Blog Archives

Ketika yang Dikehendaki Tidak Cukup – Kisah Sr. Miriam James Heidland, S.O.L.T.

Sr. Miriam James Heidland, S.O.L.T. (Sumber: chnetwork.org)

Sr. Miriam James Heidland, S.O.L.T. adalah penulis buku “Loved as I Am” yang diterbitkan oleh Ave Maria Press. Dia berbicara kepada Coming Home Network mengenai didikan keluarganya yang Katolik, bagaimana dia berpaling dari atlet mahasiswa di kampus, dan akhirnya menemukan kekuatan untuk percaya akan panggilan Allah dalam kehidupan religius.

Read the rest of this entry

Keindahan dari Kehancuran – Kisah Joelle Maryn

Joelle Maryn (Sumber: chnetwork.com)

Iman yang Bernyala-nyala

Dahulu, saya seorang gadis kecil yang rajin berdoa. Saya dilahirkan dan dibesarkan dalam Iman Katolik. Saya dibesarkan di kota kecil di negara bagian New York. Anda bisa melihat gereja St. Mary dan aula parokinya dari jendela ruang tamu di rumah kami. Presbiter paroki sering datang untuk makan malam, dan keluarga saya sangat terlibat di kehidupan menggereja. Iman saya begitu dalam, dan saya berbicara dengan Tuhan seolah-olah saya punya saluran telepon langsung. Saya merasakan kehadiran-Nya dalam hidup saya dan tahu kalau Ia bisa memindahkan gunung. Read the rest of this entry

Kecanduan dan Penebusan – Kisah Jim Wahlberg

Jim Wahlberg (Sumber: aetv.com)

Jika Anda memberi tahu saya sebagai seorang anak yang dibesarkan di Dorchester, Massachusetts tempat di mana saya berada hari ini, saya tidak akan mempercayainya. Saya tidak berpikir ada orang yang percaya hal itu bahwa Tuhan punya rencana yang berbeda. Saya menemukan mukjizat sejati yaitu ketenangan hati dan juga menemukan kepenuhan hidup dalam Yesus, dan hidup saya telah diubah secara permanen. Read the rest of this entry

Kembali dari Neraka – Kisah Elvis Gutierrez

Elvis Gutierrez (Sumber: Facebook)

Saya lahir di Yonkers, New York, di dekat Bronx. Kedua orang tua saya berimigrasi dari Republik Dominika, ayah saya pada tahun 1960-an sedangkan ibu saya pada tahun 1970-an. Keduanya berasal dari komunitas pedesaan yang bernama La Cidra, di mana masyarakatnya hidup dengan bercocok tanam. Air minum mereka berasal dari sungai, anak sungai, dan juga hujan. Tidak ada listrik, tidak ada tata kelola sanitasi, dan banyak penduduknya masih menunggangi kuda dan keledai. Read the rest of this entry

Kepenuhan Kehidupan – Kisah Christine Hall

Christine Hall (Sumber: chnetwork.org)

Saya lahir di Schenectady, New York pada tahun 1957 di sebuah keluarga Katolik yang sangat tradisional. Saya anak bungsu dari empat bersaudara. Empat bersaudara itu terdiri dari dua orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan. Kami semua bersekolah di sekolah Katolik dan setiap hari Minggu kami ikut Misa sebagai satu keluarga. Di rumah kami, kami punya satu gambar Yesus, sebuah patung Maria, dan beberapa salib (ber-corpus) yang diselipi daun palem dari perayaan Minggu Palma. Kami seperti keluarga Katolik Amerika pada biasanya. Kota tempat tinggal kami sangat Katolik. Hampir semua teman saya beragama Katolik, dan di setiap bagian wilayah kota ada sebuah paroki dan sekolah Katolik. Read the rest of this entry

Sukacita Pulang ke Gereja Katolik – Kisah Margaret Reveira

Margaret LaCovara-Reveira (Sumber: Facebook)

Pada bulan Maret 1984, di tengah krisis emosional yang saya alami, saya membuat keputusan untuk menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi saya. Saya menyadari kalau saya butuh bertumbuh dalam berbagai hal yang berhubungan dengan Tuhan dan membiasakan diri dengan Firman-Nya. Saya tidak takut “dijual” kepada Allah, karena kasih saya bagi Sang Juruselamat sudah dibina sejak masa kanak-kanak. Sebagai seorang pelajar Katolik yang usianya delapan tahun, ikut Misa harian adalah hal yang biasa, dan praktik ini berlangsung lama setelah ini. Secara harfiah, ada sukacita berada di hadirat Tuhan dan berdoa. Kendati demikian, saya masih melakukan hal yang sangat menyimpang dari-Nya, terutama di usia 20-an. Sepanjang hidup saya, penampilan saya sering dipertanyakan, dan meskipun humor yang menyindir menjadi bagian dari tata bicara saya, saya tidak punya harga diri yang pantas, memulai pencarian cinta yang tak ada hentinya. Saya dengan cepat mengadopsi gaya hidup pergaulan bebas sebagai sarana untuk memuaskan tujuan saya. Namun, hal itu sia-sia. Terlepas dari kesenangan fisik, sebagaian besar perjumpaan yang saya alami tidak menghasilkan apa-apa selain dari kejatuhan emosional. Read the rest of this entry

Memandang Gereja dengan Mata yang Baru – Kisah Doug Doughan

Doug Doughan (Sumber: chnetwork.org)

Saya dibesarkan dalam keluarga Katolik yang hebat. Kami adalah delapan anak dan kedua orang tua kami memastikan supaya kami bertumbuh besar untuk memuji dan menyembah Tuhan. Kami berdoa saat makan dan hari Minggu adalah hari istirahat. Kami bekerja keras dalam sepekan dan ke gereja setiap akhir pekannya dan juga ikut kelas ketakisasi. Saya masih ingat ketika saudara laki-laki saya sedang berada di gereja dan kami mulai cekikikan karena ada sesuatu yang kami anggap lucu, dan kami hanya akan merasakan tepukan di kepala kami dari salah satu orang tua kami. Gereja merupakan tempat penghormatan dan rasa kagum. Meskipun ikut Misa adalah hal yang wajib dalam keluarga kami, saya selalu merasakan suatu perasaan butuh atau ingin untuk berada di sana. Banyak teman saya yang beragama Katolik dan ikut serta di kelas katekisasi bersama saya. Saya sering diingatkan untuk tidak bertanya, cukup percaya saja, dan sebagian besar saya melakukannya demikian. Tapi seperti banyak anak lainnya, ketika mencapai usia remaja, iman menjadi hal yang kurang berarti bagi saya. Read the rest of this entry

Katolik Suam-suam Kuku Jadi Presbiter – Kisah Romo Jeffrey Kirby, STD

Father Jeffrey Kirby, STD (Sumber: frkirby.com)

Dibayang-bayangi Kristus

Seorang penulis Katolik yang bernama Flannery O’Connor menggambarkan bahwa orang-orang Amerika Serikat bagian tenggara sebagai orang-orang yang “Christ-haunted/dibayang-bayangi Kristus.” Dengan ungkapan sederhana itu, seorang novelis hebat menggambarkan sesuatu relitas yang menyedihkan tentang meninggalkan (atau mengabaikan) iman Kristen, sementara itu orang-orang di sana masih dibayang-bayangi keyakinan intinya. Orang-orang wilayah selatan secara historis dibayang-bayangi oleh penerimaan akan perbudakan, dan orang-orang wilayah barat sedang mengalami kedatangan spiritual yang sama. Ketika saya memulai kisah perubahan keyakinan yang saya alami, saya harus mengakui bahwa ekspresi dari O’Connor tentang dibayang-bayangi Kristus juga menggambarkan masa kecil saya sendiri dan perjumpaan pertama yang terselubung yang saya alami dengan Tuhan Yesus. Mari saya jelaskan. Read the rest of this entry

%d bloggers like this: