3 Hal yang Perlu Kamu Ketahui tentang Medali St. Benediktus

Oleh Daniel Esparza

Medali St. Benediktus foto oleh Johnny McKane (Sumber: aleteia.org dan pexels.com)

Berikut ini pengantar tentang benda sakramental yang paling dicintai

Banyak orang yang sudah akrab tentang Medali Yubelium St. Benediktus, sebuah benda sakramental Gereja yang secara tradisi dikenal karena kemampuan untuk melindungi dari pengaruh iblis. Dalam medali ini terukir doa yang kuat yang bisa kita daraskan dengan teratur. Cukup sederhana dan mudah diingat.

Di belakang medali itu, di tengah salibnya ada huruf-huruf yang mewakili doa bahasa Latin untuk melawan Setan. Untuk doanya bisa klik tautan berikut ini.

1.) Tapi siapa itu St. Benediktus?

St. Benediktus lahir di Nursia, Italia, sekitar tahun 480. Saudara kembar dari St. Skolastika. Ia dianggap sebagai bapa monastik Barat, meskipun tradisi monastic sudah berkembang di daerah Mediterania lainnya, peraturannya (dikenal sebeagai “Regula St. Benediktus”) menjadi dasar organisasi bagi banyak ordo religius, tentu saja digunakan oleh keluarga Benediktin yang termasuk Sistersien dan Trappist.

Untuk memahami makna dari berbagi simbol dan kebiasaan tentang medali ini, seseorang harus tahu tentang peristiwa khusus dalam kehidupan St. Benediktus. Misalnya, ada tradisi bahwa medali ini melindungi yang membawanya dari racun. Hal ini berakar dalam sebuah kisah tentang kekudusan St. Benediktus dan kekuatan khususnya untuk membedakan mana yang baik dan yang jahat. Ketika Benediktus hidup sebagai pertapa di sebuah gua setidaknya selama tiga tahun, ada beberapa orang pria yang hidup bersama sebagai komunitas religius yang datang kepadanya untuk meminta pengarahan, karena abbas (kepala biara) mereka baru saja meninggal. Mereka meminta Benediktus untuk mengambil alih komunitas mereka. Namun ada beberapa rahib tidak menyukai rencana membawa orang luar ke dalam komunitas Benediktus. Kemudian para rahib yang menolak itu berusaha untuk membunuh Benediktus dengan roti dan anggur beracun. Namun, ketika St. Benediktus membuat Tanda Salib pada makanan itu dan ketika ia mengucap berkat, ia tahu kalau makanan itu diracun, jadi ia menjatuhkan gelas itu dan memerintahkan seekor gagak untuk meyingkirkan roti itu. Itulah mengapa tradisi mengatakan bahwa medali St. Benediktus melindungi Anda dari keracunan.

2.) Selain racun, medali itu diyakini …

a.) Menangkal sihir dan segala pengaruh iblis dan roh-roh jahat lainnya. Hal itu juga berarti melindungi Anda dari godaan, khayalan (delusi) atau juga disiksa oleh roh-roh jahat.

b.) Mempertobatkan orang-orang berdosa, dengan membawa mereka ke dalam Gereja Katolik, terutama ketika mereka berada dalam bahaya kematian. Itulah sebabnya medali itu juga disebut “Salib Kematian yang Bahagia” ketika medali ini melekat pada sebuah salib ber-corpus.

c.) Memperoleh keselamatan dalam proses kelahiran anak yang tepat waktu dan sehat, menurut tradisi hal ini juga bermakna memperoleh perlindungan dari penyakit menular.

3.) Mari kita kembali ke topik “Salib Kematian yang Bahagia.” Jika medali itu dipasang pada sebuah salib ber-corpus, maka kita berada di hadapan “Salib Kematian yang Bahagia,” bukan hanya sifat medali dan gambaran Tubuh Kristus yang menjadi sarana pengusiran setan, namun karena perlindungan khusus St. Benediktus berdasarkan apa yang tradisi katakan mengenai kematiannya sendiri. Paus St. Gregorius Agung (540-604 M) menggambarkan kisah kematian St. Benediktus:

“Enam hari sebelum ia meninggalkan dunia ini, ia memerintahkan supaya makamnya dibuka, dan segera ia jatuh sakit, ia mulai demam sampai lemas, dan ketika penyakitnya memburuk setiap harinya, pada hari keenam, ia memerintahkan para rahibnya untuk membawa dirinya ke oratorio (tempat berdoa –red.), di mana dia mempersenjatai dirinya dengan menerima Tubuh dan Darah Kristus Juruselamat kita, dan setelah tubuhnya yang lemah ditandu para muridnya,  ia berdiri sambil tangannya sendiri terangkat ke surga, dan ketika berdoa dengan sikap itu, ia menyerahkan rohnya.”

Sumber: “3 things you need to know about St. Benedict’s medal”

Posted on 14 July 2020, in Doa Devosi, Kenali Imanmu and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: