Mengikuti Yesus sebagai seorang Murid

Oleh Dr. Edward Sri

Calling of the Apostles Peter and Andrew – Duccio di Buoninsegna (Sumber: wikipedia.org)

Sekitar 2.000 tahun lalu, di suatu pagi di musim semi, di pinggiran Danau Galilea, Yesus yang telah bangkit bertanya yang sangat pribadi kepada Petrus, murid-Nya: “Apakah engkau mengasihi Aku?”

Pada awalnya kita mungkin mengira bahwa Petrus akan memberi jawaban “Ya!” dengan sepenuh hati. Lagipula, Petrus merupakan salah satu murid pertama Yesus. Ia sudah lama meninggalkan jalanya dan melakukan banyak pengorbanan untuk mengikuti Yesus sebagai seorang murid selama tiga tahun terakhir. Selain itu, Petrus dijadikan seorang rasul, diberikan kunci kerajaan, dan dijadikan batu karang yang mana Yesus akan mendirikan Gereja-Nya.

Itulah sebabnya Yesus bertanya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” seolah-olah terlihat enteng. Tentu saja, Petrus mengasihi Yesus! Petrus seorang nelayan yang menjadi seorang murid, Petrus menjadi rasul yang terpilih, Petrus sang Paus Pertama. Maka tentu saja, Petrus menjadi seorang suri teladan kesetiaan!

Namun kata yang digunakan Yesus untuk “kasih” di sini membuat Petrus terdiam. Injil Yohanes menggunakan kata Yunani agapao (Yohanes 21:15), yang bermakna kasih yang total, tak bersyarat, dan memberikan diri, atau semacam kasih yang memiliki komitmen dan rela berkorban yang Yesus berikan sebagai teladan di sepanjang hidup-Nya, secara khusus kasih-Nya di kayu salib. Oleh karena itu, Yesus tidak bertanya kepada Petrus apakah ia mengasihi-Nya hanya dengan kasih sayang manusia pada umumnya. Kata bahasa Yunani lainnya adalah phileo yang bermakna rasa terima kasih atas kasih, kasih persahabatan yang lembut, namun tidak mencakup semuanya. Sebaliknya, Petrus ditanya apakah ia mengasihi sebagaimana Kristus mengasihi. Apakah Petrus mengasihi Yesus dengan kasih agape?

Kasih yang Tak Sampai

Mendengar ini, Petrus tertegun. Ia tahu tidak bisa mengasihi sejauh itu. Ia sambil merasa sedih berharap kalau ia bisa berkata “Ya,” dan di masa lalu dengan semangatnya yang terlalu naïf mungkin sudah mendorong untuk melakukannya. Kenyataannya, tak lama setelah itu, Petrus dengan gagah berani menyatakan totalitas kesetiaan berkata kepada Yesus demikian: “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!” (Lukas 22:33). Namun penyangkalan Kristus sebanyak tiga kali terjadi pada malam yang sama menjadikan sebagai sesuatu yang sangat menyakitkan, dan menjadi jelas bahwa Petrus gagal dalam kasih agape. Petrus menyerah pada rasa takut, menyangkal sahabat-sahabatnya sebanyak tiga kali dan pergi sambil menangis dengan sedihnya ketika ia menyadari apa yang sudah ia perbuat. Ia sudah mengalami kesedihan yang pahit karena kelemahan dan ketidaksetiaannya.

Maka kali ini, Petrus menjadi seorang yang lebih rendah hati untuk memenuhi syarat dalam menyatakan kasihnya. Ia mengakui kepada Yesus, “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi (phileo) Engkau.” Seolah-olah Petrus berkata, “Yesus, semua orang tahu kalau saya masih sangat jauh dari agape. Engkau tahu bahwa saya hanya mampu mengasihi-Mu dengan kasih saya yang lemah, kasih seorang manusia yang tidak sempurna: philia.

Namun Yesus tidak menyerah. Ia bertanya untuk kedua kalinya, “Apakah engkau mengasihi (agapao) Aku?” Sekali lagi, Petrus dengan rendah hati mengakui bahwa ia hanya dapat mengasihi Yesus dengan kasih manusia yang sederhana: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi (phileo) Engkau.”

Yesus yang Menjangkau Kita

Akhirnya, Yesus mengubah pertanyaan-Nya. Ia tidak menurunkan standar kasih dengan cara apa pun juga, namun Ia merendahkan diri-Nya untuk menjangkau Petrus dalam kapasitasnya sendiri. Ia menerima apa yang bisa Petrus persembahkan, kendati hanya kasih manusia yang lemah. Petrus menggunakan kata phileo: “Apakah engkau mengasihi (phileo) Aku?” (Yohanes 21:17) Dalam hal ini, Yesus menempatkan diri-Nya setara dengan posisi Petrus dan tidak menuntut supaya Petrus segera menaikkan posisinya . Dan hal itu membesarkan hati Petrus. Ia menjawab Yesus seolah-olah berkata, “Tuhan, Engkau tahu segalanya. Engkau tahu inilah yang sanggup saya lakukan. Yang terbaik yang bisa dipersembahkan adalah kasih manusia saya ini yang lemah dan hancur: philia. Saya berharap bisa melakukan jauh daripada ini, namun dengan rendah hati saya mempercayakan persembahan yang tidak sempurna ini kepada-Mu.”

Dan akhirnya kita sampai pada bagian yang paling luar biasa dari kisah ini, dan yang menjelaskan drama perjalanan kita sendiri dengan Tuhan. Yesus menerima kasih manusia yang tidak sempurna dari Petrus dan mengubahnya menjadi kasih agape. Akhirnya Petrus menampilkan dirinya apa adanya kepada Yesus, bukan dalam pandangan yang begitu tinggi seperti yang sebelumnya ia lakukan atau dengan cara yang ideal yang ia ingin hidupi suatu hari nanti, namun dalam kebenaran dirinya sendiri yang rapuh. Dan begitu Petrus melakukannya, pada saat itu juga ia sampai pada kebenaran tentang dirinya sendiri, bahwa ia sama sekali tidak mampu melakukan kasih agape, kemudian suatu lembaran hidup baru dimulai dalam persahabatan Petrus dengan Kristus. Tepat pada saat ini, Yesus tiba-tiba mulai berbicara kepada Petrus yang tadinya memiliki kasih philia, suatu hari nanti akan menghidupi kasih agape seperti Kristus sendiri. Petrus akan diubah. Hatinya akan ditransformasikan. Suatu hari, Petrus  akan mengalami kedua tangannya terentang di atas salib sepeti yang dialami Yesus pada Jumat Agung. Memang, Yesus menubuatkan penyaliban Petrus di Roma: “’tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.’ Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah” (Yohanes 21:18-19).

Kisah transformasi Petrus adalah kisah yang ingin Allah tuliskan di hati semua murid. Yesus ingin bertemu dengan kita di mana kita berada, seperti kita adanya, dengan segala ketakutan, luka-luka, dan dosa-dosa kita, dan Tuhan akan mengubah hati philia kita menjadi agape.

Memang, apa yang telah Yesus lakukan pada Petrus, akan Ia lakukan juga kepada kita semua, jika kita belajar mengikuti Yesus sebagai seorang murid.

Pemuridan: Segala Sesuatu tentang Transformasi

Tema Alkitab tentang pemuridan mengingatkan kita mengenai bagaimana menjadi seorang Katolik itu bukan suatu realitas yang stagnan: “Saya mengakui dalam survey ini sebagai seorang Katolik” … “Saya menghadiri Misa pada hari Minggu” … “Keyakinan saya bersifat ortodoks.” Semua itu sangat baik, namun hidup sebagai seorang murid melibatkan lebih banyak hal lagi. Pemuridan adalah sesuatu yang sangat dinamis. Sesuatu yang mengindikasikan pergerakan dan transformasi ketika seorang murid mengalami persahabatan yang semakin dalam dengan Kristus dan menjadi semakin menyerupai Yesus.

Dan, memang seorang murid mengakui ada dua hal mendasar:

  1. Kebenaran tentang diri sendiri: banyak kelemahan, kegagalan dan bagian hidup kita di mana kita tidak bisa hidup seperti Kristus.
  2. Kebenaran mengenai untuk apa kita diciptakan: menjadi serupa dengan citra Kristus, hidup seperti-Nya, berpikir seperti-Nya, dan mengasihi seperti-Nya.

Seorang murid yang sejati tahu untuk apa dirinya diciptakan: transformasi dalam Kristus (B). Namun juga tahu kalau dirinya dalam berbagai hal mengalami kegagalan (A). Pemuridan adalah segala sesuatu untuk berpindah dari A ke B.

Ketika Tradisi Katolik kita berbicara tentang “bertumbuh dalam kekudusan,” “mengejar kekudusan,” “menjadi orang-orang kudus,” pada dasarnya menggambarkan proses seumur hidup dari seorang murid Kristen yang sedang dan semakin diubah oleh kasih karunia Allah, diubah menjadi serupa dengan Kristus “dalam kemuliaan yang semakin besar” (2 Korintus 3:18).

 

Artikel ini berasal dari buku Edward Sri yang membahas tentang pemuridan yang berjudul “Into His Likeness: Be Transformed as a Disciple of Christ”

 

Sumber: Following Jesus as a Disciple – Excerpt from Edward Sri’s Newest Book

Posted on 21 July 2020, in Kenali Imanmu and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: