Ketika yang Dikehendaki Tidak Cukup – Kisah Sr. Miriam James Heidland, S.O.L.T.

Sr. Miriam James Heidland, S.O.L.T. (Sumber: chnetwork.org)

Sr. Miriam James Heidland, S.O.L.T. adalah penulis buku “Loved as I Am” yang diterbitkan oleh Ave Maria Press. Dia berbicara kepada Coming Home Network mengenai didikan keluarganya yang Katolik, bagaimana dia berpaling dari atlet mahasiswa di kampus, dan akhirnya menemukan kekuatan untuk percaya akan panggilan Allah dalam kehidupan religius.

Ketika Anda dibesarkan, apakah iman menjadi bagian hidup Anda?

Oh, ya. Saya dibesarkan sebagai seorang Katolik. Ayah saya berpindah keyakinan untuk menikah dengan ibu saya, yang berasal dari komunitas petani Jerman di wilayah Texas Selatan. Maka saya sangat Katolik, sejak awal mulanya. Kami ikut Misa setiap hari Minggu dan berdoa rosario bersama. Kedua orang tua saya sangat taat. Mereka melakukan pertobatan mendalam ketika saya berusia lebih dewasa, tapi waktu saya masih kecil, mereka orang Katolik yang taat.

Apakah iman menjadi sesuatu yang Anda hargai?

Saya merasa tumbuh dengan belajar tentang aturan-aturan Katolik. Saya punya sedikit perasaan takut akan agama. Saya memandang Allah sebagai pribadi yang harus ditaati, dan jika Anda tidak taat maka Anda akan masuk neraka. Saya merasa itu tindakan penindasan. Saya tidak berpikir akan jatuh cinta kepada Kristus, atau benar-benar berjumpa dengan-Nya.

Waktu itu ketika besar nanti, Anda ingin menjadi apa?

Saya ingin menjadi pengusaha sukses. Atau, karena saya mendapat beasiswa bola voli Divisi I, maka saya ingin pekerjaan di media seperti di ESPN.

Kalau begitu, Anda berada di jalur yang tepat untuk menjadi legenda bola voli Olimpiade seperti Misty May-Treanor?

Saya tidak sehebat itu, saya pernah bermain sebagai lawan dia di perguruan tinggi. Dia bermain di Long Beach State, dan saya bermain di Nevada. Dia setahun di bawah saya, bahkan waktu dia sebagai mahasiswa baru, dia adalah sudah menjadi seorang setter (salah satu posisi dalam olahraga bola voli –red.) All-American. Seiring berjalannya waktu, dia beralih dari bola voli lapangan ke bola voli pantai, dan permainan menjadi berbeda.

Aspek apa saja yang tidak Anda persiapkan untuk menjadi atlet kampus Divisi I?

Karena saya berasal dari kota kecil di negara bagian Washington, dan Nevada hanyalah universitas menengah. Ketika membicarakan olahraga, hanya ada persentase kecil orang dari SMA yang akan melanjutkan bermain di perguruan tinggi, dan itulah bisnis. Saya tidak siap untuk itu. Mereka menginvestasikan uang pada Anda, dan seluruh hidup Anda akan berputar di sekitar olahraga, jelas karena mereka ingin pengembalian dari investasi yang mereka lakukan. Dan di sinilah posisi saya, seorang gadis kecil yang kurus dari kota kecil menghabiskan lima hari dalam sepekan di ruang latihan sebagai mahasiswa baru, mencoba untuk menjadi besar …

Tentu saja, beasiswa adalah peluang besar. Jelas, Anda mendapatkan setiap uangnya, dan akan ada banyak keuntungan. Anda akan melakukan perjalanan besar, Anda akan tinggal di tempat yang bagus, asisten pelatih akan mengurus segala urusan sekolah untuk kami. Yang harus kami lakukan hanyalah hadir di kelas dan memenuhi syarat secara akademis.

Jika Anda dibesarkan dalam dasar agama yang kuat dalam keluarga Anda, dan dasar akademis dan atletik yang kuat di perguruan tinggi, bagaimana Anda akhirnya bisa keluar jalur hidup Anda itu?

Pertama-tama, Anda kuliah dan Anda melihat banyak hal yang belum pernah Anda lihat sebelumnya., dan menempatkan sesuatu sebagai hal yang gampang. Satu-satunya pengawasan yang ada pada kami adalah dari pelatih kami, dan saya bersyukur pada Allah karena mereka. Karena jika kami hadir dalam keadaan mabuk, atau terlambat latihan, kami akan hancur berantakan. Meskipun demikian, pengawasan itu tidak membuat kami berhenti untuk berpesta kapan pun kami bisa lolos begitu saja. Ketidakhadiran orang tua yang biasanya ada di sekitar saya membuat saya berhenti ikut Misa, karena mereka yang biasanya mengingatkan saya untuk mengikuti Misa dengan rutin.

Pada saat yang sama, saya juga haus akan cinta. Saya merasa lapar akan tujuan dan makna hidup, serta kepuasan, dan saya mencoba pintu mana pun untuk menemukannya. Saya menjadi seorang gadis yang hancur berantakan.

Pada saat itu, apakah Anda menyadari konsekuensi rohani dari pilihan gaya hidup Anda?

Pertanyaan bagus. Saya masih punya hati yang penuh dengan impian besar, dan saya masih ingin menjadi seseorang. Tapi saya tahu bahwa saya tidak bahagia. Waktu itu saya suka menghindari kesunyian dengan berbagai macam cara. Saya menghindari sendirian, karena saya tahu jika saya diam, atau tidak mabuk, atau terlalu lama diam, segala sesuatu yang mengganggu pikiran saya akan muncul ke permukaan hati saya.

Saya tahu apa yang saya lakukan itu salah, tapi saya benar-benar hancur. Dalam program pemulihan 12 langkah, ada pepatah yang mengatakan bahwa “Kamu hanya seburuk rahasiamu.” Itulah saya. Saya punya begitu banyak rahasia dan batin saya begitu beracun. … Saya tahu apa yang benar dan apa yang salah. Saya sudah dibesarkan dengan baik. Tapi karena saya hancur berantakan, saya terus membuat pilihan yang membawa saya ke jalur kesakitan dan rasa malu.

Sampai mana gaya hidup pesta pora berhenti atau kapan Anda berhenti mengejar kesenangan? Kapan Anda mencoba menghindari dan melindungi diri dari rasa sakit?

Sejujurnya, saya pikir kita semua punya sesuatu dalam hidup kita masing-masing bahwa kita diperlakukan seperti itu, baik di ponsel kita, baik makanan, baik belanja, atau apa pun itu. Sesuatu yang membuat kita mati rasa, karena kita tahu kenyataan itu menyakitkan. Dalam hidup saya sendiri, saya tahu bahwa setiap kali saya mencoba mengejar sesuatu untuk memuaskan diri saya yang bukan Tuhan, selalu berakhir dengan rasa kecewa. Apa pun itu untuk diri Anda, Anda terus berusaha untuk memenuhinya, dan kemudian Anda melewati batas dan di titik itu Anda sadar bahwa yang selama ini Anda penuhi hanyalah lebih banyak lagi kesedihan dan kekecewaan. Tetapi Anda belum siap untuk melepaskannya, jadi Anda meyakinkan diri bahwa jika Anda punya sedikit lagi, maka akan memperbaiki segalanya.

Itulah keinginan yang dimiliki umat manusia sejak awal mula waktu, yaitu keinginan akan kekekalan. Sungguh menakjubkan, sejauh mana kita berusaha untuk memuaskan keinginan itu, bahkan ketika kita tahu bahwa apa yang kita lakukan tidak mampu memuaskan kita. Untuk berbagai alasan, dalam kehancuran kita, kita merasa terus menerus tertarik pad hal-hal yang cenderung menghancurkan kita daripada yang memberi kita kehidupan.

Bagaimana Anda bisa keluar dari lingkaran setan (siklus menghancurkan diri sendiri) di mana Anda merasa seperti mengejar sesuatu yang tidak memuaskan dan bahkan mendapat lebih sedikit kepuasan dari hal itu?

Bagi saya, itulah kesaksian seorang presbiter yang Allah utus ke dalam hidup saya. Ia menjadi orang pertama yang saya temui, dan ia seorang yang benar-benar kudus. Dalam ensikliknya Spe Salvi, Paus Benediktus XVI menuliskan bahwa “orang yang berpengharapan hidup secara lain.” Presbiter ini hidup secara lain. Ia seorang yang lucu, dan rendah hati, tapi ia berjalan bersama Tuhan. Ia akan mengatakan yang sebenarnya … Saya ingat ketika ia memanggil saya seperti yang saya lakukan setiap kali, tetapi ia akan melakukannya seperti yang dilakukan bapa rohani.

Saya bertemu dengannya ketika saya berusia 19 tahun, tapi butuh waktu untuk menyadari seberapa besar pengaruh yang ia miliki. Saya ingat waktu saya berusia 21 tahun sebagai seorang alkoholik (meskipun waktu itu saya belum siap mengakuinya), dan saya penuh nafsu, dan sedang hancur berantakan, dan saya masih ingat ketika berkata kepadanya, “Romo, saya tidak tahu apa yang Anda punya dalam diri Anda sehingga hidup Anda begitu berbeda, tapi saya menginginkannya.” Melihatnya membuat saya merasa bisa menjalani hidup Anda bagi Allah dan menjadi bahagia.

Jadi Anda beralih dari keadaan itu ke dalam kehidupan religius. Bagaimana Anda melakukan proses perubahan itu?

Periode dalam kehidupan saya itu bagi saya adalah proses pertobatan yang sangat panjang. Banyak saat-saat jatuh bangun di sepanjang waktunya dan ada kalanya saya melihat apa hasrat yang lebih dalam di hati saya. Keinginan hati saya untuk cinta, komunitas, dan kecantikan merupakan keinginan yang baik, maka saya menemukan kalau saya harus bangun untuk memahami bahwa hal-hal itu adalah apa yang yang saya inginkan bagi diri saya sendiri.

Setelah lulus kuliah, saya pulang ke rumah, memikirkan mungkin saya bisa bekerja di stasiun TV lokal, mulai dari pasar paling dasar untuk melihat apa yang akan terjadi. Saat itulah, presbiter yang sama ini mengundang saya untuk mengunjungi satu misi di New Mexico. Tidak mungkin saya cocok menjadi seorang misionaris, tapi saya percaya kepada presbiter itu, jadi saya pergi. Di wilayah itu, mereka tidak punya TV maka tidak ada banyak hal yang bisa mengalihkan perhatian saya, saya punya banyak waktu untuk diam. Dalam keheningan itulah saya akhirnya berhadapan langsung dengan apa yang menjadi hasrat utama saya, yaitu ingin bersatu dengan Tuhan.

Dan saya mendengar Allah memanggil saya. Saya merasa ada suatu momen ketika saya mendengar dengan jelas kalau Allah memanggil saya untuk menjadi milik-Nya. Saya menjawab, “Ya,” dan itu terjadi 18 tahun yang lalu.

Suatu perjalanan panjang, salah satu perjalanan tentang kejujuran, keterbukaan, dan ketenangan hati, konseling, pengarahan rohani dan juga pengakuan. Sunggun saya belajar bagaimana menjadi pribadi manusia dan belajar bagaimana mengasihi.

Apa yang akan Anda katakan kepada orang yang kebetulan berada di posisi seperti Anda di awal masa kuliah? Seseorang yang sedang mengejar hal-hal yang tidak bisa dipenuhi dan merasa semakin hampa ketika menjalaninya? Bagaimana Anda bisa menolong dan membantu mereka bahwa Allah mengasihi mereka dan Allah menghendaki untuk menjalin relasi dengan mereka?

Kita semua punya masa-masa hidup di mana kita menemukan sesuatu yang indah atau luar biasa. Bagi kita waktu itu berhenti, dan kita ingin masa-masa itu tidak akan pernah berakhir. Ada suatu saat ketika hati kita merasa sakit untuk selamanya.

Salah satu cara yang kita lakukan untuk berusaha melindungi hati kita adalah berpaling dari harapan, karena rasanya menyakitkan ketika merindukan sesuatu yang belum kita miliki. Kita sedang menutup diri dari Tuhan bahkan menuduh Tuhan sebagai penyebab penderitaan kita, dan itulah alasan kita untuk menjauh dari-Nya. Tapi kita masih punya saat-saat indah, di mana kita merasa harus ada sesuatu yang lebih dari yang bisa dilihat, dan kita mendapat sedikit pemahaman seperti apa kasih sejati itu. Allah sudah membangun bukti diri-Nya dalam hati kita dengan membuat kita mampu mencerminkan kasih itu. Dan Allah menghendaki supaya kita bahagia, dan Ia ingin kita menemukan kebahagiaan itu di dalam diri-Nya.

 

Sr. Miriam James Heidland, S.O.L.T., dibesarkan di Woodland, Washington. Dia lulusan dari University of Nevada-Reno, kampus di mana dia bermain bola voli dengan beasiswa dan mengambil jurusan komunikasi.

Pada tahun 1998, dia bergabung dengan Society of Our Lady of the Most Holy Trinity, sebuah komunitas misionaris yang melayani wilayah-wilayah di seluruh dunia yang membutuhkan pelayanan apostolik. Heidland pernah melakukan pelayanan di Roma, North Dakota, Seattle, dan Texas. Bukunya yang berjudul “Loved as I Am” bisa diperoleh di Ave Maria Press.

 

Sumber: “When Everything You Thought You Wanted Isn’t Enough”

Posted on 8 May 2021, in Kisah Iman and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: