ketika matanya yang sudah tua itu berkedip menangkap pandangan saya: “Ingat jangan pernah main curang … Tuhan selalu memperhatikanmu.” Saya mengerti sepenuhnya apa yang dia maksud. Sejak hari itu, perenungan saya tentang Tuhan seperti itu sudah berkembang menjadi pemahaman tentang Tuhan yang tidak hanya mahatahu namun juga mahahadir dan mahakuasa.

Masa kecil saya lainnya saya habiskan dengan menjelajahi hutan pantai. Kami bermain sepanjang hari pada musim panas sambil menunggang kuda dan memimpikan malam musim dingin di bawah naungan bintang-bintang-Nya yang menakjubkan. Jika Tuhan itu ada, maka Ia sudah pasti indah. Ia itu baik. Namun saat ini, ibu adalah seorang ratu kami yang lembut, dan ayah adalah raja yang mulia, dan kami bertiga adalah putri-putri desa yang bahagia yang bermata biru dan berambut pirang.

Tahun-tahun yang sulit

Dalam akhir tahun-tahun kami sebagai remaja, mulai tumbuh rasa sakit bagi saya dan saudari-saudari saya. Mungkin ini yang disebut berkat terselubung dalam hidup dan tumbuh bersama, dan karena itu kami sekarang menyimpan banyak kenangan indah masa kecil dalam hati kami. Mungkin hati kami terlalu kecil dan perlu diperbesar. Namun demikian, rasanya hati saya pecah menjadi jutaan keping ketika dunia kita runtuh. Untungnya, Tuhan menggunakan hati-Nya sendiri untuk menyatukan hati saya kembali. Biar saya jelaskan.

Waktu itu saya berusia 17 tahun ketika diberitahu tentang perceraian orang tua saya. Mereka menjual pertanian keluarga kami ketika saya lulus dari sekolah menengah (setingkat SMA –red.) dan mempersiapkan diri masuk ke perguruan tinggi. Saudari kembar saya pergi untuk ikut tur ke Irlandia, sementara itu adik perempuan saya harus tinggal di sana untuk tinggal bersama dengan teman-teman keluarga untuk menyelesaikan sekolah menengahnya. Dia tidak bisa tinggal bersama dengan ibu kami, karena dia berpindah-pindah ke luar negeri untuk tinggal bersama pasangan barunya, dia tidak bisa hidup bersama dengan ayah kami yang mengambil jabatan baru di pekerjaannya yang mengharuskannya berpindah-pindah daerah. Saya sendiri merasa tidak siap untuk menjalani hidup saya sendiri. Saya merasa ditinggalkan. Saya tidak punya lagi arahan moral. Inilah situasi campur aduk yang berbahaya, membuat saya harus mencari sesuatu untuk mengisi kehampaan yang saya alami, dan akhirnya saya belajar sesuatu, hanya Tuhan yang mampu mengisi kehampaan itu. Sementara itu, waktu berlalu dan saya merasa siap untuk mengulurkan tangan saya kepada Tuhan, waktu itu terjadi tiga tahun kemudian dan semua itu sudah rusak, kotor dan hampa.

Persembahan

Satu-satunya bagian yang baik dari pengembaraan saya adalah akhirnya. Di sinilah di padang belantara, Tuhan bisa berbicara dalam hati saya (Hosea 2:14). Ia telah memilih cara-Nya sendiri dengan menggunakan cahaya matahari lagi, sama seperti yang pertama kali ketika saya masih bayi. Namun kali ini, saya sudah cukup umur untuk memahami siapa Yesus itu.

Hal itu terjadi pada suatu hari, ketika saya sedang berjalan kaki ke sekolah setiap harinya, pada suatu pagi yang hangat di musim semi di wilayah Okaganan, British Columbia. Bunga-bunga yang mekar beraroma manis pada musim itu. Seharusnya membawa sukacita hati. Namun sebaliknya, aroma itu jatuh pada seseorang yang sedang berada di kegelapan yang pekat. Saya merasa hancur, kehilangan, dan merasa tidak dicintai. Di sinilah, dalam bayang-bayang, bahwa Kasih itu menghampiri saya untuk menyambut saya. Ketika surya-Nya bersembunyi di balik satu-satunya awan di angkasa, saya mendengar-Nya memanggil saya keluar dari persembunyian. Saya ingat akan papan petunjuk di depan sebuah gereja yang saya lalui setiap hari dalam perjalanan ke sekolah: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Ia menekankan sabda ini sebagai pertanyaan ke dalam hati saya, dan yang bisa saya katakan sebagai jawaban adalah “Ya.”

Tahap Bulan Madu

Saya mulai menghadiri gereja kecil itu. Itulah rumah bagi jemaat Aliansi Protestan. Di sana, saya menerima Alkitab pertama saya. Saya disambut hangat dalam pelajaran Alkitab. Saya menerima pengajaran dan memberikan penyembahan pada Minggu pagi. Jika disingkat dalam satu kata, yaitu romantis. Saya jatuh cinta dengan Yesus. Hari-hari itu dipenuhi dengan kenangan manis tentang Yesus yang dengan murah hati mencurahkan cahaya, kehangatan, dan penyembuhan-Nya ke dalam jiwa saya yang kosong.

Pada saat itulah saya bertemu dengan suami saya, seorang pria yang kuat, tampan, dan penyayang. Kami menikah pada tanggal 25 Maret. Pada saat itu, kami tidak menyadari bahwa hari itu adalah Hari Raya Kabar Sukacita, Inkarnasi Sang Firman menjadi Manusia. Pengetahuan itu akan diketahui di kemudian hari. Untuk saat ini, di sanalah saya berada, di dunia Protestan, keluarga kami yang sedang bertumbuh dipelihara untuk mengetahui dan mengasihi Yesus.

Penyebrangan dan Persimpangan

Tahun-tahun berlalu, saya menjadi tahu bahwa mengikuti Yesus tidak semudah mengenal-Nya. Ketika saya berusia 33 tahun, saya mulai memperhatikan isi pikiran dan hati saya yang terus berjuang untuk berdamai satu sama lain.

Denominasi tidak pernah menjadi suatu masalah bagi saya dan suami saya. Kami memilih untuk ikut di gereja Mennonite Brethen setelah menetap di kampung halaman suami saya. Kami mempunyai teman-teman di sana, merasa diri disambut, dan juga merasa nyaman. Namun itu bukan kehidupan yang sempurna dalam 12 tahun kami ikut serta di sana, namun kami berdua tetap setia, dan gereja itu adalah keluarga saya.

Mungkin itu sebabnya saya merasa sangat terganggu ketika gereja kami terpecah. Sepertiga jemaat meninggalkan gereja karena kebijakan baru tentang pendeta wanita. Kami juga merasa bingung, namun tetap yakin dengan pertemuan dengan pendeta utama akan meyakinkan kami bahwa Yesua akan merasa baik-baik saja dengan perubahan ajaran ini. Kenyatannya, pertemuan itu sangat traumatis. Pendeta itu mengaggap kami hanyalah pasangan yang datang untuk menuduhnya melakukan pelecehan agama. Ia bereaksi terhadap kami dengan kata-kata kasar dan mengusir kami keluar dari gereja dalam waktu kurang dari 10 menit, setelah ia membela dirinya dengan beberapa ayat Alkitab. Pandangan naif kami tentang kepemimpinan gereja mulai runtuh.

Kemudian saya bertemu dengan seorang pendeta lain yang memiliki jabatan dari gereja itu. Ia bertanya kepada saya, apa yang saya pikirkan tentang semua hal yang terjadi dan bagaimana saya menanggapinya. Saya memberitahunya bahwa saya gelisah, terutama setelah meninjau ayat-ayat Alkitab yang tampaknya ada perintah Gereja yang sudah ditetapkan sebelumnya (1 Timotius 2-3; Efesus 4:11). Ia tertawa dan berkata kepada saya bahwa apa yang saya cari itu hanya bisa ditemukan dalam Gereja Katolik. Saya tertawa kepadanya, karena semua orang tahu bahwa penganut Katolik itu adalah para legalis yang menyembah Maria, berdoa pada patung, dan mengenakan jimat keberutungan. Ia kemudian memberikan referensi ke situs web gereja kami. Dalam situs itu menampilkan sisi positif dan negatif mengenai pandangan pendeta wanita. Kedua sisi itu berdasarkan Kitab Suci Tampaknya hal itu mengisyaratkan bahwa kita harus “menentukan kebenaran kita sendiri.” Gunung kebenaran kami runtuh seketika.

Pada masa inilah, beberapa teman kami yang bisa dipercaya mulai mendorong teologi mereka sendiri. Tidak Trinitarian, Sabat pada hari Sabtu, baptisan dewasa. Sedangkan di kelompok studi Alkitab kami yang lebih santai ini mengharuskan kami untuk menyingkirkan teman-teman seperti dari kehidupan kami. Kedua belah pihak mengutip Kitab Suci atau mempertahankan kekurangannya masing-masing. Seorang pengkhotbah online terkenal yang menjadi favorit saya yang juga berasal dari aliran Baptis, mengajarkan bahwa Tuhan menentukan orang untuk menuju ke neraka. Seorang penulis aliran Injili favorit saya mengajarkan hal itu tidak masalah jika orang itu berdosa sebelum menerima Perjamuan Kudus. Kontroversi dalam Kitab Suci dan para pemimpin tampaknya semakin meningkat dalam kehidupan kami.

Ketakutan menunggangi diri saya. Iman saya belum bertumbuh untuk mempercayai akan kebaikan dan kuasa Tuhan yang tak terduga. Terdorong oleh luka masa lalu saya sendiri yaitu kenangan buruk pernah merasa diri ditinggalkan, saya berusaha mencari ilmu. Saya seorang ibu, istri, dan ibu rumah tangga. Saya juga punya karier profesional. Selain itu, saya membawa banyak beban tambahan untuk memperoleh pengakuan dan keamanan. Pada kehamilan keempat saya, saya mengalami keguguran. Bukan hanya rasa sakit dalam tubuh dan pikiran saja, saya juga jatuh secara spiritual. Harga diri saya sudah mengangkat saya ke ketinggian yang berbahaya. Di sinilah, di lantai pengirikan (lantai di pertanian tempat memisahkan biji-bijian hasil panen, ini ungkapan tokoh utama karena dia memiliki latar belakang keluarga di pertanian –red.), saya tidak punya lagi kekuatan untuk berlari. Di sini juga Tuhan akhirnya menarik perhatian saya dengan sentuhan lembut-Nya.

Rahmat yang Mengagumkan

Sekali lagi, di sinilah, di gurun yang kering ini jiwa saya berkeliaran selama setahun. Masa ini adalah masa tenang, saat saya mampu mendengarkan perkataan belas kasih yang diucapkan kepada jiwa saya. Di negeri yang jauh ini, saya menegaskan bersama Tuhan bahwa “semua itu adalah anugerah.” Sekali lagi, Ia dengan lembut membawa saya kembali ke tanah orang hidup dan menawarkan saya kehidupan baru.

Saat itulah saya diundang ke pembaptisan adik perempuan saya di Gereja Katolik. Pada mulanya, saya merasakan dorongan untuk melindungi adik saya itu dari memilih jalan yang salah. Ketika dia mengunjungi rumah kami, dia menjelaskan bahwa Gereja Katolik adalah satu-satunya yang apostolik. Saya membagikan ketakutan saya untuk memasuki apa yang tampak seperti kapal abad pertengahan yang ditempeli teritip (hewan laut yang sering ditemukan menempel di perahu –red.), dan dihuni bajak laut. Namun, percakapan ini membuat hati saya menyesal. Kami berbicara lebih banyak lagi dan berdoa bersama untuk sebuah tanda. Pada hari berikutnya, ketika saya mengantarnya ke bandara, di ruang keberangkatannya hanya ada dua orang yang duduk di sana, yang kami temukan adalah dua orang biarawati berpakaian lengkap. Itulah pertama kali saya melihat seorang biarawati. Di situlah, Tuhan menarik saya untuk datang dan mendukung pembaptisan adik saya itu, yang akan berlangsung beberapa bulan lagi.

Pada saat itulah, saya menghadiri Misa untuk pertama kali, yaitu pada Vigili Paskah tahun 2015. Saya belum pernah memulai upacara gereja dalam kegelapan. Ketika kami berjalan keluar di bawah malam terang bulan, saya merasa seperti anak kecil lagi di sisi adik saya itu. Kami menyalakan api lilin kecil kami dari api lilin besar yang melambangkan terang Kristus. Kembai ke gedung yang gelap itu, menyalakan lilin bagaikan pertama kali mengintip bintang di malam hari. Tradisi sepertinya tidak selalu buruk. Musiknya seperti melantunkan sampai ke sudut semangat saya yang hilang. Saya masih berduka karena kehilangan bayi saya. Jendela yang dibuat dengan kaca patri dengan gambar para kudus membawa kembali mimpi-mimpi penuh harapan yang pernah disembunyikan dari gadis cilik saya di surga. Air suci itu berkilau-kilauan ketika diterima oleh orang-orang yang penuh sukacita di sekitar kami. Liturgi tampak seperti membuat puisi dari berbagai ayat Alkitab. Yang lama dan yang baru seperti berima. Hati saya senang, dan pikiran saya tenang.

Saya pulang dari sana dengan sesuatu yang Pengakuan Iman yang bergema di telinga saya: Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Bukankah ini hal yang baik untuk menjadi kenyataan, saya harap demikian.

Aku Percaya

Ketika saya tiba di rumah saya memberi tahu suami saya tentang pengalaman indah ini. Sekali lagi ia mengingatkan saya bahwa ada banyak ajaran sesat yang diajarkan Gereja Katolik: Seorang imam harus mengampuni dosa-dosa mereka. Perjamuan Malam Terakhir dibuat menjadi santapan para vampir. Paus tidak pernah berbuat dosa.

Namun tetap saja Tuhan menghembuskan nafas-Nya kepada saya. Ia memulainya dengan menerangi penyelenggaraan-Nya melalui sejarah: “Akulah yang menghantar Abraham. Akulah Sang Keluaran. Akulah yang membawa bangsa Israel. Akulah yang mengangkat Raja Daud. Akulah yang melahirkan Gereja-Ku dan Akulah yang menyertainya sampai akhir zaman.

Pada saat itu, yang dapat saya bayangkan di benak saya adalah membuka Sabda-Nya, dimulai dari awal Perjanjian Lama sampai ke Gereja-Nya. Tidak sekalipun hal ini bergantung pada kesempurnaan atau kekuatan kita. Tentu saja, Allah yang sama ini tidak akan membiarka penggenapan kebenaran itu ditutupi oleh teritip, tersebar dalam ribuan denominasi atau tersembunyi untuk diungkapkan oleh orang yang luhur (1 Timotius 3:15). Hal ini menghasilkan rasa takut yang suci dalam diri saya yang tidak memicu lari dari masalah atau berusaha keras. Sebaliknya, saya merasakan kepasrahan diri yang damai. Seperti Maria, yang tidak memahmi pesan malaikat (Lukas 1:34), saya hanya mengakui diri bahwa saya sudah salah paham tentang Gereja-Nya. Seperti Maria yang percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah (Lukas 1:37), saya hanya menerima wewenang Gereja karena Tuhan menyuruh saya demikian. Saya merasa antusias mempelajari Gereja yang sering Ia bicarakan dalam Injil dalam sudut pandang-Nya. Hanya setelah karunia iman dari pihak Tuhan ini, dan tindakan iman dari saya, Tuhan mulai mengubah prasangka saya menjadi misteri yang indah yang saya mulai bisa pahami dan hargai. Ia melakukannya dalam waktu-Nya sendiri dan dengan cara-Nya sendiri. Ia benar-benar mengenal kita, lebih baik daripada kita mengenal diri kita sendiri, dan Ia membantu kita dalam kelemahan kita (Roma 8:26-27).

Sekali lagi, ini adalah fase bulan madu, kecuali pada saat ini saya jatuh cinta dengan Gereja Yesus. Hal ini bisa dibandingkan dengan penyingkapan kue pengantin. Saya merasa seperti seluruh kehidupan Kristen saya dihabiskan untuk mempelajari resep dan berbelanja bahan-bahannya. Hanya setelah melihat kue yang indah itu, kepenuhan Sabda-Nya yang menyelamatkan, saya bisa dengan percaya diri mengatakan: “Ya, Ia benar-benar indah.” Namun demikian, saya harus menunggu tiga tahun sebelum saya bisa menyantap kue ini.

Menunggu dan Belajar

Suami saya mengancam saya dengan perceraian jika saya mulai berani menghadiri Misa, saya belum menyebutkan untuk masuk Gereja Katolik. Imam yang menjadi teman diskusi mengenai masalah ini tahu mengenai situasi saya, ia menasihati saya untuk tidak menghadiri Misa untuk saat ini. Ia menjelaskan tentang prioritas Sakramen Perkawinan. Untuk mempertentangkan dan melukai salah satu sakramen dan menerima sakramen lainnya bukanlah cara Tuhan. Walaupun pada saat itu saya begitu menginginkan Ekaristi.

Pada saat inilah saya mengalami kebingungan yang mendalam. Saya tidak memahami apa yang sedang Tuhan perbuat dalam hidup saya. Berkali-kali saya memohon kepada-Nya supaya membebaskan saya dari ketegangan ini. Namun dengan melihat ke belakang, saya dapat melihat bahwa kuasa-Nya menjadi sempurna dalam kelemahan (2 Korintus 12:8-10). Kebijaksanaan mengenal bahwa pada tahap ini adalah waktu yang baik bagi saya untuk percaya, taat, dan bertumbuh dalam kesabaran dan kerendahan hati.

Buku Tambahan?

Tuhan juga menggunakan saat ini sebagai waktu untuk mempelajari apa yang sebenarnya Gereja ajarkan. Ia memulainya dengan sebuah buku yang ditulis oleh Henry Grey Graham tentang sejarah Alkitab. Saya sudah berusaha memahami hal ini sebelumnya, namun selalu menemukan penjelasan yang tidak memuaskan dan tidak utuh. Para teolog Protestan yang paling hebat sekalipun suka menyatakan bahwa “kami mendapatkan Alkitab itu dari Tuhan.” Sekarang saya membayangkan sekaleng cacing yang akan dibuka jika mereka mengakui bahwa otoritas Gereja Katolik lah yang memutuskan kitab mana yang harus dimasukkan. Sangat menarik bagi saya karena menemukan gerakan yang sama yang ingin membuang beberapa kitab dari Alkitab yang sudah digunakan selama lebih dari seribu tahun, gerakan ini ingin membuang surat Yakobus dan kitab Wahyu yang indah. Hal ini hanyalah berbagai kontradiksi yang lebih kuat dari dorongan kembali ke masa-masa yang sangat membutuhkan keseimbangan. Contohnya, jika ada penekanan terhadap perbuatan baik, inilah kerja sama antara iman dan perbuatan dalam Yakobus 2:22 menjadi solusi yang lebih alkitabiah daripada sola fide, yang bertentangan dengan Yakobus 2:24 (“manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman”). Saya juga terkejut menemukan ayat-ayat yang mendorong tradisi dan bertentangan dengan sola Scriptura. Ayat favorit saya adalah 2 Tesalonika 2:15 dan 2 Petrus 3:15-16.

Reformasi atau Perceraian?

Saya harus mengatakan bahwa semangat Reformasi mengingatkan saya kembali pada perceraian kedua orang tua saya (Maleakhi 2:16) daripada Yesus menyucikan Bait Allah (Matius 21:12). Saya membayangkan bahwa cinta akan Rumah Allah yang mendorong para reformator (Mazmur 69:9), namun demikian Allah selalu cemburu pada mempelai perempuan-Nya (Keluaran 34:14), yang Ia sucikan dari waktu ke waktu. Pada malam sebelum mewujudkan kasih-Nya bagi Israel, Ia berdoa “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yohanes 17:21). Jika sang mempelai perempuan-Nya yaitu Israel menjadi Gereja-Nya, tubuh Gereja adalah Tubuh-Nya, maka Reformasi adalah perceraian yang keji. Karena Kekristenan harus menjadi saksi kepada dunia bahwa segala sesuatu ada di dalam Kristus (Kolose 1:17).

Keadilan atau Kerahiman?

Pengajaran asing yang datang berikutnya adalah tentang Api Penyucian. Hal itu selalu dijelaskan kepada saya sebagai sesuatu yang ditambahkan kepada kurban Yesus Kristus. Hal ini jelas sekali sebagai sesuatu yang menghujat bagi orang Protestan, dan saya tahu bahwa hal itu jika dipahami demikian merupakan suatu penghujatan bagi orang Katolik. Allah menggunakan pengalaman hampir mati dari seorang ahli bedah saraf terkenal yang bernama Eben Alexander untuk membantu saya melakukan pemanasan dalam pemahaman Katolik tentang Purgatorium. Tampaknya api penyucian menjadi tempat “waktu ekstra” untuk menumbuhkan keinginan untuk melepaskan diri dari hal duniawi dan untuk mencintai Tuhan. Bahkan ia juga menghubungkannya sebagai “perhentian” ke surga ketika berada di tempat untuk bertumbuh ini (pugatorium –red.). Dan tampaknya menjadi tempat kerahiman, terutama mengingat Ibrani 12:14, yang memberi tahu kita bahwa sesuatu yang tidak kudus tidak dapat masuk ke Surga.

Ekaristi dan Maria

Setelah itu muncul hal mengenai Ekaristi dan Maria. Bagi saya, Kitab Suci tidak cukup untuk memahami sesuatu yang berwujud mengenai kedua hal itu, walaupun ada beberapa ayat yang sepertinya mengarahkan pada sesuatu yang lebih dari sekadar pandangan Protestan.

Contohnya, saya tidak pernah menghubungkan akhir kitab Wahyu 11 dengan awal bab 12, secara khusus hubungan dengan penggenapan Tabut Perjanjian Lama (Keluaran 25:11-21). Tetap saja, sepertinya Maria adalah orang asing di antara saya dan Tuhan, yang sebelumnya Ia memberi tahu saya bahwa tidak ada yang bisa memisahkan saya dari kasih-nya (Roma 8:38-39). Namun, dalam kerahiman-Nya, Ia memperkenalkan jiwa Maria kepada saya melalui mimpi. Aku bergumul dengan kata-kata untuk membenarkan dia kepadamu, namun Aku dapat berkata bahwa dia memuliakan (Lukas 1:46) rahasia dalam menggenapi misi Kristen kita ini. Dia menunjukkan kita sebagai anak-anak Hawa bagaimana membawa Yesus dengan baik dengan kerendahan hati dan ketaatan. Jika lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada orang kaya memasuki Kerajaan Allah (Markus 10:25), maka tidak ada jiwa yang lebih miskin atau lebih rendah hati daripada Maria.

Berlanjut ke tentang Ekaristi, sepertinya ada banyak istilah harfiah tentang makan daging-Nya dan minum darah-Nya dalam Injil Yohanes. Namun, gagasan yang menghampiri saya tentang makan tubuh manusia lain tampaknya bukan bagian yang sangat penting dalam agama Kristen. Saya pikir itu sebabnya Tuhan memilih untuk mengungkapkan Maria terlebih dahulu, kemudian Ekaristi. Maria membantu saya untuk mengenal Yesus lebih baik dan mengasihi-Nya seperti apa adanya. Maria membantu saya untuk memahami bahwa Yesus itu sepenuhnya manusia dan sepenuhnya Allah, dan Anda tidak bisa memisahkan kemanusian-Nya dari keliahian-Nya. Dengan kata lain, Tubuh dan Darah-Nya, Jiwa dan Keilahian-Nya adalah Allah dan juga manusia. Semua dalam diri-Nya adalah manusia dan semua dalam diri-Nya adalah Allah. Ketika saya mendalami misteri ini, saya mulai merasa kagum pada Allah-Manusia ini. Darah-Nya jauh lebih berharga daripada yang kita pahami sepenuhnya. Daging-nya jauh lebih surgawi daripada manna yang turun ke padang pasir (Yohanes 6:31-34). Dan keduanya telah membinasakan Iblis (Ibrani 2:14). Di sinilah saya mulai ingin menyatukan seluruh keberadaan saya dengan-Nya. Inilah harapan akan kebangkitan kita (Yohanes 11:25). Inilah harapan-Nya bagi dunia-Nya yang sudah hancur, karena tubuh-Nya hadir dalam tangan kita untuk menjadi tangan-Nya. Untuk pertama kali dalam kehidupan Kristen saya, iman saya telah memuaskan saya dan memperlengkap saya untuk melakukan kehendak-Nya (Ibrani 13:20-21).

Kesimpulan

Sedangkan suami saya, hatinya perlahan-lahan menghangat dengan gagasan Gereja Katolik. Tiga tahun setelah perubahan keyakinan yang saya alami, ia mulai mendukung saya untuk memasuki Gereja pada Paskah 2018. Karena ingin dibaptis, suami dan anak-anak kami dibaptis secara Katolik pada musim gugur berikutnya. Sejak saat itu, kami sudah menghadiri Misa bersama-sama sebagai satu keluarga, dan saya percaya bahwa Tuhan, yang memulai karya baik ini dalam diri kami semua dan akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Yesus Kristus (Filipi 1:6).

Ashley Stevens tinggal di sebuah kota kecil di wilayah utara Kanada bersama dengan suami dan ketiga orang anaknya. Ashley bertumbuh di keluarga yang tidak percaya akan iman apapun, menjadi seorang Protestan di masa remajanya dan kemudian bergabung dengan Gereja Katolik pada Paskah 2018. Saat ini Ashley bekerja sebagai Terapis Pijat paruh waktu. Kunjungi websitenya di simplethingspoetry.wordpress.com.

Sumber: “Tangible Faith”

Posted on 20 April 2020, in Kisah Iman and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: