Katolik Suam-suam Kuku Jadi Imam – Kisah Romo Jeffrey Kirby, STD

Father Jeffrey Kirby, STD (Sumber: frkirby.com)

Dibayang-bayangi Kristus

Seorang penulis Katolik yang bernama Flannery O’Connor menggambarkan bahwa orang-orang Amerika Serikat bagian tenggara sebagai orang-orang yang “Christ-haunted/dibayang-bayangi Kristus.” Dengan ungkapan sederhana itu, seorang novelis hebat menggambarkan sesuatu relitas yang menyedihkan tentang meninggalkan (atau mengabaikan) iman Kristen, sementara itu orang-orang di sana masih dibayang-bayangi keyakinan intinya. Orang-orang wilayah selatan secara historis dibayang-bayangi oleh penerimaan akan perbudakan, dan orang-orang wilayah barat sedang mengalami kedatangan spiritual yang sama. Ketika saya memulai kisah perubahan keyakinan yang saya alami, saya harus mengakui bahwa ekspresi dari O’Connor tentang dibayang-bayangi Kristus juga menggambarkan masa kecil saya sendiri dan perjumpaan pertama yang terselubung yang saya alami dengan Tuhan Yesus. Mari saya jelaskan.

Kedua orang tua saya dibesarkan dalam ghetto (semacam kelompok atau blok di suatu kota –red.) yang secara stereotip adalah Katolik di wilayah timur laut Amerika Serikat. Hal-hal mengenai iman mengepung mereka mulai dari gereja paroki, sekolah, aula Knights of Columbus, biara, rumah sakit Katolik setempat. Iman itu diyakini bersamaan dengan adat dan tradisi yang diantaranya bel Angelus, rosario, dan gambar Hati Kudus Yesus, skapulir coklat, kebiasaan beragama, buku saku ketekismus, doa novena, lilin doa, pemberkatan rumah, hari Jumat tanpa daging. Mereka punya semuanya itu, dengan melakukan hal-hal itu, mereka mengenal Gereja dan Tuhan Yesus. Benarkah demikian?

Karena pengajuan diri militer yang dilakukan ayah saya selama konflik di Vietnam, kedua orang tua saya meninggalkan kota-kota pabrik di timur laut Amerika Serikat dan tinggal di kantor tugas di Texas. Jauh dari rumah, tidak ada mobil, dan sumber daya yang terbatas, dan praktik hidup beriman mereka perlahan-lahan memudar. Di kemudian hari, ketika mereka menceritakan pengalaman pribadi mereka tentang iman yang hanyalah institusi dan adat istiadat, bukah penyerahan diri kepada Yesus Kristus dan aktif dalam pemuridan bagi Kerajaan-Nya. Bahkan bahasa Kristen dan alkitabiah terdengar aneh bagi mereka. Maka, meskipun seluruh hidup mereka seutuhnya dikelilingi oleh ekspresi dan institusi iman, kehidupan orang tua saya tidak berpusat pada Kristus dan tidak ada rasa pemuridan Tuhan secara rohani (internal) pada diri mereka. Ketika kedua orang tua saya memelihara keluarga mereka, tidak mengherankan bahwa hal-hal yang lahiriah (eksternal) itu hilang dan kehidupan keluarga saya, didikan keluarga saya merupakan lingkungan yang dibayang-banyangi Kristus.

Tapi, apa yang saya maksud dengan masa kecil yang dibayang-bayangi Kristus? Dan seperti apa?

Didikan yang membayang-bayangi oleh kedua orang tua saya diekspresikan dalam keluarga kami melalui aturan moral yang kuat dengan perasaan yang kuat tentang benar dan salah. Di keluarga kami ada sikap disiplin yang pantas atas perilaku yang salah dan rasa tanggung jawab yang kuat. Meskipun ada juga sikap tergantung yang besar akan pemeliharaan Allah bagi kami (apa yang secara teologis disebut Penyelenggaraan Ilahi), namun hal ini tidak pernah berkembang, terutama dalam hal tugas militer dan gejolak yang merupakan bagian dari keanggotaan Angkatan Darat selama Perang Dingin. Perasaan dibayang-bayangi juga ditunjukkan dalam tuntutan untuk bekerja keras dan luar biasa, suatu ajaran yang tegas mengenai tanggung jawab kita untuk kebaikan bersama, penghormatan yang sehat terhadap otoritas, dan penegasan yang berkesinambungan bahwa hal-hal baik perlu perjuangan yang baik dan perjuangan itu layak dilakukan dengan pengorbanan. Hal tersebut merupakan beberapa aspek cara hidup Kristen yang dihidupi dan diturunkan kepada saya dan saudara-saudara saya tanpa merujuk langsung kepada Tuhan atau relasi kami dengan-Nya.

Saya bersyukur atas apa yang saya terima dari kedua orang tua saya. Sebagai sepasang muda yang sudah menikah, mereka melakukan yang terbaik dengan apa yang mereka berikan kepada anak-anaknya. Namun perasaan dibayang-bayangi itu tidak bergantung pada hal yang lainnya. Hanya sedikit pengajaran doktrinal atau ungkapan rohani yang dilakukan. Walaupun saya dibaptis pada usia dua bulan, kami tidak aktif beribadah atau setidaknya menunjukkan diri dalam kehidupan doa pada masa kecil saya. Saya hanya bisa mengingat beberapa percakapan langka mengenai Allah dan Alkitab. Elemen dasar iman Kristen, seperti Yesus Kristus yang nyata, ketuhanan-Nya sebagai alasan cara hidup kita, dan kesempatan untuk melakukan hubungan yang memberi diri kepada-Nya, semuanya tidak ada di sepanjang masa kecil saya. Gagasan mengenai pemuridan tidak pernah terhubung dengan keyakinan yang berbudi luhur dan harapan moral yang akan diberikan kepada saya sebagai orang muda.

Semua hal itu dipertimbangkan, kami secara budaya adalah orang baik dan sehat, sama seperti keluarga Amerika pada umumnya, namun hami itu dibayang-bayangi Kristus, ada hal yang secara spiritual digantikan oleh hal lain. Dalam banyak hal, kami ini adalah mikrokosmos dari banyak bagian Gereja, yang tertiup oleh angin dan sangat membutuhkan penginjilan.

Ketika saya mengengar beberapa orang yang disebut sebagai “orang yang berpindah keyakinan (converts)” atau “orang yang kembali ke keyakinan lamanya (reverts),” saya bingung karena tidak ada satu pun istilah itu yang berlaku untuk diri saya. Saya selalu menjadi anggota Gereja. Saya tidak pernah keluar dari Gereja. Tapi saya tidak tahu kalau saya berada di dalam Gereja, atau tidak tahu apa artinya. Saya seperti orang yang duduk di meja, tetapi tidak tahu menu makanannya, dan tidak tahu kalau orang itu sedang lapar. Saya tidak perlu datang ke meja itu lagi, karena saya tidak pernah ke tempat lain. Saya tidak pernah mencari tempat lain untuk diberi makan, saya hanya tidak tahu kalau saya sudah ada di meja itu, dan seharusnya makan di sana.

Karena alasan ini, saya tidak tahu istilah apa yang bisa dipakai untuk diri saya, dan karenanya saya menggabarkan diri saya sebagai seorang yang tak beragama yang baik yang kemudian dibaptis, seorang yang dibayang-bayangi Kristus, dan entah mengapa saya merasa lapar akan rahmat Allah dan kehidupan yang berlimpah yang ditawarkan dalam Yesus Kristus.

Semua hal ini berjalan dengan lancar, sampai suatu goncangan terjadi.

Seorang Katolik yang Baik

Pada usia remaja, penugasan ayah saya di Jerman Barat berakhir, dan kami pulang ke Amerika Serikat. Syukurlah Fort Jackson, South Carolina menjadi rumah baru kami. Ketika kami menetap di sana, ayah saya ingin membantu saya bergaul di tempat itu dan menemukan hal yang saya sukai. Tidak seperti kakak saya, saya tidak pandai dalam bidang olahraga, saya suka membaca dia diam sendirian. Dengan melihat berbagai pilihan, ayah saya mendorong dan mengarahkan saya untuk bergabung dengan program outdoor orang muda di gereja setempat. Kesempatan ini menawarkan pembentukan karakter, pengembangan kepemimpinan, kemajuah pribadi, dan menggunakan waktu dengan berkemah dan mendaki, yang bergaung dalam kepribadian saya. Saya merasa cocok. Dan hal ini menjadi penentu dalam mengambil keputusan besar dalam hidup saya.

Meskipun saya tidak mengenal banyak orang, banyak dari sesama anggota program itu berpikir bahwa saya melakukan tradisi keagamaan mereka, yang baru saja ikut beribadah dengan komunitas yang berbeda. Waktu berkemah, saya mendekati api unggun dan beberapa anggota lainnya ikut berkerumun di sekitarnya, menjaga diri supaya hangat dan juga menceritakan kisah-kisah dan juga lelucon. Ketika saya mendekati mereka, mereka menceritakan lelucon tentang api penyucian. Jujur, saya tidak tahu tentang itu dan karena itu saya bertanya, “Apa itu api penyucian?” Salah seorang anggota menjawab, “Oh, itu merupakan satu hal gila yang diyakini orang Katolik.” Tanpa berpikir, saya berkata, “Oh, saya Katolik.”

Setelah saya tidak sadar menyatakan identitas saya, saya melanjutkan hidup saya yang bahagia. Seolah-olah tidak ada kembang api yang padam. Namun, setelah itu, iman Katolik menjadi sumber lelucon dan ejekan. Sekarang, jika ditinjau ulang, saya ragu kalau orang-orang muda ini fanatik akan iman mereka dan ingin terlibat dalam diskriminasi agama. Saya menduga pada usia yang masih muda, penuh dengan rasa tidak aman, hal itu merupakan satu yang yang bisa menandai orang lain itu berbeda dari suatu kelompok dan juga digunakan untuk melawan mereka sebagai cara menemukan bahwa diri mereka diterima dan kesetiakawanan. Bagaimanapun juga, hal itu menyakitkan seperti di neraka.

Pada suatu kesempatan, lelucon itu semakin kasar. Saya pulang ke rumah, kesal dan menangis, dan saya naik ke loteng. Ayah saya memperhatikan dan mengikuti saya, bertanya kepada saya apa yang sedang terjadi. Ketika ayah saya masuk ke kamar saya, saya sedang duduk di tempat tidur saya. Ia duduk di sebelah saya dan bertanya apa yang sedang terjadi. Karena ayah saya adalah orang yang sangat praktis, maka setelah saya menjelaskan semua yang terjadi, ia berkata, “Ya, inilah yang kamu lakukan. Pergi dan ikutlah kebaktian mereka. Jangan bergabung dengan gereja mereka. Tetap jadi Katolik. Tapi biarkan orang-orang menatapmu dan kemudian hal itu akan hilang.”

Saya tahu kalau ayah saya sedang berusaha membantu saya, dan ada suatu integritas tersembunyi oleh utilitarianisme[1]. Saya yakin kalau ayah saya belajar keterampilan seperti itu selama bertahun-tahun di militer. Namun, nasihat itu tidak cocok bagi saya, dan nasihat itu juga sama tidak terduga dan sama sekali tidak direncanakan, saya menjawab, “Tidak, Ayah, jika mereka akan mengolok-olok seorang Katolik, mereka juga akan mengolok-olok seorang yang baik.” Dan pada hari Minggu berikutnya, saya bangun dan berjalan menuju kapel di pangkalan militer. Saya berjalan ke ibadah dengan label “Misa Katolik,” dan saya berusaha semampu saya untuk mengikutinya. Saya tidak yakin jika bukan karena sepasang orang tua yang melihat saya dan akhirnya mengundang saya untuk duduk bersama mereka menunjukkan bagaimana cara mengikuti Misa. Di kemudian hari, pria tua itu akan mempersiapkan Komuni Pertama saya dan menjadi sponsor saya untuk Sakramen Penguatan.

Beberapa tahun di kapel pangkalan militer merupakan masa-masa pembentukan pemuridan dan kehidupan rohani saya. Di sana ada sebuah komunitas kecil, orang-orang yang saling memperhatikan, dan semua hal itu baru bagi saya. Tanpa menjadi orang yang berubah keyakinan, saya bisa ikut serta dalam semangat dan kegembiraan orang-orang yang berpindah keyakinan mengenai menemukan kepenuhan iman.

Namun iman yang didasarkan pada pemberontakan, bahkan pemberontakan yang baik sekali pun, tidaklah cukup. Harus ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang lebih pribadi, jika pemuridan akan merupakan tanggapan sejati terhadap panggilan Tuhan. Maka, tidak mengherankan bahwa dalam waktu cepat pemuridan akan menghampiri saya supaya saya bisa mendalaminya.

Saat-saat menjadi “Pemuda Kaya”

Di sekolah menengah (setara SMA –red.), setelah saya mendapatkan izin mengemudi, saya punya banyak kebebasan dan juga punya banyak pilihan moral. Pada suatu kesempatan, saya sedang duduk di bangku belakang gereja paroki saya ketika dengan tidak sabar menunggu Pengakuan Dosa. Di gereja itu ada salib dengan corpus yang besar di belakang altar. Di depan gereja itu ada jalan utama, sehingga kapan pun pintu terbuka, maka Anda bisa mendengar suara bising lalu lintas di belakang Anda.

Saya masih ingat waktu saya merasa kesal karena harus berada di sana dan ikut Pengakuan Dosa. Pada waktu itu merupakan godaan pertama yang begitu nyata terhadap kepatuhan pada jalan-jalan Allah. Pada saat itu pula saya berpikir kalau saya tidak harus berada di sana, karena hanya ada sedikit orang di sana. Dosa-dosa saya tidak buruk-buruk amat dan saya tidak perlu terus-terusan mengaku dosa. Pada saat itu, pintu gereja terbuka dan saya mendengar suara lalu lintas. Saya mendengarnya ketika saya melihat ke bawah di lorong yang berhadapan dengan salib, dan saya masih ingat dengan jelas, “Mau jalan dunia atau jalan Tuhan Yesus.”

Saya merasa malu untuk menuliskannya bahwa waktu itu saya duduk di sana selama beberapa menit dengan pilihan tersebut dalam benak saya. Namun, kemudian, setelah saya sadar, saya berdoa dan berbuat sesuatu yang disebut Paus St. Yohanes Paulus II sebagai “keputusan pribadi” demi Yesus Kristus. Sambil menatap salib, saya berdoa, “Ya Tuhan, hanya Engkau saja. Tak ada pilihan lain, Engkau itu nyata. Engkau mengasihiku dan saya ingin mengasihi Engkau. Tolonglah saya, Ya Tuhan!” Kemudian saya mengaku dosa dan berjalan menuju salib, belutut di tangga altar (suatu ekspresi dramatis yang tidak biasa bagi saya waktu itu), dan dengan seutuhnya dan total saya menerima Tuhan Yesus dan jalan kasih-Nya bagi hidup saya (lih. Matius 16:16, Yohanes 6:68)

Melalui keputusan itu, rahmat sakramen dan daya upaya saya untuk menjadi murid yang setia, semuanya itu berkembang menjadi kobaran api (lihat 2 Timotius 1:6). Sejak saat itu, iman saya menjadi dewasa. Iman itu bergerak melampaui reaksi terhadap sesuatu dan menjadi keputusan untuk memberikan hidup bagi Seseorang. Oleh karena itu, saya menyebut pengalaman ini sebagai saat-saat “Pemuda yang Kaya,” karena seperti tokoh Alkitab, saya dipanggil dan diundang untuk melangkah melampaui jawaban “tidak” dari sekadar ketaatan, namun jawaban “ya” yang bersemangat yang mau mengosongkan diri dalam relasi bersama Yesus Kristus (lihat Matius 19:16-22).

Hal itu terjadi di sekolah menengah. Ketika hubungan saya dengan Tuhan semakin dalam, saya menyadari bahwa hal itu harus memengaruhi pilihan saya di perguruan tinggi. Karena kemampuan intelektual saya, maka saya punya banyak pilihan, yang sebagian besar biayanya gratis. Tapi ada hal-hal yang lebih berharga daripada uang, dan saya tahu bahwa pembentukan diri di kuliah harus memperkokoh pemuridan saya. Saya tidak bisa mengambil risiko kehilangan mutiara yang sangat berharga (lihat Matius 13:45-46).

Mengobarkan Api

Dalam mencari perguruan tinggi, saya mencari universitas negeri, universitas swasta, dan beberapa universitas Katolik, dan juga beberapa universitas berbasis keagamaan lainnya, dan banyak poin dari promosi universitas-universitas itu sama. Ketika saya melihat video tentang Franciscan University of Steubenville, universitas ini tidak malu-malu menyatakan bahwa Yesus Kristus sebagai Jalan, Kebenaran, dan Kehidupan (Yohanes 14:6). Seluruh promosi universitas itu menggunakan tiga poin yang menjadi garis besar dalam segala bidang dalam universitas ini. Ketika saya menonton video itu, saya tahu kalau saya harus bergabung dengan sekolah ini.

Sejujurnya, ada beberapa alasan mengapa saya tidak harus bergabung dengan Franciscan University of Steubenville. Karena universitas itu menawarkan paket finansial yang paling rendah, letaknya sepuluh jam perjalanan dari rumah, dan merupakan kampus universitas yang paling kecil dan yang paling kurang menarik yang ada dalam daftar universitas yang dipertimbangkan. Namun, dari semua hal yang dipertimbangkan, ada hal yang tidak ada bandingannya. Saya tahu jika pemuridan saya dengan Tuhan akan bertumbuh, saya perlu belajar di mana Yesus Kristus benar-benar dipuji, dihormati, dan ditaati. Maka, dengan mengambil dana utang pelajar dan menyebabkan banyak guru merasa cemas, kemudian saya pergi ke Steubenville, Ohio. Saya jarang membuat keputusan yang masuk akal dan menguntungkan seperti itu sepanjang hidup saya.

Meskipun saya mengambil jurusan sejarah dengan mata kuliah hukum, saya mengambil teologi ketika berada di kafetaria. Tampaknya teologi selalu menjadi pintu masuk dalam percakapan dengan satu percakapan daripada yang lainnya. Selain itu, di sana ada Misa harian, Pengakuan Dosa rutin, Kapel Adorasi Portiuncula, konsekrasi kepada Maria di seluruh kampus, spektrum yang luas dari devosi untuk menumbuhkan pemuridan kepada Tuhan Yesus, merupakan hal yang paling saya sambut dan terima, dan menjadi bagian kehidupan spiritual saya sendiri.

Sistem Rumah Tangga Iman di Franciscan University juga menjadi berkat luar biasa bagi saya. Sebuah rumah tangga terdiri dari 12-20 mahasiswa pria atau wanita. Anggota rumah tangga sebagian besar hidup di sisi asrama yang sama dan berusaha untuk menjalani persekutuan suci Gereja perdana. Rumah tangga saya, kelompok “Brothers of Eternal Song” yang memberikan kesempatan bagi saya untuk dibimbing dalam iman oleh para kakak kelas, belajar dari umat Kristen Katolik lainnya (kebanyakan dari mereka tumbuh dari keluarga-keluarga Katolik yang bersemangat), dan kemudian saya membimbing adik kelas ketika saya menjadi kakak kelas. Rumah tangga itu memiliki komitmen sakramental dan doa, membentuk tujuan hidup, berbagai proyek pelayanan, dan memberikan pengalaman dalam memberi dan menerima pengampunan dalam koreksi fraternal, penegasan, bimbingan, dan pendampingan dalam persaudaraan dalam cara Tuhan.

Selama saya berada di Steubenville, Paus Yohanes Paulus II sedang menggembalakan Gereja, Bunda Teresa dari Calcutta sedang berbicara di seluruh dunia, Bunda Angelica sedang mengudara, dan Universitas sedang dipimpin oleh Romo Michael Scanlan, para profesor terkemuka seperti Dr. Scott Hahn masih ada di fakultas, orang-oranng yang baru berpindah keyakinan seperti Marcus Grodi dan Jeff Cavins masih ada di kampus, dan rekan-rekan mahasiswa termasuk Romo Michael Gaitley, Matthew Kelly, Jason Evert, dan masih banyak lagi sedang melakukan pekerjaan besar untuk Kerajaan Allah.

Dalam banyak hal, Franciscan University merupakan pengalaman pertama yang nyata mengenai budaya Katolik. Tidak seperti di kapel militer, di mana liturgi, kehidupan devosi, dan ekspresi keagamaan diungkapkan dengan sangat rendah sebagai pembeda yang umum. Di Steubenville memampukan iman saya berkembang dan kekayaan budaya mengisi kampus dan juga hati orang banyak, termasuk saya sendiri.

Saat di kuliahan, saya terkejut dengan perubahan jiwa saya dan bagaimana prioritas diri saya berubah. Hati saya mulai tergerak menuju imamat. Sejujurnya, dalam mementingkan diri sendiri, saya tidak ingin mendengarkan atau menaati apa yang diminta oleh Allah. Saya ingin seorang istri, keluarga, karier di bidang hukum, kekayaan yang cukup, dan juga kebebasan. Akan tetapi, ketika kasih karunia bekerja dalam diri saya, saya hanya bisa mendengar Tuhan Yesus berkata, “Mari, ikutlah Aku” (Matius 4:19). Dan saya semakin tahu apa artinya itu dan apa yang Ia minta dari saya. Akhirnya, saat doa yang terus menerus dan juga air mata, saya mematikan diri saya sendiri dan menyerahkan segalanya dengan seutuhnya, dan tak bersyarat kepada Yesus Kristus (lihat Galatia 2:19-20). Saya ingin benar-benar berkata, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” (Filipi 2:11) dan memaknainya dengan penuh dengan menyatakan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus” (Filipi 1:21).

Saya beri tahu kepada orang-orang sampai hari ini: Jika bukan karena Franciscan University dan didikan yang saya terima di sana, saya tidak akan pernah menjadi seorang imam. Budaya kampus mengenai iman dan pemuridan mengubah hidup saya dan membawa saya lebih dalam lagi ke dalam relasi bersama Tuhan. Hal itu memberi saya ketaatan yang dibutuhkan untuk menjawab “ya” pada panggilan apa pun dari Tuhan, secara khusus pada imamat.

Semua Jalan menuju Roma

Setelah lulus, saya mengajar agama di sekolah menengah (setara SMA –red.) sambil mendaftar ke seminari. Setelah proses lamaran saya selesai, uskup saya memberi tahu saya bahwa saya dikirim ke Pontifical North American College di Roma untuk studi seminari. Saya merasa sangat senang. Saya mulai belajar bahasa Italia dan bersiap-siap untuk tinggal di luar negeri selama beberapa tahun.

Dalam sistem Romawi, seminari itu sendiri berbeda dari universitas. Seminari adalah tempat di mana kami tinggal, beribadah, menerima pendidikan calon imam, dan hidup sebagai komunitas Kristen. Universitas adalah tempat untuk studi dan penelitian. Dalam “siklus pertama,” yaitu tiga tahun pertama belajar teologi yang diakhiri dengan gelar Sarjana Teologi Suci (Bachelors in Sacred Theology yang setara dengan Master of Divinity), saya belajar di Universitas Kepausan Gregoriana. Saya sangat terinspirasi oleh misi awal dan sejarah sekolah itu.

Universitas Kepausan Gregoriana (Pontificia Università Gregoriana) yang didirikan oleh St. Ignatius dari Loyola selama masa Reformasi Katolik, universitas itu dulunya merupakan suara intelektual Gereja. Sistem pendidikannya berdasarkan visi mistik Allah dari para orang kudus di Sungai Cardoner dan karya populernya “Prinsip dan Fondasi Utama (First Principle and Foundation)”. Sistem ini mengikuti pergerakan kebenaran dari Allah, kepada Kristus dan Gereja, dan kemudian kepada pribadi manusia. Hal ini ditandai dengan kelas-kelas tentang Trinitas pada tahun pertama, Eklesiologi pada tahun kedua, dan kebajikan pada tahun ketiga. Banyak ahli teologis di Konsili Vatikan II sudah menjadi anggota fakultas di Universitas Gregoriana. Saya terpesona pada kesempatan untuk belajar di sana, dan selalu, bahkan juga pada hari-hari yang buruk, saya digerakkan oleh moto St. Ignatius yaitu “Untuk kemuliaan Allah yang lebih besar.” Moto itu dilukis di langit-langit pintu masuk utama. Secara teratur, saya termotivasi oleh patung Tuhan Yesus di ujung aula utama, yang mana tangan Tuhan terulur (hampir mendorong kami pergi), dengan Amanat Agung yang tertulis di dasarnya, “Pergilah dan ajarlah semua bangsa” (Matius 28:19-20).

Sayangnya, studi teologis tidak begitu menggembirakan seperti sejarah dan misiologi universitas. Siklus pertama memberi saya pengalaman pertama mengenai metode historis-kritis, yang punya pandangannya sendiri, namun juga dengan pandangan skeptisisme akademis mengenai hal-hal adikodrati yang pada saat itu kadang-kadang membuat saya resah dan bingung. Pada suatu kesempatan, profesor saya memberi tahu saya bahwa Kebangkitan Tuhan bukanlah realitas pseudo-fisik. Jika seorang reporter berada di kubur, maka ia tidak akan bisa mengambil gambar Kristus yang bangkit. Ketika pandangan ini dikemukakan, maka sangat jelas bahwa sang teolog tidak benar-benar percaya pada kebangkitan secara fisik. Hal ini hanyalah salah satu contoh dari banyak kuliah dan debat semacam ini.

Terlepas dari semua itu, saya menerima pemahaman yang kuat mengenai metode teologis (minus skeptisisme), dan betapa pentingnya “selalu siap punya jawaban” (lihat 1 Petrus 3:15).

Setelah mendapatkan pengalaman Universitas Gregoriana, saya siap untuk masuk “siklus kedua,” yang membawa saya ke gelar berlisensi di suatu bidang khusus. Bidang saya adalah teologi moral dan saya meminta untuk bergabung dengan Universitas Kepausan Salib Suci (Pontificia Universitas Sanctae Crucis). Universitas ini merupakan universitas yang relative baru di Roma, dan usianya masih beberapa dekade, bukan berabad-abad. Dikelola oleh Prelatur Opus Dei, yang dikenal karena penggunaan metode teologisnya yang tajam, namun selalu dalam pikiran dan arahan Gereja.

Pendidikan lisensiat saya merupakan berkat yang luar biasa. Terinspirasi oleh kehidupan dan warisan dari St. Josemaria Escriva, saya bisa belajar, meneliti, bertanya, dan berdebat, namun juga selalu tahu bahwa para profesor saya akan menjaga saya dalam batasan Tradisi Suci dan Kitab Suci. Universitas Salib Suci merupakan apa yang saya butuhkan sebagai seorang dewasa muda dan sebagai pria dalam studi untuk pelayanan sakral. Dengan setiap kelas dan profesor, saya belajar banyak dan bisa mendalami tradisi teologi yang begitu kaya dan luas. Studi-studi itu membantu saya untuk memandang hubungan yang rumit antara kepercayaan dogmatis dan cara hidup umat Kristen. Semuanya itu berkembang menjadi pembedaan yang rumit supaya mencegah seorang siswa jatuh ke dalam kepercayaan yang tidak alkitabiah mengenai dugaan pertentangan antara Kristus dan Gereja, Hukum Taurat dan Injil, kodrat dan kasih karunia, dan lain sebagainya.

Selain universitas, saya berusaha untuk menyerap semua yang saya bisa mengenai warisan Kristen Roma. Saya menelusuri berbagai gereja, menjelajahi katakombe, mengunjungi biara utama dari Ordo Religius besar, mencari tempat-tempat penting dalam kehidupan para kudus, hadir dalam Misa kepausan, ikut kuliah tambahan di luar studi formal saya, juga sempat mengunjungi semua museum utama di Roma dan Eropa Barat, berziarah bersama teman sekelas ke tempat-tempat kudus yang berhubungan dengan Iman, mengunjungi Gereja di ladang misi Afrika, dan mempelajari semua teologi, spiritualitas, sejarah, seni, dan arkeologi yang saya bisa peroleh dan juga memanfaatkan waktu untuk semua itu.

Dengan setiap upaya yang saya lakukan, saya merasakan suatu penguatan dan pengembangan dalam kehidupan rohani dan pemuridan saya. Pertumbuhan ini tumbuh berkesinambungan dan menunjukkan betapa kuatnya Injil itu dan betapa efektifnya mengubah pikiran dan budaya ketika Injil tidak bisa dikompromikan dan kuat kuasanya dilepaskan seutuhnya (lihat 1 Korintus 4:20, 1 Tesalonika 1:5).

Roma adalah jantung Gereja, karena di sanalah merupakan medan utama bagi jiwa umat manusia. Pertempuran bisa dirasakan melalui kesadaran spiritual. Dan justru dengan parit-parit perlindungan di Roma yang berada dalam diri saya yang secara signifikan kurang diperhatikan atau kurang dibutuhkan untuk kedewasaan, saya temukan sebagai hal yang hilang (lihat Efesus 4:13). Tuhan Yesus memanggil saya, saya menjawab “ya,” dan Ia membentuk saya supaya setia mengikuti-Nya, dan membimbing orang lain untuk mengenal Yesus dan mengikuti-Nya juga.

Tahun-tahun di seminari merupakan tahun-tahun terakhir masa kepausan dari Paus St. Yohanes Paulus II. Kasih paus yang kudus bagi Yesus Kristus, perhatiannya untuk Gereja di seluruh dunia, dan penekanannya pada penginjilan dan katekese merupakan suatu panutan bagi saya dan imamat saya di masa mendatang, seperti halnya bagi setiap seminaris dan para imam muda pada zaman kita ini. Saya merasa rendah berada di dalam kelompok yang disebut “Generasi Yohanes Paulus II.” Setiap kali saya mendengarkan ungkapan itu, saya merasakan emosi dan anggapan “bobot kejayaan” yang diletakkan di pundak saya dan orang-orang yang berada di generasi saya (lihat 2 Korintus 4:17).

Melalui perubahan keyakinan awal saya sebagai seorang anak yang lebih tua dan bertumbuh sebagai seorang dewasa muda, pada waktu saya berada di Franciscan University, dan studi saya di Roma, saya merasa sangat banyak diajar, dibimbing, didisiplinkan, dan didorong dalam jalan Tuhan Yesus. Dan semuanya itu menyatu ketika saya mendekati altar untuk ditahbiskan dan menerima Roh Kudus untuk melayani sebagai seorang imam untuk selamanya (lihat 2 Timotius 1:7). Bukan lagi dibayang-bayangi Kristus, sekarang hidup saya sepenuhnya dan berpusat pada Kristus. Yesus adalah hidup saya.

Menjadi seorang Pastor

Seluruh proses yang dijelaskan di atas mengenai perubahan keyakinan yang mendalam dan pertumbuhan dalam Tuhan Yesus memuncak dalam tahbisan imamat yang saya terima hampir tiga belas tahun yang lalu. Sebagai gembala bagi jiwa-jiwa, misi saya tetap sama. Setiap hari, jawaban “ya” kepada Tuhan Yesus diulangi berkali-kali dalam berbagai tindakan kesabaran, kebaikan, dan amal kasih (lihat Efesus 4:1-3).

Tugas saya adalah memberikan inspirasi, menyatakan kesalahan, meneguhkan, dan membangun Tubuh Kristus (lihat Efesus 4:12). Tanggung jawab saya adalah memberikan hal-hal penting yang utama dari apa yang telah saya terima dari Tuhan dan Gereja-Nya, dan dengan demikian membiarkan Roh Kudus untuk membentuk budaya paroki di mana setiap umat beriman bisa mendengar Tuhan Yesus dan dapat memperoleh kekuatan dan penghiburan supaya kita bisa dengan murah hati mengikuti-Nya (lihat 1 Korintus 15:3, Kisah Para Rasul 2:42).

 

Romo Jeffrey Kirby, STD adalah seorang pastor di Paroki Our Lady of Grace di Indian Land, South Carolina. Ia seorang penulis beberapa judul buku, termasuk buku terbarunya yang berjudul “Thy Kingdom Come: Living the Lord’s Prayer in Everyday Life.”

 

Catatan kaki:

[1] Utilitarianisme suatu teori dari segi etika normatif yang menyatakan bahwa suatu tindakan yang patut adalah yang memaksimalkan penggunaan (utility), biasanya didefinisikan sebagai memaksimalkan kebahagiaan dan mengurangi penderitaan (Wikipedia.org)

 

Sumber: “Called, Converted, and Chosen in Christ”

Posted on 16 July 2020, in Kisah Iman and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: