Kecanduan dan Penebusan – Kisah Jim Wahlberg

Jim Wahlberg (Sumber: aetv.com)

Jika Anda memberi tahu saya sebagai seorang anak yang dibesarkan di Dorchester, Massachusetts tempat di mana saya berada hari ini, saya tidak akan mempercayainya. Saya tidak berpikir ada orang yang percaya hal itu bahwa Tuhan punya rencana yang berbeda. Saya menemukan mukjizat sejati yaitu ketenangan hati dan juga menemukan kepenuhan hidup dalam Yesus, dan hidup saya telah diubah secara permanen.

Dibesarkan di Dorchester

Saya dilahirkan di atas sebuah bar di Dorchester, Massachusetts, yang akhirnya menjadi sangat masuk akal di kemudian hari. Pada tahun 1970-an, Dorchester adalah lingkungan pekerja Katolik Irlandia yang luar biasa, dan keluarga kami serasi. Ayah saya melakukan berbagai pekerjaan, termasuk bekerja di bar yang ada di lantai bawah dan juga mengendari truk. Ibu saya merawat anak-anak dan bekerja di malam hari untuk membersihkan gedung. Saya anak kelima dari sembilan bersaudara dan saya seorang anak tengah yang haus akan perhatian. Ketika saya dibesarkan, saya mencari di semua tempat yang salah. Bahkan ada cerita waktu saya masih balita, saya kabur dari apartemen, dan ibu saya menemukan saya di seberang jalan di arena bowling, saya menghibur anak-anak yang lebih tua dengan kosakata saya yang terbatas.

Seperti kebanyakan keluarga tradisional Irlandia, kami dibesarkan sebagai Katolik. Kami tidak menjalankannya sebagai suatu keyakinan, melainkan sekadar mengisi kolom identitas. Kedua orang tua saya tidak bertumbuh dalam iman, dan tidak bisa meneruskan apa yang tidak dimiliki mereka. Mereka dibesarkan dalam rumah yang tidak harmonis dan menerima sedikit cinta. Ketika saya semakin besar, saya lebih suka berbicara dengan paman saya (saudara ayah saya) mengenai bagaimana saya tidak pernah mendengar kata “I love you” dari ayah saya kecuali ketika ia sedikit mabuk. Ia [Ayah saya] bilang kalau kami itu beruntung belum pernah mendengarnya sama sekali. Hal ini mengubah cara saya memandang Ayah. Ia hanya tidak tahu bagaimana merawat sembilan anak. Ia tidak pernah diajari bagaimana caranya.

Ibu saya berbeda. Dia akan memeluk, mencium, dan memberi tahu kalau dia mencintai kami selalu. Dia adalah orang yang menyenangkan dan selalu berusaha menjaga perdamaian dalam keluarga. Begitulah cara dia dibesarkan. Dia menjadi orang yang menjaga perdamaian antara orang tua dan saudara-saudaranya, maka dia melakukan hal yang sama dengan kami. Dia selalu menjaga kami dan memastikan kami tahu kalau dia mencintai kami semua. Kami tidak punya banyak pertumbuhan, tapi satu hal yang selalu saya ingat adalah waktu sekitar Natal, orang tua saya akan gila dengan hadiah. Mereka akan selalu memastikan bahwa ada hadiah di bahwa pohon Natal untuk kami semua. Suatu tahun, mereka membelikan kami semua sepeda. Saya tidak tahu bagaimana mereka mampu membeli sembilan sepeda, tetapi mereka mewujudkannya.

Minuman keras adalah penguasa di dalam keluarga pecandu alkohol. Dan itu yang membentuk setiap hubungan, yang juga terjadi dalam keluarga saya. Kakek saya seorang alkoholik, di keluarga ibu saya banyak sekali yang alkoholik, ayah saya alkoholik, begitu juga saya sendiri. Pertama kali saya minum alkohol pada usia delapan tahun, dan ini bukan membicarakan minum seteguk bir ayah saya. Tapi saya bersama dengan anak-anak tetangga yang usianya lebih tua, yang menganggap saya lucu kalau minum segelas penuh. Jadi saya lakukan. Itulah pertama kali saya benar-benar merasa diterima oleh mereka. Saya minum lagi setahun kemudian. Sekali lagi saya ingin membuat anak-anak yang lebih tua terkesan, maka saya membeli sebotol Budweiser dan sebungkus rokok dari salah seorang remaja seharga $50, yang mana uang itu saya curi dari dompet di YMCA. Saya minum sebotol itu dan juga mulai mencuri bir kepunyaan anak-anak lainnya. Malam itu, saya pulang dan muntah di lantai dapur, tepat di hadapan ibu saya. Dengan cara seorang ibu, dia sudah tahu apa yang terjadi. Saya masih ingat ketika dia berteriak, “Kamu sudah gila? Kamu baru sembilan tahun!” Anda akan berpikir setelah situasi seperti itu, saya akan belajar, tapi tak lama kemudian ketika lepas perhatian, saya kembali ke jalanan bersama anak-anak yang lebih tua.

Pengalaman itu mengubah sesuatu dalam diri saya. Saat Anda berada dalam sebuah keluarga dengan sembilan orang anak dan kedua orang tua bekerja, perhatian sulit diperoleh, dan saya mendapatkan perhatian dari anak-anak yang ada di sekitar saya. Ketika saya bermain dengan teman-teman saya, saya merasa seperti milik saya sendiri. Hampir setiap hari kami minum-minum dan merokok kemudian nongkrong di YMCA. Jika kami butuh uang, kami akan mencuri dompet atau merampok rumah. Teman-teman saya akan mengangkat saya ke jendela rumah seseorang, dan kami mencuri secepat kilat. Bahkan kami tidak berpikir kalau perbuatan itu salah.

Kami tidak selalu berhasil mencuri. Pertama kali saya ditangkap, waktu saya duduk di kelas enam. Saya dan teman saya bertengkar dengan seorang teman lainnya, dan teman saya menusuk orang itu dengan pisau saku kecil. Lukanya tidak serius, tapi kami harus ke pengadilan. Bahkan dengan kejadian itu tidak menghentikan saya, saya kembali lagi ke jalanan.

 Sebagai anak-anak, kami diajarkan untuk selalu berada di rumah pada waktu lampu jalan menyala. Suatu malam di bulan Juni, saya melihat lampu berkedip-kedip dan menyadari kalau saya tidak akan pulang ke rumah tepat waktu. Bukannya saya terburu-buru pulang, saya malah berada di luar, dan saya tidak pulang sampai bulan Agustus. Saya masuk dan keluar kelompok tunawisma di sebagian besar masa sekolah SMP dan SMA. Pada masa itu, saya akan merasa malu kalau pergi ke keluarga saya, tapi kalau saya melihat mereka, saya pura-pura terlihat tegar, sehingga mereka tidak akan tahu yang sebenarnya.

Saya juga melihat ibu saya berada di luar rumah. Saya akan keluar sendirian larut malam, dan saya akan melihatnya berjalan ke Stasiun Ashmont untuk naik kereta. Dia bekerja di sebuah bank di pusat kota Boston, mengepel lantai dan perkantoran. Sungguh menakutkan bagi siapa pun juga, naik kereta jam sebelas malam, apalagi dia seorang ibu dari sembilan anak. Saya akan mengawasinya dari kejauhan, berharap saya bisa lari kepadanya dan berkata, “Mom, saya mencintaimu. Tolong bantu saya.” Tapi saya tidak bisa. Dan juga tidak ada yang bisa dia lakukan. Ayah saya tidak mengizinkan saya pulang ke rumah, dan ia masih punya delapan anak lainnya untuk diberi makan.

Suatu hari, saya mendekatinya. Saya mengikutinya ke stasiun kereta dan memutuskan untuk menghampirinya. Yang bisa saya katakan, “Mom.” Dia menatap saya dengan pandangan yang paling pilu, dan saya hanya bisa membayangkan dia berpikir, “Bagaimana masa mudamu bisa seperti ini?” Tak satu pun dari kami yang tahu jawabannya, jadi tanpa sepatah kata pun dia pergi naik kereta, dan saya melihatnya menjauh. Saya tidak akan pernah melupakan peristiwa itu. Saya tahu kalau saya membuat hatinya hancur.

Pada masa itu, saya akan berpindah-pindah ke rumah-rumah yang berbeda. Jika diizinkan, saya akan tinggal di rumah orang tua saya. Tapi pada saat ini saya tidak diizinkan tinggal di rumah orang tua, maka saya akan tinggal di rumah teman-teman saya, atau di rumah kakak perempuan saya, dan kadang-kadang di sebuah kotak di belakang toko minuman keras. Setelah bermasalah berkali-kali, akhirnya saya berurusan dengan pemerintah dan menghabiskan waktu bertahun-tahun dan berpindah-pindah rumah asuh dan pemukiman institusi. Selama enam tahun, saya sekolah di enam sekolah. Orang-orang akan menerima saya, tapi saya yang sendiri pergi menjauhi mereka, atau mereka yang mengusir saya.

Saya bermasalah dengan hukum selama bertahun-tahun karena berbagai macam kasus, tetapi hukuman serius pertama saya terjadi ketika saya berusia 17 tahun. Saya bersama dengan teman-teman saya mencuri sebilah pedang dan menggunakannya untuk merampok seorang pria. Kami tidak melukainya dengan pedang, tetapi saya ditangkap dan didakwa dengan perampokan bersenjata, dihukum selama tiga sampai lima tahun di penjara dewasa. Saya sudah mencuri hampir sepuluh tahun, bahkan tidak terpikir saya bisa masuk penjara gara-gara itu.

Saya dijatuhi hukuman di penjara dengan tingkat keamanan menengah tapi saya menghabiskan Sebagian besar waktu saya di penjara dengan tingkat keamanan tinggi. Di sana saya belajar dengan cepat bahwa para narapidana menentukan aturan, dan seringkali, saya mempelajarinya dengan cara yang sulit. Saya juga belaar bahwa cara terbaik untuk bergaul dengan kelompok yang berbeda adalah berelasi dengan mereka. Setiap orang punya kelompoknya masing-masing, dengan kelompok itu seseorang akan bergaul, dan begitu saya mempelajari kelompok tersebut, cukup mudah untuk mencari cara berbicara dengan mereka. Melihat kembali ke masa lalu, sekarang saya bisa melihat bahwa ini adalah contoh lain bagaimana saya hanya ingin disukai dan diterima orang lain.

Bagi kebanyakan orang, menjalani hukuman di “lubang” penjara dengan tingkat keamanan tinggi akan meluruskan orang-orang. Tidak dengan saya. Setelah saya keluar, saudara saya menjemput saya, dan kami langsung pergi ke bar. Saya menjalani waktu enam bulan berikutnya dengan keadaan mabuk atau hampir mabuk. Saya melanjutkan untuk menggunakan narkoba bahkan mencoba yang baru. Saya seorang pemuda yang hancur seperti yang pernah Anda temui.

Suatu malam, setelah mabuk dan menggunakan narkoba, seorang teman saya memutuskan untuk merampok rumah. Kami tidak punya rencana yang bagus. Kami hanya memeriksa pintu mana yang tidak dikunci. Kami tidak tahu kalau pintu yang kami pilih itu rumah polisi. Saya mengambil barang-barang semampu saya, tapi kemudian saya memeriksa lemari es untuk mengambil minuman keras. Saya mengambil sendiri minuman itu dan duduk di meja dapur untuk menikmatinya. Polisi dan rekannya menemukan saya pingsan di sana, setelah beberapa kali memukul wajah saya sendiri, mereka menyerahkan saya. Masuk ke rumah orang lain tanpa izin bisa dijatuhi hukuman seumur hidup. Saya tahu kalau saya sedang berada dalam masalah, jadi saya mengaku salah. Tidak ada seorang anggota keluarga pun yang hadir di ruang siding, tapi polisi yang menangkap saya itu, luar biasanya berbicara atas nama saya. Ia tahu kalau saya butuh bantuan. Akhirnya saya mendapatkan hukuman enam sampai sepuluh tahun penjara.

Tipuan Besar

Setiap peristiwa besar dalam hidup saya mendorong saya menuju Tuhan. Memilih cara hidup saya sendiri, saya akan mengalami masalah besar. Tetapi ketika saya membiarkan Tuhan mengambil alih, hidup saya berubah menjadi lebih baik. Salah seorang presbiter-Nya dan seorang dari orang kudus-Nya menunjukkan jalan bagi saya.

Waktu itu saya berada di penjara lagi. Saya masih berusia 22 tahun, tidak punya pendidikan, tidak punya harapan, menghadapi hukuman penjara enam sampai sembilan tahun. Jika saya di penjara mengacau lagi, maka saya harus menjalani semua hukuman itu, saya akan berusia 31 tahun ketika saya keluar dari sini. Jadi apa yang harus saya lakukan?

Tipuan besar, tentu saja! Saya harus menciptakan ilusi yang sedang saya coba ubah. Saya harus mempersingkat kalimat ini. Saya perlu memberikan penampilan sebagai seorang anak yang baik, narapidana teladan, seorang pemuda yang bertekad untuk mengembangkan dirinya.

Ini semua dusta. Saya hanya ingin keluar dari penjara dan melanjutkan kehidupan kriminal saya. Tapi menciptakan ilusi, saya mulai ikut ke pertemuan Alcoholics Anonymous (kelompok rehabilitasi bagi alkoholik –red.). Saya ikut kelompok terapi dan mengatakan apa yang menurut saya ingin mereka dengarkan.

Saat itulah saya bertemu dengan Romo Jim Fratus, salah seorang pria terhebat yang pernah saya kenal, ia mendekati saya. Ia tidak memberikan saya obrolah yang sulit. Ia hanya memberi tahu saya bahwa ia punya tempat kosong di kapel untuk menjadi seorang penanggung jawab, tukang perbaikan, dan petugas kebersihan untuk menyapu lantai dan membersihkan sampah. Apakah saya tertarik?

Ya, kenapa tidak? Kelihatannya seperti tipuan yang sempurna. Orang ini seorang presbiter. Saya pikir kalau ia mungkin sama naifnya dengan bayi yang baru lahir, saya bisa menipunya dari mana saja, rokok, makanan, telepon. Saya bisa bersembunyi dari tempat gila ini yaitu kapel yang sunyi. Ini akan memberikan saya kesempatan untuk berpikir, menyendiri. Jadi jawaban saya, “Romo, saya siap melakukannya.”

Kemudian, sedikit demi sedikit, Romo Fratus mengajak saya terlibat. Ia berkata, “Hai, saya ingin kamu bersih-bersih setelah Misa Sabtu malam. Karena bagaimanapun juga kamu harus ada di sini, kamu sebaiknya datang ikut Misa.”  Pekan demi pekan, ia berusha membawa pulang saya ke dalam Iman, iman yang menjadi warisan saya, tapi iman yang saya ketahui kurang dari nol.

Suatu hari, ia memberi tahu saya bahwa kami sedang menerima tamu khusus di MCI Concord: Bunda Teresa. Kata saya, “Oh, bagus sekali, Romo.” Saya berhenti sejenak, kemudian saya melanjutkan, “Siapa itu Bunda Teresa?”

Saya benar-benar tidak tahu siapa itu Bunda Teresa. Sekarang, saya saja seorang Katolik, bahkan yang sekadar identitas saja, tidak tahu siapa itu Bunda Teresa pada tahun 1980-an itu bagaikan orang yang hidup di kolong batu. Dia seorang biarawati Albania, pendiri Misionaris Cinta Kasih yang membaktikan diri seumur hidupnya untuk mengasihi orang miskin dan merawat mereka di Kalkuta, India. Dia memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian, dia orang Katolik yang paling terkenal di dunia setelah Paus. Beberapa tahun setelah wafatnya, dia dikanonisasi dan sekarang dikenal sebagai Santa Teresa dari Kalkuta. Tapi bagi seorang Jim Wahlberg, narapidana nomor 44563 di MCI Concord, dia itu “siapa?”

Bunda Teresa datang karena diundang oleh Donald Ouimet, seorang narapidana yang pernah menjadi biarawan Fransiskan. Ia pernah menulis surat untuk menanyakan Bunda Teresa apakah dia bersedia mengunjungi penjara. Bunda Teresa membalas suratnya, “Jika itu kehendak Allah, saya akan datang kepadamu.” Jika itu kehendak Allah.

Hari itu tiba, kunjungan Bunda Teresa: 4 Juni 1988. Saya melihatnya dari kejauhan, berjalan melalui pintu masuk penjara, dengan tembok setinggi 40 kaki (± 12 meter).

Dia seorang wanita kecil berusia 77 tahun berjalan menuju saya, dikelilingi orang-orang penting, ada gubernur Massachusetts, sipir penjara, komisaris Department of Corrections. Bunda Teresa tingginya hanya 5 kaki (± 150 cm) jika dia berjinjit, sweaternya sudah dimakan ngengat dan berlubang, sandalnya kelihatan seperti sudah dipakai sejak zaman Kristus. Ketika dia semakin dekat, saya bisa melihat bahwa sakunya penuh dengan uang, seolah-olah orang mencoba untuk membeli jalan mereka ke surga.

Ketika Misa, yang dirayakan di gymnasium MCI Concorf, oleh karena Romo Fratus, saya berada dalam prosesi masuk, ya saya, Jim Wahlberg, si perampok bersenjata, si pembongkar dan masuk ke rumah orang lain. Kardinal Bernard Law, Uskup Agung Boston yang memimpin perayaan.

Ia mengenakan mitra dan duduk di cathedra-nya, kursi uskup, di panti imam. Ada juga kursi mewah untuk Bunda Teresa, dan Kardinal memberi isyarat supaya dia duduk bersamanya. Tapi dia menolak sambil menggelengkan kepala, dengan sopan menolak tawaran itu.

Sebaliknya, Bunda Teresa duduk bersama kami, para narapidana. Kami berlutut bersamanya juga bersama dengan biarawati dari tarekatnya, bersama juga para bruder dan suster di hadapan Kristus. Orang-orang ini adalah tahanan dan pemerkosa, pembunuh dan perampok bank, pengedar narkoba dan bajingan seperti saya. Bunda Teresa mau tinggal di sana dan berdoa bersama kami.

Untuk pertama kali dalam hidup saya, saya melihat wajah Kristus. Wajah kasih. Bunda Teresa tahu bahwa kami bukan hanya narapidana. Kami semua punya nama, punya kisah hidup, kami punya jiwa. Ketika ditanya oleh pers, mengapa Bunda Teresa mau datang, dia menjawab dengan sederhana, “Kamu harus mencari wajah Allah dalam wajah para tahanan ini.”

Iman

Perjumpaan dengan Bunda Teresa mengubah hidup saya. Saya berbicara dengan Romo Jim Fratus, dan kami mulai bertemu untuk kelas Sakramen Penguatan. Hampir seketika, saya juga mulai membuat perubahan hidup. Saya berhenti memaksa orang lain. Saya masih punya godaan, tapi orang lain melihat adanya perbedaan dalam diri saya.

Ketika waktunya tiba untuk menerima Sakramen Penguatan, saya menelepon ibu saya dan mengundangnya supaya dia datang. Dia ragu-ragu. Pertama kali saya berada di penjara, dia hanya sekali mengunjungi saya. Kemudian, dia memberi tahu saya bahwa dia hampir tidak mengenali saya pada kunjungan itu dan dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan mengunjungi saya kembali di penjara. Tapi, akhirnya dia setuju, dan ketika dia datang, saya menceritakan semua hal tentang Romo Fratus dan perjumpaan dengan Bunda Teresa. Bahkan hari ini, dia masih menceritakan kisah itu kepada banyak orang. “Saya baru saja melihatmu berjalan di sekitar ruangan itu. Saya melihat caramu berbicara dengan orang lain, caramu tersenyum. Saya tahu kalu itu adalah putra saya.”

Hanya oleh kasih karunia Allah, saya belum kembali ke penjara. Ketika saya menyelesaikan masa hukuman saya, orang lain membantu saya supaya saya tetap berjalan di jalan yang lurus dan sempit. Saya tidak lagi minum-minum, tapi tetap saja saya masuk ke dalam suatu tipuan. Ibu saya juga membantu saya. Ketika saya siap untuk menerima pembebasan bersyarat, dia menulis kepada dewan dan memberi tahu kalau saya sudah berubah dan layak untuk menerima kesempatan kedua. Dan itu berhasil, dan akhirnya saya hanya menjalani setengah masa tahanan dari awalnya enam tahun sampai sembilan tahun.

Awal yang Baru

Ketika saatnya tiba, saya merasa gugup keluar dari penjara, maka saudara saya Donnie meminta saya untuk ikut tur bersama dengan band musiknya (band musik ternama bernama New Kids on the Block). Saya sepakat, tapi itu bukan pilihan yang cerdas, karena dengan ikut tur, saya melanggar pembebasan bersyarat. Tapi itulah pengalaman luar biasa, dan juga mukjiat bahwa saya bisa tidak minum-minum dalam melalui semuanya itu.

Setelah tur berakhir, saya kembali ke Boston dan menemukan sebuah apartemen. Saya mulai menjadi sukarelawan di program belajar setelah pulang sekolah di Dorchester Youth Collaborative (DYC). Anak-anak ini berasal dari lingkungan saya dibesarkan, dan kebanyakan dari mereka tinggal di rumah dengan satu orang tua (orang tua yang bercerai –red.), maka DYC menjadi tempat yang aman untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan menemukan dorongan belajar. Kadang-kadang menyediakan mereka satu-satunya makanan yang akan mereka makan hari itu. Dan tempat itu menjadi tempat yang aman bagi saya, dan di sana juga saya bertemu dengan istri saya yang bernama Benerada atau sebutannya “Benny.”

Saya tahu kalau Benny cantik di luarnya, tapi ketika kami saling mengenal, saya segera mengetahui bahwa dia itu sama cantiknya di dalam. Setelah berkencan untuk beberapa waktu, dia melihat sisi lain dari diri saya. Kami sedang di drive-through untuk membeli kopi, dan ada seseorang menyerobot kami di tempat parker. Amarah saya keluar. Saya melemparkan kopi saya ke mobil yang menyerobot itu. Benny berteriak ketakutan, “Bawa saya pulang sekarang! Kamu binatang!”

Kami bertemu dan pergi Bersama lagi setelah peristiwa itu, namun kemudian kami tahu bahwa Benny hamil putra kami. Tidak mungkin saya membiarkan anak saya tumbuh tanpa seorang ayah. Kami kembali Bersama, dan dua setengah tahun kemudian, kami menikah. Romo Jim Fratus menikahkan kami di sebuah gereja Katolik pada bulan Oktober 1995. Pria yang membawakan Yesus ke dalam hidup saya, yang merupakan hadiah terbesar yang pernah saya terima, dan kemudian dia membawa saya dan istri saya kembali bersama. Itu adalah hari yang indah.

Tak lama setelah kami menikah, kami membeli rumah pertama kami. Saya menangis seperti bayi dan bersyukur kepada Allah atas apa yang telah Ia perbuat dalam hidup saya. Rumah itu dekat dengan lingkungan masa kecil saya, di dekat bar tempat saya dulu tidur di dalam sebuah kotak. Sekarang saya membeli sebuah rumah bersama istri dan putra saya. Sungguh momen Allah yang tidak terlupakan.

Setelah pindah dan punya lebih banyak anak, kami memutuskan pindah ke Florida. Saya menjalani kehidupan tanpa minum-minum seiring bertambahnya keluarga kami, tapi saya masih kehilangan sesuatu. Saya telah memberikan hidup saya kepada Yesus, tetapi saya tidak menjalani hidup saya bagi-Nya. Saya merasa tidak Bahagia. Kadang-kadang saya ikut Misa, tapi di lain waktu saya hanya mengantar anak-anak dan pergi. Istri saya terus mendorong saya untuk terlibat di gereja. Dia akhirnya ikut sebuah retret wanita yang disebut Road to Emmaus. Nama itu diambil dari kisah dalam Alkitab di mana Yesus berjumpa dengan dua orang murid yang pergi menuju Emaus, dan saat itu juga hidup mereka berubah setelah berjumpa dengan Yesus, maka istri saya berubah menjadi seorang wanita yang berbeda. Ketika tiba waktunya bagi para pria ikut retret yang sama, istri saya mendorong saya untuk mengikutinya. Awalnya, saya menolak. Baru setelah putri saya memohon saya untuk ikut, saya memutuskan untuk mencobanya. Saya tidak pernah bisa berkata tidak kepada putri saya.

Karena pengalaman yang sudah mengubah istri saya. Road to Emmaus juga mengubah hidup saya. Ketika retret itu berlangsung, es yang ada di sekeliling hati saya mulai mencair. Dengan itu membuka hati untuk Pengakuan Dosa, dan akhirnya saya mengeluarkannya di sana. Pengakuan Dosa yang sangat Panjang. Setelah itu, saya memiliki perasaan yang tak terbantahkan lagi akan kehadiran Kristus di hati saya.

Hati saya bernyala-nyala untuk Tuhan. Saya tahu bahwa saya harus memulai hidup untuk Yesus, tetapi seperti yang tertulis dalam Yohanes 16:33, akan ada kesusahan dalam dunia ini. Tak lama setelah retret itu, kami mengetahui bahwa putra saya menggunakan narkoba. Kami memulai suatu siklus putra saya bermasalah karena narkoba, dan kami sedang membebaskannya, sampai akhirnya saya tahu kalau saya harus melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan ayah saya. Saya mengumpulkan barang-barangnya, memasukkannya ke dalam tas, dan ketika ia pulang, saya menyuruhnya pergi dari rumah ini. Bayang-bayang masa kecil saya hadir dalam mata saya ketika ia menangis, meminta, dan memohon-mohon supaya boleh tinggal. Itulah sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan untuk saya lakukan dengan putra saya sendiri, tapi kami tidak bisa terus berputar-putar dalam masalah ini, maka ia pergi. Beberapa pekan kemudian, ia ditangkap lagi, jadi kami memutuskan untuk mencoba fasilitas perawatan yang berbeda. Suatu hari, istri saya menelepon saya. Dia sedang berada di rumah, menonton acara TV EWTN yang berjudul Life on the Rock. Ada empat orang yang berasal dari sebuah tempat bernama Comunità Cenácolo, yaitu sebuah komunitas Katolik bagi para pecandu, mereka sedang memberikan kesaksian. Kesaksian mereka sangat menyentuh. Katanya, “Ke sanalah Daniel harus pergi. Putraku perlu Tuhan. Putraku perlu Yesus Kristus. Ia tidak butuh hal-hal lainnya.” Maka kami menelepon dan mulai proses rehabilitasi. Memang tidak mudah, tapi putra saya setuju untuk tinggal bersama komunitas, dan Yesus menggunakan komunitas itu untuk menyelamatkan nyawa putra saya. Setelah tiga tahun berada di sana, ia memutuskan untuk tetap bebas dari narkoba dan terus melakukan pelayanan.

Melalui pengalaman itulah yang membantu saya untuk menyadari bahwa masih banyak lagi yang bisa saya lakukan untuk lebih memperhatikan tentang kecanduan, dan penyembuhan serta pemulihan sehingga orang banyak bisa menemukan organisasi semacam itu. Saya mulai menjadi pembicara di berbagai acara di Boston, kemudian di seluruh negeri. Saya tahu bahwa Tuhan bisa mengambil pengalaman hidup saya dan menggunakannya untuk membantu orang lain. Hari-hari ini, Ia menggunakan saya untuk memberi tahu orang banyak bahwa ada cara keluar dari jurang kecanduan dan kehancuran.

Saya bukan manusia yang sempurna, tetapi saya sudah diberkati sebagai seorang suami dari wanita yang luar biasa dan ayah dari tiga anak yang belum pernah melihat saya minum-minum. Saya juga menang, tepatnya menang tiga kali lipat: saya dibesarkan oleh seorang alkoholik, saya menjadi seorang alkoholik, dan kemudian saya menjadi pecandu. Tapi oleh karena iman, dan langkah-langkah yang saya ambil untuk menyembuhkan dan bertumbuh dari kondisi semacam ini, memampukan saya untuk menemukan kesembuhan, kemudian berada di sana untuk putra saya, belajar darinya juga. Kecanduan yang dialami putra saya membawa keluarga saya di bawah kaki salib. Adakah karunia yang lebih besar dari itu?

Saya bukan barang jadi, masih banyak yang harus saya pelajari. Tapi misi saya menjadi pengikut Kristus, untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa selalu ada harapan, penebusan, dan penyembuhan melalui Yesus Kristus. Tidak semua orang akan menerima kisah say aini, tetapi saya tahu bahwa Tuhan punya rencana untuk semua orang. Dan bahwa Ia akan membantu orang lain seperti saya untuk mencapai semua yang Tuhan inginkan bagi mereka. Kita hanya perlu memberikan-Nya semua yang kita miliki dan melihat apa yang hendak Ia lakukan.

 

Jim Wahlberg adalah pendiri dan CEO dari Wahl St. Productions, penulis buku “The Big Hustle: A Boston Street Kid’s Story of Addiction and Redemption” dan juga pencipta film pendek yang berjudul “What About the Kids?” yang mana bagian ceritanya dikutip dan diadaptasi dari bukunya.

 

Sumber: “Addiction and Redemption”

Posted on 11 February 2021, in Kisah Iman and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: