Mengapa Ada 10 Tulah di Mesir?

Oleh Gary Michuta

The Seventh Plague (1823) karya John Martin

Salah satu peristiwa penting dalam sejarah keselamatan adalah pembebasan dari Mesir (eksodus). Bangsa Israel terjebak dalam perbudakan di Mesir dan Allah memanggil Musa untuk membebaskan mereka. Allah berfirman kepada Musa, “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas …” (Keluaran 3:7-8).

Apa yang menarik tentang pembebasan yang dilakukan Allah kepada bangsa Israel adalah cara Allah melakukannya. Allah bisa saja mengirimkan Musa ke hadapan Firaun dengan pesan “Biarkanlah umat-Ku pergi,” melakukan satu mukjizat yang menakjubkan, dan bangsa Israel akan dibebaskan untuk pergi ke Tanah Terjanji. Namun Allah tidak melakukannya. Sebaliknya, Allah memilih cara melalui 10 tulah. Mengapa? Karena perbudakan yang dialami bangsa Israel di Mesir sudah melampaui perbudakan fisik, mereka juga berada dalam perbudakan rohani. Oleh karena itu, bangsa Israel perlu melarikan diri bukan hanya dari Mesir, namun juga dari penyembahan berhala. Karena alasan inilah, Allah tidak segera berkata kepada Firaun, “Biarkanlah umat-Ku pergi.”

Sebaliknya, perintah Allah yang pertama adalah supaya bangsa Israel diizinkan untuk pergi ke padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya untuk mempersembahkan korban (Keluaran 3:18). Mengapa bangsa Israel perlu mempersembahkan korban di padang gurun bukannya di Mesir saja? Karena bangsa Israel akan menolak dewa-dewa Mesir dengan menjadikan hewan-hewan yang disembah orang Mesir sebagai kurban. Seandainya bangsa Israel mempersembahkan korban hewan-hewan ini di kota, mereka akan dilempari batu (Keluaran 8:26). Maka dari itu, langkah pertama dalam eksodus adalah membebaskan bangsa Israel dari penyembahan berhala.

Mengetahui bahwa Firaun akan menolak perintah ini, Allah sendiri mempersembahkan kurban-kurban ini secara simbolis melalui 10 tulah, yang masing-masing tulah mewakili para dewa Mesir. Contohnya, tulah pertama yaitu mengubah air menjadi darah. Tulah ini sepertinya ditujukan kepada dewa Mesir yang bernama Hapi, Dewa Sungai Nil. Tulah katak mewakili dewi Haqet yang digambarkan sebagai katak.

Tulah ketiga dan keempat yaitu nyamuk dan lalat pikat yang agak sedikit sulit diidentifikasi. Hewan-hewan itu mungkin ditujukan kepada Uatchit (Wadjet –red.), dewa yang digambarkan seperti tawon ichneumon (serangga yang bentuknya seperti ular bersayap –red.), atau salah satu dari dewa-dewa lainnya. Tulah kelima, kematian pada hewan ternak, mewakili Apis, dewa banteng dan Hathor, seorang dewi padang gurun yang digambarkan berkepala sapi. Tulah barah dan luka menunjukkan ketidakberdayaan Sekhmet, dewi penyembuh, atau mungkin juga Thoth, dewa yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan kedokteran. Tulah hujan es ditujukan pada Nut, dewi langit.

Tulah kedelapan adalah serbuan belalang. Inilah hukuman bagi Senehem, dewa berkepala belalang (bisa juga kepada Neper, dewa benih –red.). Tulah kesembilan adalah gelap gulita selama tiga hari, yang ditujukan kepada beberapa dewa matahari diantaranya Ra, Aten dan Atum. Dan tulah yang terakhir adalah kematian anak laki-laki sulung yang akan menunjukkan ketidakberdayaan Osiris, dewa kehidupan dan pelindung Firaun.

10 tulah di Mesir bukan sekadar unjuk kekuatan atau semacam permainan “pemecahan masalah.” Namun sebagai penghakiman atas praktik penyembahan berhala bangsa Mesir (Bilangan 33:4), di mana Allah menyatakan diri-Nya kepada allah-allah palsu bahwa mereka tidak ada bandingannya dengan Allah yang benar dan hidup.

Seseorang akan berpikir setelah melihat apa yang Allah lakukan kepada allah-allah palsu dan juga bangsa Israel tidak akan kembali ke jalan hidup mereka yang dahulu, namun yang terjadi tidak demikian. Ada istilah, “Anda bisa membawa seorang anak keluar dari negeri itu, tapi Anda tidak dapat mengeluarkan negeri itu dari si anak” (yang artinya sulit untuk mengubah kebiasaan lama yang ada dalam diri seseorang –red.).

Hal yang sama berlaku untuk orang Israel. Beberapa bab dalam kitab Keluaran dikisahkan bahwa bangsa Israel menyembah  seekor anak lembu emas yang mereka buat dengan bentuk Apis, dewa kesuburan Mesir, dengan berkata, “Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!” (Keluaran 32:4). Meskipun bangsa Israel sudah dibebaskan dari perbudakan fisik, namun mereka masih berada dalam perbudakan rohani.

Bagian lainnya dalam Perjanjian Lama mencatat emansipasi rohani bangsa Israel, yang berpuncak pada kedatangan Musa baru, yang mendirikan Paskah baru, dan membuka jalan menuju tanah terjanji sejati kita di Surga, yaitu dalam diri Yesus Sang Mesias.

Gary Michuta adalah seorang apologis, penulis dan pembicara dan juga umat paroki St. Michael the Archangel di Livonia.

Sumber: “Why the 10 plagues on Egypt?”

Posted on 6 March 2020, in Kenali Imanmu, Kitab Suci and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: