Sikap Doa Pribadi yang Benar itu Seperti Apa?

Oleh Philip Kosloski

Berdoa foto oleh Válter Júnior (Sumber: aleteia.org dan flickr.com)

Perlukah saya berdiri, duduk, atau berlutut?

Haruskah saya berdiri, duduk, atau berlutut ketika berdoa di rumah? Apakah sikap doa itu penting?

Mungkin kelihatannya aneh kalau kita mempertanyakan sikap tubuh waktu doa pribadi, namun jangan sangka hal ini bisa menjadi pertanyaan penting. Kenyataanya, sikap kita waktu berdoa merupakan aspek doa yang sangat penting.

Umat Katolik sangat percaya bahwa apa yang dilakukan oleh tubuh memiliki dampak langsung terhadap jiwa kita. Kesatuan tubuh dan jiwa ini memungkinkan seluruh indera kita untuk ikut terlibat dalam doa (penglihatan, pendengaran, pengecapan, suara, sentuhan) dan membantu jiwa kita mengarah kepada Allah.

Katekismus Gereja Katolik menguatkan kebenaran yang mendasar ini dan juga mengajarkan bahwa kita bahwa doa melibatkan seluruh keberadaan kita, “Bagaimanapun bentuk kegiatan dan kata-kata, dengannya doa mengungkapkan diri, yang berdoa itu selalu seluruh manusia (KGK 2562).”

Oleh karena persatuan ini, bentuk-bentuk umum ibadah Gereja terdiri dari banyak elemen yang kelihatan dan melibatkan indera tubuh kita. Katekismus lebih lanjut menjelaskan, “Dalam kehidupan manusiawi tanda dan lambang mendapat tempat yang penting. Karena manusia itu sekaligus makhluk jasmani dan rohani, ia menyatakan dan menangkap kenyataan-kenyataan rohani melalui tanda dan lambang jasmani. Sebagai makhluk sosial manusia memerlukan tanda dan lambang, supaya melalui bahasa, melalui gerak-gerik, dan kegiatan dapat berhubungan dengan orang lain. Yang sama berlaku untuk hubungannya dengan Allah” (KGK 1146).

Seperti yang bisa kita lihat, tidak ada yang namanya “ritual kosong” di Gereja Katolik. Setiap tindakan lahiriah kita memiliki makna dan tujuan yang jelas. Tindakan lahiriah itu juga dirancang untuk menuntun kita dalam menyembah Sang Pencipta kita.

Lebih dalam lagi, Kardinal Ratzinger (Paus Emeritus Benediktus XVI) menegaskan ajaran ini dituliskan dalam bukunya yang berjudul “God Is Near Us: The Eucharist, the Heart of Life”: “Agama kita, doa kita, menuntut ekspresi jasmaniah. Karena Tuhan, Yang Bangkit, memberikan diri-Nya dalam rupa Tubuh, kita harus menanggapinya dalam jiwa dan raga … segala kemungkinan spiritual dari tubuh kita menjadi penting untuk diikutsertakan dalam merayakan Ekaristi: bernyanyi, berbicara, hening, duduk, berdiri, berlutut.”

Jadi, bagaimana seharusnya kita berdoa, berdiri, berlutut, atau duduk?

Berlutut sering kita jumpai dalam Injil sebagai cara untuk mengungkapkan permohonan dan penyembahan. Dalam Perjanjian Baru, sikap berlutut seringkali didahului oleh tindakan iman, “Saya percaya, Ya Tuhan” dan diakhiri dengan tindakan penyembahan akan keagungan Allah (lih. Yohanes 9:35-38). Di bagian lainnya, seperti dalam banyak kisah penyembuhan, orang itu berlutut sambil memohon, memohon supaya dirinya disembuhkan. Dalam Perjanjian Lama, kita bisa melihat bagaimana Salomo berlutut pada penahbisan Bait Suci (lih. 2 Tawarikh 6:13). Lebih lanjut, Ratzinger menjelaskan dalam bukunya yang berjudul “The Spirit of the Liturgy” bahwa, “Ketika seseorang berlutut, ia merendahkan dirinya, namun matanya masih melihat ke depan dan ke atas, keperti ketika ia berdiri menghadap Ia yang berada di hadapannya.”

Berdiri juga merupakan cara yang sangat umum untuk berdoa. Berdoa sambil berdiri bisa kita temukan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Sikap ini pula dipandang sebagai postur “pemenang,” yakni berdiri di atas musuh-musuh, dan juga ungkapan “kesiapan.” Pada Paskah Yahudi, mereka disuruh untuk makan sambil berdiri, dengan “tongkat di tangan,” bersiap-siap untuk kedatangan Tuhan. Banyak mosaik umat Kristen perdana menunjukkan mereka sedang berdoa sambil berdiri, bersiap-siap dan menunggu Kedatangan Kristus yang Kedua.

Duduk merupakan cara berdoa yang baru ditemukan dan biasanya dilakukan selama bacaan-bacaan dalam Misa dan selama homili. Dalam konteks ini, duduk merupakan postur untuk memusatkan perhatian dan merenung. Duduk merupakan postur mendengarkan Sabda Allah.

Berikut ini ringkasan postur-postur berdoa:

  • Berlutut terutama difokuskan pada permohonan dan penyembahan.
  • Berdiri merupakan postur kesiapan dan kemenangan.
  • Duduk merupakan cara untuk menumbuhkan pemusatan perhatian, merenung, dan mendengarkan.

Maka jika Anda menuju “ruang batin” untuk berdoa, maka kita bisa mempertimbangkan banyak cara berdoa dan variasi postur berdoa ini, dan menggunakannya untuk mencerminkan jenis doa yang ingin Anda ungkapkan. Kita seharusnya tidak hanya berdoa dengan jiwa kita saja, namun berdoa dengan mempersatukan tubuh kita dalam perpaduan cara memuji yang luar biasa.

Sumber: “Is there a correct posture for private prayer?”

Posted on 18 July 2020, in Doa Pribadi, Kenali Imanmu and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: