Kembali dari Neraka – Kisah Elvis Gutierrez

Elvis Gutierrez (Sumber: Facebook)

Saya lahir di Yonkers, New York, di dekat Bronx. Kedua orang tua saya berimigrasi dari Republik Dominika, ayah saya pada tahun 1960-an sedangkan ibu saya pada tahun 1970-an. Keduanya berasal dari komunitas pedesaan yang bernama La Cidra, di mana masyarakatnya hidup dengan bercocok tanam. Air minum mereka berasal dari sungai, anak sungai, dan juga hujan. Tidak ada listrik, tidak ada tata kelola sanitasi, dan banyak penduduknya masih menunggangi kuda dan keledai.

Di Yonkers, ayah saya bekerja sebagai pekerja konstruksi, sedangkan ibu saya diam di rumah untuk merawat saya dan kakak perempuan saya. Melalui kerja keras mereka, mereka bisa menyekolahkan kami ke sekolah Katolik terdekat. Bagaimanapun juga, kami adalah Katolik, dan kedua orang tua kami membesarkan kami dalam iman. Saya masih ingat ketika ibu saya pulang ke rumah pada hari Kamis malam setelah menjadi sukarelawan di Bingo Night di sekolah kami, dan dia mencium kami ketika kami tertidur. Dia menjadi sukarelawan karena pekerjaan itu bisa membantu membayar uang sekolah kami.

Sebagai seorang anak, saya tidak mengerti tentang apa yang sedang diajarkan dalam iman ini, atau kenapa iman itu penting. Iman saya sangat sederhana: Saya percaya akan Kristus dan mengakui bahwa Maria dalah ibu rohani saya, hanya itu saja.

Selama tahun-tahun awal di sekolah kami, lingkungan di sekitar saya berubah. Hip hop meledak di sepanjang jalan dan di setiap jam, dan pengedar narkoba menjual barang dagangan mereka di siang bolong. Ada kesepakatan yang tak terucapkan antara pengedar narkoba dengan warga sekitar: warga sekitar menutup mata akan adanya pengedar narkoba, dan pengedar narkoba membiarkan mereka, bahkan bersikap ramah terhadap warga. Saya masih ingat ketika melihat mereka membantu membawakan belanjaan seorang wanita lanjut usia dan mengucapkan selamat malam. Semua pemandangan ini adalah hal biasa di masa kecil saya, meskipun sekarang, sebagai seorang dewasa, saya merasakan kesedihan yang mendalam bagi anak-anak yang harus tumbuh dalam lingkungan seperti itu.

Seiring bertambahnya usia, saya menjadi terpikat dengan musik hip hop, dan teman-teman masa kecil saya berkisar dari siswa berprestasi sampai ke para pengedar narkoba. Ayah saya mulai melakukan perjalanan kembali ke Republik Dominika selama enam bulan penuh, dan meninggalkan ibu saya mencari nafkah dan membesarkan anak-anak sendirian. Akibatnya, satu-satunya panutan pria yang saya punya adalah orang-orang yang saya lihat di televisi dan para pengedar narkoba di jalanan. Hati saya memberi tahu saya kalau para pengedar narkoba melakukan perbuatan yang salah, dan ada seorang anak tetangga yang usianya lebih tua, yang tinggal di lantai bawah kami, yang memaksa saya untuk tetap berada di atas dan menjauh dari mereka.

Ada seorang pria bernama Anthony Fellicisimo, yang pernah menjadi seorang seminaris Fransiskan. Ia berusaha membantu anak-anak komunitas kami. Ia mendirikan sebuah kelompok pemuda yang disebut Shepherd’s Place. Kami memanggilnya Tony, ia akan memasuki lingkungan terburuk untuk mengajar orang muda tentang kasih Allah. Saya sangat menghargai pria itu, karena apa yang telah ia lakukan kepada saya dan anak-anak. Tony diludahi, ditodong pisau, ia juga dipermalukan dan diejek, meskipun diperlakukan demikian ia terus berusaha membantu orang muda. Ia menjadi figur ayah bagi banyak orang yang tidak punya ayah di rumah mereka.

Pada tahun 1996, Tony membawa dua orang seminaris Fransiskan (CFR) untuk membantunya di perkumpulan pemuda. Nama mereka adalah Bruder Juniper dan Bruder Sylvester. Pada saat itu, saya sangat terpikat dengan musik hip hop, ingin menjadi “pria tangguh.” Panutan yang membentuk diri saya bukanlah ayah saya, atau juga Tony, melainkan seorang rapper yang bernama Tupac Shakur. Saya masih ingat dengan Bruder Juniper, yang sekarang menjadi seorang presbiter dan menggunakan nama kelahirannya, Romo Brian Sistare, yang melayani di Rhode Island. Ia orang pertama yang menemukan diri saya di tempat saya dulu berada. Ia secara pribadi berteman dengan saya dan sangat tertarik untuk mencari tahu mengapa saya begitu tertarik dengan Tupac. Berkali-kali ia duduk bersama saya dan mendengarkan saya mengobrol tentang kehidupan saya dalam berbagai aspek yang berkaitan dengan kehidupan Tupac. Saya merasa sendirian, depresi, maka saya harus tegar. Saya tidak ingat kisah yang hendak ia ceritakan pada saya, tapi saya ingat bagaimana ia akan berbicara kepada saya tentang kasih Kristus dengan cara yang bisa dipahami dan yang ada kaitannya.

Ketika saya berusia 18 tahun, saya meninggalkan Shepherd’s Place, dan tidak lagi ke gereja bersama dengan ibu saya. Saya merasa kalau diri saya itu terlalu tua untuk itu, dan saya perlu melakukan banyak hal dengan cara saya sendiri. Saya tersesat selama dua tahun, tidak punya arah hidup, hanya menjalani hari demi hari, dan setelah dua kali putus kuliah, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi teknisi medis darurat (Emergency Medical Technician/EMT) di negara bagian New York. Pada bulan Juli 2000, saya menjadi EMT yang lolos kualifikasi. Saya masih ingat akan ketakutan dan kecemasan yang menghampiri dengan pekerjaan seserius EMT, yang secara harfiah membuat kesehatan dan nyawa seseorang ada di tangan saya. Saya juga mengejar karir di bidang musik dengan memulai label rekaman saya sendiri.

Pada tanggal 11 September 2001, saya dirawat dan sedang pemulihan dari cedera bahu akibat pekerjaan, dan saya menerima panggilan telepon dari sepupu saya yang memberi tahu saya untuk menyalakan televisi bahwa World Trade Center baru saja diserang. Awalnya saya mengira kalau ia sedang bercanda, namun saya melihat kepanikan dalam wajah ibu saya, maka saya tahu kalau berita itu benar. Saya segera menelepon majikan saya, menawarkan diri untuk membantu di World Trade Center, namun karena cedera yang saya alami, mereka tidak mengizinkan. Kemudian, saya menerima telepon dari sahabat saya yang bernama Irving dan kakaknya yang bernama Ramon, mereka juga adalah EMT, dan kami mengambil tanggung jawab untuk ke sana dan memberikan bantuan. Saya masih ingat Ketika mengemudi di West Side Highway, melihat asap dan gedung-gedung dari kejauhan, disemangati oleh ribuan warga New York. Saat kami mendekati tempat kejadian, besarnya situasi ini membebani kami.

Akhirnya kami tiba di tempat kejadian. Tenggorokan kami terbakar karena asap, mata kami seperti dicucuki belati kecil. Kami terkejut dengan kehancuran, sedih dengan tulisan-tulisan kepada orang-orang yang mereka kasihi di dinding-dinding dengan abu dari reruntuhan bangunan. Saya tidak percaya bagaimana bisa sebuah truk pemadam kebakaran bisa terbalik seperti kaleng minuman ringan yang rusak. Kami bertugas di keesokan harinya, berusaha membantu menyelamatkan siapa pun yang kami mampu, saling mengoper ember-ember puing-puing reruntuhan dalam menemukan orang yang selamat.

Bahkan setelah menyaksikan kekacauan di World Trade Center dan juga penderitaan dan kehilangan nyawa yang saya lihat dari orang-orang yang bertahan hidup di pekerjaan saya sehari-hari, saya masih tidak mencari Allah. Saya merasa bahwa saya memiliki-Nya di dalam hati saya, dan itu sudah cukup baik. Saya masih ingat perkataan orang-orang, “Mayoritas orang-orang yang meninggal di hadapan saya, mereka tidak berharap akan meninggal pada hari itu.” Meskipun sudah menjalani semua situasi tersebut, saya tersesat dalam ketidaktahuan saya. Saya sudah melepaskan Allah, tapi Allah tidak pernah melepaskan saya.

Waktu saya bekerja sebagai EMT, saya bertemu dengan seseorang yang akan mengubah hidup saya. Dia adalah seorang rekan satu shift, dan tak lama kemudian kami jatuh cinta. Tapi ada masalah besar, dia sudah menikah dan punya seorang anak. Dia tidak bahagia dengan perkawinannya dan ingin bercerai, tapi karena situasi ekonomi tidak bisa meninggalkan suaminya. Maka, kami memulai hubungan rahasia yang berlangsung hampir dua tahun. Bukan Allah, melainkan nafsu yang menjadi pusat hubungan kami. Karena masa muda dan kenaifan saya, saya hanya hidup bersama dengannya.

Ketika kami melanjutkan hubungan rahasia kami, hidup saya terbagi-bagi antara mencintainya, mencintai keluarga saya, dan ambisi saya untuk menjadi seorang maestro musik. Karena situasi kami, kami tidak dapat sering bertemu seperti yang kami inginkan, ketika kami bertemu, waktu dan pikiran saya terbagi antara dia dan ambisi saya. Akhirnya, dia hamil, dan saya ingat ketika saya membayangkan berkeluarga dengannya. Tetapi, pada masa itu, saya masih tinggal bersama ibu saya, yang berpikir bahwa kami sekadar berteman. Saya juga punya kelainan, karena hernia yang saya alami akibat pekerjaan, waktu saya berusaha menyelamatkan nyawa seseorang yang mencoba bunuh diri. Saya tidak bisa memberikan stabilitas keuangan apa pun baginya, juga bagi anak kami yang belum lahir dan anaknya dari perkawinannya, sehingga dia memutuskan untuk menggugurkan bayi kami. Saya masih ingat dengan percakapan kami, ketika kami duduk di mobil dan berbicara kalau saya tidak mau dia menggugurkan anak kami, namun dia menyatakan bahwa kami tidak punya pilihan. Dua pekan kemudian, dia melakukannya.

Setelah peristiwa itu, segalanya tidak pernah sama lagi. Dia meninggalkan saya pada tahun 2004, satu pekan sebelum hari Valentine. Perpisahan kami merusak bagian hati saya yang tidak saya ketahui bahwa itu ada, dan aborsi itu melukai saya yang menghantui saya selama bertahun-tahun. Saya berhenti bekerja sebagai EMT karena tubuh saya tidak sanggup lagi menanggung beban dan kelelahan. Saya baru berusia 23 tahun dan sudah merasa diri saya hancur secara fisik, mental, emosional, dan spiritual.

Saya masih ingat masa-masa kejatuhan saya dan malam-malam yang tidak bisa dihitung jumlahnya saat saya pulang petang hari dalam keadaan mabuk, dengan ibu saya berbaring di sofa atau berlutut sambil berdoa rosario dan dia tampak kelelahan. Apa yang dia perbuat mengingatkan saya akan St. Monika dan cinta yang dia miliki untuk putranya yang bandel yaitu Agustinus, yang akhirnya kembali ke jalan yang benar dan menjadi orang suci seperti dia.

Saya terus melanjutkan ambisi saya dalam bidang musik, dengan suka dukanya, sampai saya menjadi sangat lelah dengan label rekaman independen kepunyaan saya itu. Pada saat itu, saya didekati untuk menjadi manajer seorang artis Latin yang dikontrak oleh agensi musik ternama yang dimiliki oleh artis nominasi Grammy, yang dianggap sebagai legenda di komunitas hip hop. Bahkan dengan hati saya yang hancur, perhatian dan keterkenalan yang saya peroleh dalam pergaulan saya dengan agensi yang ternama itu dan para artisnya membuka pintu ke suatu dunia baru. Saya mulai menghidupi kehidupan yang penuh hawa nafsu dan menjadi seorang playboy. Saya tidak peduli dengan minat emosional wanita. Sakit hati yang saya alami sebelumnya dari perpisahan dengan seorang wanita yang saya anggap sebagai “permainan” yang akan dimainkan oleh banyak wanita beralih menjadi malam-malam yang dihabiskan dengan mabuk-mabukan dan dilakukan terus menerus. Maka dari itu, saya menjadi seorang yang egois dan narsistik.

Saat ini saya tinggal sendirian, tapi ibu saya tahu ada sesuatu yang salah dalam diri saya, bahwa saya bukanlah anak laki-laki yang lugu lagi yang dia besarkan. Saya menjadi berhati dingin dan egois, penuh hawa nafsu dan menadi orang yang tidak menyenangkan untuk didekati. Karena didikan saya yang menyaksikan teladan-teladan negatif yang saya terima sebagai panutan saya, sekilas adalah kekerasan, narkoba, kematian, dan secara umum rasa sakit, maka hal itu membuat saya tidak peka terhadap perasaan orang lain terhadap saya. Saya mulai hidup untuk diri saya sendiri, pada dasarnya menjadi allah bagi diri saya sendiri. Saya lebih peduli tentang apa yang dilihat dunia daripada yang Allah telah ciptakan, sampai saya mencapai suatu titik di mana saya benar-benar meninggalkan iman saya yang kecil itu. Singkatnya, saya menjadi seorang ateis.

Pada bab ini hidup saya berakhir, saya menjadi pribadi yang hancur, terluka oleh pengalaman dan situasi buruk di seumur hidup saya. Saya telah ditinggalkan teman-teman lama saya, tinggal Bersama dengan beberapa wanita, dan menjadi musuh bagi banyak orang yang saya kasihi seperti kakak perempuan dan sepupu saya. Kemudian Allah dalam kebijaksanaan-Nya akan mengubah hidup saya dengan cara yang tidak bisa saya halang-halangi.

Pada tahun 2008, saya pergi ke Republik Dominika untuk menyaksikan perkawinan sakramental saudara perempuan saya. Saya menghabiskan waktu beberapa pekan di pedesaan, dan tak lama setelah perkawinan itu, pada hari ulang tahun saya, Allah memperkenalkan saya kepada seorang wanita yang kemudian menjadi istri saya, ibu bagi anak-anak saya, pendukung pribadi saya, sahabat saya, dan belahan jiwa saya. Saya tidak berniat ke Republik Dominika untuk bertemu dengan wanita yang akan saya nikahi. Saya masih seorang yang suka main wanita, seorang yang suka pesta sambil mabuk-mabukan … tapi Allah punya rencana buat saya.

Dalam beberapa bulan setelah bertemu dengan calon istri saya, saya melamarnya. Namun, sebulan sebelum jadwal perkawinan kami, saya kehilangan penglihatan. Diagnosisnya adalah neutitis optik yang parah. Pada waktu itu, sedikit yang saya tahu, maka ini menjadi tanda pertempuran yang saya harus tanggung selama sisa hidup saya, karena beberapa tahun kemudian, saya akan didiagnosis dengan sklerosis multipel. Ini menjadi salib yang harus saya peluk, dipersembahkan, dan dipanggul.

Pada masa ketidakpastian ini, jiwa saya pasti sedang menangis, karena saya terus berpikir, “Panggil Tony! Kamu perlu bicara dengan Bruder Juniper.” Di dalam batin saya, saya ingin disembuhkan secara rohani. Tony, teman lama saya itu memang membantu saya menghubungi Bruder Juniper yang sekarang adalah Romo Brian, dan ketika kami mengobrol, ia memberi tahu saya kalau ia tidak ingat dengan wajah saya, namun ia mengenal saya secara pribadi, dan 13 tahun kemudian, ia masih punya lirik lagu Tupac di lemarinya, sesuatu yang sangat berarti bagi saya pada saat itu. Meskipun jiwa saya haus akan Allah, tetapi kedagingan saya belum siap. Setelah menerima perawatan selama beberapa pekan, saya kembali ke Republik Dominika dan menikah dengan resmi dengan istri saya. Saya masih ingat permohonannya supaya menikah secara sakramental di Gereja, namun saya menolak untuk ikut kursus Pra-Kana (Di Indonesia dikenal sebagai Kursus Persiapan Perkawinan/KPP –red.), dan presbiternya yang bertindak dengan penuh tanggung jawab, tidak memperkenankan saya untuk menikahinya tanpa pembinaan yang tepat dan persiapan sakramental.

Pada bulan Mei di tahun berikutnya, akhirnya istri saya tiba di New York, namun beberapa bulan kemudian, kehidupan keluarga saya kacau kembali. Pada bulan Oktober 2010, adik sepupu saya yang bernama Robert “Kenny” Areizaga dibunuh secara brutal Ketika hadir di pesta Halloween. Saya masih ingat kemarahan yang saya rasakan, pikiran jahat tentang kemarahan dan hasrat balas dendam. Ia masih berusia 19 tahun, seorang anak yang baik dan pendiam. Ia bukan anak yang suka membuat onar, hanya remaja biasa yang mencoba menjalani hidup. Saat pemakamannya, saya berjumpa dengan seorang presbiter yang Allah gunakan untuk menyelamatkan saya dari diri saya sendiri dan membawa saya pulang. Namnya adalah Romo Joseph Espailliat, mantan direktur pelayanan orang muda untuk Keuskupan Agung New York dan saat ini adalah pastor paroki St. Anthony de Padua dan juga direktur Catholic Charismatic Center of New York. Saya masih ingat ketika presbiter ini memberikan khotbah yang kuat ketika pemakaman sepupu saya sehingga membuat orang-orang tahu tentang di mana mereka berada. Ia membuat hari yang buruk menjadi lebih baik.

Beberapa bulan kemudian, istri saya hamil anak pertama kami, dan saya menerima kabar dari seorang teman yang paling senior yang bernama Jesús “Chuito” Encarnacion (teman karibnya memanggilnya “Chewie”), ia didiagnosis menderita kanker. Saya ingat Ketika saya merasa kaget, karena saya tidak pernah mengenal orang yang sangat dekat dengan saya terserang kanker. Sekali lagi, saya berada di baris depan penderitaan. Ketika diagnosisnya mulai memburuk, saya teringat Romo Joseph dan karunianya yang khas untuk berhubungan dengan orang-orang dan membawakan Injil kepada orang-orang dengan cara yang penuh makna. Ia mengingatkan saya akan Bruder Juniper, dan ada sesuatu di hati saya yang menyuruh untuk meneleponnya.

Akhirnya saya menelepon paroki St. Peter di Yonkers, NY, tempat di mana Romo Joseph menjabat sebagai pastor, tapi pada waktu itu ia tidak ada. Saya rutin meneleponnya, saya tidak mengenal lelah. Chuito merupakan teman masa kecil saya dan merupakan seorang ayah, putra, dan teman. Tetapi, ia tidak punya ayah, maka ia berakhir dengan sangat hancur dan ia melakukan banyak pilihan buruk di sepanjang hidupnya.

Waktu itu saya terbagi antara agnostisisme dan ateisme, tetapi saya terus berpikir, “Jika apa yang saya pelajari ketika saya dibesarkan itu benar, dan neraka itu nyata, saya tidak ingin teman saya berada di sana.” Pikirin seperti ini terus berulang dalam benak saya. Kemudian saya sendiri berpikir, “Semua yang gereja mau adalah uang, jadi saya akan menawarkan uang sebesar $10.000 kepada Romo Joseph, dan jika saya menelepon dan ia menjawabnya, maka saya akan tahu mengapa ia ingin menelepon saya kembali.” Saya juga berpikir jika saya melihatnya dan menawarkannya uang itu, dan ia mencoba mengambil atau memintanya, meskipun saya tidak punya uang sebanyak itu, saya akan memukulnya karena ada unsur penipuan. Bahkan Ketika Allah mencoba bekerja melalui saya untuk membantu teman saya, setan mencari cara untuk mendorong pikiran negatif ke dalam pikiran saya.

Akhirnya, saya menghubungi Romo Joseph dan membawanya menemui Chuito. Ia bersama dengan Chuito selama lima jam. Begitu ia keluar, saya bertanya apakah ia sudah makan. Ia bilang belum, maka saya dan istri saya mentraktirnya makan di sebuah restoran Chinese food di dekat parokinya. Dalam perjalanan, ia bertanya kepada saya dan istri saya apakah kami menikah secara sakramental dan juga ia tahu kalau istri saya sedang hamil. Ia menawarkan kami “dua hal dalam satu kesepakatan.” Ia menyatakan bahwa ia akan menikahkan kami dan membaptis anak kami pada satu hari yang sama, dan bahwa ia tidak akan meminta donasi dari kami, ia hanya ingin kami kembali ke Gereja Katolik dan menjalani kehidupan Kristen yang sejati. Dengan pikiran seperti itu, istri saya gembira dan akhirnya sepakat untuk membuatnya Bahagia. Kemudian saya bertanya apakah ia bersedia menerima uang $10.000 dari saya. Ia mengatakan bahwa ia tidak mau, ia tidak melakukan pekerjaan Allah demi uang, ia hanya berusaha untuk membawa jiwa-jiwa kembali kepada Kristus.

Bulan demi bulan berlalu, Chuito melanjutkan perjuangannya melawan kanker. Pada tanggal 6 Oktober 2011, putra kami Elian lahir. Sekarang saya seorang pria menikah dan seorang ayah, dengan seorang sahabat yang sedang sekarat. Akhirnya, pada tanggal 7 Desember 2011, sahabat saya, saudara saya, Jesus “Chuito” Encarnacion kalah dalam pertempuran melawan kanker.

Romo Joseph ada di sana sehari sebelum ia meninggal, dan saya ingat dengan jelas, saat-saat ketika kami berada di Rumah Sakit Calvary di Bronx, yang merupakan tempat ia dirawat. Romo Joseph berkata kepadanya, “Jangan takut Chuito. Perkenankan Allah membawamu. Jangan khawatir tentang keluargamu. Mereka ada di tangan Tuhan.” Saya ingat ketika meninggalkan ruangan itu, karena meskipun saya sudah melihat banyak orang yang meninggal ketika bertugas menjadi EMT, saya belum pernah melihat seseorang yang begitu dekat dengan saya meninggal, dan saya tidak sanggup menghadapinya. Ketika kami berada di lorong rumah sakit, sebelum saya pergi dari sana, Romo Joseph mengundang saya untuk ikut retret yang ia rencanakan. Saya tidak mau ikut, tetapi ia menyuruh saya untuk mencoba ikut retret itu. Secara pribadi, saya merasa berhutang budi kepada Romo Joseph, karena saya sudah tiga kali memanggilnya dalam peristiwa yang berbeda dan juga memberi tahu Chuito akan meninggal, dan ia selalu ada setiap kalinya, dan memberikan urapan orang sakit, dan menghibur keluarga yang sedang bersedih.

Suatu malam sebelum retret, saya bermimpi. Saya melihat Chuito, dan saya bangun dari tempat tidur saya, mendengarkan suaranya dengan jelas yang memberi tahu saya supaya mengikutinya. Saya melalukannya dan menemukan lantai kotor. Ada makhluk-makhluk aneh di lantai. Di belakang saya ada bayang-bayang orang, namun saya tidak bisa mengenalinya. Setelah saya mengalihkan pandangan dari Chuito, ia sudah tidak ada lagi di sana, namun saya merasakan kalau ia masih berjalan di sebelah saya melalui lorong rumah saya, yang menjadi sangat panjang dan gelap. Ia memberi tahu saya, “Kamu akan masuk ke dalam terang. Tolong jangan lupakan orang yang kucintai.” Lalu ada cahaya putih yang kuat yang menerangi lorong itu. Saya tidak memahami maksud Chuito, tapi saya membangunkan istri saya dan menceritakan mimpi saya itu.

Di retret itu, saya merasa terasing, karena peserta retret lain datang bersama dengan kelompok mereka, sementara saya datang sendirian. Pada masa itu, saya tidak mengerti bahwa ini adalah pelajaran dari Allah, bahwa keselamatan adalah hal pribadi. Ada seorang pria yang tidur di asrama saya, Namanya Juan dan ia orang Katolik yang kembali ke iman Katolik (revert). Ia dibesarkan sebagai Katolik, namun kehilangan kehidupannya di jalanan, di mana ia menjadi pemimpin geng. Ia pernah ditembak, ditusuk, dan berjuang hidup dalam keadaan koma, dan menjalani hukuman lima tahun penjara karena penyelundupan antar negara bagian. Selain Romo Joseph sendiri, Juan adalah satu-satunya orang yang berusaha menjumpai saya di tempat saya berada.

Retret ini adalah retret yang hening, dan saya sendiri punya keraguan dengan ikut retret ini, kemudian saya mengerti bahwa inilah suatu pendekatan yang bisa membantu saya mengatasi kehilangan sahabat saya dan juga tekanan-tekanan kehidupan lainnya.

Selama akhir pekan itu, saya menceritakan kisah Chuito kepada dua orang wanita yang mau mendengarkan. Entah dari mana, istri Juan yang ikut retret dengannya, mengatakan sesuatu yang tidak bisa saya lupakan: “Selama ini, kamu mengira bahwa kamu sedang bekerja menyelamatkan jiwa temanmu namun tidak pernah memperhatikan bahwa Allah menggunakan temanmu itu untuk menyelamatkan nyawamu sendiri.” Pernyataan itu membuat saya kaget dan tidak bisa berkata-kata.

Sepanjang retret itu berlangsung, Romo Joseph menunjukkan Yesus dalam Sakramen Mahakudus untuk adorasi. Kami bergiliran masuk ke dalam ruangan bersama dengan Kristus. Ketika giliran Juan, saya memutuskan untuk ikut bersamanya. Juan mengatupkan tangannya dan berlutut sambil menundukkan kepada sampai ke lantai dalam postur penyembahan. Saya tidak bisa memahami mengapa ia melakukannya. Saya masih ingat ketika saya bertanya kepadanya, “Mengapa kamu melakukannya? Itu kan Cuma sepotong roti yang bisa kamu dapatkan di took dan anggur cuma sesuatu yang bisa kamu beli di supermarket?” Juan menjawab, “Awalnya memang demikian, tetapi jika Allah adalah Allah, Ia bisa melakukan apa yang Ia kehendaki. Ia menghadirkan diri-Nya sendiri ketika roti itu menjadi Tubuh-Nya dan anggur itu menjadi Darah-Nya.”

Ketika retret itu berakhir, saya pulang ke rumah. Ibu saya terus menayakan apakah saya berjumpa dengan Kristus. Saya mengatakan bahwa tidak ada apa-apa, tetapi memang benar kalau saya tidak merasakan apa-apa.

Romo Joseph adalah orang yang gigih. Ia mengundang saya ke kelompok orang muda mingguan untuk menjadi sukarelawan. Saya tidak tahu kenapa, tetapi saya ikut ke sana. Saya melihat bagaimana mereka memperlakukan remaja, dan itu mengingatkan saya kembali pada pengalaman saya di Shepherd’s Place. Romo Joseph telah menempatkan putra rohaninya dan salah satu pembantunya yang paling dipercaya untuk mendampingi. Nama orang itu adalah Carlos Gutierrez. Saya terhibur dengan kebetulan kalau orang itu memiliki nama belakang yang sama dengan saya.

Sementara itu saya dikucilkan oleh semua orang di komunitas gereja, tapi Carlos dan keluarganya membuka tangan mereka untuk saya dan keluarga saya. Mereka menunjukkan cinta yang tidak bisa saya pahami. Saya melihat kasih Kristus dalam perilaku mereka, saya melihat wajah Yesus dan Keluarga Kudus dalam tindakan mereka. Kadang-kadang saya memberi tahu istri saya bahwa saya merasakan lebih banyak dihargai dari mereka yang ada di jalanan daripada dari mereka yang ada di dalam gereja, tetapi Allah menjaga keluarga ini tetap dekat dengan saya, untuk menunjukkan kepada saya bahwa seperti apa kasih-Nya itu.

Sebulan kemudian, Romo Joseph mengundang saya ke retret lainnya, ia memberi tahu saya bahwa ia tidak akan mengundang saya lagi jika saya keberatan, tapi mohon pertimbangkan untuk ikut retret yang satu ini. Saya enggan menerima undangan itu, sedikit yang saya ketahui bahwa hidup saya akan berubah selamanya dalam waktu singkat itu dengan Tuhan. Ia mengundang saya untuk membantu sukarelawan di retret orang muda. Ia membuat saya sangat dekat dengan-Nya di sepanjang waktu, dan ketika ia tidak ada, Juan dan Carlos ada bersama saya. Romo Joseph memberikan saya tugas-tugas kecil: menyajikan sandwich dan jus dan melibatkan saya dalam peran kecil dalam drama. Pada Sabtu malam itu, kami ikut ibadah yang sangat kuat, tida seperti yang sudah-sudah. Menuliskan hal itu tidak akan cukup untuk menjelaskan dengan baik bagaimana Allah bekerja atas diri saya pada malam itu.

Pada hari Minggu, Romo Joseph membawa kami ke hutan untuk kegiatan yang diakhiri ketika ia menunjukkan Sakramen Mahakudus. Saat kami berada di padang gurun, kami membentuk lingkaran besar sementara itu ia berdoa bagi masing-masing peserta retret secara pribadi, memegang Yesus di hadapan kami. Semakin dekat ia menghampiri saya, semakin saya kehilangan kendali atas emosi saya. Pada saat Romo Joseph membawa Yesus di hadapan saya, saya terang-terangan menangis, menyadari bahwa Allah benar-benar hadir di depan saya. Jiwa saya menangis karena saya butuh akan Tuhan.

Ketika kami kembali ke rumah retret, saya diminta untuk membantu menulis beberapa catatan penyemangat di beberapa kantong “masa sulit,” yang merupakan kantong kecil berwarna cokelat dengan pesan-pesan yang baik untuk mengingatkan orang muda yang ikut retret dan mengingatkan bahwa Allah mengasihi mereka ketika mereka “jatuh.” Saya datang terlambat untuk membantu menulis pesan untuk anak-anak, jadi saya hanya diberi tiga kantong. Ketika saya mendapatkan kantong yang terakhir, saya terkejut melihat nama anak di kantong itu dan saya mulai menangis. Hanya ada satu orang lain yang berada dengan saya di ruang makan yang menuliskan surat-surat itu, dan dia bertanya apakah saya baik-baik saja. Saya tidak bisa bicara, tenggorokan saya serasa bisu karena emosi, wajah saya dibanjiri air mata. Akhirnya saya berbicara dengan suara serak, “Saya berada di sini karena teman saya.” Dia tidak mengerti apa maksud saya, namun saya bisa menangis menyebut namanya, Jesús “Chewie” nama yang sama persis dengan nama sahabat dan saudara saya yang sudah meninggal itu. Saya tidak pernah bertemu dengan orang lain dengan nama itu, terutama dengan nama panggilan Chuito yang dipanggil Chewie.

Air mata saya membasahi kantong cokelat itu, saya menengadah dan berkata, “Sudah, SAYA MENYERAH! Lakukan apa pun yang Engkau kehendaki, karena Engkau sudah menang, saya sudah bertempur dengan-Mu.” Setelah saya menenangkan diri, saya masih tidak percaya dengan cara Allah merancang perjalanan saya kembali ke rumah sejati saya. Sudah lebih dari setahun, selama itu saya tidak merasa diri sedang tersesat. Namun, Allah menemukan saya dan terus menuntun saya kembali kepada-Nya. Ia telah memulihkan kehancuran diri saya, bahkan ketika saya tidak bisa melihat proses penyebuhan-Nya.

Saya bertanya tentang siapa yang membawakan kantong itu kepada saya. Allah punya satu kejutan lagi kepada saya. Relawan itu menjawab, “Oh, yang menbawakannya adalah Maria, Maria Gutierrez.” Sekali lagi saya merasa terkejut. Yang disebutkan adalah nama ibu saya. Saat saya menyelidiki semakin dalam apa yang sedang diungkapkan kepada saya, saya memperhatikan apa yang Allah lakukan pada waktu itu. Maria adalah bentuk Hispanik dari nama Bunda Maria. Saya berpikir, Maria membawa Yesus kepada saya. Saya merasa seperti anak yang hilang yang pulang ke rumah bapanya, orang yang buta dan menderita sepanjang hidupnya kemudian penglihatannya dipulihkan oleh Yesus, orang kusta yang tidak diperhatikan dan dikucilkan oleh masyarakat tapi dirangkul Yesus yang kemudian menyembuhkan dan memulihkannya.

Kemudian saya bertanya kepada Romo Joseph, mengapa ia mengundang saya untuk menjadi sukarelawan di retret orang muda. Ia menjawabnya dengan sederhana tapi kuat: “Kamu kehilangan iman sebagai seorang anak kecil, jadi saya membawamu ke sekitar anak kecil, supaya imanmu dipulihkan di tempat kamu meninggalkannya. Mungkin sekarang kamu sudah lebih tua, namun imanmu adalah iman seorang anak. Sekarang kamu memperolehnya lagi. Selamat datang di rumah!”

Setelah saya pulang ke rumah, perjalanan panjang saya untuk melayani Allah dimulai. Saya mengorbankan segala hal yang saya ketahui, karena saya perlu memberikan segalanya bagi Kristus. Saya tidak lagi mengobrol dengan teman-teman lama saya yang bisa memberikan pengaruh buruk kepada hidup saya. Saya tidak lagi mendengarkan musik dan menonton acara TV yang dulu saya sukai. Saya merasa terlalu lemah untuk mendekati hal-hal itu. Saya bagaikan seseorang yang tersesat di lautan. Allah telah mengizinkan saya untuk bertahan hidup dan berhasil kembali ke pantai. Saya memar dan babak belur, tapi saya harus pergi ke rumah sakit untuk disembuhkan. Rumah sakit itu adalah Gereja-Nya.

Begitu saya menyerahkan hidup saya kepada Allah, Ia membuka pintu yang tidak pernah saya bayangkan. Romo Joseph menepati janjinya dan memberikan “dua hal untuk satu hal yang istimewa.” Ia menikahkan kami dan mengatur supaya putra kami dibaptis pada hari yang sama. Bahkan ia menjadi ayah baptis putra kami. Saya melanjutkan untuk melakukan pelayanan orang muda dan akhirnya diminta menjadi seorang katekis. Saya mulai mengajar di kelas-kelas sakramen penguatan, dan dalam setahun, pastor paroki yang baru menugaskan saya di program sakramen penguatan. Tak lama setelah itu, Allah memberkati saya dan istri saya dengan anak kedua.

Saya kuliah lagi untuk meraih gelar sarjana saya. Kemudian saya mempercayakan Allah untuk membantu saya mendapatkan gelar Master of Arts dalam bidang teologi dari Holy Apostles College and Seminary. Di mana dulu saya mengikuti teladan buruk dan mengagumi Tupac, Allah memberikan saya Patrick Madrid sebagai profesor apologetika saya, dan bertemu dan mengobrol dengan Scott Hahn. Allah memberikan saya kesempatan untuk menjadi guru teologi penuh waktu di Mount St. Michael Academy di Bronx, NY. Saya menerbitkan buku dasar apologetika untuk remaja, supaya mereka bisa lebih memahami dan mempertahankan iman mereka.

Saya tidak tahu berapa banyak benih yang sudah saya tanam, berapa banyak orang yang sudah saya bantu melalui penyerahan diri saya kepada Allah. Jalan pulang saya panjang dan sulit, tetapi sekarang saya bisa melihatnya bahwa dengan melalui semua itu, Allah tidak pernah meninggalkan saya. Kasih karunia-Nya melimpah dalam hidup saya.

 

Elvis Gutierrez adalah seorang suami dan ayah dari dua anak hebat, seorang saudara, paman, dan sahabat bagi banyak orang. Ia berusia 41 tahun. Ia berasal dari Yonker, New York yang jaraknya hanya beberapa menit dari New York City. Ia seorang putra dari orang tua imigran dari Republik Dominika. Elvis dibesarkan di lingkungan yang sulit, dan sepanjang liku-liku kehidupannya, Allah tidak pernah meninggalkannya. Ia menyaksikan dan mengalami banyak kesulitan di sepanjang hidupnya, namun Allah memperkenankan kekacauan hidupnya berubah menjadi suatu pesan. Ia seorang yang setiap kepada Allah dan bunda kita Santa Perawan Maria, dan juga Bunda Gereja yang Kudus. Melalui kerja keras, iman yang tak tergoyahkan, dan kasih kepada Allah, ia mampu memutuskan belenggu yang menahan dirinya dan memperoleh gelar sarjana dari College of New Rochelle dan gelar Masters of Arts dalam bidang teologi dari Holy Apostles College & Seminary. Elvis sekarang bekerja sebagai guru teologi sekolah menengah penuh waktu, ia juga seorang pelayan di orang muda dan dewasa muda dan juga penulis buku yang berjudul “Built for battle: A beginner’s guide to understanding and defending your faith.”

 

Sumber: “Return from Hell”

Posted on 12 January 2021, in Kisah Iman and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

<span>%d</span> bloggers like this: